Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 30


__ADS_3

Zeline membuka matanya yang sempat terpejam sejak satu jam yang lalu sambil menunggu Vindra datang menjemputnya untuk makan malam berdua.


Zeline melihat jam yang ternyata sudah lebih dari jam sembilan. Zeline melihat ponsel, tidak ada pesan ataupun panggilan dari Vindra. Zeline tidak bisa menahan rasa kesal, dan kecewa atas sikap Vindra malam ini. Ia sudah bersiap, sesuai dengan janji Vindra yang katanya akan mengajak Ia untuk makan malam. Vindra bilang jam delapan Ia sudah sampai di rumah Zeline, tapi ternyata sampai lewat dari jam yang dijanjikan, Vindra tidak datang juga. Sampai Zeline ketiduran karena menunggu Vindra datang.


Zeline segera mengganti bajunya dengan baju tidur sambil menangis. Vindra tidak pernah seperti ini. Padahal Ia sudah senang sekali ketika Vindra punya inisiatif mengajaknya untuk makan berdua sebab mereka sudah jarang menghabiskan waktu berdua dan kalau boleh jujur itu terjadi semenjak Anin hadir di tengah-tengah mereka.


“Kamu tega banget sih, udah nggak nepatin janji, terus nggak ada omongan apa-apa lagi! Nggak ada chat atau telepon aku. Entah apa alasan kamu nggak jadi datang, Vin. Biasanya omongan kamu itu selalu bisa aku pegang, tapi kali ini entah kenapa kamu nggak bisa nepatin omongan kamu sendiri,”


*******

__ADS_1


“Makasih ya udah mau temenin aku makan, aku senang banget, jujur, akhirnya kemauan aku di hari pertama halangan ini teroenihi juga. Nggak tau kenapa aku kepengen banget makan pizza di tempat itu,”


“Iya sama-sama, kamu ‘kan udah aku turutin nih kemauannya untuk makan pizza di resto nya langsung, jadi sekarang kamu istirahat ya, aku mau pulang,”


“Okay, bye. Hati-hati ya,”


Vindra menganggukkan kepalanya dan berjalan ke basement apartemen Anin yang baru saja Ia antar pulang.


Akhirnya Vindra datang ke apartemen Anin untuk menemani Anin makan di restoran yang diinginkannya.

__ADS_1


Sebelum melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Anin, Vindra memeriksa ponselnya dulu. Tadi sebelum Ia pergi dengan Anin, Ia sempat mengirimkan pesan untuk Zeline yang berisi permintaan maaf untuk malam ini mereka tak jadi dulu untuk makan berdua. Tapi begitu Vindra buka lagi ruang obrolannya dengan Zeline, ternyata pesan itu tidak terkirim.


“Lho, kok nggak kekirim sih? Ini gimana ceritanya nggak bisa sampai chat gue ke Zeline? Astaga, jangan-jangan Zeline udah nunggu-nunggu nih,”


Vindra lihat waktu di ponselnya yang ternyata sudah jam setengah sepuluh. Ia ingin mengajak Zeline pergi makan malam, rasanya tidak mungkin. Yang ada juga Ia diminta pulang oleh orangtua Zeline karena berani-beraninya mengajak Zeline keluar jam segini, tapi Ia ingin bertemu dengan Zeline untuk meminta maaf sekaligus tetap menepati janji.


“Duh gimana ya? Kalau gue tetap ke rumah Zeline, nggak enak, pasti ganggu istirahat. Tapi kalau gue nggak ketemu Zeline malam ini, besok kayaknya Zeline bakal cuek ke gue. Soalnya gue nggak jadi datang ke rumahnya dan gue nggak bilang apa-apa, dia pasti udah nungguin gue deh. Sialan emang ini handphone. Bisa-bisanya chat gue nggak terkirim ke Zeline,”


Vindra mencari-cari penyebab kenapa pesannya tidak terkirim ke Zeline. Ternyata setelah Ia tahu, kuota internetnya sudah habis.

__ADS_1


“Astaga, bisa-bisanya gue kehabisan kuota,”


__ADS_2