
“Kamu jangan kayak gini lagi ya, Zel. Aku khawatir banget,” ucap Vindra sambil memgusap pipi Zeline dengan lembut.
Vindra baru saja menghadapi situasi yang benar-benar membuat perasaannya cemas. Tiba-tiba saja Zeline pingsan.
“Iya, siapa yang mau pingsan? Gue juga nggak mau,”
“Kamu nggak mau pingsan tapi kamu malah nggak makan, itu ‘kan sama aja mancing supaya kamu pingsan,”
“Gue tuh nggak lapar tadi, dan tadi males juga sarapan nggak tau kenapa. Mama sebenarnya udah maksa tadi, cuma gue yang tetap nggak mau,”
“Jangan kayak gini lagi pokoknya, aku nggak mau kamu sakit, Zel. Aku khawatir banget sama kamu, Zel,”
“Ngapain khawatir? Biasa aja kali, santai. Eh iya gue mau tanya deh, yang bawa gue ke sini siapa ya?”
“Aku lah,”
“Hah? Kok bisa?”
“Aku yang gendong kamu ke sini, aku larang pas ada teman kamu yang mau gendong kamu,”
“Kenapa lo yang gendong?”
“Ya emang kenapa? Aku pengen gendong kamu, nggak biarin orang yang ngelakuin itu,”
“Kenapa? ‘Kan bisa aja orang lain yang bawa gue ke sini,”
“Nggak aku izinin, Zel. Aku pacar kamu masa aku biarin orang lain yang bawa kamu ke sini? Nggak mau lah aku,”
Vindra ingin dirinya yang ada untuk Zeline. Ketika orang lain hendak memberikan bantuan, Ia melarang. Ia ingin dirinya saja yang membantu Zeline.
“Pacar? Duh maaf nih jangan lupa status terbaru kita berdua tapi ngomong-ngomong makasih udah bantu gue,”
Vindra lebih percaya pada dirinya sendiri ketimbang membiarkan orang lain yang menggendong Zeline kemudian membawa Zeline ke ruang kesehatan sekolah.
Tadi disaat Ia fokus dengan upacara yang berlangsung, Ia mendengar bisik-bisik dari teman di sekitarnya bahwa Zeline jatuh tak sadarkan diri. Kemudian barisan Ia berdiri tak jauh dari tempat dimana Zeline berdiri, tanpa pikir panjang Ia langsung menghampiri Zeline yang hendak dibawa oleh seorang lelaki yang merupakan teman Zeline. Namun Ia langsung mengambil peran.
“Biar gue aja nggak apa-apa ‘kan?”
__ADS_1
Tanpa niat untuk membuat tersinggung, Ia bertanya seperti itu. Tak ada larangan dari teman lelaki Zeline itu. Dia mempersilahkan Vindra untuk membawa Zeline.
“Perlu aku kasih tau mama kamu nggak? Soalnya tadi pas kamu pingsan, handphone kamu ‘kan jatuh terus dipegang sama teman kamu yang cewek aku nggak tau deh siapa namanya, terus dia ngasih handphone kamu ke aku, dan nggak lama dari situ mama kamu telepon. Tapi pas aku mau jawab, eh udah mati teleponnya,”
“Nggak usah, jangan kasih tau mama nanti mama jadi khawatir,”
“Oh okay kalau gitu. Nih handphone kamu ya, aku taruh di sini,” ujar Vindra seraya menunjuk ponsel genggam Shelina di atas nakas. Shelina segera meraih ponselnya dan membuka pesan. Ternyata tidak hanya menelpon, mamanya juga mengirimkan pesan.
-Zel, udah selesai upacara? Kamu pasti lapar deh nggak sarapan. Pokoknya makan bekal mama ya-
Zeline tersenyum, ternyata mamanya mengirimkan pesan untuk mengingatkan Ia supaya makan bekal yang dibawakan mamanya tadi sebelum Ia berangkat ke kampus. Akan Ia makan nanti siang, sekarang sudah terlanjur dibelikan bubur oleh Vindra. Ia juga lupa kalau dibawakan bekal, harusnya itu saja dulu yang dimakan olehnya sekarang.
-Iya, Ma. Aku makan kok. Baru selesai upacaranya, Ma-
“Kenapa senyum-senyum? Baca chat siapa?”
Kening Vindra mengernyit ketika melihat Zeline tersenyum menatap layar ponselnya. Ia penasaran Zeline sedang membaca apa. Karena kelihatannya Zeline tengah membaca. Makanya Ia bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
“Mama aku, ingetin aku untuk makan,”
“Duh, tante Reta nggak tau aja anaknya baru abis pingsan,”
Sarah datang membawa bubur ayam yang langsung Ia serahkan kepada Zeline dan Sarah menyerahkan sisa uang setelah membeli bubur tadi kepada Vindra namun Vindra menolaknya.
“Simpan aja. Makasih ya udah nolongin gue,” ujar Vindra.
“Makasih juga, Vin,”
“Zel, tehnya belum lo minum?”
“Oh iya lupa. Gara-gara udah pegang handphone nih. Baru aku minum dikit,”
“Gue ke kelas ya,” pamit Sarah pada Zeline dan Vindra.
“Iya, makasih banyak ya, Sar,” ucap Zeline dengan tulus.
Sarah mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Zeline. Setelah itu Sarah meninggalkan Zeline bersama Vindra yang sedang membuka wadah bubur ayam yang baru saja dibeli oleh Sarah.
__ADS_1
“Nih, makan dulu. Aku suapin ya?” Vindra menawarkan dirinya untuk menjadi sosok yang menyuapi Zeline makan sekarang
“Eh nggak usah, gue makan sendiri aja,”
“Udah aku suapin aja. Kenapa sih kamu nggak mau aku suapin? ‘Kan enak kalau disuapin, kamu tinggal buka mulut, Zel,”
“Ya tapi gye bisa makan sendiri, Vin. Gue ‘kan bukan anak kecil, tangan gue juga normal—“
“Iya aku tau, Zel. Siapa yang bilang kamu masih bocil? Siapa yang bilang tangan kamu nggak bekerja dengan normal? Aku ‘kan nggak ngomong gitu. Ayo, aku suapin. Kamu tinggal buka mulut, nggak perlu effort apa-apa,” ujar Vindra membujuk Zeline yang sempat bersikeras ingin makan dengan tangannya sendiri. Bukan apa-apa, Zeline hanya tidak ingin menyulitkan Vindra. Tadi Vindra sudah membawanya ke sini, sekarang mendampinginya, Ia tidak enak kalau sampai makan saja harus Vindra bantu juga. Padahal Ia bisa melakukannya sendiri.
“Makasih ya, Vin,”
Vindra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Salah satu tangannya mengusap puncak kepala Zeline.
“Iya sama-sama. Udah jangan ngomong makasih lagi ya, aku bisa bosan dengarnya,”
“Maaf udah bikin lo repot ya,”
“Kok kamu ngomong gitu sih?”
Vindra menatap Zeline dengan sorot mata tidak suka. Ia tidak suka ketika Zeline bicara seperti itu. Ia tidak merasa telah direpotkan oleh Zeline sedikitpun.
“Sejak kapan sih kamu ngerepotin aku? Nggak pernah, Zel. Jangan ngomong gitu lagi ya, aku males dengarnya,” ujar Vindra dengan tegas.
“Makasih,”
“Iya, ya ampun. Sekali lagi kamu bilang makasih, aku mendingan hilang aja deh dari bumi,”
Zeline langsung terkekeh. Vindra senang melihat Zeline sudah bisa terkekeh walaupun bibirnya masih pucat, dan masih kelihatan lemah.
“Kamu walaupun muka sakitnya nggak bisa ditutupin, tapi cantiknya masih aja keliatan ya,”
Zeline berdecak sambil merotasikan bola matanya malas mendengar perkataan manis Vindra.
“Lo pikir gue bakal melting gitu? Ya kali, gue lagi pusing nih, jangan bikin tambah pusing. Gombalan lo nggak ngaruh,”
“Lho kok gombal? Emang serius kok,”
__ADS_1
Di tengah obrolan mereka tiba-tiba ada seseorang datang dan memanggil Zeline yang saat ini sedang bersama Vindra yang sekalipun sudah berstatus mantan tetap berusaha menunjukkan perhatiannya atau sikap lembutnya.