
“Padahal juga biasanya nyamper kok,”
“Iya kata Anin mungkin kamu udah di kantin jadi ya udah aku sama Anin langsung ke kantin deh,”
“Lah ‘kan biasnaya kalau aku udah suluan keluar kelas pas jam istirahat, aku nyamperbke kelas kalian, sekarang kebiasaan itu udah dirubah ya?”
“Nggak gitu, aku minta maaf,”
“Santai aja, masalah kecil kok,” ujar Zeline dengan wajah datar, dan tetap mengunyah.
“Kesal bikin lapar, bos,” batin Zeline.
“Zel, maaf ya. Aku sendiri juga nggak tau kalau kamu maish di kelas nungguin kita,”
“Lebih nunggu Vindra sih sebenarnya,”
Zeline tidak bermaksud untuk menyakiti Anin dengan kata-katanya, tapi setelah mengeluarkan kalimat seperti itu, ada rasa sesal.
“Kira-kira Anin tersinggung nggak ya? Aku mkan cuma jawab jujur. Aku lebih nunggu Vindra,“
“Iya maksud aku, aku nggak tau kalau misalnya kamu nungguin Vindra di kelas. Maaf ya sekali lagi,”
__ADS_1
“Iya nggak apa-apa, santai aja,”
“Kamu marah sama aku nggak?”
“Nggak,”
“Soalnya aku yang ngajak Vindra langsung ke kantin,”
Zeline mendengus pelan. Sudah Ia duga. Vindra rasanya tidak mungkin melupakan dirinya, karena mereka terbiasa istirahat bersama. Tidak mungkin tiba-tiba Vindra lupa ingatan. Langsung saja ke kantin tanpa mengajaknya.
“Nggak marah kok,”
“Nggak-nggak, ini bukan salah Anin. Dia nggak salah. Emang aku yang mau ke kantin,”
Zeline merasa sesak karena Vindra pasang badan, tidak mau Anin disalahkan. Oadahal Ia juga tidak menyalahkan Anin.
“Emang siapa yang nyalahin Anin? Ada ucapan aku yang nyalahin Anin? ‘Kan Anin yang jelasin ke aku dan minta maaf, bukan aku yang nyalahin dia dan nuduh dia,” ujar Zeline dengan ketus dan membuang muka tak mau menatap Vindra di sebelahnya yang setia menatapnya.
“Aku nggak bilang kalau kamu nyalahin atau nuduh Anin, Zel. Aku cuma mau meluruskan aja. Anin emang nggak salah kok. Aku yang salah,”
Zeline sudah berhasil menghabiskan rotinya. Walaupun rasanya tidak seperti makan, karena Ia tidak menikmati apa yang masuk ke dalam mulut melainkan sibuk menetralisir rasa kesal, tapi setidaknya Zeline tidak akan merasa lapar untuk beberapa saat ke depan karena Ia sudah makan.
__ADS_1
Zeline menyeruput air minumnya setelah itu bangkit berdiri membuat sepasang manusia di dekatnya ini kebingungan.
“Kamu mau kemana, Zel?”
“Mau kemana aja suka-suka aku lah,” jawab Zeline dan setelah itu melangkah pergi, menjauh dari Vindra dan Anin.
“Astaga, ngambek lagi dia?” Tanya Vindra.
“Ya udah bujuk aja, kamu yang sabar ya. Perempuan emang susah untuk dipahami apa maunya,“ ucap Anin sambil menepuk bahu Cindra singkat.
Vindra menghabiskan bakso yang ada di dalam mangkuknya, setelah itu Ia minum dan membersihkan sudut-sudut mulutnya menggunakan tisue.
“Aku ke kelas Zeline dulu ya mumpung belum bel masuk,”
“Okay,”
Vindra bergegas cepat meninggalkan kantin menuju kelas kekasihnya. Ia tidak bisa diam saja setelah membuat suasana hati Zeline berantakan.
Ia sedikit lega Zeline sudah duduk tenang di bangkunya. Ia pikir Zeline menghilang dulu tadi. Entah kemana, untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Dengan cepat Vindra menghampiri kekasihnya itu. Ia segera berlutu di dekat meja Zeline dan meraih tangan Zeline.
__ADS_1
Tnetu Zeline kaget ketika tiba-tiba kekasihnya datang, dan langsung berlutut. Zeline berdecak smabil melepaskan tangannya yang digenggam oleh Vindra, dan Ia pura-pura sibuk dengan buku di atas mejanya.