Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 130


__ADS_3

“Halah omong kosong! Ngapain coba ngomong kayak gitu ‘kan? Kamu pikir, aku bakal luluh ya? Hahahaha jangan harap, aku udah nyaman nih sendirian aja tanpa pacar, apalagi mantan,” ujar Zeline langsung dengan nada tegas.


“Kamu sebenci itu sama aku?”


“Ya nggak benci sih, lebih tepatnya udah risih aja, nggak mau lagi berurusan sama kamu karena kita sekarang cuma mantan, nggak lebih,”


Vindra menghembuskan napas lasar. Entah harus bagaimana lagi Ia membujuk Zeline. Ia masih tidak rela bila kehilangan Zeline. Sampai detik ini, rasanya masih seperti mimpi bisa putus dari Zeline.


“Jangan benci sama aku dong, Zel. Aku nggak bisa kalau dibenci sama kamu,”


“Udah dibilang aku nggak benci, tapi kalau kamu masih aja deketin aku ya bisa jadi aku jadi benci,”


“Padahal aku lagi berusaha aja,”


“Nggak guna usaha kamu, Vindra. Lagian kenapa sih kamu nggak sama Anin aja? Dia ‘kan sahabat kamu, sahabat tersayang. Kenapa nggak move on terus ke dia aja? Atau sebenarnya kamu udah move on ya cuma kamu tuh masih nggak enak sama aku kalau pacaran sama Anin? Yah elah, santai aja. Kamu mau pacaran sama Anin kek, sama siapa aja itu hak kamu,”

__ADS_1


“Astaga, aku tuh nggak mikir kayak gitu. Aku emang nggak bisa move on,”


“Halah, bukan nggak bisa, tapi belum bisa. Itu perlu dikoreksi selagi lo masih punya hati. Nggak ada tuh cerita nggak bisa move on. Selagi punya hati, punya perasaan, manusia punya kemungkinan untuk move on dan ketemu sama orang baru, simple kok,”


Vindra menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan ucapan Zeline yang kelihatannya memudahkan move on, padahal tidak semudah itu, tidak se-simple itu.


Mereka tiba di sekolah, dan Zeline langsung mengucapkan terimakaish tanpa basa-basi.


“Makaish udah dijemput di rumah dan diantar ke sekolah, tapi ingat ya, nggak udah lagi deh lo ngelakuin ini, nanti Anin cemburu lho,”


“Kamu kok ngomongnya begitu sih? Kamu jangan sok tau deh. Aku sama Anin itu nggak ada apa-apa. Ya kalau kita mau lebih dari sekedar sahabat, mungkin aku nggak akan pernah pacaran sama kamu, aku ‘kan kenal dia udha jauh lebih lama darioada kenal sama kamu. Kenapa aku pacaran dama kamu kalau aku sukanya sama dia dan pengen lebih dari teman sama dia? Hah?”


Vindra meluapkan kekesalan hatinya karena ucapan yang terlontar dari mulut Zeline. Vindra tidak terima karena seolah-olah Zeline menganggap bahwa telah terjadi sesuatu di antara Ia dan Anin padahal kenyataannya tidak seperti itu.


“Aku nggak suka dengar kamu ngomong negitu, Zeline, sekali lagi aku tegasin ya aku dam Anin itu nggak ada apa-apa, kamu jangan ambil kesimpulan sernaknya deh,”

__ADS_1


“Zeline,”


Tiba-tiba ada yang memanggil Zeline dan itu langsung membuat Zeline menoleh, begitupun Vindra karena Ia penasaran siapa yang sudah memanggil Zeline.


“Eh Juan,” sapa Zeline seraya tersenyum hangat menyapa Juan yang berjalan mendekatinya.


“Mau ke kelas bareng nggak?”


“Iya boleh ayok,”


“Gue duluan ya, sekali lagi makasih,” ujar Zeline pada Vindra yang sakit hati sekali melihat Zeline pergi dengan Juan tepat di depan matanya, padahal biasanya Zeline itu selalu Ia antar ke kelas. Sekarang Zeline ke kela sdemgan laki-laki lain.


“Ya ampun, sesak banget liatnya. Masa iya sih secepat itu Zeline move on dan dapat pengganti? Gue aja boro-boro dapat pengganti, yakin kalau udah putus aja nggak,”


“Vindra, eh kok masih di parkiran? Nggak ke kelas kamu, Vin?”

__ADS_1


Vindra menghembuskan napas kasar menatap Anin sekilas kemudian Ia berjalan pergi, sennetara Anin langsung berjalan cepat berusaha menyamakan langkah kaki Vindra.


__ADS_2