
“Kamu bawa bekal?”
“Iya nih, dibekali sama Mamanya Vindra. Baik banget ya. Aku udah nolak soalnya pasti jajan di sekolah eh tapi tetap aja dikasih bekal,”
Anin ikut Vindra ke kantin bersama Zeline. Biasanya mereka makan apa yang dijual di kantin, tapi kali ini ada yang beda dari Anin, dan Zeline langsung menyadari itu.
Anin membawa bekal makanan sendiri, dan ternyata itu dari mama ya Vindra. Sedangkan Vindra sendiri beli makanan kantin.
“Kamu kok nggak dibawain bekal juga?”
“Mama udah tau aku bakal nolak banget biar dipaksa kayak apa juga, jadi aku nggak disiapin deh,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Jadi Anin dipersiapkan bekal oleh Rina, mamanya Vindra, sedangkan Vindra sendiri memang tidak pernah membawa bekal karena tidak mau makanya sang mama tak pernah mau menyiapkan, pada akhirnya pasti Vindra menolak.
“Kenapa kamu nggak pernah mau sih kalau bawa bekal? Padahal ‘kan masakan mama itu sehat tau,”
“Iya aku tau, tapi ‘kan aku makan pagi sama malam udah di rumah, nah aku pengen makan siang di luar, dan Mama juga ngerti kok. Mama tau lah, anak muda ‘kan sukanya jajan,”
“Iya sih, aku juga sukanya beli makanan di luar kalau siang, soalnya ‘kan kota ada di sekolah. Lagian bawa bekal ribet nggak sih?”
__ADS_1
“Iya, untuk cowok kayak aku lumayan ribet sih,”
“Padahal tinggal bawa aja di tas,” ujar Zeline yang tidak setuju dengan kata ‘ribet’ entah dimana letak ribetnya? Sudah disiapkan oleh orangtua, anaknya tinggal menyimpan di dalam tas, jadi sebenarnya tidak ada ribet sedikitpun.
“Ngomong-ngomong, aku nggak tau kalau Anin nginap di rumah kamu,” ujar Zeline seraya menatap Vindra, entah Vindra sadar atau tidak kalau sebenarnya Vindra belum cerita. Zeline malah dapat cerita dari Anin.
“Iya dia emang nginap di rumah aku, diajakin sama Mama,”
“Makan malam bareng juga kita berdua semalam ya, Vin?” Tanya Anin yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Vindra.
Lagi-lagi Zeline belum mendengar cerita apapun dari Vindra, tapi Ia abaikan. Mungkin memang bagi Vindra tak ada hal yang mesti Ia ceritakan pada Zeline. Walaupun sebenarnya Vindra itu tipe laki-laki yang cukup terbuka. Apalagi dengan Zeline dan Zeline pun demikian. Setiap hari mereka berbagi cerita tapi mungkin tentang Anin memang tak perlu diceritakan.
“Makan nasi goreng, lain kali kita ajak kamu, Zel. Nasi gorengnya enak banget, beneran,”
“Enak banget sandwich yang dibikin sama Mama kamu ya,”
“Apa sih yang nggak enak kalau masakan Mama? Menurut aku anaknya, semua enak,”
“Ini sandwich enak banget lho,”
__ADS_1
“Kamu suka?”
“Suka dong, jangan ditanya lagi harusnya,”
“Zeline, pernah dibawain sarapan sama Tante Rina? Pasti pernah ya? Tante Rania ‘kan baik banget orangnya,”
“Pernah, Tante Rina nitip ke Vindra,”
“Apa? Sandwich juga atau—“
“Beberapa kali, menunya macam-macam. Ada roti bakar, nasi goreng, bubur ketan hitam, sandwich, pokoknya beberapa menu deh,” jawab Zeline yang jujur mengakui kalau Rina juga baik kepadanya. Beberapa kali Rina mengirimkan bekal makanan untuknya melalui Vindra.
“Nanti ke rumah aku mau ‘kan? Kamu ditanyain Mama aku lho,”
“Hmm…maaf tapi aku mau temenin Mama aku belanja makanan ringan buat besok pergi,”
“Kamu mau pergi kemana? Kok nggak bilang ke aku sih?”
“Belum, aku lupa. Lagipula, emangnya harus aku cerita ke kamu?”
__ADS_1
“Biasanya juga cerita semua kok,”
“Ya kamu emangnya cerita semua ke aku? Hmm?”