Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 75


__ADS_3

“Hai Zeline,”


“Hai,”


“Gimana keadaan kamu? Maaf ya aku belum jenguk. Tadi aku mau ikut Vindra jenguk tapi Vindra nggak bolehin. Katanya dia aja sendiri. Mungkin besok kali ya aku jenguk kamu,”


“Nggak jenguk juga nggak apa-apa,” ujar Zeline sambil tersenyum menatap kamera.


Tak lama Vindra pulang, tiba-tiba Anin menghubunginya melalui sambungan panggilan video.


Zeline menjawabnya tanpa menunggu waktu lama. Ternyata Anin ingin menanyakan keadaannya sekaligus meminta maaf karena tidak bisa menjenguknya.


Zeline tidak merasa keberatan. Tidak dijenguk oleh kekasihnya pun tidak masalah sebenarnya. Tapi Vindra malah datang menjenguk.


“Semoga besok kamu udah bisa sekolah ya,”


“Kayaknya belum, Mama aku belum izinin soalnya. Apalagi makam ini kepala aku masih sakit banget,”


“Demamnya gimana?”


“Udah mendingan,”


“Oh gitu, ya udah istarahat aja dulu,”


“Iya makasih,”


“Semoga cepat sembuh ya, Zel,”


“Aamiin makasih doanya,”

__ADS_1


“Eh tadi aku pergi sama Vindra ke toko alat tulis. Abis itu makan,“


“Iya Vindra udah cerita. Gimana? Senang ya?”


“Senang, rame banget toko alat tulis,”


Zeline bergumam saja mendengar itu. Kedengaran dari suaranya kalau Anin memang benar-benar senang.


“Besok kalau kamu belum masuk, aku mau ke rumah kamu boleh ya?”


“Nggak usah repot-repot jenguk aku, cukup doain aku aja, Nin. Tapi kalau mau main boleh kok,”


“Aku mau datang sama Vindra ya,”


“Iya, datang sendiri juga boleh, bebas lah,”


“Okay selamat istirahat semoga besok makin membaik,”


Sambungan video pun berakhir, Zeline meletakkan ponselnya di atas nakas dan segera berbaring untuk tidur.


**********


“Vindra, kok tumben nggak sama pacarnya? Kenapa cuma sama sahabatnya?”


“Ih julit deh Lifia,”


“Lah gue ‘kan nanya,”


Lifia bingung ketika pertanyaannya makah dijawab ketus oleh Anin. Sesaat setelah Anin dan Vindra keluar dari mobil.

__ADS_1


“Zeline lagi sakit,”


“Hah? Zeline sakit apa?”


“Demam,”


“Semoga cepat sembuh ya,”


“Makasih doanya,”


“Kirain ketinggalan pacar lo, eh nggak taunya emang nggak sekolah ya,”


“Masa iya ketinggalan, Lif. ‘Kan Zeline bukan barang,” ujar Anin.


“Ya sorry, okay deh kalau gitu gue duluan ke kelas,”


Anin merotasikan bola matanya dan itu mengundang tawa Vindra. “Kenapa sih kamu, Nin?”


“Nggak apa-apa, dia mulut rumpi banget ya? Masa ngira Zeline ketinggalan,”


“Ya wajar, karena biasanya ‘kan kita sama Zeline nah ini nggak,”


“Ya udah nanya aja nggak usah sama-samain Zeline sama barang lah,”


*******


“Eh kok turun? Mama bilang nanti mama aja yang bawa makanan, Sayang,”


“Aku bosan di kamar terus, Ma,” keluah Zeline sambil duduk di ruang makan bersama kedua orangtuanya. Richie sudah mulai makan, sementara Reta tengah menyiapkan makanan untuk dirinya.

__ADS_1


“Ayo makan sama Papa Mama di sini,” ujar Reta seraya meletakkan piring berisi makanan untuk anaknya itu. Zeline menganggukkan kepalanya, lantas segera duduk siap untuk makan bersama Mama dan papanya yang seperti biasa sulit kalau tidak makan bersamanya, pasti sebisa mungkin Ia harus makan bersama mereka. Mengingat dalam sehari jarang bertemu karena Ia sibuks ekolah, Papanya sibuk bekerja dan Mamanya di rumah, jadi wajar kalau mereka tak mau melewatkan momen sekecil apapun bersama dirinya yang merupakan anak satu-satunya di rumah ini, apalagi Ia anak perempuan yang begitu disayang oleh mereka berdua.


__ADS_2