Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 144


__ADS_3

“Gimana keadaan kamu, Zel?”


Vindra merotasikan bola matanya halus ketika mendengar pertanyaan dari Juan yang mulai menunjukkan eksistensi nya sekarang. Tiba-tiba saja dia datang dan menanyakan keadaan Zeline.


“Aku udah baik-baik aja,”


“Kok bisa kamu pingsan, Zel? Kamu sarapan nggak?”


“Ya kalau dia sarapan, gue nggak bakal nyuapin dia sekarang,” ujar Vindra dengan ketus.


“Sini biar gue aja yang nyuapin Zeline, dia kan cewek gue,”


“Astaga, dilanjut sandiwara nya?”


Zeline benar-benar kaget ketika Juan merubah cara bicaranya dan bersikap lembut seolah Ia bebar-benar kekasih Juan.


“Gue nggak percaya,”


“Hah? Maksud lo, Vin?”


“Gue nggak percaya aja kalau kalian udah beneran pacaran,”

__ADS_1


Zeline dan Juan sempat saling menatap satu dama lain. Bisa-bisanya Vindra tidak percaya disaat Juan sudah berusaha untuk totalitas dalam memainkan perannya sebagai seorang kelasih Zeline.


“Ya terserah lo sih kalau lo nggak percaya. Gue juga nggak minta lo untuk percaya. Tapi yang jelas kenyataannya emang begitu. Jadi gue minta tolong banget sama lo ya jangan bersikap seolah lo itu masih pacarnya Zeline karena itu cuma masa lalu aja, Vin,”


Vindra mengeraskan tahangnya. Hatinya panas mendnegar ucapan Juan. Ia tidak terima ketika Juan mengakui Zeline sebagai kekasihnya. Ia tidak rela Zeline sudah mendapatkan penggantinya.


“Udah-udah, jangan banyak omong. Gue makin pusing ini,” ujar Zeline menghentikan perdebatan antara Juan dan Vindra. Takutnya kalau Ia tidak hentikan, bisa baku hantam di unit kesehatan sekolah.


“Udah sana keluar, mau sendiri dulu,” ujar Zeline yang tan jelas memberikan perintah untuk siapa.


“Aku nggak disuruh kekuar ‘kan, Zel?” Tanya Vindra.


Dari sini Vindra semakin memiliki dugaan kuat kalau Zeline dan Juan itu belum benar-benar menjadi sepasang kekasih.


“Nggak dong, aku pacar kamu masa aku juga keluar. Aku nggak mau lah. Aku mau di sini aja dampingin kamu,” ujar Juan dengan tegas. Ucapan Juan itu membuat Zeline menatapnya kesal.


“Dia totalitas tapi Vindra aja nggak percaya. Gimana sih Juan?” Batin Zeline sambil menggertakkan giginya kesal.


“Nggak, aku nggak bakal keluar, Zel. Aku ‘kan udah biasa dampingin kamu kayak gini kalau kamu lagi nggak baik-baik aja,”


“Ya tapi itu semua udah nggak berlaku lagi. Lo b,kan pacar gue lagi jadi ngapain masih baik maish perhatian? Lagipula bantuan lo udah cukup kok. Sekali lagi makasih ya lo udah bawa gue ke sini jadinya gue bisa istirahat nyaman. Sekarang keluar aja biar gue bisa istirahat,” ucap Zeline seraya mengambil alih mangkuk bubur ayamnya yang ada di tangan Vindra. Secara tidak langsung Zeline meminta Vindta untuk selesai menyuapinya.

__ADS_1


Vindra menganggukkan kepalanya lalu Ia bangkit meninggalkan kursi dan berdiri di sebelah tempat tidur yang Zeline tempati.


“Okay aku bakal kasih waktu untuk kamu sendiri supaya kamu bisa istirahat dengan tenang dan nyaman walaupun sebenarnya aku berat banget ninggalin kamu. Aku pengen dampingin kamu tapi kamu nya nggak mau,”


“Makasih,” jawab Zeline.


Vindra langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Ia memutar badannya. Kini berhadapan dengan Juan. Seketika ekspresi Vindra berubah. Yang sebelumnya tersenyum lembut sekarang menjadi keras.


“Lo juga keluar! Zeline perlu waktu untuk istirahat sendiri,”


Juan tersenyum miring kemudian menggelengkan kepalanya sambil memasang ekspresi menantang.


“Kalau gue nggan mau gimana? Hmm? Gue punya hal di sini krena gue pacarnya Zeline, Vin. Sementara lo kan cuma mantannya Zeline ya jadi wajar-wajar aja kalau lo pergi,”


“Lo nggak dengar ya apa kata Zeline tadi? Hmm? Dia minta kita untuk pergi,”


“Itu nggak berlaku buat gue, paham lo?”


“Jelas-jelas tadi Zeline bilang kita keluar dua-duanya,”


“Udah ih debat mulu sih kalian! Gue mau istirahat lho ini,”

__ADS_1


__ADS_2