Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 114


__ADS_3

“Zel, aku minta maaf kalau memang selama ini sikap aku udha bikin kamu cwmburud an mikir yang nggak-nggak soal hubungan aku dan Anin, tapi tolong jangan kayak gini, Zel. Aku nggak mau putus,”


“Ya emang kalau kita nggak putus kamu bakal jamin aku nggak bakal sakit hati lagi? Hah?”


“Ya terus kamu maunya gimana? Aku menjauh dari Anin? Aku putusin persahabatan aku sama dia? Hmm?”


“Lah, ngapain? Aku ‘kan nggak minta begitu. Itu hak kamu mau bersahabat sama siapa aja tapi jujur aku udah nggak bisa makan hati lagi, Vin, udah cukup aku pikir,”


Zeline langsung melangkah demgan cepat meninggalkan Vindra yang terdiam dnegan eprasaan kacau. Zeline benar-benar tidak mau lagi diperjuangkan. Zeline sudah sangat membencinya, dan tidak ada harapan lagi untuk mereka bersatu.


Vindra menekan dahi bagian tengahnya. Mendadak Ia pening memikirkan permasalahannya dengan Zeline. Ia adalah tipe orang yang akan berjuang untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan, tapi kalau yang diperjuangkan memintanya untuk berhenti berjuang, apa yang harus Ia lakukan? Di lain sisi Ia sangat berharap hubngannya dengan Zeline bisa kembali seperti dulu.


Vindra menghembuskan napas kasar, kemudian Ia berjalan ke kelas dnegan wajah yang murung. Tidka seperti hari-hari ketika bersama Zeline yang selalu membuatnya berseri kalau dudah masuk ke kelas.


“Vin, tumben nggak sama Anin,”


Tiba-tiba ada yang bicara seperti itu kepada Vindra sesaat setelah Vindra duduk di kursinya. Gindra menggelengkan kepalanya pelan.


“Iya gue nggak sama Anin,”


“Dia kemana?”


“Katanya mau berangkat sendiri,”

__ADS_1


“Kenapa? Gara-gara lo sama Zeline putus ya?”


“Udah, Dew. Nggak usah banyak tanya, berisik lo ah,”


Dewi langsung merengut setelah mendapatkan tanggapan yang seperti itu oleh Vindra.


*******


“Zel, nanti ‘kan bakal ada anak baru lho,”


“Hah? Kok tanggung amat dia masuk?”


Zeline merasa tertarik dengan berita yang baru saja dibagikan oleh Gisa. Bel masuk sudah berbunyi tapi guru belum datang juga. Maka dari itu Gisa gunakan untuk mengobrol dengan Zeline.


“Iya makanya, dengar-dengar sih hari ini masuk,”


“Kok bagus?”


“Ya biar ada sosok baru yang kita liat, nggak ini lagi-ini lagi,”


Gisa tertawa mendnegar Zeline yang rupanya bosan bertemu dnegan temannya yang itu-itu saja. Dan Zeline juga yakin para teman sekelasnya pun merasakan hal yang sama ketika melihatnya.


“Kota pasti udah salinh bosan. Orang bosan ngeliat gue, dan gue juga bosan ngeliat mereka-mereka lagi. Ya walaupun seru sih. Tapi pasti udah pada bosan,”

__ADS_1


“Kayak lo sama Vindra dong? Udah bosan ya?”


“Hilih, kenapa jadi bawa-bawa Vindra?”


“Lo sama Vindra bosan nggak?”


“Nggak, tapi karena dia udah bikin gue kesal banget jadinya gue bosan. Pengen hidup sendiri aja gue nggak usah ada pacar segala. Ribet banget, apalagi kalau dia punya teman dekat perempuan. Ah mending gue nggak usah pacaran deh. Soalnya makan hati banget,”


“Assalamualaikum selamat pagi,”


Obrolan antara Zeline dan Gisa terpaksa berakhir karena guru mereka sudah datang. “Okay sekarang kita belajar materi yang akan diujikan minggu depan ya. Coba dibuka lagi buku catatan nya, dan kalau ada yang belum dioahami, jangan sungkan untuk bertanya,”


Pelajaran fisika memang harus benar-benar dipahami kalau tidak mau tersesat ditengah jalan. Oleh sebab itu, sekarang ini Zeline fokus dengan buku catatannya dan memcari materi apa yang sekiranya belum Ia pahami.


******


“Eh Mba kok baru datang sih? Ini udah jam delapan, bentar lagi jam pertama udah kelar,”


“Iya maaf, Pak. Saya macet di jalan,”


“Ya makanya jangan bangun kesiangan. Kalau aja bangun tepat waktu ‘kan nggak bakal telat sampai sini,”


Anin mendapat teguran dari pihak keamanan sekolah karena Ia terlambat tiba di sekolah. Anin tiba disaat murid-murid sedang belajar.

__ADS_1


“Nggak boleh masuk! Sana pulang aja, percuma aja. Ntar yang ada dihukum lho,”


“Duh Pak Dim, jangan nyuruh saya untuk pulang dong, ntar saya jadi anak yang malas. Udah tolong bukain sekarang. Saya mau masuk,”


__ADS_2