
“Astaga, aku padahal udah berulang kali ngomong ke dia supaya dia tuh nggak usah lagi antar jemput aku. Apa-apaan soh itu orang?! Nggak paham bahas manusia kali ya? Masa aku harus ngomong pakai bahasa burung, bahasa ikan?!”
Reta terkekeh melihat Zeline menggerutu setelah Ia baru saja memberitahu bahwa Vindra sudah menunggu di ruang tamu ingin berangkat sekolah bersamanya. Kalau sudah datang begitu, tentu Reta tidak tega bila menyuruh Vindra pergi dari rumahnya dan bernagkat sekolah sendiri tanpa Zeline. Niat Vindra baik, Ia hanya ingin berangkat ke sekolah dengan Zeline yang sudah risih, tidak mau lagi berurusan dengan Vindra.
“Ayo turun, berangkat ke sekolah sama Vindra. Jangan ditolak, kasian dia udah rela datang ke rumah ini untuk berangkat ke sekolah bareng kamu ternyata malah kamu tolak. Jangan gitu ya, Nak. Boleh jadi berteman tapi ya memang nggak perlu intens karena ‘kan bukan pacar lagi. Perlu kamu tau, Mama dukung apapun yang menurut kamu baik. Karena mama tau kamu udah bisa dewasa dalam mengambil keputusan, jadi mama dukung apapun keputusan kamu yang pasti udah di pikirkan dulu matang-matang. Kita ambil sisi positifnya aja. Berarti dengan putusnya kamu sama Vindra, kamu bisa semakin fokus belajar, gapai cita-cita, iya ‘kan?”
Zeline menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan sang Mama. Itu juga yang Ia pikirkan. Ada sisi positif yang bisa Ia ambil ketika putus dari Vindra.
“Ya udah kalau gitu sekarang kamu turun ke bawah. Kamu berangkat ke sekolah sama Vindra. Soalnya dia udah terlanjur datang ke sini. Nah kalau emang besok kamu nggak mau lagi berangkat sama Vindra mungkin kamu diskusikan dulu sama Vindra. Bicara baik-baik ke dia kayak gini ‘Vin, nggak usah jemput aku lagi ya. Aku pulang pergi sendiri aja. Makasih, selama ini udah pulang pergi kemana-mana sama aku,’ Nah kalau udah ngomong kayak gitu ‘kan jadinya sama-sama enak. Kamu nggak kejam karena udah bicara baik-baik, dan Vindra juga bakal ngerti kok,”
“Iya kalau dia ngerti, Ma. Coba kalau dia nggak ngerti. Ih ribet deh,”
“Ya ngerti dong, makanya kamu ngomong baik-baik ke dia. Ayo buruan turun lah kasian Vindra. Dia udah datang dari rumahnya ke sini lho, supaya bisa berangkat sama kamu dan sikapnya juga nggak berubah tetap Vindra yang Mama kenal. Vindra masih sangat menghargai Mama Papa, tadi dia tetap biasa aja tuh ngobrol sama Papa, begitupun ke Mama. Jadi kita juga harus tetap hargai dia,”
Zeline berdecak pelan. Membayangkan pergi ke sekolah bersama Vindra benar-benar membuatnya tidak nyaman. Tapi Ia terus diminta oleh mamanya untuk turun ke bawah menemui Vindra dan berangkat ke sekolah bersama Vindra.
“Asal Mama tau ya, aku tuh udah sampai berbusa nih mulutnya ngomong ke dia supaya dia tuh nggak usah lagi antar jemput aku. Ih dia nggak paham-paham. Aku benci banget deh kalau udah kayak begini,”
“Ayo buruan, Zel. Kamu jangan begini ah. Nggak enak sama Vindra. Besok juga Vindra mungkin nggak datang jemput kamu lagi setelah kamu ngomong ke dia, jadi sekarang anggap lah ini terakhir kalinya Vindra jemput kamu di rumah untuk berangkat ke sekolah bareng-bareng. Anggap dia senagai teman kamu. Ingat lho, dia dua tahun sama kamu. Jangan benci kayak gitu. Lagipula kalian juga putusnya ‘kan baik-baik, jangan benci Vindra. Mama Papa nggak pernah ajarin kamu benci ke orang, El, paham? Jadi sekarang juga kamu turun ya ke bawah, berangkat sama Vindra,”
“Aku jadi mau berantem mulu sama dia. Kenapa sih dia keras kepala banget. Aku udha kurang jelas apa coba ngomong ke dia? Astaga, pengen aku tonjok aja rasanya itu orang ya,”
“Astaghfirullah heh! Kamu nggak boleh ngomong gitu ah. Biar giamnapun dia teman kamu. Mams nggak pernah ajarin kamu benci orang, Zel, apalagi sampai punya niat ngelakuin kekerasan ke orang. Nggak baik ah kayak gitu,” ujar Reta seraya menyelipkan beberapa helai rambut anaknya yang jatuh ke balik telinga.
“Ayo sekarang berangkat ke sekolah, nggak usah ada drama-drama kesal lagi sama Vindra,”
Bujuk Reta pada anaknya yang masih bertahan, bersikeras tidak mau juga turun menemui Vindra yang diakuinya bukan lagi menjadi kekasihnya.
“Erghh ya udah deh aku turun sekarang,”
Reta tersenyum ketika akhirnya Zeline meninggalkan kursi yang Ia duduki sebelumnya. Zeline menatap cermin sebentar untuk memastikan penampilannya sudah rapi. Kemudian Ia langsung meninggalkan kamarnya disusul oleh sang Mama.
__ADS_1
Melihat Zeline ke ruang tamu, Vindra langsung tersenyum cerah, padahal sebelumnya murung karena menebak Zeline tidak mau berangkat bersamanya maka dari itu lama tidak kunjung turun.
“Mau ngapain ke sini?” Tanya Zeline yang langsung membuat Vindra merasa sakit hati, tapi Ia tetap tersenyum. Ia tahu suasana hati Zeline masih belum membaik.
“Aku mau berangkat ke sekolah bareng kamu lah,”
“Hah? Berangkat sekolah bareng gue? Kenapa sih emangnya? Emang kurang jelas ya kalau gue sama lo itu udah nggak ada hubungan apa-apaan lagi,”
“Udah putus ya putus aja, kamu harus terima kenyataan itu dong, makanya kalau emang benar sayang dan nggak hubungan kita kenapa-napa, kamu jangan mulai cari perkara duluan makanya!”
“Zel, aku nggak pernah anggap hubungan kita udahan ya. Aku nggak pernah mau putus dari kamu. Keputusan yang kamu ambil itu cuma sepihak aja, dan aku nggak terima ya, Zel,”
“Kalian mendingan berangkat sekolah sekarang deh, takutnya telat,”
Reta menghentikan pembahasan tentang putus atau tidaknya hubungan antara Zeline dengan Vindra. Jujur Ia pening karena bingung sebenarnya hubungan mereka itu sudah berakhir atau belum. Zeline ternyata mengakhiri hubungan mereka begitu saja tanpa membahasnya terlebih dulu bersama Vindra. Dan karena hal itulah Vindra tetap datang ke sini, sikapnya seperto biasa saja, ternyata memang Vindra tidak pernah menganggap bahwa hibungan mereka telah berakhir.
“Untuk kali ini aja ya kita berangkat bareng, besok-besok nggak usah,”
“Mama, aku berangkat dulu, Assalamualaikum,”
Zeline pamit pada mamanya. Vindra pun melakukan hal yang sama dengan Zeline. Karena kesopanan Vindra, tidak ada yang berubah dari Vindra, maka dari itu Reta mengira bahwa semuanya baik-baik saja.
“Waalaikumsalam hati-hati ya kalian,”
“Iya, Ma,”
“Iya siap, Tante. Insya Allah aku jagain anaknya ya, Tante,”
“Terimakasih, Vindra. Bahagia terus ya,”
“Aamiin, doa yang serupa untuk Tante,”
__ADS_1
Reta mengantarkan anaknya hingga naik ke atas motor Vindra. Setelah motor Vindra melaju meninggalkan rumah, barulah Reta kembali ke dalam rumah.
********
“Zel, aku mau tanya sesuatu sama kamu,”
“Apaan sih? Udah kalau lagi nyetir ya nyetir aja, yang fokus! Nggak usah kebanyakan ngoceh,”
Vindra tertawa mendengar Zeline memarahinya. Biasanya Zeline itu malah senang kalau mengobrol dengannya di atas kendaraan baik itu motor ataupun mobil.
“Serius aku mau tanya sesuatu sama kamu,”
“Ya udah buruan tanya aja selagi bertanya itu masih diperbolehkan secara gratis, kalau udah bayar ‘kan bahaya, soalnya lo banyak tanya ya otomatis bakal banyak juga uang yang harus lo keluarin untuk memulai pertanyaan.
“Kamu sengaja ya lama-lama nggak turun dari kamar? Maksud kamu tuh supaya aku pergi dengan sendirinya gitu ya?”
“Pinter banget, nggak salah jadi mantan gue. Lo udah tau jawabannya kenapa masih nanya,”
“Segitu besarnya ya kesalahan aku, Zel?”
“Nggak tau ah, gue malas bahas yang udah lalu,”
“Jangan pergi, Zel, aku mohon, jangan kemana-mana ya,”
“Emang gue nggak kemana-mana kok,”
“Duh maksud aku jangan pergi ninggalin aku artinya kita putus, dan kamu benar-benar ambil keputusan itu sendirian padahal sebenarnya kita bisa ngomong baik-baik,”
“Udahlah, lo cari kebahagiaan lo sendiri aja, gue juga gitu,”
“Ya kebahagiaan aku ‘kan ada di kamu selain orangtua dan juga keluargaku,”
__ADS_1