Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 21


__ADS_3

“Halo,”


“Assalamualaikum, Zel. Kamu udah tidur belum?”


Zeline menghela napas pelan. Sekarang Ia harus berpura-pura untuk terlihat tidak kesal atau kecewa setelah mendengar informasi dari Dara tentang Vindra yang makan malam bersama Anin tapi tidak bicara apapun kepadanya.


“Waalaikumsalam, belum, kenapa?”


“Oh gitu, aku ganggu nggak? Kamu lagi apa?”


“Lagi nonton abis kerjain tugas, nggak ganggu,”


“Maaf ya aku baru ngabarin, handphone aku mati tadi, sempat abis batre tadi. Dan aku nggak cek-cek handphone juga yang lagi dicharge,”


“Oh iya nggak apa-apa kok,”


“Kamu udah makan malam?”


“Udah, ini ‘kan udah setengah sembilan, aku udah makan lah, kalau belum ya aku nggak bakal makan lagi karena udah kemaleman,”


“Oh gitu okay deh, bagus kalau gitu,”


Zeline tersenyum tipis. Sepertinya tidak ada penjelasan apapun dari Vindra. Ia diam sebentar menunggu barangkali Vindra akan cerita. Tapi ternyata tidak, Zeline diam, Vindra juga ikut diam mungkin bingung hendak bicara apalagi pada Zeline.


Zeline menyesali, kenapa Vindra tidak bercerita soal makan malamnya saja? Itu yang ditunggu oleh Zeline supaya Zeline tidak kepikiran terus. Sepulang sekolah sampai malam, Vindra tak ada kabar. Bila memang ponselnya di charge, apakah tidak ada waktu satu menit saja untuk menghubunginya?


“Kamu udah makan?”


“Udah,”


“Hmm iya,”


Zeline sama seperti kebanyakan perempuan. Suka overthinking. Tapi selama ini Ia selalu bisa mengatasinya. Semoga kali ini juga bisa.


“Udah itu aja yang mau diomongin?”


“Hmm…iya kayaknya, cuma pengen denger suara kamu aja,”


Mendengar kalimat itu, Zeline tersenyum tipis. Vindra mau mendengar suaranya, sementara Ia ingin mendengar cerita dari Vindra tentang hari ini. Vindra kemana sepulang sekolah? Kenapa tidak menghubunginya? Kenapa tidak memastikannya sudah ada di rumah? Kenapa baru sekarang menghubungi? Kenapa tidak bercerita kalau makan malam dengan orang lain? Tidak ada salahnya bukan Ia ingin mendengar itu semua dari Vindra? Tak ada maksud untuk membatasi ruang gerak Vindra, atau membuat Vindra risih dengan rasa penasarannya, akan tetapi Zeline hanya ingin mendengar saja. Karena Vindra juga sering bertanya hal-hal seperti itu.


Tapi semua pertanyaan itu hanya disimpan Zeline di kepalanya, tidak Ia utarakan sebab rasanya buang-buang energi. Vindra saja tidak merasa ada yang perlu dibicarakan lagi, jadi untuk apa Ia menambah durasi obrolan mereka? Tidak perlu.

__ADS_1


“Ya udah kalau gitu, aku tutup teleponnya ya,”


“Ya, besok aku berangkat sama Papa ke sekolah,”


“Kenapa? Nggak dijemput sama aku aja?”


“Papa yang mau,”


“Okay kalau gitu, ketemu di sekolah ya, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Zeline bersyukur besok pagi Ia akan diantar oleh Papanya. Itu permintaan dari papanya sendiri, karena rencananya Ia akan dibawa ke tempat makan bubur yang baru buka tapi rasanya lezat sekali. Setidaknya Ia tidak harus bertemu dengan Vindra yang membuat perasaannya menentu esok pagi. Ada waktu untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Vindra dan bersikap biasa-biasa saja.


******


“Vindra, kamu udah tidur?”


Vindra menoleh ke arah pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Ia mendengar suara Anin. Karena terlalu malas beranjak meninggalkan tempat tidur, Vindra hanya menjawab saja dengan suara tanpa membuka pintu kamar.


“Aku belum tidur, kenapa emangnya, Nin?”


Kening Vindra mengernyit. Apa Ia tidak salah dengar? Anin mengajaknya untuk minum kopi? Malam-malam begini? Yang benar saja Anin. Besok sekolah, harus bangun pagi. Dan biasanya Vindra kalau sudah minum kopi biarpun sedikit akan sulit untuk tidur. Lalu besok Ia bisa bangun siang dan akhirnya terlambat. Ia tidak mau hal itu terjadi.


Lagipula ini ‘kan sudah malam, waktunya untuk istirahat, jadi Vindra bingung kenapa Anin masih berkeliaran di luar kamar tamu, padahal seharusnya Anin sudah istirahat.


Malam ini Anin menginap di rumah Vindra. Setelah makan nasi goreng bersama atas ajakan Anin, Vindra mengantar Anin ke apartemen untuk mengambil pakaian Anin dan juga perlengkapan sekolah Anin.


“Nggak deh, Nin. Maaf ya, aku mau tidur, soalnya udah ngantuk,”


“Oh gitu ya? Okay deh nggak apa-apa, maaf ya udah ganggu,”


“Nggak masalah,”


Setelah mendengar jawaban dari Vindra, Anin langsung bergegas kembali ke kamarnya. Entah kenapa Anin sulit tidur. Maka dari itu Ia keluar kamar dan ingin mengobrol dengan sahabatnya. Tapi sayang, sang sahabat sudah ingin beristirahat dan Ia tidak mau mengganggu. Jadi sekarang Ia harus berjuang untuk menyudahi insomnia nya yang memang suka datang. Kali ini mungkin datang karena Ia ada di tempat yang baru. Walaupun sudah cukup sering datang ke rumah ini dulunya ketika Ia masih kecil dan belum pergi meninggalkan Jakarta, tapi sekarang rumah ini masih asing bagi Anin. Dan biasanya tempat yang asing itu membuat Anin cukup kesulitan tidur.


“Eh tanya Zeline ah. Dia lagi aktif atau nggak ya? Apa dia udah tidur? Coba chat deh,”


Tiba-tiba terlintas di benaknya nama Zeline. Akhirnya Ia meraih ponsel dan menghubungi Zelins.


-Zel, kamu udah tidur belum?-

__ADS_1


******


Zeline sedang mengusir pikirannya yang tidak tenang dengan membuka sosial media. Ia menggulir melihat postingan-postingan orang lain untuk mengusir kebosanan dan overthinking nya.


Ketika ada pemberitahuan bahwa telah masuk satu pesan ke nomornya dan itu dari Anin, Ia langsung membuka pesan tersebut.


-Zel, kamu udah tidur belum?-


Zeline membaca pesan itu dalam hati. Kemudian Ia segera membalasnya tidak dengan kebohongan. Kalau Ia bohong. Aneh juga, masa sudah tidur, tapi masih bisa membalas pesan? Tidak ada niat untuk mengabaikan pesan Anin, karena takutnya ada sesuatu yang penting ingin disampaikan oleh Anin kepadanya.


-Belum nih, kenapa?-


-Aku mau telepon boleh?-


Baru juga pesan itu Zeline terima, tiba-tiba sudah ada pesan masuk dari Anin. Zeline menghela napas pelan sebelum menerima panggilan Anin.


“Assalamualaikum, Nin,”


“Waalaikumsalam, aku nggak ganggu tidur kamu ‘kan?“


“Kebetulan aku belum tidur kok,”


“Kenapa? Kamu insom juga?”


“Hmm? Nggak tau sih, cuma lagi belum bisa aja, emang kenapa?”


“Nggak apa-apa, aku lagi belum bisa tidur juga, pengen ngobrol. Si Vindra udah mau tidur jadi nggak bisa diajak ngobrol deh,”


“Kamu tau darimana kalau Vindra mau tidur?” Tanya Zeline.


Wajar bukan kalau Zeline bertanya seperti itu? Apakah Anin dan Vindra baru saja berkomunikasi makanya Anin tahu? Zeline penasaran dengan hal itu.


“Tadi aku ‘kan ngetuk pintu kamarnya, aku ngajakin dia ngobrol sambil minum teh atau kopi gitu tapi dia bilang, dia udah mau tidur. Jadi ya udah deh aku pergi,” ujar Anin yang semakin membuat Zeline bingung, dan jujur overthinking yang tadi sudah sempat menghilang sedikit, sekarang datang terang-terangan lagi.


“Maksudnya gimana? Kamu—kamu ke kamar Vindra?”


“Iya, di depan kamarnya aja sih, nggak masuk. Aku ‘kan nginap di rumah dia, jadi aku mau ngajakin dia ngobrol berhubung aku belum bisa tidur. Tapi dianya mau istirahat, aku nggak mau ganggu. Terus tiba-tiba aku ingat kamu. Jadi ya udah deh aku hubungin kamu, maaf banget ya,”


“Kamu nginap di rumah Vindra ngapain?kamu jangan tersinggung dulu ya dengar aku nanya kayak gitu. Cuma aku penasaran aja kenapa kamu nginap di rumah Vindra?”


“Lho, emang Vindra nggak cerita ya?”

__ADS_1


__ADS_2