
Tidak mungkin Ia hanya makan semdiri. Ia suka berbagi. Tidak mungkin hanya Ia yang makan sementara Juan tidak.
“Nggak usah gue kan lagi nunggu,”
“Ya nggak apa-apa makan aja dulu ini,”
“Nggak usah, lo makan aja,”
Hari ini Zeline membawa kentang goreng, ayam goreng dan nugget plus saos sambal yang tak pernah ketinggalan. Sebagai orang yang suka pdas, Zeline tidak bis ameninggalkan sambal setiap makan. Termausk makan di sekolah.
“Yakin nggak mau? Ini rnak lho,”
“Nggak usah, lo makan semdiri aja,”
“Atau lo nggak suka kentang, ayam dan nugget?”
“Nggak kok, gue suka-suka aja. Gue mah semua makanan suka,”
“Ah masa sih?”
“Ya iyalah, gue emang suka semua, yang penting judulnya makan,”
Zeline terkekeh mendengar ucapan Juan. Ternyata selera makan Juan mudah juga. Tidak yang aneh-aneh.
“Itu buatan lo sendiri, Zel?” Tanya Juan pada Zeline yang sudah mulai menikmati bekal makan siangnya yang dibawakan oleh sang Mama.
“Seujurnya sih ini dimasakin sama nyokap gue. Mana mungkin gue pagi-pagi udah masak,”
__ADS_1
“Eh tapi lo orang yang bisa masak nggak sih?” Tanya Juan yang entah kenapa klai penasaran dnegan hal yang berkaitan dnegan Zeline. Karena ternyata setelah mengobrol dengan Zeline, Ia bisa menemukan keasyikan tersendiri. Zeline tidak ketus lagi, dan mulai hangat.
“Gue cuma suka bantu-bantu dikit doang, kayak goreng telur atau apa gitu. Tapi cuma bantu dikit doang,”
“Tapi keren sih bisa bantu orangtua,”
“Lo sendiri himana? Pernah bantu nyokap lo masak?”
“Mana pernah, gue masak telur aja gosong bikin panik satu rumah,”
“Serius?”
Juan menganggukkan kepalanya jujur. Seline langsung tertawa mendnegar cerita Juan yang terbuka tanpa maku menyampaikan kalau Ia tidak pernah membantu mamanya memasak. Dan saat memasak telur malah membuat seisi rumah pank sebab terlalu matang alias gosong.
“Kok bisa sih? Emang nggak lo tungguin atau gimana?”
“Iya gue smabil main game online di handphone jadi ya gitu deh,”
“Apa tuh contognya?”
“Gue niatnya belajar, dan hamdphone ada di dekat tangan gue, bukannya belajar, gue malah keadyikan chatingan sama teman, buka sodial media, scrolling-scrolling sampai akhirnya nggak belajar terus besokannya ujian dan gue susah banget untuk jawab pertanyaan. Karena gue nggak velajar. Udah belajardi haris ehelumnya tapi ‘kan belum matang, karena yang harusnya pematangan materi semalamnya, eh malah gue pakai untk main handphone,”
Juan terkekeh dan menjentikkan jarinya karena punya pengalaman yang serupa. “Sama jayak gue dong berarti. Gue juga gitu. Emang bahaya banget deh kalau pegang handphone tuh. Jadi nggak fokus sama pa ayang harusnya kita lakuin,”
“Iya,makanya kalau misal mau belajar, kata nyokap gue handphone tuh dijauhin dulu, kalau bisa dinonaktifkan dulu. Kalau dipikir-pikir benar juga. Soalnya kalau dekat-dekat, tangan kita tuh suka gatal pengen pegang handphone tau nggak sih,”
“Emang udah kecanduan sama gadget, gue juga gitu kok, Zel. Jadi bukan lo sendiri. Terus abis itu kitanya nyesal sendiri ya? Mislanya besok nggak bisa jawab soal ujian karena semslam nggak ngula smateri supaya benar-benar matang, nah itu pasti ada rasa nyesal deh,”
__ADS_1
“Pasti itu, kayak kehadian yang gue akamin waktu itu. Harusnya semalam gue nggak maun handphone, gue fokus ngulas materi supaya benar-benar matang materi yang gue pelajarain eh malah gue main handphone. Terus besokannya pas kesusahan jawab soal gue nyesal banget. Kenapa gue malah main handphone. Karena jadinya yang rugi gue, yang jelek nilai gue,”
Tanpa meeka sadati ada dua pasang mata manusia yang sedang menatap ke arah mereka yang sedang makan sambil mengobrol itu.
“Mereka keliatan dekat banget,” gumam salah sayu pemilik sepasang mata dan dia adalah Vindra.
“Itu emang siapa sih? Kok cepat banget Zeline move on. Buset, itu hati atau pangkalan ojek? Cepat amat silih berganti,”
“Nin, kamu tuh nggak tau apstinya kayak gimana. Belum tentu mereka pacaran, kamu udha ngomong yang nggak-nggak. Kamu nggak sopan! Kalau didenagrs ama Zeline nggak dnak tau. Lagian ya, mau mereka pacaran atau nggak ya bukan urusan kamu jga lah. Kevuali kalau cowokanak batu itu pacar kamu dan dia deketin Zeline nah baru kamu boleh komentar,”
Bindra menegr sahabatnya supaya tidak terbias abicara sembarangan kepada siapapun apalagibyang dibicarakan adalah Zeline.
“Jadi kamu sama Zeline beneran udah berakhir ya, Vin?”
“Ya menurut kamu? Kalau nggak berkahir aku yang udah ada di posisi gowok itu sekarang kayak sebelum-sebelumnya. Tapi ini apa? Aku di sini sama kamu, bukan sama Zeline,”
Mendengar ucapan Vindra, Zeline langsung mengusap bahu Vindra sambil berkata “Ya udah, yangs abar ya, Bin. Mudah-mudahan kamu cepat dapat gantinya. ‘Kan Zeline udah ada kengganti tuh, nah smekga kamu juga secepatnya ya,”
“Belum tentu lah dia pengganti aku, masa iya secepat itu?”
“Kamu kepedean banget hahaha. Lah emang kamu secakep apa sih? Sebaik apa? Ya bisa jaa lah Zeline tuh udah punya pengganti,”
Ucapan Anin membuat Vindra merasa ditampar dnegan kuat, kemudain dijatuhkan dan diinjak-injak.
“Aku bukannya bikin kamu merasa sedih atau gimana ya. Tapi bisa aja Zeline emang udah punya pengganti, kamu jangan kegegeran seolah Zeline tuh nggak bisa secepatnya dapat pengganti kamu. ‘Kan kamu sendiri bilang kalau Zeline itu cantik, pintar, baik, nggak neko-neko anaknya. Nah ya udah, bukan hanya kamu aja yang tertarik sama dia dan pengen jadiin dia pacar, tapi laki-laki lain juga bisa aja kayak kamu ‘kan. Malah aku rasa banyak deh,”
Vindra menghembuskan napas kasar kemudian menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan.
__ADS_1
“Aku nggak siap,”
“Vin, mau nggak mau ya kamu harus siap. Lagian Zeline ‘kan udah mutusin kamu, walaupun kamu udah berusaha untuk mempertahankan tapi Zeline nya tetap mau lepas dari genggaman kamu. Ya udah lah terima aja. Dia udah bahagia tuh sama kehidupannya yang sekarang tanpa kamu,”