Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 113


__ADS_3

“Lah katanya udah putus kok masih berangkat bareng ke sekolah?”


Baru saja Zeline dan Vindra turun dari motor tiba-tiba ada salah seorang murid bicara seperti itu kepada mereka.


“Ini juga aslinya gue nggak mau kok, tapi dia jemput ke rumah gue dan nyokap gue maksa supaya gue berangkat sama dia. Jadi ya udah deh, kami berangkat bareng. Resek lo ah,”


Zeline menjawab dengan ketus. Dan jawabannya itu mengundang tawa Rieke yang barusan sudah membuat Zeline tidak nysman dengan perkataannya.


“Ya nggak apa-apa juga sih, Zel, gue dukung kok untuk kalian balikan hahahaha. Okay deh bye gue duluan ya mausk ke kelas,”


Rieke adalah teman satu kelas Zeline. Jadi memang tak ada sungkan-sungkannya untuk meledek Zeline yang kini menatap Vindra dengan garang.

__ADS_1


“Ingat ya, Vin. Mulai besok nggak udah antar jemput gue lagi, karena kita nggak pacaran, nggak ada hubungan apa-apa jadi lo nghak perlu deh antar jemput gue lagi, ada paoa, ada driver di rumau, ada ojek online, gue bisa pergi sama mereka, jadi lo nggak usah antar jemput gue lagi, paham lo? Tapi ngomong-ngomong makasih ya udah antar gue ke sekolah hari ini, tapi besok-besok nggak usah,”


Memangnya Vindra saja yang bisa membuat hati Zeline sakit dengan perkataannya? Oh tentu tidak, Zeline juga bisa melakukan hal yang serupa.


Saat Zeline akan berjalan meninggalkan area parkir menuju kelasnya, tiba-tiba Vindra menahan lengan Zeline. Terpaksa Zeline tidak jadi melangkah ke kelasnya dan sekarang Zeline menatap Vindra dengan dorot nata yang kesal. Vindra berpindah posisi menjadi berhadapan dengan Zeline.


“Apaan lagi sih? Gue udah mau ke kelas nanti terlambat, bentar lagi waktunya masuk,”


Zeline melepaskan lengannya dari jeratan Vindra kemudian Ia tersenyum sinis. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam rok seragam sekolahnya lalu menatap Vindra dnegan tatapan yang arogan.


“Ketus? Itu juga yang pernah lo lakuin ke gue jadi impas ‘kan?”

__ADS_1


“Astaga, Zel. Aku udha minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah aku lakuin ke kamu tapi kenapa kamu nggak kau maafin aku sih, Zel? Kenapa kamu jadi kayak gini? Aku nggak kau kamu berubah, Zel. Aku mohon sama kamu, jangan berubah jadi Zeline yang kayak gini,”


“Ini karena gue udah terlanjur sakit hati banget sama lo tau nggak? Udah deh jangan protes terus. Kita udah nggak ada urusan apa-apa, mending kamu minggir deh,” ujar Zeline seraya mengisyaratkan Vindra supaya menyingkir dari hadapannya sebab Ia harus ke kelas sekarang, dan Vindra juga seharusnya seperti itu. Jangan sampai mereka jadi terlambat.


“Zel, aku maish cinta sama kamu, akus ayang sama kamu! Kenapa sih kamu jahat kayak gini?”


“Kenapa sekarang jadi playing victim ya? Hmm?”


Zeline memicingkan kedua matanya sambil bersedekap dada. Ia tidak suka ketika Vindra seplah menempatkan Ia di posisi yangs alah padahal yang awalnya membuat Zeline sakit hati adalah Vindra.


“Aku nggak mau bersaing sama sahabat kamu. Daripada aku makan hati terus ya ‘kan, lebih bsik aku mundur aja. Hidup aku kebih tentram. Dan waktud ia belum ada hubungan kita sebenarnya tuh baik-baik aja, bahkan akur, damai, tentram banget. Tapi setelah ada dia kamu sadar nggak dih mulai berubah? Aku kayak ada di belakang dia sementara dia di samping kamu, paham nggak? Awalnya iya aku bsia nerima tapi aku ini perempuan yang risih kalau uarus beraiang sama sahabat dari pacar aku sendiri, ya kalau sekedar sahabat tapi interaksinya biasa aja nggak intens aku sih nggak lasalah ya, tapi ini ‘kan sebaliknya. Aku pebay? Terserah kamu mau bilang aku kayak gimana. Yang tau giamna perasaan aku ‘kan cuma aku sama Tuhan aja, yang cemburu, yang sakit hati setiap kamu lebih utamain dia ‘kan aku, nggak ada yang tau selain aku sama Tuhan aja. Kamu mah bodo amat. Yang penting bagi kamu itu ‘jadi sahabat yang baik untuk si Anin’ bukan begitu, Vin?”

__ADS_1


__ADS_2