
“Kamu lagi ada masalah apa sama Vindra? Aku boleh tau nggak?”
Zeline tersentak kaget ketika bahunya tiba-tiba ditepuk lembut dari arah belakang, dan Anin langsung duduk di sampingnya tanpa permisi.
Zeline mengamati sekitar. Biasanya kalau ada Anin, ada Vindra juga. Tapi kali ini Ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Vindra.
“Tumben nggak sama Vindra? Dia masih di kelas?” Tanya Zeline. Alih-alih menjawab rasa penasaran Anin, Zeline justru menanyakan keberadaan sang kekasih.
“Iya, dia masih di kelas,”
“Kenapa nggak ke kantin?”
“Kayaknya sih bakal ke kantin deh, nyusul aku,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Anin itu sebenarnya sadar kalau Vindra memang sering menjadi satu kesatuan dengan dirinya. Terbukti dari Anin yang sudah bisa menebak Vindra akan menyusulnya ke kantin, alih-alih menyusul Zeline.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu ada masalah apa sama Vindra, Zel?” Tanya Anin lagi masih dengan topik yang sama. Anin meraih tangan Zeline kemudian digenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Zeline tersenyum dan melepaskan tangannya perlahan. Entah kenapa Ia merasa tidak senang ketika Anin penasaran seperti ini.
“Apa dia nggak tau kalau aku berantem sama Vindra penyebabnya ya karena dia?” Batin Zeline seraya mengaduk es teh ya dengan perasaan yang jengkel.
“Zel, kamu berantem ‘kan sama Vindra? Soalnya Vindra tuh keliatan beda, dia juga bilang ke aku, kamu lagi badmood sama dia. Emang ada apa?”
“Iya emang lagi badmood, hormon kali, nggak tau deh,” jawab Zeline dengan seadanya. Malas juga menjelaskan kepada orang yang sebenarnya adalah penyebab dari rasa kesal yang datang menghampirinya.
“Badmood karena apa? Aku boleh tau nggak?”
“Ya mungkin karena hormon kali,”
“Iya,”
“Kasian Vindra nya. Dia kepikiran terus ya kalau ada masalah sama kamu, keliatan banget soalnya,”
Zeline mendengus kasar. Ia malas untuk menjelaskan kronologinya kepada Anin. Karena yang ada, rasa jengkelnya akibat kedekatan Anin dengan Vindra akan datang lagi. Lagipula apa yang terjadi diantara dirinya dan Vindra bukanlah hal yang perlu diketahui oleh orangs elain mereka berdua. Karena masalahnya ada di hubungan mereka berdua, orang lain tidak harus tau.
__ADS_1
“Tapi sekarang kalian udah baik-baik aja ‘kan? Nggak ada amsalah apapun lagi?”
“Nggak, smeua udah baik-baik aja kok,“
“Kalau ada masalah, dibicarain secepatnya, Zel. Daripada kalian diem-dieman lama ‘kan? Kamu sebagai cewek jangan malu untuk mulai obrolan duluan supaya masalah selesai, karena nunggu cowok tuh kadang makan hati. Mending kalau dia peka kita lagi nunggu dia mulai, lah kalau dia nya nggak peka gimana? Yang ada stres kita nungguinnya. Aku sih sebagai cewek pesannya gitu aja ke kamu, ya walaupun berat banget ya untuk dilakuin karena cewek tuh gengsinya besar, terus egonya juga nggak main-main,”
“Aku sama Vindra memang begitu kok. Biasanya Vindra itu langsung ngajak aku ngobrol baik-baik, minta maaf, tapi emang kemarin tuh dia kayak bodo amat, sibuk aja gitu sama kamu. Kayak nggak ada apa-apa, padahal dia tau aku lagi badmood banget,”
Anin mengerjapkan kedua matanya. Baru saja Zeline membawa dirinya masuk ke dalam permasalahan yang terjadi di antara Zeline dengan Vindra.
“Kok sibuk sama aku?”
“Iya, intinya bodo amat ke aku, sibuknya sama yang lain. Padahal dia tau, aku lagi kesal banget sama dia,”
Sekarang Zeline terang-terangan menunjukkan rasa tidak nyamannya. Zeline berharap Anin paham, supaya tidak bertanya lagi kenapa Ia bisa kesal pada Vindra.
“Aku salah nih jadinya?”
__ADS_1
Zeline tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ada kata ‘iya’. Yang Zeline ingin adalah Anin diam saja, jelas-jelas sudah disinggung. Karena kalau bertanya polos seperti itu, kesannya malah menyebalkan di mata Zeline.