
Vindra memicingkan matanya ketika tak sengaja melintasi kamar mandi perempuan di kafe tempat berlangsungnya acara ulang tahun Dania. Di depan sebuah jaca besar, Ia melihat Zeline tengah menggosok tangannya setelah itu mengamati penampilannya sendiri.
Vindra yang tadinya akan ke kamar mandi untuk buang air kecil lantas memutuskan untuk menggagalkan niatnya itu. Ia berjalan memasuki kamar mandi perempuan yang sepi karena tiga bilik kamar mandi perempuan benar-benar kosong terbukti dari pintunya yang terbuka lebar. Ia simpulkan hanya ada Zeline.
Suaranya berdehem berhasil membuat Zeline terlonjak kaget. Zeline langsung menatap Genio dengan kening mengernyit. Zeline tidak mengerti kenapa tiba-tiba mantan kekasihnya sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.
“Kamu ngapain ke sini? Nggak bisa baca ya?! Hmm? Ini kamar mandi perempuan. Atau kamu udah ganti jenis kelamin?” Tanya Zeline dengan sinis, dan berhasil mengundang decakan dari mulut Vindra yang merotasikan bola matanya juga.
“Nggak nyaman ‘kan lo pake baju itu? Makanya nggak usah sok-sokan pake baju yang terbuka kalau nyatanya nggak terbiasa dan nggak nyaman. Lo pikir, lo bagus pake itu? Hah? Mau pamer banget, kayak punya body yang bagus—“
“Nggak usah banyak omong! Keluar sana! Siapa bilang aku nggak nyaman? Orang cuma dingin aja kok, makanya ke kamar mandi bentar selain karena mau buang air kecil. Kamu kenapa ngikutin aku ke sini?!”
“Dih, siapa yang ngikutin lo, Zel? Gue mau buang air kecil juga cuma liat lo sendirian lagi ngaca, gue samperin aja. Barusan bilang lo dingin? Ya karena bajunya terlalu kebuka, dan lo nggak nyaman ‘kan? Lagian mau-mau aja disuruh Chaca pake baju itu,”
“Siapa bilang terlalu kebuka? Banyak kok yang lebih kebuka, itu pacar kamu, lebih-lebih lagi, komentarin aja dia, jangan komentarin baju dan badan aku! Karena itu bukan hak kamu!”
Vindra memasang senyum remeh dan mengangkat bahunya, lantas Ia menatap Zeline dari atas sampai bawah.
Kalau dilihat-lihat memang penampilan Zeline jauh lebih baik daripada Anin yang malam ini buka-bukaan sekali. Perutnya terlihat, lengan telanjang tanpa ada kain sedikitpun yang menutupi, belum lagi paha yang terumbar begitu banyak. Tapi entah kenapa Ia lebih tertarik mengomentari penampilan gadis di depannya saat ini. Ia sendiri awalnya tidak tahu bagaimana penampilan Anin.
“Ya emang nggak begitu kebuka sih, tapi tetap aja menurut gue kebuka, dan lo nggak cocok, apaan nih lengan baju geloyor ke bawah, kayak—“
“Ini model off shoulder, bukan geloyor!”
“Ya ‘kan gue nggak tau model-model baju cewek,”
“Udah nggak tau malah komentar! Mulut nggak bisa dijaga, segala ngatain body orang, ngatain nggak cocok lah inilah itulah, emang aku nggak ada benernya di mata kamu,”
Suara Zeline terdengar bergetar. Zeline menahan tangis. Bahaya kalau Ia menangis di depan Vindra. Kemungkinan diejek oleh lelaki itu sangatlah besar mengingat betapa menyebalkannya dia.
Zeline berbalik dan melangkah menuju pintu kamar mandi untuk keluar meninggalkan Vindra yang masih berdiri di depan cermin.
“Biarin aja dia di situ, sekalian diteriakin sama cewek-cewek kalau dia itu cowok mesum yang masuk kamar mandi cewek,” batin Zeline.
Zeline hampir menginjak lantai di luar kamar mandi namun bahunya tiba-tiba diterpa sesuatu yang membuatnya menghentikan langkah sekaligus berdecak kesal. Lantas pandangannya jatuh ke bahu yang kini sudah dibalut dengan sebuah jaket jeans.
Zeline segera menolehkan kepalanya ke arah Vindra yang kini berjalan melewati Zeline begitu saja. Vindra keluar dari kamar mandi mendahului Zeline tanpa berkata-kata, padahal Lelaki itu baru saja membuat mantan istrinya membeku di tempat.
“Sejak kapan dia bawa jaket? Perasaan tadi tangannya kosong, dan dari awal dia ‘kan nggak pakai jaket, cuma kemeja aja,”
Beberapa detik Zeline habiskan di depan pintu keluar kamar mandi dengan sekujur tubuh yang diam membeku. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Vindra, dan Ia juga bingung kenapa Vindra bersikap seperti itu.
Zeline meraih jaket yang barusan dilempar ke bahunya oleh Vindra lantas Ia tatap dalam diam. Mata Zeline mengerjap beberapa kali mengamati jaket di tangannya. Ia terpaksa menyingkir karena keberadaannya mengganggu akses orang lain untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“Misi ya, Mba,”
“Iya, silahkan,”
Zeline langsung mendekati dinding, memberikan jalan tanpa menatap ke arah orang yang akan masuk. Ketika mendengar tawa, Zeline langsung mengangkat kepalanya yang semula menunduk mengamati jaket di tangannya.
“Eh Chaca,”
Chaca langsung mencibir. Ia perhatikan Zeline serius sekali mengamati jaket yang Ia pegang. Sampai menyahuti orang saja tidak bisa sambil menatap wajahnya, melainkan serius memperhatikan jaket.
“Itu jaket ‘kan? Lo bawa jaket ke kamar mandi?”
“Hah? Nggak,”
“Terus itu punya siapa? Dan kenapa lo liatin gitu banget?”
“Aku masih bingung, serius,”
“Bingung gimana sih? Eh lo tuh gue tungguin di sana kok lama banget nggak balik-balik dari kamar mandi, eh nggak taunya lagi bengong depan kamar mandi sambil merhatiin jaket. Emang itu punya siapa sih?”
“Ini—aku lagi mikir gitu, kenapa ya dia ngasih ini? Terus langsung pergi gitu aja, aku bingung,”
“Emang itu dari siapa?”
“Dari…Vindra,”
“Hah? Vindra ngasih jaket ke lo? Ealah pantes aja lo perhatiin terus. Ya udah lo pake lah. Dia perhatian sama lo makanya ngasih jaket karena dia itu tau lo dingin kali ya,”
“Apaan? Nggak dikasih! Dilempar ini lho, makanya aku bingung. Dipikir aku ini laundry bag apa ya? Main asal lempar ke arah aku aja, nggak ada sopan santun. Antara perhatian atau kurang ajar nggak paham deh aku,”
“Coba sini gue liat,”
Chaca segera meraih jaket yang ada dalam genggaman Zeline. Kemudian Ia mengamati dengan kening mengernyit.
“Nggak ada yang aneh sih, malah bagus banget nih jaket, gue yakin harganya mahal, mana harum bener wanginya, eleh-eleh Zeline dikasih jaket sama idola sekolah,”
“Apaan sih, udah dibilang dia tuh nggak ngasih. Lagi ngantuk kali makanya sikapnya aneh nggak jelas. Masa tiba-tiba lemparin jaket ke aku, padahal tadi kayaknya pas lagi debat, aku nggak liat dia bawa jaket deh. Terus dari tadi dia nggak make jaket ‘kan?”
“Lo nggak tau aja. Waktu lo ke kamar mandi, Vindra tadi emang pergi keluar bentar, kayaknya sih ke parkiran. Terus balik-balik udah make jaket. Nah dia balik duduk, eh nggak lama dari itu dia bilang mau buang air kecil,”
“Jaketnya dia pake tadi? Terus kenapa sekarang di aku?”
“Dia sengaja ngambil jaketnya untuk dikasih ke lo. Dipake sama dia cuma bentar aja, karena emang niat awalnya untuk lo mungkin, Zel,”
Chaca menjawil dagu Zeline seraya melemparkan senyum usil. Sementara tanggapan Zeline adalah terkekeh pelan.
“Kamu kenapa senyum-senyum begitu?”
“Lo sama Vindra kayak orang pacaran deh,”
“Maksudnya? Kok kayak orang pacaran? Jangan ngarang deh, Cha,”
“Dia sampe ngambil jaketnya demi lo, Zel,”
“Ya nggak lah, dia ambil jaket ya buat diri dia sendiri makanya tadi dipake ‘kan, tapi entah kerasukan setan apa tiba-tiba pas aku mau keluar, dia lempar jaket ini ke aku,”
“Tujuannya supaya lo nggak kedinginan. Tadi dia emang sempat make sebentar jaketnya tapi ‘kan abis itu dia lepas dan diserahin ke lo karena dia nggak mau lo kedinginan, dia mungkin nggak mau kalau hanya komentar sinis aja soal baju lo, tapi dia ngasih solusi atas baju yang kata dia terlalu kebuka ini,”
****
Zeline dan Chaca kembali ke tempat mereka duduk tadi bersama Vindra dan tiga sahabatnya. Sebelum duduk, Zeline sengaja meletakkan begitu saja jaket yang diberikan oleh Vindra di atas paha lelaki itu.
Vindra yang sedang menumpu satu kakinya di atas kaki yang lain sambil mengobrol dengan Zam, langsung tersentak kaget.
Vindra menatap jaketnya dan Zeline secara bergantian. Lalu rahangnya mengeras sempurna. Dengan percaya dirinya Zeline tidak mengenakan jaket yang Ia berikan padahal tadi katanya dingin.
“Kebaikan aku, kamu tolak mentah-mentah?” Tanya Vindra tepat di dekat telinga Zeline yang langsung mengambil jarak.
Vindra kembali memberikan jaketnya pada Zeline namun Zeline berdecak dan melotot tajam ke arah Vindra yang duduk di sampingnya.
“Apaan sih! Aku nggak mau pake jaket kamu ini, jangan maksa!”
Lagi, Zeline mengembalikan jaket tersebut kepada pemiliknya. Vindra semakin kesal tapi Ia tidak lagi berbuat baik karena kebaikannya ditolak mentah-mentah oleh Zeline. Zeline tidak bersedia mengenakan jaketnya, tidak masalah baginya. Yang terpenting Ia sudah menjadi manusia yang baik, diterima atau tidaknya kebaikan itu tidak menjadi masalah.
Jerry yang baru saja menambah air minum kini kembali ke tempatnya. Ia salah fokus dengan Zeline yang duduk di samping Vindra tanpa sadar. Tadi Zeline asal duduk saja di tempat yang kosong dan langsung dicapainya. Zeline ada di sebelah Vindra sementara Chaca tepat di samping Zeline. Kalau posisinya dibalik, Jerry tidak terusik. Tapi karena ini Zeline yang duduk di samping Vindra, maka Ia terusik melihat pemandangan itu.
“Zel, aku mau di situ dong duduknya, lagian itu ‘kan tempat aku tadi,”
Zeline langsung bangkit karena merasa tak enak hati. Akhirnya Zeline duduk di sebelah kanan Chaca.
Vindra mengamati sikap Jerry yang berlebihan langsung berdecak dan menggelengkan kepalanya pelan. Sikap Jerry yang posesif membuatnya tak habis pikir.
“Lo kenapa sih? Posesif? Heh? Terserah dia lah mau duduk dimana aja. Lagian di bangku manapun nggak ada tulisan siapa pemilik bangku jadi boleh aja didudukin sama siapapun,”
“Nggak bisa lah, udah terlanjur gue yang duduk di sini,”
“Tapi nggak ada tulisan di bangkunya kalau bangku ini punya lo dan harus lo yang dudukin,”
“Kenapa sih? Lo mau duduk deket Zeline?!”
“Lah, siapa yang mau duduk dekat dia? Orang dia yang duduk di sini kok barusan. Cemburu? Ya elah, orang jadian aja belum,”
“Bacot lo!”
“Emang aku yang duduk di sini kok, tadi asal duduk aja pas baru balik dari kamar mandi,” ujar Zeline untuk melerai perdebatan Jerry dan Vindra soal tempat duduk.
Zeline tidak ingin menyaksikan orang adu mulut apalagi karena persoalan yang ringan. Ini hanya tentang tempat duduk.
“Cha, aku mau pulang sekarang,”
“Ayo, gue juga udah ngantuk nih,”
“Eh Zeline, pulang sama aku aja yuk,”
“Nggak, aku pulang sama Chaca aja. Pergi sama Chaca jadi pulang juga gitu, Jer,”
“Ya nggak apa-apa, biar Chaca pulang sendiri, kamu sama aku,”
Zeline tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia lebih nyaman pulang dengan Chaca. Lagipula tadi sebelum berangkat Ia juga sudah berkata pada Chaca bahwa Ia akan pulang dengan Chaca saja sama seperti ketika berangkat. Chaca juga tak mau bila Zeline dijemput oleh papanya karena Ia merasa harus bertanggung jawab mengantarkan Zeline ke rumahnya usai Ia ajak ke pesta Dania.
Saat Zeline dan Chaca akan beranjak dari kursi, Dania datang seorang diri dengan senyum lebarnya. Tangannya langsung merangkul bahu Vindra yang tengah menenggak air minum.
“Vindra, kamu udah makan?”
Vindra mengangguk, lalu Dania tersenyum menatap Zeline dan Chaca yang berdiri untuk pamit pulang.
“Dania, kita pulang dulu ya,”
“Iya, makasih, Zel, Cha. Kalian hati-hati,”
“Pulang dulu ya, semuanya. Makasih udah dibolehin gabung di sini diajakin ngobrol juga,” ujar Zeline. Ia tak hanya pamit pada si pemilik acara yang kali ini datang menghampiri usai mengobrol dengan teman-teman yang lain:
“Yoi, Zel. Hati-hati di jalan ya, kabarin kalau udah sampe,”
“Dih, apaan sih lo?” Jerry menatap Dino dengan sinis karena Dino minta Zeline agar mau memberitahunya ketika sudah tiba di rumah nanti. Dino tidak sepenting itu sampai Zeline harus mengabarinya ketika sudah sampai di rumah. Itu kata-kata yang seharusnya keluar dari mulutnya bukan Dino.
“Emang salah kalau gue minta dikasih tau?”
“Emang lo siapanya, coy?”
“Suka-suka gue lah mau ngomong apa,”
“Udah napa eh! Temen gue jadi bahan cekcok mulu. Udah mau balik nih, jangan berantem!”
Chaca menegur Jerry yang sudah dua kali adu mulut tadi dengan Vindra, sekarang dengan Dino. Jerry ketahuan sekali sedang cemburu.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Zeline dan Chaca langsung bergegas pergi. Hadir di acara ulang tahun Dania ternyata cukup menyenangkan juga bagi Zeline yang sangat jarang kumpul dengan teman. Tapi sekarang Zeline harus pulang karena waktu semakin malam.
“Vindra, setelah pacaran sama kamu, Zeline jadian sama Jerry? Kok jadi bergilir gitu sih? Sebelumnya sama Juan ya? Sekarang sama Jery,”
Vindra menatap Dania yang kini duduk berhadapan dengannya. Vindra menatap dengan sorot sinis ketika Dania bertanya hal yang seharusnya.
“Mulut lo nggak sopan, Dan. Ngapain lo ngomong begitu? Tau darimana kalau dia sama Jerry? Hah?”
“Lah, itu barusan apa? Jerry kayak pacar yang posesif aja. Zeline itu ‘kan mantan pacar kamu,”
“Jer, lo jadian sama Zeline?” Tanya Dania.
“Mau dia jadian sama siapa kek, itu bukan urusan lo!” Ujar Vindra ketika Dania bertanya pada Jerry soal hal pribadi yang tidak sepatutnya Ia cari tahu. Sekalipun Zeline menjalin kasih dengan Jerry, ucapan ‘bergilir’ tidak pantas keluar dari mulut Dania seolah-olah Zeline itu murahan sekali. Dari Vindra, lalu ke sahabatnya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
“Emang kenapa nanya-nanya gitu?”
“Jadi beneran lo sama Zeline pacaran? Kok lo mau sih? ‘Kan dia udah mantannya Vindra, orang yang dekat juga sama lo, kalian berteman,”
“Anjir, mulut lo parah banget, Dan. Bisa-bisanya lo ngomong begitu pas orangnya udah nggak ada. Eh lo harusnya inget, lo tuh temenan sama Zeline, bahkan dia yang jadi temen deket lo waktu lo masih jadi anak baru, sekarang ceritanya musuhan?”
“Nggak musuhan sih, tapi gue bingung aja. Kok lo mau sama bekas teman? Lo nggak coba cari yang baru gitu?”
“Zeline nggak pernah gue apa-apain asal lo tau! Jadi jangan sembarangan kalau ngomong, gue menghargai dia, dan begitupun sebaliknya,” ujar Vindra seraya menatap Dania dengan sinis. Status mantan teman itu bukan hal yang buruk. Ucapan Dania benar-benar merendahkan Zeline yang selama ini aman-aman saja, tidak pernah sekalipun Vindra berbuat di luar norma terhadap Zeline.
“Lo jangan jelekkin Zeline gitu dong, nggak sopan mulut lo! Apa salahnya kalau dia mantan Vindra? Nggak ada tuh,”
“Apa dia nggak bahagia sama kamu, Vin?”
“Bahagia atau nggak, bukan urusan lo,” tukas Vindra lantas memutuskan untuk pergi. Ia berjalan cepat keluar dari kafe dengan jaket yang tersampir di lengannya.
Ia akan menaiki kendaraan namun pandangannya tertuju pada Chaca dan Zeline yang berada tepat di sebelah mobil Chaca.
Kening Vindra mengernyit ketika melihat Zeline memegang erat bagian belakang dress miliknya lalu menghentakkan kaki beberapa kali.
“Ya udah nggak apa-apa duduk aja. Lo kenapa ribet banget sih?”
“Nggak mau, nanti mobil kamu kotor, kesel banget aku. Datang bulan di waktu yang nggak tepat. Tadi belum ada kok waktu aku pipis. Ya udah deh, aku minta jemput papa aja,”
“Eh nggak boleh! Lo harus pulang sama gue,”
Vindra merasa ada sesuatu yang menariknya agar mendekati kedua perempuan yang tengah bicara itu. Samar-samar Vindra mendengar pembicaraan mereka namun belum bisa menyimpulkan apa masalah yang membuat mereka masih bertahan di area parkir kafe padahal Ia pikir sudah langsung pulang.
“Kenapa?”
Chaca dan Zeline langsung menatap ke arah sumber suara. Vindra datang dengan wajah tanpa ekspresi namun menatap keduanya dengan bergantian.
“Ini nih si rempong Zeline nggak mau balik sama gue gara-gara takut ngotorin mobil gue. Segala ngedumel nyalahin datang bulan. Terus minta dijemput sama bokapnya, padahal gue mau balik sama dia,”
“Emang kenapa?”
“Dia datang bulan. Menstruasi, paham nggak lo?”
“Paham lah, emang gue anak bayi yang nggak tau soal gituan. Biasa aja dong ngomongnya,”
Chaca menjawab pertanyaan Vindra tadi dengan galak makanya Vindra menanggapi dengan sinis. Ia tahu apa itu datang bulan, tanpa dijelaskan rinci Ia sudah paham. Karena dia laki-laki dewasa.
“Oh iya, pasti paham lah, apalagi udah nikah ya, bro,”
Vindra merotasikan bola matanya ketika Chaca bicara dengan senyum miringnya. Chaca sempat-sempatnya menggoda Vindra.
Lantas Vindra menatap Zeline yang kini meraih ponselnya. Ketika hendak mencari kontak sang ayah untuk Ia hubungi, Vindra merampas ponsel Zeline dan langsung mengundang reaksi marah dari Zeline.
“Balikin handphone aku! Kenapa diambil sih?”
“Nggak udah ngerepotin orangtua, ini udah malam. Kalau diajakin balik sama Chaca ya balik sama dia lah. Katanya tadi mau balik sama dia,”
“Ya tapi aku nggak enak—“
“Ya udah kalau sama aku masih nggak enakan juga?”
“Aku nggak mau pulang sama kamu, mending sama papa aku aja,”
“Ngerepotin orangtua!”
“Orangtua aku nggak pernah merasa direpotkan sama aku!” Sahut Zeline dengan ketus setelah Vindra mengatakan bahwa dia adalah anak yang merepotkan orangtuanya hanya karena Ia ingin minta dijemput oleh papanya padahal baik mama ataupun papanya tidak pernah berkata bahwa Ia anak yang merepotkan, tapi hanya Zeline saja yang sering merasa sadar diri. Namun untuk kali ini Ia tidak ada pilihan lain. Pulang dengan mobil Chaca disaat Ia datang bulan membuat Ia tidak enak hati pada Chaca.
“Balikin handphone aku!”
“Ya udah ayo balik sama aku, kalau pulang bareng aku nggak usah ngerasa nggak enakan dan kamu nggak ngerepotin aku, jadi santai aja,”
“Ih Vindra! Gue yang mau antar Zeline balik. Lo ngapain sih ikut-ikutan aja? Nggak bisa! Zeline harus gue yang antar pulang soalnya gue yang udah ngajak dia pergi jadi gue harus tanggung jawab bawa dia pulang. Udah deh mending lo cabut sekarang, jangan ikut campur,”
“Emang salah kalau gue antar dia pulang? Lo nggak percaya sama gue yang mantan pacarnya dia? Tenang aja, gue bisa jagain dia, gue jamin dia bakal sampe di rumah dengan keadaan selamat,” ujar Vindra yang tidak senang mendengar perkataan Chaca seolah Ia akan berbuat jahat pada Zeline dan tidak bisa dipercaya menjaga Zeline.
“Lo ngambil kesempatan dalam kesempitan ya! Lo mau deketin Zeline lagi?! Hah?”
__ADS_1
“Apaan sih? Lo ngomong apaan? Lo tuh kalau ngantuk bilang. Omongan lo ngelantur,”
“Ya terus kenapa lo mau antar Zeline pulang?”
“Ya karena dia nggak enak sama lo ‘kan? Jadi mending sama gue daripada dia nelpon bokapnya,”
Zeline berdesis sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir meminta Vindra dan Chaca berhenti berdebat.
Chaca tidak mau membiarkan Zeline pulang tanpa dirinya dan Vindra yang mendadak menjadi baik, akhirnya membuat Zeline jengah karena mereka berdebat.
“Aku mau pulang sama papa aku aja biar nggak repotin siapapun,”
“Tapi kamu repotin orangtua kamu,”
“Ya udah terus kenapa? Suka-suka aku lah, yang aku repotin juga orangtua aku,”
“Eh Zeline, lo tuh kenapa sih nggak enakan banget? Gue nggak masalah sama sekali jok mobil gue kotor karena lo. Ya elah, itu aja dipusingin. Tinggal dicuci, gampang! Lo nggak perlu mikirin itu yang penting kita selamat sampe rumah masing-masing. Gue mau antar lo balik, Gir. Gue ngerasa bertanggunggung jawab soalnya gue yang maksa lo keluar malam ini,”
Zeline berusaha meraih ponselnya dari tangan Vindra namun Vindra sengaja mengangkatnya tinggi-tinggi seraya memanjangkan kedua kakinya ke atas. Tentu saja Zeline sangat kesulitan meraih ponselnya.
“Gue tuh sakit hati ya sama penolakan lo dari tadi. Gue udah baik sama lo padahal. Gue kasih jaket belagu banget pake nolak, terus sekarang nolak juga gue ajakin pulang padahal gue tuh cuma mau baik aja,”
“Kamu maksa banget sih! Balikin handphone aku sekarang! Aku mau telepon papa soalnya,”
“Papa udah tidur, Zel,”
“Nggak mungkin, papa nungguin aku kok. Jangan sok tau!”
“Ya gue tau lah, gue pernah jadi mantunya kok,”
“Ya ‘kan pernah, bukan masih! Lagian kamu tau darimana jam tidur papa? nggak usah sok paling tau deh!” Ucap Zeline dengan wajah mengejek. Vindra bisa membuatnya naik pitam, dan Ia pun bisa demikian. Ia kesal sekali karena Vindra seolah tahu papanya sudah tidur padahal Zeline yakin belum karena pasti Ia ditunggui sampai tiba di rumah.
“Ya udah aku pulang aja sama Chaca,” putus Zeline akhirnya. Ia menyerah, ponselnya diambil Vindra, dan Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk pulang. Kalaupun naik ojek tidak bisa karena Ia tidak memegang ponsel dan lagipula Zeline mengakui bahwa Ia tidak memiliki keberanian untuk naik angkutan umum. Ia takut dibawa lari atau diperlakukan tidak baik mengingat ini sudah malam dan di jalanan pasti tidak seramai ketika siang hari. Papanya juga berpesan kabari saja kalau minta dijemput olehnya, tapi Chaca sudah mengatakan bahwa Ia lah yang mau mengantarkan Zeline ke rumah.
“Cha, maaf ya mobilnya aku kotorin, nanti aku bersihin kok. Atau aku kasih uang untuk minta tolong dicuci sekalian,”
“Ya elah, Zel. Santai aja, lo mau berak sekalipun di mobil gue nggak apa-apa deh, soalnya lo best friend gue,”
“Ih Chaca jorok ngomongnya,”
Chaca terbahak melihat Zeline bicara sambil mengernyitkan kening dan wajahnya nampak jijik setelah mendengar ucapannya.
“Lagian baru dikit juga ‘kan?”
“Nggak, tadi tuh langsung banyak keluarnya. Aku udah nggak nyaman banget ini,”
“Ya udah ayo kita pulang,”
“Jadi, sama Chaca nih pulangnya?” Tanya Vindra yang sudah bisa menyimpulkan maunya Zeline sekarang.
“Ya iyalah, aku nggak mau sama kamu,”
“Emang kenapa? Takut diapa-apain sama aku?”
“Pikir aja sendiri!”
“Ya udah nih gue balikin handphone lo. Bagus lo nggak nyusahin orangtua,”
Vindra meraih tangan Zeline lantas meletakkan ponsel mantan kekasihnya itu tepat di atas telapak tangan.
Setelah berhasil mendapatkan ponselnya kembali, Zeline langsung masuk ke dalam mobil menyusul Chaca yang sudah lebih dulu masuk dan sudah menstarter mobil,
Mobil yang membawa Chaca dan Zeline sudah meninggalkan area parkir kafe. Saat Vindra mengenakan jaket dan helm, tiga sahabatnya keluar dari kafe.
“Gue balik duluan,” ujar Vindra pada mereka bertiga setelahnya melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
Ketiga sahabatnya itu langsung saling menatap satu sama lain usai melihat Vindra pulang dengan laju motor yang cepat sekali.
“Gue ngeri aja itu motor sama dianya terbang. Mana belum lama abis kecelakaan. Nggak kapok-kapok itu anak,”
******
Reta dan Richie menyambut kepulangan putri mereka yang malam ini diantar pulang oleh Chaca usai menghadiri pesta ulang tahun teman mereka.
Ternyata Chaca menepati ucapannya yang meyakinkan Richie dan juga Reta bahwa Zeline akan aman bersamanya.
“Makasih udah antar Zeline ya, Cha,”
“Sama-sama, Om, Tan. Aku langsung pulang ya, makasih juga udah bolehin Zeline pergi sama aku,”
“Iya, kamu hati-hati pulangnya, nggak perlu ngebut ya, Nak,”
“Siap, Tante, Assalamualaikum,”
Chaca mencium punggung tangan orangtua dari sahabatnya itu. Ia ikut turun bersama Zeline dan sekarang pamit untuk pulang ke rumah.
“Waalaikumsalam,”
Chaca masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman depan kediaman Zeline.
“Masuk kamar, bersih-bersih langsung istirahat,”
“Iya, Pa,”
Mereka bertiga akan berbalik masuk ke dalam namun sebuah motor tiba-tiba melaju kencang melintasi rumah mereka begitu saja sampai Lena menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Udah malam, jalanan di komplek ini sepi, masih aja ngebut,”
Meskipun melaju sangat cepat tadi, akan tetapi Richue dan Zeline sempat melihat plat nomornya. Mereka mengenali plat nomor itu yang ditegaskan sekali lagi barangkali salah lihat.
“Itu Vindra kayaknya,”
“Iya, itu motor dia, Pa,” Setelah mendengar ucapan papanya, Zeline mengangguk dan juga membenarkan dugaan papanya.
“Ngapain lewat sini? Mana ngebut lagi,”
“Mungkin ngikutin Zeline kali,”
*******
“Vindra, lo ‘kan sekarang udah jomblo ya. Minta nomor handphone dong. Dari dulu pelit banget perasaan,”
“Jaga hati, biasalah,” ujar Vindra seraya tersenyum jenaka dan menaik turunkan kedua alisnya ketika seorang siswi menghampirinya dan langsung minta nomor ponselnya.
“Apa cuma gue doang yang nggak dapet?”
“Ya nggak bisa sembarangan orang lah, gue dulu harus jaga hati,”
“Iya sih, cewek lo tuh parah banget, posesifnya kebangetan,”
“Ya karena gue punya dia. Dan dia tipe cewek yang emang posesif. Maklum aja ya,”
“”Ya udah gue bagi nomor lo,”
“Nomor gue banyak, lo mau yang mana?”
“Tujuan lo punya banyak nomor buat apa? Selingkuh dari Anin ya?”
“Enak aja, ya nggaklah, gue tipe yang setia, lagian perlu berapa kali lagi gue tegasin gue nggak pacaran sama siapapun sekarang!”
“Bohong dong kalau bilang nomor banyak, bilang aja nggak mau ngasih,”
Vindra yang kebetulan akan melintas bersama Chaca di dekat Vindra juga teman bicaranya sempat mencibir dalam hati ketika mendengar pengakuan Vindra yang mengatakan bahwa dia adalah lelaki yang setia.
“Tuh minta sama Zeline, dia pegang nomor gue,”
Vindra menghentikan langkahnya tepat di belakang siswi bernama Dewi yang tengah berhadapan dengan Vindra berbincang berdua.
“Mana Zeline?”
“Di belakang lo,”
Dewi lantas menoleh ke belakang untuk membuktikan ucapan Vindra bahwa Zeline ada di belakang. Ternyata benar, ada Zeline dan Chaca yang berdiri tepat di belakangnya.
“Eh Zeline. Dari kapan di sini?”
“Barusan, jangan minta sama aku, orang nomor dia aja udah nggak aku simpan, bikin kotor daftar kontak aku, Wi,”
Usai bicara seperti itu, Zeline menarik tangan Chaca untuk kembali berjalan. Vindra yang mendengarkan Zeline berucap seperti itu dengan sinisnya langsung terkejut.
Vindra dan Dewi sempat saling pandang dengan mata yang sedikit membelalak. Kemudian Dewi tertawa dan itu mengundang dengusan kesal Vindra.
“Kenapa lo ketawa? Hah?”
“Nggak apa-apa. Lucu aja, lo nyuruh gue minta nomor lo ke Zeline lah orang Zeline aja nggak simpan nomor lo lagi,”
Vindra menggertakkan giginya geram. Ia tidak percaya Zeline sudah tidak menyimpan nomor teleponnya lagi. Ia yakin masih ada tapi Zeline tidak mau mengakui bahwa nama Vindra masih ada di daftar kontaknya.
“Dia tuh sebenernya punya nomor gue. Tapi dia nggak mau kasih karena mungkin dia emang nggak mau bagi-bagi nomor gue,”
“Lho, emang hubungan lo sama Zeline apa? Kok dia nggak mau bagi nomor lo? Kalian ‘kan cuma mantan,”
“Ya lo tanya sendiri aja sama Zeline. Dia bohong, pasti masih ada, minta gih ke dia,”
Vindra enggan membagi nomor teleponnya, Ia biarkan Dewi atau siapapun itu merengek ke Zeline. Sekalian Ia mengerjai Zeline yang barusan dengan angkuhnya mengatakan tidak lagi menyimpan nomor telepon dirinya karena mengotori daftar kontak.
Vindra hampir masuk ke dalam kelas namun seseorang memanggilnya dan dia adalah seorang siswi dengan satu kotak makan di tangan.
“Nih buat lo,”
“Makasih, ngasih mulu orang nggak pernah gue makan,”
“Hah?! Serius?!”
Vindra terkekeh melihat kekecewaan Arika yang tidak menyangka kalau pemberiannya tidak pernah dinikmati oleh Vindra.
“Gue sering bagi ke siapa aja yang mau,”
“Kok lo jahat sih? Gue tuh udah capek bikinnya. Lo nggak hargain banget usaha orang,”
“Lah bukan lo doang yang gue gituin. Kalau gue kenyang, gue nggak suka, masa tetap gue makan? Kalau gue suka dan lapar ya bakal gue makan, gue minum. Tapi makasih banyak udah baik ke gue,”
“Tapi itu nasi goreng dimakan nggak? Ya udah sini gue ambil lagi,”
“Gue makan, soalnya gue belum sarapan,”
Mendengar ucapan Vindra yang seperti itu, Arika langsung tersenyum senang. Ia memegang lengan Vindra dan mengguncangnya pelan hingga Vindra berdecak tidak senang dan mengusir tangan Arika.
“Jangan pegang-pegang bukan suami istri,”
“Halah, sok baik lo! Kayak nggak pernah aja digerayangin sama Anin,”
“Mulut lo heh!”
Arika melipat bibirnya ke dalam dan menangkup kedua tangannya meminta maaf. Kemudian perempuan itu pamit untuk kembali ke kelas.
Vindra datang ke kelas dengan membawa makan atau minum adalah pemandangan yang sudah biasa dilihat oleh teman-temannya dan mereka sudah bisa menebak dari siapa.
“Dapet apaan lagi tuh dari fans?”
“Nasi goreng,”
“Mau dong!”
“Gue laper, njir! Gue belum sarapan,”
“Kesian yang udah nggak sama Zeline jadi nggak ada yang bikin sarapan,”
Setelah Jerry bicara seperti itu, Vindra langsung menjadi bahan tertawaan. Vindra marah pada Jerry yang sudah membuat Ia malu sekarang. Dengan tatapan tajam, Vindra menendang tulang kering Jerry hingga sahabatnya itu meringis.
Vindra lantas mengisi perutnya di meja. Ia makan dengan tenang usai menyakiti sahabatnya yang sudah menjadikan Ia sebagai bahan tertawan tadi.
Bel masuk berbunyi terpaksa Vindra tidak menghabiskan nasi goreng yang kalau boleh Vindra bandingkan rasanya biasa saja ketimbang yang biasa Ia makan selama ini dan itu buatan Zeline.
Vindra menggelengkan kepalanya cepat ketika tiba-tiba nama Zeline terlintas di benaknya dan jadi bahan perbandingan dengan orang lain.
“Vindra, tolong ambil absen di meja saya,”
“Saya, Bu?”
Vindra menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan yang disuruh Bu Ella itu adalah dirinya bukan yang lain. Barangkali Bu Ella salah sebut nama karena tak biasanya Ia yang diminta mengambil absen, biasanya ketua kelas atau sekretaris.
“Iya kamu, walaupun cuma bahas soal-soal aja tapi tetap harus absen,”
“Kita nih harusnya nggak belajar lagi, Bu, soalnya ‘kan udah kelar ujian, tinggal nunggu kelulusan yang lama banget rasanya, padahal nggak sabaran mau lulus,”
“Lu mau kawin yak kelar dari sini?”
“Arif, Deni berhenti ngomong! Saya nggak minta kalian ngomong,”
Yang disebut namanya langsung membungkam mulut dengan rapat tak mengeluarkan suara apapun lagi. Bu Ella menatap Vindra yang masih di kursinya.
“Ayo bangun, jangan malas. Saya minta tolong ambil absen,”
“Saya, Bu?”
“Astaghfirullah, ya kamu lah! Telinga perlu diperiksa ke dokter THT?”
Vindra mengangguk patuh dan segera beranjak meninggalkan kursinya. Memang Ia malas karena sudah duduk nyaman di kursinya tapi daripada Ia kena sembur omelan pagi-pagi begini, lebih baik secepatnya Ia bergegas mengambil buku absen.
Vindra tiba di depan ruangan dimana buku absen disimpan. Ketika hendak membuka pintu ruangan, seseorang keluar dari sana dengan buku absen di tangan.
“Eh si songong, disuruh ambil absen juga?”
Perempuan yang disapa seperti itu oleh Vindra langsung merotasikan bola matanya. Ia hendak menutup pintu tapi Vindra mengusir tangannya agar menjauh dari tuas pintu.
“Gue ‘kan mau masuk ngapain lo tutup?”
“Ya ‘kan aku nggak tau,”
“Awas minggir! Gue mau ambil absen,”
“Ya emang ini mau pergi kok,”
“Dih songong banget mukanya,”
“Apaan sih? Kenapa kamu nilai aku songong?”
“Iya karena emang lo songong. Nolak kebaikan gue di ulang tahun Dania, terus tadi bilang udah nggak simpan nomor gue lagi. Maksudnya apa coba begitu?”
Vindra yang kebetulan bertemu lagi dengan Zeline menggunakan kesempatan yang ada untuk meluapkan kekesalannya pada Zeline. Supaya Zeline tahu kalau tindakan Zeline itu membuatnya tersinggung.
“Nolak kebaikan apa sih?”
“Lo ‘kan nggak mau pake jaket gue, padahal gue udah baik tuh. Gue nggak mau aja lo pingsan karena kedinginan pake baju kebuka,”
“Aku nggak butuh bantuan kamu soalnya. Dan urusan nomor telepon emang aku nggak simpan nomor kamu lagi,”
Vindra tersenyum miring, lantas mengulurkan tangannya dengan telapak tangan yang menghadap ke atas.
__ADS_1
“Mana handphone lo? Coba gue liat,”
“Liat apa? Nggak boleh! Handphone adalah barang pribadi,”
“Halah bilang aja takut ketauan boong. Dengan arogannya tadi bilang udah nggak simpan nomor gue padahal aslinya masih, gue yakin banget,”
“Nggak usah kepedean jadi orang, nanti sakit hati sendiri lho,”
“Ya udah mana handphone lo? Gue buka daftar kontak bentar,”
“Apa yang ada di handphone aku ini nggak berhak kamu liat-liat karena bukan kamu pemiliknya, paham? Dan ingat satu hal lagi ya, jangan coba ngikutin aku. Kamu pikir aku nggak tau kamu ngikutin aku pulang sama Chaca? Aku sama papa sadar motor yang ngebut lewat depan rumah kami itu adalah motor kamu. Apa maksud kamu ngikutin aku pulang? Hah? Kamu mau macam-macam sama aku dan orangtua aku? Punya dendam ya?”
Vindra tertawa mendengar perkataan Zeline yang menuduhnya sembarangan. Kalau Ia mau macam-macam, tidak perlu menunggu Zeline sampai rumah, Ia sudah melakukan sesuatu pada Zeline yang hanya pulang dengan Chaca saja semalam.
“Kalau gue punya dendam, udah gue apa-apain lo di jalan. Gampang aja, soalnya gue cuma berhadapan sama Chaca. Tapi buktinya apa? Sampe rumah lo baik-baik aja ‘kan? Orangtua lo juga, bahkan sekarang lo bisa berdiri di sini dengan keadaan sehat,”
“Ya terus kenapa kamu ngikutin aku? Pasti ada niat nggak baik ‘kan?”
Vindra menoleh ke segala arah lantas Ia maju mendekati Zeline. Tentu saja Zeline langsung kesulitan untuk mengendalikan detak jantungnya sendiri, menelan saliva susah payah, dan tiba-tiba Ia kesulitan bernapas juga karena aksesnya terhalangi oleh keberadaan Vindra yang kini tanpa jarak dengannya.
Telunjuk Vindra menyentuh pelipis Zeline lalu Vindra berbisik di telinga Zeline dengan suara rendahnya yang berhasil membuat Zeline meremang.
“Pikiran lo jahat banget ke gue,”
Zeline mendorong Vindra agar menjauh darinya. Posisi mereka terlalu dekat dan Zeline tidak mau itu dilihat oleh siapapun karena posisinya saat ini mereka di sekolah. Jangan sampai orang berpikir yang macam-macam tentang Ia dan Vindra setelah melihat Vindra berdiri di depannya dengan posisi yang sangat dekat.
Dilihat dari belakang Vindra saja sudah bisa membuat orang salah paham. Mereka bisa mengira Vindra dan dirinya tengah beradu bibir.
“Jangan dekat-dekat sama aku!”
“Mana sini handphone lo, gue mau buktiin kalau yang gue bilang itu benar. Gue yakin lo masih simpan kontak gue. Masa iya udah nggak? Nggak percaya gue,”
“Ya udah terserah. Aku nggak minta kamu untuk percaya,” cetus Zeline dengan sinis. Ia tidak minta Vindra percaya Ia benar-benar tidak menyimpan nomor telepon Vindra. Dan Ia juga tidak ingin menyerahkan ponsel genggamnya pada Vindra karena barang itu miliknya dan bersifat pribadi.
“Katanya mau ngambil absen, sana ambil. Aku mau balik ke kelas. Eh ingat ya, jangan pernah ngikutin aku secara diam-diam lagi! Aku nggak suka. Ada niat jahat atau nggak, pokoknya aku nggak suka kalau kamu ngikutin aku, paham?!”
Zeline segera pergi meninggalkan Vindra yang geleng-geleng kepala melihat sikap ketus Zeline. Padahal Ia mengikuti itu bukan tanpa maksud apa-apa.
“Heh gue tuh ngikutin lo karena mau mastiin lo aman. Emang gue nggak boleh ngikutin dengan tujuan kayak gitu? Hah?”
Vindra berseru supaya Zeline yang sudah berjalan menjauh bisa mendengar ucapannya. Zeline menghentikan langkah yang artinya mendengar perkataan Vindra. Zeline tidak percaya, Ia tetap menganggap bahwa Vindra mengikutinya karena ada maksud yang jahat.
“Bohong, mau berbuat sesuatu yang buruk sama aku ‘kan?”
“Ya udah terserah kalau nggak percaya sama gue. Lagian ngapain gue ngelakuin sesuatu yang buruk ke lo? Kita ‘kan nggak ada masalah. Kalaupun gue mau bikin lo kenapa-napa, gue udah lakuin pas lo di jalan, gampang banget bagi gue karena lo cuma sama Chaca, tapi yang terjadi apa? Gue cuma ngikutin tanpa nyentuh mobil Chaca sedikitpun,”
Setelah berbicara seperti itu, Vindra segera masuk ke dalam ruangan untuk mengambil absen lantas keluar dan segera bergegas kembali ke kelas, begitupun Zeline yang masih bertanya-tanya juga tak habis pikir soal Vindra yang punya tujuan baik mengikutinya pulang dari pesta Dania.
“Baik banget kalau dia beneran mau mastiin aku aman sampe rumah,” batin Zeline ketika di perjalanan menuju kelas.
Begitu sampai di kelas, Zeline langsung ditegur oleh gurunya yang menyuruh Ia untuk pergi sebentar mengambil absen.
“Kok lama, Zeline? Saya udah nungguin,”
“Maaf, Bu, tadi lagi nyari absennya,” ujar Zeline beralasan, Vindra pun sama, mendapat teguran dari gurunya yang memberi Ia tugas untuk mengambil absen.
“Lama banget kamu ambil absen. Cuma ambil absen aja padahal tapi lamanya udah kayak lagi makan di kantin,”
“Ibu jangan nuduh gitu, saya beneran ambil absen. Tadi sempat ketukar absennya sama kelas lain jadi saya cari dulu yang absen punya kelas ini,”
“Nggak nuduh, soalnya kamu ‘kan langganan kantin kalau jam pelajaran,”
Teman-teman Vindra menahan tawa ketika disindir oleh gurunya soal hal yang disukai Vindra di tengah jam pelajaran yang membuatnya bosan, atau pelajaran yang baginya sulit masuk ke otak.
“Diem lo! Kayak nggak begitu aja. Lo juga suka ke kantin, ogeb!” Gerutu Vindra mengomel pada Jerry dan Dino yang terkekeh pelan begitu Ia duduk di tempatnya dan tawa mereka itu terdengar di telinganya. Vindra jelas kesal dan tidak terima dianggap sudah ke kantin padahal kenyataannya Ia benar-benar hanya melaksanakan apa yang diperintahkan gurunya yaitu mengambil absen.
Tapi penyebabnya bisa sampai lama tak kunjung kembali ke kelas karena Ia berbicara dulu dengan Zeline tadi. Sehingga lama baru sampai di kelas lagi membawa absen.
Mereka membahas soal yang pernah mereka kerjakan saat ujian, setelah dua jam pelajaran barulah guru keluar dan jam istirahat tiba.
Dengan langkah cepat penghuni kelas bergegas ke kantin untuk rehat sejenak karena membahas soal pun membuat mereka sakit kepala.
Vindra dan tiga sahabatnya keluar kelas untuk ke kantin namun Jerry melipir sejenak ke kelas Zeline sementara Vindra harus meladeni siswi yang kembali meminta nomor teleponnya.
“Udah gue bilang minta ke Zeline sana, Wi,”
“Gue barusan udah minta tapi nggak ada. Ah elah lo tuh bohongin gue ‘kan?!”
“Dih, minta nomor tapi galak. Ntar nggak jadi pedekate bareng gue lho,”
Dewi terkekeh dan langsung menjawil lengan Vindra seraya mengerlingkan matanya. Vindra yang melihat itu langsung menatap ke arah Zeline dengan aneh.
“Minta nomor dong,”
“Dewi, udah stop! Jangan gatel deh, emang Vindra udah buka hati?” Omel Dino.
“Buka hati dari siapa dulu nih? Dari Zeline atau—“
“Dari yang pertama sih harusnya,”
“Tapi ‘kan udah nggak ada hubungan apa-apa lagi ya harusnya sih udah buka hati lah,”
“Udah deh intinya, jangan minta nomor ke gue. Ngeladenin yang ada aja udah pusing, ditambah ladenin lo,”
“Ih berarti ada yang punya nomor lo? Dari siapa?”
“Ya banyak, lo ketinggalan info berarti. Gue nggak tau mereka dapat darimana, intinya pada kirim chat ke gue tapi gue blokir semua, karena gue pusing,”
Dino dan Zam sontak terbahak mendengar ucapan Vindra yang sambil memperagakan betapa sakit kepalanya dengan memijat keningnya sendiri.
“Ya udah kalau lo nggak mau ngasih, gue usaha ke Zeline,”
“Sana, kali aja dia kasih,”
“Gue tuh mau pendekatan sama Lo, Vindra. Barangkali kita berdua cocok,”
Vindra menggelengkan kepalanya pelan. Terlalu banyak yang mau cocok dengannya, bagaimana Ia tidak pusing? Dan Ia melemparkan pada Zeline yang otomatis dibuat pusing juga oleh Dewi yang lagi gencar mendapatkan nomor telepon pribadi Vindra.
“Gue mau ke kantin ya. Obrolin nomor telepon ntaran dulu deh, perut gue nih harus diisi soalnya,”
“Okay, yang kenyang ya, Sayang,” ujar Dewi kemudian bergegas meninggalkan Vindra yang terperangah sementara Dino dan Zam saling menatap satu sama lain kemudian terbahak.
“Buset, dia sayang-sayang ke gue,”
“Bukannya udah biasa? Lo ‘kan udah dianggap sayangnya banyak cewek di sekolah ini,”
“Ayo ke kantin,”
“Jerry gimana?”
“Tinggalin aja dia. Orang sibuk ngebucin sama Zeline,”
“Ngapain nungguin dia? Nggak penting, mendingan langsung ke kantin,”
“Cie kesel karena Jerry nyamperin Zeline,”
“Nggak, kalau gue kesel udah gue samperin dia terus gue tonjok mukanya yang belagu itu,”
Vindra, Dino, dan Zam bergegas pergi ke kantin membiarkan Jerry di kelas Zeline mulai beraksi seperti biasa untuk mendekati Zeline.
Begitu tiba di kantin, rupanya Jerry sudah duduk di salah satu bangku, di depannya ada Zeline dan Chaca. Vindra yang melihat itu langsung mendengus.
“Untung aja kita nggak nungguin itu orang. Soalnya dia udah di sini sama gebetannya,”
“Iya biarin deh dia bahagia sama Zeline,”
“Anjir, gue disisain bangku yang basah,”
Dino dan Zam memilih meja di pojok kantin dan mereka mengambil alih bangku yang tersisa lebih dulu. Masih ada satu bangku tapi basah oleh air.
“Ya udah sana duduk sama Jerry. Di meja Jerry masih ada bangku kosong tuh. Di meja ini ‘kan udah nggak ada lagi,” ujar Zam agar Vindra pindah saja, tidak makan bersamanya dan Dino, melainkan bersama Jerry, Zeline, dan Chaca dimana diantara mereka masih ada bangku yang kosong atau belum ditempati.
“Lo aja sana, gue mau di sini,” sahut Vindra yang enggan makan bersama mereka.
“Dih ogah! Gue udah terlanjur duduk, sono lo duduk sama Jerry,”
“Lo mau makan sambil berdiri? Hah?”
“Lo aja sih yang pindah. Ah elah susah banget. Kenapa nggak mau ngalah sama gue?”
“Ya ngapain gue ngalah sama lo? Sana duduk di dekat Seline sama Jerry,”
“Nggak mau! Gue mau di meja ini,”
“Ya udah duduk gih, tapi bangku lo basah ntar celana lo ikutan basah dan dikira orang lo kencing di celana,”
Zam geleng-geleng kepala melihat perdebatan antara Genio dan juga Dino. Diantara mereka tidak ada yang mau mengalah. Vindra enggan pindah ke tempat Zeline dan Jerry, sementara Dino juga tidak mau memberikan bangkunya dengan suka rela untuk Vindra.
“Sana duduk dekat Zeline gih,”
“Masalahnya ada si Jerry, males gue sama dia. Dikiranya gue ngintilin dia,”
“Ya udah terserah,”
Vindra berdecak pelan. Dalam hati Ia mengumpat orang yang telah membuat bangku langganannya basah.
“Sialan! Cari masalah aja sama gue,”
“Mungkin ada yang nggak sengaja numpahin kali,”
Vindra menatap kotak tissue di atas meja dengan pandangan berbinar bahagia. Ia barus adara da tissue yang bisa Ia gunakan untuk mengeringkan tempat duduk itu.
“Lo berdua nggak ada yang liat nih ada tisu? Harusnya bilang lah ke gue,”
“Gue juga nggak sadar, oncom! Ya Alhamdulillah kalau lo sadar duluan,”
Vindra mengeringkan kursi yang basah itu menggunakan banyak tisu. Sengaja Ia mengambil tisu cukup banyak hingga kotaknya ringan.
“Nah ‘kan kering jadinya,”
Vindra akan duduk namun bangku malah patah tapi untungnya Ia tidak jatuh di lantai. Tidak bisa dibayangkan akan sebesar apa malunya, dan bokongnya juga pasti akan sakit.
“Anjir, hampir aja gue jatuh,”
“Disuruh ke sana nggak mau sih. Untung aja lo nggak kejedak di lantai,”
Vindra memaki geram. Tampaknya untuk makan saja dipersulit sekali. Tadi bangku sudah basah, giliran sudah Ia keringkan malah patah.
“Sialan banget,”
“Ya udah buruan duduk di sana sama Zeline Jerry,”
Vindra akhirnya terpaksa bergegas ke meja Zeline, Jerry, dan Chaca. Tanpa mengatakan apapun, tanpa permisi Ia langsung duduk begitu saja hingga mengundang tatapan bingung dari ketiga penghuni meja yang sudah mulai menyantap bakso mereka masing-masing.
“Eh kok lo di sini?”
“Emang kenapa? Nggak boleh?” Vindra menjawab pertanyaan Jerry dengan sinis. Pertanyaan yang dilontarkan Jerry membuatnya tersinggung. Kantin ini tempat umum, siapa saja itu boleh duduk dimana pun.
“Seolah nggak suka ada gue di sini,”
“Suka kok, gue bercanda aja. Santai dong mukanya, nggak usah tegang,”
“Kenapa nggak gabung sama Dino Zam?”
“Lo nggak liat tuh kursi patah? Jadi gue mau di sini,” ucap Vindra seraya menunjuk kursi yang baru saja patah ketika hendak diduduki olehnya. Sudah Ia keringkan supaya Ia bisa duduk dengan nyaman tapi yang terjadi malah patah. Benar-benar kejadian yang membuatnya muak. Teman tidak mau mengalah, kursi malah memancing emosinya.
“Eh kalian nanti mau lanjut kuliah dimana?”
Chaca menatap Zeline, Jerry, dan Vindra satu persatu. Sambil makan, Chaca mengangkat topik obrolan soal rencana teman-temannya pasca lulus sekolah. Ia penasaran apa gambaran yang sudah ada di kepala mereka setelah kelulusan nanti.
“Gue lanjut kuliah swasta sama bro-bro gue, iya ‘kan, Vin?”
Vindra menganggukkan kepalanya. Ia dan ketiga sahabatnya sudah punya kesepakatan untuk satu kampus dan satu fakultas. Terlalu susah untuk pisah, walaupun sering bertengkar tapi mereka mengakui dalam hati masing-masing bahwa perpisahan bukanlah hal yang mereka inginkan karena sudah terlalu nyaman bersama.
“Kamu mau lanjut kemana?” Jerry bertanya pada Zeline yang belum memberikan jawaban.
“Ada deh,”
“Dih? Kok nggak kasih tau?”
“Dia belum punya rencana kali makanya—“
“Nggak usah sok tau! Aku udah punya rencana mau kemana kok, tapi belum pasti. Jadi belum mau ngomong,”
“Kasih tau dong,”
“Terus kalau dia kasih tau, lo mau apa? Mau nyusul?”
Jerry terbahak mendengar pertanyaan Vindra yang sinis. Ia memukul pelan meja hingga Zeline dan Chaca terlonjak padahal itu adalah hal biasa bagi Jerry dan Vindra yang kalau bercanda memang suka aneh. Seolah marah padahal tidak.
“Hey kenapa kau benar kalau ngomong?”
“Dih, emang dia mau lo susul?”
“Gue nikahin ntar, lo bakal gue undang,”
“Najis, kepedean,”
“Lo udah ada yang baru ya?”
Vindra menggeleng spontan untuk menjawab pertanyaan Chaca. Vindra malah sedang nyaman sekali dengan kesendiriannya. Walaupun masih dibayang-bayangi dengan Zeline padahal Ia sudah berusaha untuk melupakan.
“Itu sama Zeline nggak mau balikan?”
“Ya dianya nggak mau,”
“Kalau sama Dania?”
“Lo kenapa jadi wartawan begini? Ya elah Dania bukan siapa-siapa gue, Anin juga gitu,”
“Okay sorry-sorry. Gue cuma penasaran aja soalnya lo keliatan deket juga sama Dania,”
“Ya dekat sebagai teman aja lah,”
“Kenapa lo nggak mau sama Dania?”
Karena Vindra santai dan terbuka, Zeline jadi tertarik untuk masuk ke obrolan antara Vindra dan dua temannya. Pertanyaan itu spontan terlontar dari mulutnya.
“Kalau dijodohin sama Zeline gue nggak bakal nolak,”
“Zeline emang sedahsyat itu ya, padahal dia nggak ngapa-ngapain tapi bikin cowok tertarik. Dan lo bodoh sih, bro. Lo ngelepasin dia. Kalau gue jadi lo, udah gue kekepin terus tiap saat, eh ini malah bucin banget sama mantannya yang sekarang udah kayak orang yang nggak kenal sama lo entah karena belum move on atau emang udah nggak mau berurusan lagi sama lo. Tapi baguslah, nggak usah ada drama susah move on segala. Kalian tuh harus bahagia di jalan masing-masing,”
“Tipis move on nya dong ajarin. Kok pada cepat-cepat amat sih kalau move on, caranya gimana?” Tanya Vindra seraya melirik ke arah Zeline.
“Cari yang baru sih biasanya,”
“Ah nggak mau kalau itu,”
“Ya udah tunggu sampai rasa itu hilang sendiri,”
__ADS_1
“Nggak enak ya kalau susah move on tuh,”
“Ya emang nggak enak, siap-siap sakit hati sendiri kalau ngeliat doi udah sama yang lain sedangkan kita nya masih belum move on. Sakit cuy, asli. Makanya mesti cepat-cepat move on supaya nggak sakit hati sendiri,”