Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 27


__ADS_3

“Zel, kamu nggak apa-apa ‘kan duduk di belakang dulu? Soalnya kaki Anin keseleo, jatuh dari tangga,”


Zeline menganggukkan kepalanya. Ia tidak jadi membuka pintu mobil Vindra bagian depan, tempat biasa untuk Ia duduk, karena Vindra berkata bahwa di depan ada Anin yang kakinya keseleo.


Begitu Zeline membuka pintu di belakang yang biasanya menjadi tempat Anin, dan Ia kaget ketika melihat ada sebuah alat bantu jalan. Lalu dimana Ia harus duduk? Di depan sudah ada Anin, di belakang ada tongkat.


Zeline menghembuskan napas kasar, dan langsung menyingkirkan alat bantu jalan itu supaya berada di bawah agar Ia bisa duduk dengan semestinya.


“Kok dipindah, Zel?” Tanya Anin yang bingung melihat Zeline memindahkan barang berharganya untuk saat ini. Karena tanpa alat itu, Ia kesulitan berjalan setelah tidak sengaja terjatuh dari tangga.


“Ya terus aku duduk dimana, Nin? Di atap mobil? Heheh,”


“Oh iya sorry-sorry, aku lupa,”


Zeline tersenyum memaklumi. Ia bukan tipe orang yang suka memperpanjang masalah, makanya tadi tanpa melontarkan protes, Ia memindahkan alat bantu jalan milik Anin tapi Anin sepertinya tidak terima ketika Ia melakukan hal itu.


“Maaf ya, Zel,”


“Iya nggak apa-apa,”


“Beli bubur dulu ya sebelum ke sekolah,”


“Aku udah sarapan,” ujar Zeline sesaat setelah Vindra menyampaikan niatnya untuk membeli sarapan terlebih dahulu. Biasanya kalau Vindra sudah bicara seperti itu, Vindra menawarkannya untuk sarapan, makanya Ia jawab bahwa Ia sudah sarapan.

__ADS_1


“Itu Anin belum sarapan,”


“Oh,”


“Aku belum sarapan, Zel, soalnya tadi bangun kesiangan,”


“Nggak nyalain alarm?”


“Udah, tapi karena tidurnya semalam tuh jam dua jadi ya gitu deh,”


“Makanya jangan tidur larut malam, Nin, nggak baik juga untuk kesehatan,”


“Iya sih, tapi aku susah tidur,”


“Di jalan pangeran ya, itu enak banget,”


Anin sudah mengincar bubur ayam di sana sebagai menu sarapannya pagi ini. Vindra mengangguk sementara Zeline berdehem. Sekarang Zeline bingung. Ingin menyampaikan rasa keberatannya atau justru diam saja.


“Emang bubur di tempat lain nggak ada ya, Vin?”


“Ada, tapi Anin gimana? Mau di tempat lain aja, Nin?”


“Hah? Nggak ah, aku lebih suka di situ,”

__ADS_1


“Tapi itu bukannya jauh ya, Nin? Nanti kita bisa terlambat sampai di sekolah, aku takut dihukum soalnya,”


“Emang bakal telat, Vin?”


“Ya…kayaknya iya sih, soalnya itu lumayan jauh,”


“Jangan di situ kalau saran aku, Nin, soalnya jauh, tapi kalau emang kamu tetap pengen bubur di situ, ya udah nggak apa-apa,”


Zeline merasa keberatan karena menurut Zeline terlalu jauh tempat bubur yang diinginkan oleh Anin. Sedangkan yang dekat juga ada. Daripada mereka terlambat, akan lebih baik beli saja yang dekat. Tapi Zeline tak mau dibilang menahan keinginan orang lain, terlebih itu sahabatnya sendiri, jadi Ia pasrahkan saja pada Anin juga Vindra selaku pengemudi mobil mereka saat ini.


“Ya udah deh dimana aja terserah kamu, Vin,”


“Nggak apa-apa ya kalau bukan bubur di jalan pangeran?”


Anin menganggukkan kepalanya. Tapi wajahnya yang murung bisa dilihat jelas oleh Vindra yang sempat menoleh sebentar ke sebelahnya. Lalu Vindra tertawa.


“Ya udah lah di jalan pangeran aja, daripada kamu cemberut ‘kan, ribet urusannya,”


“Semoga nggak telat,” gumam Zeline.


“Kalau telat, ya udah nggak apa-apa, Zel, ‘kan sesekali doang,”


Zeline menghembuskan napas pelan. Ia tidak biasa datang ke sekolah melebihi waktu yang telah ditentukan. Oleh sebab itu rasanya takut sekali kalau sampai terlambat. Ia takut mendapat teguran, takut dihukum, takut juga dilaporkan ke orangtuanya.

__ADS_1


“Kalau dihukum ya udah nggak apa-apa, ‘kan cuma sesekali doang dihukum,”


__ADS_2