Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 178


__ADS_3

“Halo, Zeline. Jery punya sesuatu untuk dirimu,”


Vindra memutar bola matanya malas mendengar Jery yang mulai mode genit menghentikan langkah tepat di depan kelas Zeline yang kebetulan hendak keluar dari kelas karena mau ke kamar mandi, kelas Vindra dan Jery akan ada materi olahraga.


“Nggak usah banyak cincong, udah ditungguin Pak Bono tuh di lapangan,” sindir Vindra sambil bwrlalu meninggalkan Jery dan Zeline.


“Apa si ribet banget jadi orang, nggak bisa banget gitu biarin gue senang?” Gerutu Jery seraya menatap punggung Vindra. Saat Jery menggerutu itulah Zeline akan kabur, alias pergi jarena malas juga menanggapi Jery yang entah apa tujuannya menghentikan langkahnya yang akan ke kamar mandi lagipula kalau Jery terlambat, Ia yang tidak enak pada Pak Boni. Bisa-bia Pak Boni mengira Ia lah yang memanggil Jery supaya mereka mengobrol dulu memghabiskan waktu sehingga Jery terlambat.


“Lho Zeline kok pergi?”


Jery baru sadar kalau Zeline sudah berjalan menjauh darinya. Dengan cepat Ia mengejar Zeline yang langsung mempercepat langkah kakinya.


“Zeline, jangan pergi dong. Aku kan belum selesai ngomong,”


“Dmang apa sih yang mau kamu omongin? Kamu najti ditegur Pak Bonu lho kalau telat, aku juga takut kena. Mending ke lapangan sekarang, Jer,”


“Iya bentar dulu tapi, stop dong jangan jalan mulu,” pinta Jery pada Zeline yang tidak mau menghentikan langkahnya. Ia terus melangkah menjauh dari Jery.


“Zel kalau kamu mau aku nggak ganggu kamu lagi dan kamu mau aku ke lapangan sekarang okay nggak apa-apa. Tapi stop dulu jalannya,”


Akhirnya Zeline menghentikan langkah kakinya. Supaya cepat Jery ke lapangan dan Ia bisa ke kamar mandi secepat mungkin:


“Apa yang mau kamu omongin?”


“Aku ada sesuatu nih buat kamu, aku harap kamu suka ya,”


Jery langsung mengeluarkan sebuah rantai kecil, tepatnya gelang yang dimana ada kupu-kupu kecilnya sebagai penghias. Lalu Ia berikan itu pada Zeline.


“Lho ini maksudnya apa, Jer?”


“Buat kamu lah,”


“Iya tapi kenapa kamu ngasih ini ke aku? Aku man lagi nggak ulang tahun. Mending kamu simpan aja gelang ini ya, aku nggak berhak nerima, lagian aku nggak lagi ulang tahun, atau kamu kasih aja ke yang lain, yang berhak untuk nerima hadiah kamu ini,” ujar Zeline seraya mengembalikan gelang pemberian Jery ke tangan Jery. Zeline tidak bisa menerima karena Ia tidak punya hak. Ia tidak ulang tahun, dan Ia bukan siapa-siapa Jery. Jadi tidak enak kalau menerima gelang itu.


“Ya ampun, Zel. Jadi kamu nggak mau nerima pemberian aku ini?”


“Bukan gitu maksud aku, Jer. Tapi aku nggak berhak nerima ini,”


“Berhak kok, orabga ku yang ngasih dan aku ngasih siapa itu urusan aku lah, suka-sukanya aku. Tolong ya diterima, aku mohon banget,”


“Jer, jangan kasih ke aku ya, aku nggak enak sumpah beneran. Aku nggak ulang tahun, terus kita kan cuma temenan jadi ya ngapain kamu ngasih aku ini,”


“Udah pokoknya terima, okay? Dipakai ya supaya aku senang. Itu sengaja lho aku pilihin buat kamu pas aku liburan kemarin, aku ke lapangan dulu, bye,”


Jery langsung pergi begitu saja. Ia tidak mau kalau Zeline mengembalikan gelabg itu ke tangannya lagi karena itu sudah untuk Zeline dari Ia sendiri. Ia yang memilih ketika pergi liburan keluarga beberapa lalu, dan Ia juga yang memberikannya ke tangan Zeline.


Seorang lelaki yang bersembunyi di balik dinding dan sejak tadi mengamati interaksi antara Zeline dan Jery langsung mendengus dan mengepalkan kedua tangannya.


“Menang dari mantannya aja belum bisa, sekarang gue harus saingan juga sama Jery. Dan gue nggak tau bakal ada siapa lagi setelah Jery. Kenapa si Jery harus balik lagi sih ke sekolah ini? Harusnya dia liburan aja terus,” batin lelaki itu.

__ADS_1


“Eh Juan, darimana lo?”


Juan sudah keluar dari tempat persembunyiannya, karena sengaja ingin berpapasan dengan Zeline yang langsung menegurnya.


“Dari kamar mandi,”


“Kamar mandi cewek apa cowok?”


“Cowok lah, anjir, masa cewek,”


“Hahahaha oh kirain. Ya udah sana balik, nama lo belum di absen tadi,”


“Okay,”


Juan berjalan menuju kelasnya sementara Zeline bergegas ke kamar mandi. Tanpa Zeline tahu, Juan benar-benar kesal ketika melihat Zeline dekat dengan lelaki selain dirinya yang hanya dianggap sebagai teman oleh Zeline.


******


“Lo abis darimana aja sih? Dicariin tuh sama Pak


Boni,”


“Kayaknya Pak Boni kangen amat sama gue ya,”


“Dih bukan kangen, bego! Nama lo tadi disebut nggak ada orang mau diabsen!”


Begitu tiba di lapangan Jery langsung dimarahi oleh Ghali salah satu temannya. Jery segera mwnghampiri Pak Boni.


“Kata Vindra kamu lagi caper, itu benar?”


Kening Jery langsung mengernyit, mulutnya sedikit terbuka setelah mendengar ucapan Pak Boni.


“Hah? Caper, Pak?”


“Iya caper sama Zeline kata Vindra,”


“Nggak, Pak,”


“Emang caper itu apa sih?”


Jery menahan tawanya yang hampir meledak mendengar pertanyaan polos Pak Boni.


“Maklum saya kan udah bapak-bapak malah udah mau jadi Kakek jadi saya tuh nggak tau caper apaan?”


“Cari perhatin gitu, Pak. Tapi saya nggak lagi caper kok, Pak. Seriusan deha, saya mah nggak usah cari perhatian sama Zeline karena saya udah dapat, Pak,”


“Halah emang Zeline mau sama kamu?”


“Buset ni aki-aki kejem amat mulutnya, langsung nyes di hati,” batin Jery yang benar-benar kesal mendengar ucapan Pak Boni.

__ADS_1


“Mau lah, Pak. Secara saya ganteng banget gitu, siapa sih yang nggak mau sama saya?”


“Ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit lagi jadi jangan kepedean jadi orang, jangan terlalu meninggi,”


“Hahahah siap, Pak, maaf saya salah. Saya mah cuma bercanda aja, Pak biar kita satuy dikit. Saya tau di atas langit masih ada langit lagi,”


“Disaat kamu ngaku ganteng, ntar cowok-cowok di luar sana yang lebih ganteng dari kamu pada panas kupingnya,”


Jery tertawa mendengar ucapan guru olahraganya itu. Nasihatnya baik, mengajarkan Ia untuk tidak sombong dan ada selingan candaan itulah yang membuat Ia jadi merasa terhibur.


Pak Boni mulai menguji kemampuan lari jarak jauh anak-anak didiknya. Mereka semua dipanggil sesuai absen dan mulai menampilkan kemampuan usai sebelumnya pemanasan ringan dan singkat terkecuali Jery yang datang terlambat alhasil begitu selesai lari jarak jauh kakinya sedikit kram namun beruntungnya tak lama.


“Makanya nggak usah kegatelan, sakit kan kakinya,”


“Apaan sih lo, Vin?! Kampret lo! Emang gue gatel sama siapa?”


“Ya lo pikir aja sendiri,”


“Bilang aja lo cemburu kan sama gue tadi karena ngobrol sama Zeline?”


“Kalau iya emang kenapa?”


“Bacot lo ah,”


“Rasain sakit kakinya,”


“Parah banget masa temannya sakit malah kayak gitu,”


“Lagian sih caper banget. Apa yang lo obrolin sama Zeline tadi? Hah?”


“Kepo amat,”


“Ya gue mau tau, apa susahnya lo cerita sama gue?”


“Nggak penting buat lo tau,”


“Cepet cerita nggak! Atau kaki lo, gue injek nih,” ujar Vindra sambil memasang ancang-ancamg ingin menginjak kaki Jery yang sedang duduk di bawah meluruskan kakinya.


“Coba aja, ntar gue laporin ke polisi,”


“Dih ngancem lo?”


“Ya makanya cerita lo abis ngomong apaan sama Zeline?”


“Nggak ada kok,”


“Halah bohong,”


“Lo kenapa sih kepo amat? Bukan urusan lo juga,”

__ADS_1


“Ya gue mau tau lo ngomong apaan berdua sama Zeline tadi?”


“Nggak ada, ah elah batu banget,”


__ADS_2