
“Kamu tadi pergi sama Mama kemana?”
“Ke mall beli makanan sama baju, emang kenapa?”
“Nggak ke toko buku?”
“Hah? Toko buku ya? Nggak kok, aku sama Mama nggak ke toko buku sama sekali, cuma beli makanan sama baju aja kok,”
“Sama Mama?”
Zeline mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Vindra. Apa ucapannya sebelum ini kurang jelas ya? Ia sudah mengatakan bahwa Ia ke mall bersama mamanya, untuk membeli makan dan juga baju. Tapi entah kenapa Vindra bertanya lagi. Seperti kurang yakin dengan ucapannya.
“Iya sama Mama, ‘kan kamu sendiri liat aku dijemput Mama tadi, terus langsung ke mall deh, tapi sekarang aku udah pulang,”
“Oh nggak sama siapa-siapa selain Mama dan nggak ke toko buku?”
“Nggak, emang kenapa sih? Kok tanya kayak gitu,”
Wajar kan Zeline merasa bingung. Tak biasanya Vindra tidak yakin seperti itu dengan kata-katanya padahal Ia sudah jujur.
“Aku jujur kok, aku cuma sama Mama aja,”
“Vindra cemburu, Zel, dia overthinking gara-gara omongannya Anin,”
Terdengar suara lelaki lain yang membuat Zeline semakin bingung. Dan apa katanya tadi? Vindra overthinking karena ucapan Anin? Memang apa yang anin ucapkan sampai membuat kekasihnya jadi overthinking sehingga tidak yakin dengan kata-katanya.
“Maksudnya gimana?”
“Ale bisa diem nggak? Gue sumpel nih mulut lo pakai kaos kaki ya,”
__ADS_1
“Hahahaha ampun, Brody,”
Vindra mengingatkan Ale, temannya yang sudah bicara seperti tadi kepada Zeline yang seharusnya Zeline tidak tahu, akhirnya malah jadi tahu kalau saat ini Ia pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
“Anin ngomong apa ke kamu?”
“Nggak kok, ya udah aku tutup telepon kamu ya. Berarti sekarang kamu udah sampai rumah ‘kan? Okay, istirahat, aku masih di rumah Ale,”
“Kamu ngapain di rumah Ale? Terus apa yang Anin omongin ke kamu? Apa soal aku? Jangan ditutup dulu dong teleponnya, aku belum selesai ngomong tau,”
Zeline tidak mau dulu sambungan teleponnya bersama sang kekasih berakhir sebelum rasa penasarannya tuntas terjawab.
“Aku di rumah Ale lagi mau main aja sih, sama teman-teman yang lain juga,”
“Terus Anin ngomong apa ke kamu?”
“Nggak ngomong apa-apa, Ale nggak usah didengerin,”
“Kamu nggak mau cerita sama aku? Hmm? Kenapa?”
“Bukan nggak mau cerita, emang nggak ada yang perlu diceritain,”
“Terus maksud omongan Ale barusan apa dong?”
“Ya nggak ada, Ale cuma asal nimbrung doang padahal dia nggak tau apa-apa,”
Ale melirik Vindra dengan sinis. Tidak tahu apa-apa kata Vindra? Jelas Ia tahu, karena begitu tiba di rumahnya, muka Vindra sudah beda, makanya Ia bertanya ada masalah apa. Vindra langsung menjawab “Gue lagi overthinking nih. Kata Anin, Zeline jalan ke toko buku sama cowok. Tapi gue jelasin kalau Zeline pergi sama nyokapnya, dan Anin bilang mungkin dia salah liat. Tapi gue tetap aja kepikiran,”
“Lupa dia abis curhat sama gue barusan, gimana ceritanya gue cuma asal nimbrung nggak tau apa-apa? Orang dia yang ngasih tau gue. Ih dasar aneh bener si Vindra,” batinnya kesal.
__ADS_1
“Apa Anin bilang kalau aku jalan sama cowok?”
“Nah iya! Itu bener, Zel, pinter banget lo nebaknya,”
Vindra melotot tajam ke arah Ale yang baru saja menyahuti pertanyaan Zeline yang sebenarnya dilontarkan untuknya.
“Astaga,”
“Nggak kok, Anin bilang mungkin dia salah liat tapi aku nya yang kepikiran terus,”
“Dia cemburu sama lo, Zel,”
“Ale lo bisa diam nggak sih? Gue potong nih gigi lo ya,”
Spontan Ale menutup mulutnya dengan kedua tangan. Vindra mendengus kesal karena Ale yang ikut-ikutan bicara pada Zeline akhirnya Vindra memilih untuk bicara di teras rumah Ale.
“Nah ya udah bagus deh lo ke teras biar gue nggak denger dan mulut gue gatal mau nimbrung,” ujar Ale yang malah merasa senang. Sekalian saja Vindra ke teras, supaya Ia tak ikut campur lagi. Karena kalau telinganya mendengar pembicaraan Vindra dan Zeline, mulutnya jadi gatal untuk ikut bicara juga.
“Aku jalan sama Mama. Titik, nggak pakai koma. Masa kamu nggak paham sih? Masih ngira aku jalan sama yang lain? Emang selama ini pernah ya? Nggak ‘kan?”
“Ya kali aja jalan sama sepupu kamu, atau sahabat kamu, nggak apa-apa sih, cuma emang aku nya aja yang salah, terlalu overthinking. Aku minta maaf,”
“Aku nggak pernah jalan berdua aja sama sepupu aku, biasanya banyak sepupu yang ikut jalan, dan aku nggak ada sahabat cowok, kamu ‘kan tau itu,”
“Iya,”
“Ya udah terus kenapa kamu harus mikir yang nggak-nggak? Perkara Anin salah liat aja sampai bikin kita debat?”
“Aku ‘kan udah minta maaf,”
__ADS_1
“Ya tapi lain kali nggak usah mikir yang nggak-nggak deh, dan jangan asal terima info yang nggak pasti kebenarannya,”