Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 57


__ADS_3

“Hai, Zel,”


“Iya kenapa?”


Vindra spontan menjauhkan telinganya dari ponsel karena kekasihnya menjawab telepon dengan ketus. Biasanya juga tidak seperti itu.


“Kamu kenapa? Kok jutek sih? Aku padahal mau nyapa kamu lho, aku baru banget bangun tidur. Dan kangen dengar suara kamu makanya aku telepon,”


Zeline tersenyum sinis. Tidur? Jelas-jelas tadi Zeline melihat Vindra di toko boneka. Zelina kesal karena Vindra berbohong dua kali. Sebelumnya menolak ajakan dirinya yang ingin pergi dengan Vindra, lalu yang kebohongan selanjutnya adalah barusan.


“Maksud kamu, tidur dimana? Di mall? Di toko boneka?”


“Hah? Kamu kok tau aku abis dari mall? Abis dari toko boneka,”


“Ya taulah, makanya jangan bohong. Ketauan ‘kan? Hahaha lagian sih bohong. Akhirnya ditunjukkin deh tuh sama Maha pengungkap kebohongan yaitu sang pencipta,” Zeline mengolok, berusaha menutupi rasa kesalnya. Zeline dan semua orang tidak suka yang namanya dibohongi apalagi oleh pasnagan sendiri. Memang benar ya, jangan memulai kebohongan satu kalipun, karena nantinya akan ketagihan untuk bohong dan bohong lagi. Biasanya kebohongan kedua dan seterusnya itu dibuat untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

__ADS_1


“Aku emang ke mall, diajakin sama Mama. Tadinya mau—“


“Tadinya kamu bilang kamu mau istirahat aja di rumah, kamu nolak pergi sama aku. Eh pas aku ke mall sama Mama aku abis ngambil baju Mama di butik, aku liat kamu, Mama kamu, sama Anin. Jalan bertiga ya ceritanya? ya nggak apa-apa sih, cuma kok bohong dari awal gitu lho,”


“Astaga aku emang awalnya mau istirahat, Zel. Tapi masa iya aku nolak kemauan Mama? Nggak mungkin dong? Mama pengen ditemenin aku ke mall. Ya udah aku berangkat deh sama Mama. Kami makan di salah satu restoran gitu, terus tiba-tiba ketemu Anin. Nah dia datang sama temannya kebetulan. Terus makan bareng Anin akhirnya. Dan setelah makan itu kita ke toko boneka,”


Zeline menghembuskan napas kasar. Biasnaya Ia mudah percaya pada Vindra. Tapi karena Ia sudah terlanjur melihat Vindra di mall yang jelas-jelas sebelumnya bilang ingin istirahat di rumah, akhirnya Zeline sudah terlanjur kesal dan sulit percaya.


“Mungkin aja itu alasan Vindra karena udah ketauan ngibul nya. Ke toko boneka beli boneka buat siapa aja dia nggak jelasin tuh. Mungkin buat Anin kali. Ya iyalah, masa iya buat Mamanya? Emang ibu-ibu masih main boneka?!” Zeline memijat pangkal hidungnya. Ia hanya bisa menggerutu di dalam hati. Marah-marah pada Vindra menghabiskan energi disaat Ia sedang butuh istirahat setelah jalan-jalan di mall, dan makan hati melihat Vindra di mall tidak sesuai sengan perkataan sebelumnya.


“Ya nggak apa-apa kalaupun emang begitu kenyataannya, aku nggak masalah kok,”


“Oh kamu yakin? Emang nggak cemburu?”


“Cemburu, cuma aku nggak boleh cemburu ke sahabat ‘kan,”

__ADS_1


Vindra menghembuskan napas kasar. Sekarang Ia sudah sulit membangun kepercayaan Zeline karena kesalahpahaman ini.


“Kamu bisa tanya Mama aku deh kalau nggak percaya,”


“Iya aku udah percaya kok, nggak perlu tanya ke siapa-siapa. Kalau emang kamu bohong ‘kan pasti nanti juga ada saatnya terbukti,”


“Tapi aku nggak bohong, Zel,”


“Iya aku percaya, Astaga. Nggak usah bolak balik ngomong nggak bohong,”


“Ya karena aku nggak mau kamu nggak percaya sama aku yang jelas-jelas udah jujur,”


“Udah jujur semuanya?”


“Udahlah, barusan udah aku jelasin semuanya nggak ada yang aku tutupin,”

__ADS_1


“Terus ngapain ke toko boneka? Itu belum diceritain. Aku penasaran aja kok cowok ke toko boneka? Kamu ‘kan nggak punya adek cewek, mama kamu apa masih main boneka?”


__ADS_2