
Dua hari lagi Zeline dan teman-teman seangkatan akan pergi ke villa untuk untuk melaksanakan kegiatan pramuka.
Sebagai persiapan tentunya yang diperlukan adalah baju, makanan ringan, peralatan mandi, selimut.
Semuanya dudah disiapkan Zeline dari hari ini walaupun masih dua hari lagi Ia berangkat, tapi ada pengecualian untuk makanan.
Baju, peralatan mandi, selimut, skincare itu sudah siap semua di dalam travel bag nya sementara makanan ringan belum Zeline beli.
Zeline menghembuskan napas lega. Setelah itu Ia berdiri meluruskan pinggangnya.
“Timbang nginap dua malam aja lumayan capek ya beresin perlengkapannya, aoalagi kalau nginap lebih dari dua malam, ribet banget kali,” gumamnya sambil memindahkan travel bag ke balik pintu supaya kalau masuk pintu tidak ada travel bag yang mengganggu pemandangan kamar cantiknya usai Ia bereskan tadi pagi. Biasanya rapi, tspi kali ini lagi benar-benar rapi.
Reta membuka puntu kamar anaknya untuk melihat Zeline sudah selesai atau belum dengan persiapannya itu.
“Zel, udah semua, Nak?”
“Udah, Ma,”
“Beneran?”
“Iya beneran,”
“Boleh Mama cek nggak? Mau mastiin dulu benar atau nggak yang kamu bawa-bawa itu,”
“Hmm boleh deh,”
“Maaf ya Mama baru bilang, kelupaaan Mama mau bilang kalau Mama bakal cek tas kamu dulu untuk mastiin nggaka da yang tinggal,”
“Iya nggak apa-apa kok, Ma. Malah akus enang dicek soalnya aku ‘kan nggak jago beres-beres barang bawaan kalau mau pergi. Biasnaya kslau liburan tuh Mama yang beresin, sekarang aku. Belajar mandiri sekali-kali, Ma,”
__ADS_1
Reta terkekeh dan sekarang Ia sudah dihadapkan dengan tas anaknya yang sudah dibuka resletingnya oleh sang anak.
“Wah rapih ya ternyata. Pintar snak Mama nih,”
“Hehe ‘kan tadi diajarin Mama dulu untuk natanya,”
“Kamu yakin nggak mau bawa koper?”
“Lah ini bukannya koper, Ma? Tapi versi paling kecil,”
“Ya maksud Mama yang kecil tapi di atas ini ukurannya gitu lho,”
“Jangan, Ma. Udah ini aja, pas kok,”
“Ya udah okay,”
Reta tidak hanya melihat baju saja. Bsnar-banar Ia cek bahkan sampai ke pakaian privasi anaknya alias bagian dalam, kaos kaki, jaket, lalu peralatan mandi, skin care, sampai ke parfum pun Ia pastikan sudah masuk ke dalam pouch.
“Eh obat-obatan mana? ‘Kan Mama suruh bawa aja, Nak,”
“Oh iya, ya ampun aku lupa banget. Untung aja Mama ingetin ya,” ujar Zeline yang langsung mengambil kotak obatnya. Di sana Ia mengambil obat demam, diare, sakit kepala, itu penyakit-penyakit yang suka datang menyerangnya, lalu Ia juga mengambil minyak aroma terapi. Zeline juga mengambil pouch lain untuk menjadi tempat penyimpanan obat-lbatannya itu.
“Nah ini, Ma,”
Reta yang menyimpan pouch berisi obat-obatan anaknya itu, setelah Ia pastikan tak ada yang tertinggal lagi, barulah Ia tutup kembali tas yang akan dibawa oleh anaknya itu.
“Sekarang aku mau telepon Vindra, aku mau jajan makanan ringan bareng dia boleh nggak, Ma?”
“Ya boleh dong, Nak. Mau beli dimana?”
__ADS_1
“Hmm di supermarket yang dekat aja dari sini, ntar aku minta tolong Vindra jemput aku di sini,”
“Ya udah boleh,”
Zelije tersernyum mendapat izin dari mamanya untuk keluar sebentar bersama Vindra. Zeline segera mengambil ponslenya untuk menghubungi sang kelasih.
“Halo, Vin,”
“Assalamualaikum,”
“Eh iya lupa, Waalaikumsalam,”
“Kenapa, Zel?”
“Temenin aku beli makanan ringan yuk, buat dua hari lagi,”
“Oh boleh, sekarang nih?”
“Iya kalau kamu bisa,”
“Bisa kok, aku jemput ya?”
“Jempur sendiri ‘kan?”
“Iyalah sendiri, emang kenapa? Kamu mau aku ajak Mama Papa aku gitu? Lah mau lamaran jadinya, bukan mau temenin beli snack,”
“Nggak, aku pikir bawa siapa gitu,”
“Nggak lah, aku cuma sendiri. Nggak sama Anin kok,”
__ADS_1