Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 153


__ADS_3

Mobil Vindra tiba di depan rumah Anin. Ia menoleh pada Anin yang memejamkan matanya. Vindra langsung mengguncang lengan Anin yang membuat perempuan itu akhirnya terbangun.


“Masuk sana! Aku mau pulang, ini udah makin malam,” ujar Vindra yang sengaja mengusir halus Anin. Tugasnya sebagai manusia sudah selesai. Ia sudah membantu Anin.


Gadis itu pulang ke rumah dengan keadaan baik-baik saja dan sekarang waktunya Vindra pergi.


“Makasih ya,”


“Ya, sama-sama,”


Anin akan keluar namun botol kayu putih yang dibeli oleh Vindra tadi jatuh, Vindra langsung mengambilnya dan menyerahkan itu pada Anin.


“Bawa aja,” katanya menyuruh Anin untuk tak meninggalkan apapun di dalam mobilnya.


“Okay, makasih. Dan kamu hati-hati pulangnya,”


“Kamu juga lain kali hati-hati. Mabok boleh, tapi lain kali jangan mau diajakin mabok sama laki-laki yang nggak tanggung jawab. Abis kamu mabok, dia ninggalin kamu. Lagian kok bisa-bisanya sih mabok? Perasaan dulu nggak gitu deh,”


“Aku diajakin dan aku mau,”


“Ya itu bodohnya kamu! Ngapain mau diajak mabok? Kalau diajakin hal positif ya boleh-boleh aja. Aku nggak tanggung jawab ya kalau orangtua kamu marah, aku nggak tau apa-apa aku cuma nganterin kamu pulang,”


“Kamu tenang aja, ini tanggung jawab aku kok,”


******


Pukul enam pagi Zeline sudah tiba sekolah. Ada pembahasan soal ketika ujian kemarin. Dan meskipun sudah selesai ujian, Zeline tetap semangat datang ke sekolah tepat waktu. Sebentar lagi lulus bukan menjadi penghalang untuk Zeline tidak semangat.


Zeline akan mundur begitu melihat segerombolan siswa dari sekolah lain ada di depan gerbang yang tumben tidak ada penjaga. Mereka menunggangi motor besar masing-masing dan kelihatannya akan masuk ke dalam sekolah.


“Duh, mau lewat kok takut ya? Mereka kayak lagi ngintai gitu,”


Zeline menoleh ke belakang dimana mobil papanya tadi terparkir. Ia mendesah kecewa karena tak mendapati mobil papanya lagi, tandanya Richie sudah berangkat bekerja.

__ADS_1


“Ya ampun, gimana ini? Takut aku mau masuk padahal itu sekolahan aku sendiri,”


Zeline bingung harus melipir kemana dulu. Ia tak biasa kemana-mana dulu sebelum masuk sekolah. Kalau Ia sudah tiba di sekolah biasanya langsung masuk ke kelas tidak melipir ke kantin, kafe sekolah, atau sebagainya. Akhirnya Zeline memberanikan dirinya masuk ke dalam sekolah melewati lima siswa dari sekolah lain yang terlihat mengintai sesuatu di dalam sekolah.


“Eh, gue mau nanya dong. Lo kenal Genio nggak?!”


Zeline langsung menghempas tangan yang lancang memegang bahunya sambil dia bertanya. Respon yang diberikan Zeline itu mengundang tawa dari mereka berlima. Mereka jadi tahu kalau Zeline takut dan waspada sekarang.


“Santai aja dong, cantik. Gue mau tanya lo kenal Vindra nggak?”


“Nggak,”


“Ah bohong. Masa Iya lo nggak kenal dia? Jangan-jangan lo salah satu dari cewek pengagum dia. Bukannya dia ganteng terus populer di sekolah? Banyak yang dukung dia kalau lagi balapan sama kita-kita nih. Dia juga terkenal di sini ‘kan? Jagoan ya dia? Gue mau ngajakin dia duel,”


“Nggak, biasa aja. Kata siapa dia terkenal dan jagoan?”


“Berarti lo emang nggak kenal sama dia? Tapi masa iya sih? Lah orang anak-anak sekolah gue aja pada kenal dia, apalagi yang cewek-cewek. Bingung juga sih pada demen sama dia karena apa. Menang ganteng doang. Biar kata udah punya cewek tetap aja disukain sama anak sekolahan gue,”


“Gue nggak tau! Jangan tanya gue,”


“Jujur sama gue! Lo kenal sama dia nggak? Udah mau kelulusan, gue mau ngajakin dia sama temen-temennya balapan. ‘Kan udah lama tuh nggak balapan,”


“Dia habis kecelakaan kecil semalam, mana bisa balapan?”


“Tuh ‘kan! Lo tau dia berarti! Tapi barusan lo bilang nggak tau. Ah sialan! Bohong lo sama kita,”


“Ya orang rame di grup,”


Zeline akan lari karena mereka kelihatan kesal namun sayang baru mundur saja tangannya sudah dicekal. Sayangnya gangguan yang Zeline alami ini tak dilihat oleh security yang sekarang ini entah kemana. Tumben tidak berjaga di depan gerbang padahal biasanya tidak pergi-pergi.


“Lepasin! Gue mau masuk ke kelas,”


Zeline tidak mau kelihatan takut. Makanya Ia membentak dan berusaha melepaskan cekalan tabungan Zeline.

__ADS_1


“Lepasin! Gue nggak tau apa-apa,”


“Tapi lo tau soal Vindra! Kemana dia?”


“Mana gue tau dia udah datang atau belum,”


“Okay, lo bilangin sama dia ya. Masih ada utang sekali balapan, kalau tim gue menang, salah satu motor yang dia punya kasih ke kita,”


“Bilang aja sendiri,”


Zeline berani menjawab padahal ketar-ketir juga takut ditampar mulutnya yang lancang itu. Zeline pernah disakiti oleh orang tak dikenal ketika masih menjadi kekasih Vindra dan Ia takut itu kembali terjadi.


“Ngapain kalian?!”


Kelompok siswa yang terdiri dari lima orang itu menoleh ke arah sumber suara. Mereka seketika tersenyum melihat kedatangan Vindra dan tiga sahabatnya menggunakan motor mereka masing-masing.


“Ada urusan apa sama dia?” Dengan gaya angkuhnya Vindra bertanya pada Arthur dan empat temannya yang tak habis-habis cari masalah. Kali ini datang pasti ada maksud. Datang tak sendiri lalu berusaha menekan Gira juga.


“Katanya mau balapan sama gue sebelum kelulusan. Tapi gue tunggu-tunggu nggak datang. Lo takut atau gimana?”


Zeline tidak tahu kalau Vindra rupanya gemar balapan juga dan sekarang Ia tahu ternyata Vindra punya musuh dari sekolah lain yang berani terang-terangan menunjukkan batang hidungnya di sekolah ini.


“Gue abis kecelakaan kemarin, jadi gue belum bisa. Ntar malam lah gue datang,”


Zeline membelalakkan matanya mendengar ucapan Vindra yang tidak cemas sama sekali dengan keadaannya.


“Apa dia mau mati ya? Cari perkara aja. Baru sembuh udah balapan. Nggak takut kenapa-napa nanti? Kok aku yang ngeri,”


“Jangan sentuh dia. Urusan lo sama gue,”


Itu merupakan sebuah perintah yang harus dipatuhi Arthur dan teman-temannya. Vindra tidak mau mereka malah salah sasaran. Yang menjadi saingan Arthur adalah dirinya, jadi yang ditengok seharusnya Ia saja bukan yang lain.


“Kenapa emang? Cewek lo nih? Bukan Anin?”

__ADS_1


Arthur tiba-tiba menjawil dagu Zeline dan detik itu juga Vindra maju, masih di atas motornya dan spontan memberikan tinju di wajah Arthur.


“Udah gue bilang, urusan lo sama gue, bukan sama dia, paham nggak lo?!”


__ADS_2