
“Nin, buat kamu, semoga suka ya,”
Ketika Anin barus aja memasuki mobil, Vindra langsung menyerahkan hadiah ulang tahun yang sudah Ia siapkan untuk Anin yang hari ini bertambah usianya.
Anin menerima dengan hati yang bahagia. Dari raut wajah tak bisa dibohongi betapa senangnya Anin mendapatkan sebuah kotak kecil dari Vindra walaupun Ia belum tau isinya apa.
“Wah, makasih banyak ya, Vindra. Aku pasti suka dong. Boleh aku buka sekarang nggak?”
“Ya silahkan, itu ‘kan punya kamu. Terserah kamu mau dibuka kapan kotaknya. Aku harap sih kamu suka ya, itu spesial soalnya,”
Zeline melirik sinis mendengar ucapan Vindra. Bisa-bisanya bicara seperti itu di dekat telinganya.
“Wow kenapa spesial?”
“Ya karena bukan aku yang milih hahaha,”
“Oh ya? Padahal aku pikir kamu yang milih, makanya kamu bilang ini kado spesial,”
“Tapi tetap senang ‘kan walaupun bukan aku yang milih hadiah itu?”
__ADS_1
“Tetap senang dong. Nggak ada yang nggak senang kalau dapat hadiah. Makasih banyak ya, tapi kalau aku boleh tau siapa yang milih ini?”
“Hmm Anin, aku kasih hadiahnya nanti ya, aku belum dapat hehehe. Maaf banget ya, nanti ‘kan aku bakal hadir di birthday party kamu, nah aku bakal kasih kadonya nanti,”
“Ya ampun, santai aja kali, Zel. Nggak ada kado juga nggak apa-apa kok. Aku nggak gila kado. Kamu udah datang aja aku bersyukur banget. Aku udah senang kalau teman-teman yang aku undang pada datang jadi kita bisa senang-senang bareng,”
“Iya, Nin,”
Zeline bukan melupakan hadiahnya untuk Anin, tapi Zeline memang belum menemukan hadiah apa yang tepat untuk Anin. Tadinya mau beli sekalian bersama Vindra setelah beli anting yang menjadi hadiahnya Vindra, tapi ternyata Ia tidak tertarik dengan apapun. Nanti speulang sekolah rencananya Ia akan ke mall lagi untuk mencari kado Anin.
“Eh siapa yang milihin? Kamu belum jawab pertanyaan aku lho,”
“Itu Zeline yang milihin,”
“Oh—wow serius? Pasti bagus banget deh. Aku makin nggak sabar buka. Aku buka sekarang ya. Apa sih ini isinya? Kenapa kalian sweet banget ke aku? Kalian berdua kerja sama untuk sebuah kado yang istimewa ini,”
“Aku cuma milih aja kok, Nin. Yang beli ‘kan Vindra,”
“Tapi tetap aja kalian kerja samanya wow banget. Makasih ya, aku mau buka sekarang nggak apa-apa ‘kan?”
__ADS_1
“Iya buka aja, dari tadi ngomong mau dibuka tapi nggak dibuka-buka,” ujar Zeline yang sejujurnya penasaran juga dengan tanggapan Anin nantinya setelah melihat hadiah yang telah Ia pilihkan untuk Anin.
“Wow sepasang anting, bentuknya kepala kucing. Makasih banyak ya,”
“Sama-sama, kamu suka nggak?” Tanya Zeline.
“Suka banget dong, ini lucu. Mau aku pakai sekarang ah, aku ganti anting yang lagi aku pakai ini,” ujar Anin seraya membuka satu persatu anting di kedua telinganya.
“Butuh bantuan aku?” Tanya Zeline seraya menolehkan kepalanya ke belakang dimana Anin duduk.
“Nggak usah, ini udah lepas kok,”
Anin langsung mengganti anting yang sebelumnya Ia pakai dengan anting baru pemberian Vindra tapi pilihannya Zeline.
“Kenapa kalian kepikiran kasih yang bentuknya kepala kucing? Asli ini gemes banget tau,”
“Tadinya aku pilihin yang bentuk mahkota, karena kamu ‘kan kayak bidadari gitu. Eh tapi Vindra nggak setuju, aku disuruh pilih yang lain, nah ketemu lah aku sama anting model itu. Dan kata Vindra kebetulan kamu suka kucing ya?”
“Iya, kok Vindra tau sih?”
__ADS_1
“Ya tau lah, kalian ‘kan sahabatan lama, masa nggak tau sih? Apalagi itu gampang banget diingat. Ya udah deh akhirnya Vindra beli anting yang modelnya kepala kucing karena aku milihnya itu buat kamu. Menurut aku, anting itu lucu dan pas untuk kamu. Walaupun sebenarnya yang mahkota juga nggak kalah bagus sih cuma Vindra nya nolak ,” ujar Zeline seraya mengingat momen dimana Ia dan Vindra akhirnya berdebat kecil lagi perihal model anting untuk Anin. Ketika mendengar Zeline berkata bahwa Anin itu seperti bidadarinya Vindra, spontan Vindra langsung meminta Zeline untuk pilih anting yang lain.