
“Lho emang aku ngapain Vindra? Aku nggak ngapa-ngapain dia kok, aku cuma jawab aja. Lebay ah kamu, masa iya Vindra sampai stres ngadelin aku. Yang ada juga kebalik kali,” sindir Zeline yang membuat Vindra jengenryitkan keningnya tidak paham.
Jadi maksud ucapan Zeline adalah, Ia yang bisa membuat Zeline stres? Selama ini Ia tidak aneh-aneh, ia juga tidak menyebalkan, suka merajuk dan sebagainya. Kenapa malah situasi dibalik seakan-akan Ia yang membuat stres Zeline.
“Aneh, yang suka ngambek siapa coba? Aku sih nggak suka ngambek ya, yang harusnya bisa stres ya aku lah benar kata Anin,”
Zeline memijat pangkal hidungnya mengabaikan ucapan Vindra. Kemudian Ia menarik napas dalam-dalam dan Ia hembuskan dengan perlahan. Ia tidak boleh kesal, karena takutnya pengaruh ke kondisi badannya sekarang.
Tiba di rumah Zeline, Anin langsung meninggalkan kursi belakang sementara Zeline saja belum keluar dari mobil. Anin seolah tidak sabar untuk pindah tempat duduk ke depan.
Zeline membuka sabuk pengaman dan menatap Anin yang tersenyum. “Aku pindah ke tempat kamu ya?”
Zeline menganggukkan kepalanya. Tidka mungkin Ia menggeleng alias melarang. Punya hak apa dia? Ini mobil Vindra, dan Anin itu sahabatnya Vindra.
Vindra turun dari mobil mengantarkan Zeline sampai ke delan pintu rumahnya. Zeline menekan bel rumah dan sambil menunggu dibukakan pintu, Zeline bertolak pinggang sambil sedikit membungkuk.
__ADS_1
“Eh kamu kenapa?” Tanya Vindra yang panik. Vindra spontan memeluk pinggang Zeline. Tapi Zeline langsung mundur hingga pinggangnya dan juga tangan Vindra tak lagi melekat.
“Aku nggak apa-apa,” ujar Zeline.
“Beneran?”
“Iya,”
Pintu rumah dibuka oleh asisten rumah tangga. Zine langsung masuk diikuti oleh Vindra yang sambil memegang pinggang belakang Zeline namun Zelie berdecak dan menjauhkan tangan Vindra.
“Udah sana pergi,”
“Ya emang, udah sana pergi, aku mau istirahat,”
“Ngambek ya makanya nggak mau aku pegangin? padahal niat aku baik. Aku nggak paham deh sama kamu kenapa kamu ngambek terus. Aku pusing lama-lama,”
__ADS_1
Setelah bicara seperti itu, Vindra bergegas pergi. Ia tersneyum dan pamit pada asisten rumah tangga yang bingung anak majikannya pulang dengan keadaan yang lemah.
Ia segera mendekati Zeline setelah mengunci pintu. Begitu Ia sentuh tangan Zeline ternyata panas.
“Ya ampun, Mba Zeline. Ini panas banget. Yuk kita ke kamar yuk, Mba harus istirahat,”
“Mama kemana, Bi?”
“Ibu ada di kamar, mau saya panggilin?”
“Nggak usah deh, aku sendiri aja ke kamar,”
“Bibi bantu ya, jangan sendiri takutnya di tangga nanti kenapa-napa,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Ketika dibantu oleh Bibi, Zeline tidak keberatan, tidak memberikan penolakan, giliran kekaishnya yang memegangi pinggangnya demi memastikan Zeline berjalan dengan baik alias tidak jatuh, Zeline malah kesal.
__ADS_1
Bibi pastikan Zeline dan Vindra sedang tidak baik-baik saja. Ia tidak tahu amsalahnya apa, tapi tadi melihat Vindra disuruh pergi, dan niat baiknya ditolak, Bibi merasa tidak tega juga sebenarnya. Tapi Bibi yakin tidak mungkin Zeline seperti itu kalau tidak ada sebabnya.
Bibi mengantarkan Zeline ke kamarnya. Bibi bertanya apa yang dibutuhkan oleh Zeline namun Zeline mengatakan tidak ada. Bibi patuh dan langsung memutuskan untuk keluar dari kamar anak majikannya itu.