
“Yeayy akhirnya kalian datang juga. Aku udah nungguin lho,” ujar Anin seraya menepuk bahu Vindra.
Anin kelihatan bahagia sekali ketika melihat Vindra dan Zeline sampai di tempat acara ulang tahunnya.
“Nungguin aku atau nungguin Vindra aja?” Tanya Zeline seraya tersenyum menatap Anin. Vindra yang sedang menggenggam tangan Zeline tiba-tiba langsung melepaskan genggaman itu dan menatap Zeline dengan sorot mata yang kesal.
“Mulai deh nyebelinnya,” batin Vindra yang berharap Zeline tahu apa yang Ia katakan walaupun mustahil karena Ia bicara dalam hati. Dan Vindra berharap Anin tidak sakit hati mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kekasihnya barusan.
“Ya nungguin kalian berdua dong. ‘Kan kalian sahabat aku dan belum sampai-sampai jadi aku nungguin banget,”
“Kita telat ya?”
“Nggak juga sih sebenarnya. Ayo kita duduk, kita enjoy di party ini,”
Anin merangkul bahu Vindra dan Zeline untuk duduk di kursi kafe yang masih kosong. Zeline tampak kurang nyaman karena suasana cukup ramai. Ia tidak menyangka kalau Anin akan mengundang temannya lumayan banyak.
“Hmm Anin, ini yang kamu undang anak-anak sekolah kita aja? Kayaknya nggak ya? Ada yang nggak aku kenal soalnya,”
“Iya nggak cuma anak sekolah kita aja kok, ada teman-teman aku waktu aku masih di Jakarta sebelum pindah ke Jepang. Sengaja aku undang mereka. Emang kenapa, Zel?”
__ADS_1
“Oh nggak kok, cuma bingung sja ternyata banyak ya teman kamu,”
“Iya dong, emang kamu dikit,”
Walaupun Anin mengatakannya sambil tertawa, Zeline tahu niat Anin mungkin ingin mengajaknya bercanda, tapi ucapan Anin itu cukup membuat hati Zeline sedikit tergores.
“Ya terus kalau aku punya teman dikit kenapa? Ya ampun, aku nggak boleh sebel sama sahabat sendiri,” batin Zeline sambil menahan dirinya untuk tidak menanggapi ucapan Anin dengan ketus.
“Makanya cari teman yang banyak, Zel. Seru lho punya banyak teman. Ya aku sebenarnya nggak banyak-banyak juga sih, ini yang agak dekat aja sama aku,”
“Iya teman aku emang jebetulan dikit tapi nggak apa-apa juga sih. Kalau temenan banyak tapi suka berantem ya buat apa juga ‘kan? Mending dikit aja, tapi kualitas pertemanannya bagus, daripada mikirin kuantitas,”
Zeline menganggukkan kepalanya sambil menjentikkan jari. Ia membenarkan ucapan Anin.
“Tanpa aku jelasin ternyata kamu udah ngerti,” ucap Zeline.
“Oh iya ambil minum dong, ambil makanan juga, silahkan. Jangan cuma ngobrol aja kita di sini,”
“Okay aku ambil minum sama makanan yang ringan aja ya, Zel?”
__ADS_1
Zeline menganggukkan kepalanya membiarkan sang kekasih bergegas mengambil apa yang tadi disebut okeh Anin.
“Kamu cantik banget malam ini, Zel,”
Zeline tersenyum seraya mengamati penampilannya singkat. “Oh iya dong, pacarnya siapa dulu hehehe,”
“Sahabatnya aku dong,”
Zeline terkekeh mendengar itu. Tidak sengaja Ia menegaskan kalau Ia kekasihnya Vindra. Padahal biasanya tidak seperti itu.
“Kamu juga cantik lho, apalagi pakai anting yang dari Vindra itu. Matching sama bajunya yang ada blink-blinknya gitu. Jadi kamu keliatan elegan,”
“Kamu nggak seksi gitu bajunya? Sekali-kali tampil seksi dong, aku pengen liat,”
“Tadi disuruh sama pacar aku untuk ganti baju padahal menurut aku udah seksi,”
“Lho, kenapa? Dia nggak suka kamu pakai baju yang—“
“Iya betul, dia nggak suka ngeliat aku pakai baju yang terbuka. Padahal tadi aku pengen coba tuh. Ah Vindra emang posesif banget jadi pacar,”
__ADS_1