Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 175


__ADS_3

“Serius cuma satu set alat masak aja, Vin?”


“Iya serius Mama lagi pengen itu,”


“Yang lain nggak ada lagi?”


“Udah cuma itu doang, lagian itu aja udah kamu beliin pasti Mama senang banget,”


“Okay berarti sekarang kita langsung ke rumah kamu ya?”


“Iya dong, Mamaku udah nge-chat dari tadi sebenarnya,”


“Okay deh,”


Zeline dan Vindra sudah berhasil mendapatkan kado untuk Rina. Sesuai dengan permintaan Zeline yang ingin diberitahu oleh Vindra barang apa yang sedang dibutuhkan atau diinginkan oleh mamanya, terbesitlah satu set alat masak di pikiran Vindra. Seingat Vindra beberapa hari lalu mamanya bilang pusing memilih satu set alat masak, akhirnya tak jadi beli.


Sekarang Zeline membelinya di sebuah mall dengan ditemani oleh Vindra. Itu hadiah dari Zeline untuk mamanya Vindra, Rina.


Rina selalu baik kepada Zeline selama ini. Rina menganggap Zeline itu anaknya juga. Disaat Zeline ulang tahun pun Rina tak pernah absen mengucapkan dan juga menitipkan hadiah kepada Vindra. Karena merasa begitu dihargai oleh orangtua Vindra, maka Zeline pun bersikap seperti itu.


“Eh ada es krim, kamu mau kan?”


“Nggak,”


“Ah masa sih, kamu kan suka banget sama es krim. Okay bentar aku beliin dulu,”


“Dih apaan sih, orang aku udah bilang nggak mau,”


“Nggak apa-apa,”


Vindra melihat ada ice cream dan Ia ingat betul kalau Zeline begitu menyukai si dingin itu. Maka walaupun Zeline menolak, Ia tetap membelikannya.


Setelah Ia membeli porsi untuk dua orang, Ia langsung memberikan satu porsinya untuk Zeline dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


“Makasih,”


“Makasih doang?”


“Ya terus kamu berharapnya aku bilang apalagi?”


“Ya minimal ada namanya lah,”


“Ya ampun ribet deh, bukannya yang penting bilang makasih ya? Harus disematin nama?”


“Iya, kalau mau sematin yang lain juga boleh, kayak misalnya sayang atau apa gitu,”


“Dih?”


“Hahahaha aku bercanda, eh tapi boleh deh kalau kamu berkenan,”


“Makin-makin kamu, Vin,”


“Makin apa? Makin ganteng?”


Vindra dan Zeline fokus berjalan sambil Vindra menghadirkan candaan-candaan kecil sampai akhirnya mereka tiba di area parkir. Vindra segera membukakan pintu untuk Zeline dan juga membuka pintu bagian tengah untuk meletakkan hadiah yang sudah dipersiapkan oleh Zeline.


“Makasih, Vindra,” ujar Zeline sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.


“Iya sama-sama, Zeline,”


Vindra masuk juga ke dalam mobil setelah itu melajukan mobil dengan kecepatan normal menuju kediamannya.


“Mama kamu serius nggak minta aku datang?”


“Ya ampun kok kamu nggak percaya sih? Nih baca sendiri chat Mama. Dia udah berapa kali mastiin kamu jadi datang kan?”


Vindra segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu Ia berikan kepada Zeline sambil berkata “Kamu liat sendiri deh chat Mama,”


Zeline yang ragu kalau Mamanya Vindra benar-benar memintanya untuk datang akhirnya benar-benar memeriksa isi pesan antara Vindra dan Rina. Ada pesan terbaru dari Rina yang belum Vindra balas yaitu pesan supaya hati-hati dalam berkendara. Dan yang membuat Zeline menahan senyum adalah ada kata-kata dari Rina yang berbunyi,


-Awas aja kalau nggak hati-hati bawa calon mantu Mama hahahaha-


Pesan yang sebelum-sebelumnya memang benar Rina menyuruh Vindra untuk serius mengajak Zeline, bahkan Rina masih juga ingin memastikan anaknya berhasil membawa Zeline ke rumah mereka.


Zeline segera mengembalikan ponsel yang ada di tangannya kepada sang pemilik. Dan Vindra langsung tersenyum.


“Gimana? Udah percaya kan?”


“Iya,”


“Orang udah jelas-jelas mama aku emang kepengen banget kamu datang, nggak cuma mama, tapi aku sama papa juga gitu. Kamu kenapa sih nggak percaya?”


“Ya takutnya nggak beneran terus aku tiba-tiba datang ke rumah kamu. Ya nggak enak lah kalau kayak gitu,”


“Mana mungkin aku bohong,”


“Ya mungkin aja, kan manusia pasti pernah bohong. Masalahnya aku nggak enak kalau ternyata nggak enak terus tiba-tiba datang ke sana,”


Vindra berdecak pelan sambil menjawab “Kamu apa-apa nggak enak,”


********


“Dan, Tante Rina ulang tahun lho. Mama diundang ke rumahnya. Kamu nggak mau ikut?”


Dania menggelengkan kepalanya menolak ajakan sang mama yang merupakan sahabat Rina.


“Emang kenapa? Kan bakal ketemu Vindra,”


“Nggak mau, Ma. Aku kesal banget sama dia. Tadi aku ditinggalin gitu aja,”


“Lho, ditinggalin gimana maksudnya?”


“Ya iya dia ninggalin aku, Mama. Tadi aju mau pulang bareng tapi malah ditinggalin,”


“Oalah, ya udah sabar jangan ngedumel,”


“Hehehehe nggak ngedumel kok, Ma,”


Suasana hati Dania masih belum membaik usai bertengkar dengan Anin tadi, hingga beberapa siswa tahu dan melerai mereka. Sudah sakit punggungnya karena dilempari batu oleh Anin, kepalanya juga sakit karena rambutnya ditarik oleh Anin, ditambah lagi Ia merasa malu sebenarnya. Tapi apa boleh buat. Ia tidak terima ketika disakiti secara fisik oleh Anin terlebih dahulu. Ia bukan tipe anak yang bisa diam saja ketika mendapat perlakuan tidak baik. Ia adalah tipe yang mudah memberikan pembalasan.

__ADS_1


“Beneran nih nggak mau datang?”


“Nggak, Ma. Aku di rumah aja. Mama aja yang ke rumah Tante Rina,” ujar Dania pada mamanya yang berusaha meyakinkan karena biasanya Dania paling antusias bertemu dengan temannya itu.


“Oh ya udah deh kalau begitu, mau nitip salam buat Vindra nggak?”


“Duh, Ma. Nggak usah ngomong gitu deh. Aku tuh lagi badmood banget abis berantem sama Anin tuh sahabatnya si Vindra,”


“Ya mamanya lain kali nggak usah lah berantem-berantem begitu,”


“Lah orang dia yang mulai, masa aku diam aja, Ma? Aku lemah dong kalau diam aja? Lagian ya, punggung aku sakit terus kepala aku sakit dijambak sama dia. Aku harus balas lah,”


“Ya udah, Sayang, jangan emosi lagi ya,”


“Susah, Ma. Emang bawaannya udah emosi mulu kalau sama si Anin,”


“Mama nggak mau ya kamu berantem lagi,”


Risa benar-benar terkejut mendengar cerita dari mulut snaknya bahwa tadi di sekolah sempat bertengjar dengan Anin. Risa mengkhawatirkan keadaan Dania juga yang beruntungnya tak menhalami luka apapun, tapi memang Dania berulang kali mengaku apa yang dilakukan oleh Anin itu membuat punggung dan kepalanya sakit.


“Sialan banget emang tuh di Anin. Dia nggak terima aku bilang diem-doem gatel, lah orang aku ngomong kenyataan,”


“Itu kamu mancing pertengkaran makanya nggak usah mancing-mancing,”


“Dia juga bilang ke aku pantes Vindra nggak mau sama aku, ya pokoknya mulut dia jahat deh, Ma,”


Risa mengusap puncak kepala anaknya berusaha menenangkan Dania yang masih juga berkkbar amarahnya.


“Ya udah lebih baik kamu di rumah deh tenangin diri daripada kamu keluar emosi kamu belum habis,”


“Emang kalau di luar aku suka banting-banting barang, nyekek ornag gitu kalau lagi emosi?”


“Ya bukan, maksud Mama kalau di rumah kan kamu ada waktu ada tempat untuk tenangin diri, kalau di luar nanti takutnya tambah badmood, apalagi nanti bakal ketemu lumayan banyak orang kan, dan bisa jadi juga Anin datang. Kamu bilang Anin sahabatnya Vindra,”


“Iya, malah mamanya juga temenan baik,”


“Tuh kan, bisa jadi mereka datang, takutnya kamu makin panas kalau ketemu sama Anin,”


“Iya mending aku di rumah aja malas banget ngeliat nuka dia yang nyebelin sok polos sok baik itu,”


“Sstt udah ah nggak usah ngomongin orang lagi, tenangi diri kamu sekarang,”


*******


Tiba di rumah, Vindra meminta Zeline untuk bersembunyi di balik tembok, nanti ketika Ia sudah memanggil Zeline barulah Zeline keluar menemui mamanya yang Vindra yakin akan membukakan pintu rumah untuknya ketika datang.


“Nggak apa-apa ya ngumpet dulu bentar? Supaya mama kaget terus senang, ntar kamu liat sendiri deh ekspresi Mama,”


“Okay,”


Akhirnya Zeline menurut. Ia bersembunyi di balik tembok. Sementara Vindra menekan bel rumahnya.


“Assalamualaikum,” ucap Vindra ketika Mamanya berdiri di depannya.


“Waalaikumsalam, mana Zeline? Katanya kamu sama Zeline,”


Seharusnya dari ucapan Rina, Zeline tahu kalau Ia benar-benar diinginkan kedatangannya. Yang pertama kali dicari oleh Rina adalah Zeline.


“Hah? Kok kamu bohongin Mama sih? Katanya bisa tadi, katanya udah di jalan. Ah kamu bikin Mama kecewa. Kenapa harus bohong segala sih, Vin?”


Vindra berusaha menahan tawanya. Ia benar-benar meminta maaf dalam hati kepada mamanya yang sudah terlanjur Ia buat kesal.


“Nggak apa-apa kali ya gue kerjain Mama seskelai? Kan mumpung di hari ulang tahunnya,” natin Vindra.


“Ya udah buruan masuk ngapain cuma ngeliatin Mama kayak gitu?” Tanya Rina dengan ketus.


“Emang Mama berharap banget aku bisa ngajak Zeline ke sini?”


“Ya iyalah, kamu make tanya lagi. Kalau Mama nggak mau Zeline datang ke sini ya ngapain Mama minta ke kamu berulang kali supaya Zeline datang, mama berharap kamu bisa bujuk Zeline,”


“Hehehe ya udah ntar aku coba lagi,”


Rina berbalik hendak melangkah menjauh dari pintu, kesempatan itu digunakan oleh Vimdra untuk memanggil Zeline yang detik itu juga langsung keluar dari tempat persembunyiannya.


“Mama nengok dong,” ujar Vindra pada mamanya itu. Rina segwra menoleh dan kedua matanya membelalak ketika melihat Zeline tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Vindra.


“Assalamualaikum,” ucap Zeline.


“Waalaikumsalam, ya ampun Tante senang banget kamu datang ke sini. Ini beneran kamu kan?”


Rina segera melangkah cepat menghampiri Zeline dan langsung memeluk Zeline dnegan hangat.


Zeline terkekeh sambil menjawab “Iya beneran aku kok, Tante,”


“Tante sennag banget kamu mau datang ke sini. Tante udah kangen banget tau sama kamu. Makasih ya udah mau datang,”


“Sama-sama, Tante. Selamat ulang tahun ya, Tante. Semoga di usia Tante yang baru ini, Tante dilimpahkan keberkahan, sehat selalu, panjang umur, bahagia terus ya, Tante,”


“Aamiin, terimakasih untuk doanya, Sayang, terimakaish juga udah mau datang ya. Serius Tante senang banget soalnya Tante udah berharap banget kamu datang. Tadi kecewa pas Vindra bilang dia nggak bisa bawa kamu ke sini eh nggak taunya dia bohong,” ujar Rina sambil melirik ke arah anaknya dengan sorot mata kesal.


“Hehehe maaf ya, Ma, udah ngerjain Mama bentar. Tapi cuma bentar doang kan, Ma? Nggak sampai satu menit,”


“Iya tapi tetap aja kamu udah sempat bikin Mama kesal sama kecewa,”


“Sekarang gimana? Masih kecewa dan kesal nggak?”


“Ya nggak lah,”


“Yuk masuk, Zel,”


“Oh iya ini kald buat Tante. Semoga Tante suka ya,”


“Alhamdulillah terimakasih kadonya. Kamu udah mau datang ke sini aja Tante udah bersyukur banget, Zel, nggak usah mikirn kado-kado harusnya, karena ngerepotin kamu,”


“Nggak ngerepotin sedikitpun kok, Tante,”


“Vindra udah nggak pernah bawa kamu ke sini setelah kalian putus. Tante paham sih jarena mungkin kalian merasa udah nggak ada hubungan apa-apa lagi dan itu yang buat kamu jadi sunhkan mungkin datang ke sini, padahal Tante sering bilang ke Vindra ajak kamu ke sini, nggak tau deh dia ajak atau nggak,”


“Ngajak, Ma, tapi Zeline nggak mau,”

__ADS_1


“Iya soalnya aku sungkan, Tante,”


“Kenapa sungkan, Sayang? Kita kan tetap berhubungan baik,”


“Iya, Tante. Aku juga nggak mau putus silaturahmi kok sama Tante sama Om juga,”


“Sama aku nggak?” Tanya Vindra sambil menunjuk dirinya sendiri. Rina tertawa semnetara Zeline merotasikan bola mata.


“Ya kalau aku mutus silaturahmi, aku udah nggak mau kali ketemu kamu, benar-benar ngejauh dari kamu,”


“Tapi kamu emang ngejauh kok,”


“Nggak, biasa aja,”


“Halah, karena udah ada yang baru ya?”


Zeline mengangkat salah satu alisnya mendnegar pertanyaan Vindra kemudian Ia menatap Rina yang juga menatapnya sambil tersenyum.


“Emang iya udah punya yang baru?” Tanya Rina pada Zeline.


“Belum, Tante,”


“Oalah sama berarti kayak Vindra,”


“Oh pantesan kok di tangga Papa dengar suara yang nggak asing ternyata ada Zeline ya,”


Tiba-tiba papa Vindra, Hadi datang ke ruang tamu dan Ia sumringah sekali melihat kedatangan Zeline.


“Assalamualaikum, Om,”


“Waalaikumsalam, Alhamdulillah datang juga nih yang ditunggu-tunggu, gimana kabarnya, Zel?”


“Alhamdulillah baik, Om,”


“Kok jarang sih ke sini?”


“Nggak mau dia, Pa. Kalau aku ajakin nolak terus,” ujar Vindra.


“Sering-sering ya ke sini,”


Zeline tersenyum mendnegar permintaan Hadi. Sedetik kemudian Rina juga menyampaikan hal serupa “Iya lokoknya harus sering-sering ke sini,”


“Hehehe iya Insya Allah, Tante,”


“Ada acara kecil-kecilan di rumah ini, Zel. Dua jam lagi mulai, kayaknya bentar lagi tetangga sama teman-teman Tabte udah pada datang deh, makasih ya kamu udah mau ikut berpartisipasi, bahkan datang pertama,”


“Sama-sama, Tante,”


********


“Nggak usah lo bales aturan. Lo lari aja ke ruang kepsek terus aduin tuh si Anin biar nyaho dia. Atau kalau emang kepsek nggak ada di ruangannya, lo langsung ke BK biar dia kena sembur guru BK, Bu Diah. Kan tau sendiri Bu Diah kayak gimana,”


“Gimana gue nggak balas sih, Mel? Dia duluan lemparin batu ke punggung gue. Kan kurang ajar banget ya? Akhirnya main jambak-jambakan deh,”


“Orang kayak gitu kalau diladenin malah senang dia, Dan,”


“Anjir bodo amat deh, yang penting tangan gue yang udah gatal pebgen bales dia udah kesampean,” ujar Dania setelah mendnegar nasehat dari temannya, Amel yang benar-benar terkejut tadi karena ramai diperbincangkan Anin juga Dania bertengkar di depan gerbang sekolah.


“Lagian kalian tuh kenapa sih? Panas muku bawaannya,”


“Ya kan gue naksir Vindra, terus dia tuh kayak nggak senang gitu lho, Mel. Lo paham kan maksud gue?”


“Sorry, Anin emang dekat banget sama Vindra, mereka kan sahabatan tuh, bahkan waktu Vindra masihs ama Zeline aja, si Anin tuh udah kayak pacaranya Vindra juga, ini gue ngomong berdasarkan yang gue liat aja ya. Dimana ada Vindra sama Zeline, di situ ada Anin. Tapi kadang di situ ada Vindra, di situ ada Anin tapi nggak ada Zeline. Aneh kan? Ya wajar si kalau Zeline mau putus. Kan nggak smeua cewek bisa nerima cowoknya dekat sama sahabat cewek, bahkan ada yang nggak suka juga kalau vowoknya punya sahabat cewek. Nah kalau yang gue liat Zeline tuh orangnya nggak masalah Vindra punya sahabat cewek. Cuma kayaknya si Zeline lama-lama gerah deh, dia merasa di omor duakan juga kali ya? Jadi akhirnya putus deh,”


“Jahat ya si Anin tuh. Apa banget sih nempel mulu ke Vindra, kayak nggak ada cowok lain aja,”


“Lah kan dia merasa jadi sahabatnya Vindra. Jadi ya gitu deh,”


“Lo ke rumah gue dong. Gue bosen nih. Lagian rumah gue sepi nggak ada orang,”


“Emang orang di rumah lo pada kemana?”


“Nyokap gue ke rumah nyokap Vindra yang ulang tahun,”


“Terus kenapa lo nggak ikut aja? Bukannya senang ketemu Vindra?”


“Masalahnya, nyokapnya Anin juga temenan sama nyokap Vindra. Gue yakin tuh orang datang. Makanya gue ogah datang. Mual gue ngeliat mukanya,”


“Oh gitu, ya udah gue otw ya,”


“Serius?”


“Iyalah, gue otw sekarang,”


“Makasih, Mel,”


“You,”


Dania bergegas ke ruang makan untuk mengisi perut karena lapar sambil Ia menunggu kedatangan Amel.


“Mba Dania mau dimasakin apa?” Tanya Bu surti asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


“Nggak usah, Bu. Aku makan yang ada aja,”


“Ada telur dadar, Mba. Kalau mau yang lain boleh, nanti saya masakin,”


“Nggak usah, telur dadar aja. Makaish ya, Bu,”


“Iya, Mba,”


Dania mengambil piring dan nasi serta lauknya. Setelah itu Ia makan sambil memainkan ponselnya. Ada story instagram terbaru dari Vindra. Secepat mungkin Ia melihatnya.


Ada foto yang dijadikan story instagram oleh Vindra. Di dalam foto tersebut ada Vindra, Zeline, dan kedua orangtua Vindra. Posisi mamanya Vindra berada di tengah dengan membawa kue ulang tahun.


“Ish apa banget sih. Kan udah putus kok masih seakrab ini? Gue cemburu, anjrit!”


“Udah kayak mertua, anak, sama menantu aja sih. Ih nggak suka ah,”


Dania segera meninggalkan instagram. Tadinya membuka instagram untuk mencari sesuatu yang menghibur atau sesuatu yang menyejukkan hati. Tapi ternyata tak sesuai dengan harapan.

__ADS_1


“Kok bisa sih Zeline maish seakrab itu sama orangtua Vindra? Padahal kan udah mantan. Apa iya dia sebaik itu ya sampai Vindra dan orangtuanya masih ngehargain dia banget. Ya kenapa nggak balikan aja coba? Zeline belagu juga ya. Padahal gue yakin dia juga belum bis amove ln tuh dari Vindra, secara mereka saling cinta banget ‘kan, sayangnya aja hubungan mereka diganggu sama laler ijo yang sok polos, sok baik itu. Eh kalau laler ijo kayaknya kurang cocok deh, hmm gue sebut uler betina aja, atau srigala berbulu domba kayaknya cocok juga tuh buat dia,”


__ADS_2