
“Vindra, ini aku minum nggak sengaja,”
Zeline kaget ketika tiba-tiba Vindra datang langsung meletakkan dua gelas minuman untuknya dan Zeline di atas meja dan Vindra menatap Zeline dengan kesal menuntut penjelasan Zeline.
“Kenapa kamu minum itu?” Tanya Vindra sambil menunjuk gelas berisi cairan berwarna ungu kemerahan yang sudah dicoba Zeline sedikit tadi.
“Aku dikasih—“
“Ya udahlah, Vindra. Nggak apa-apa kalau Zeline mau minuman itu. Lagian ‘kan cuma sesekali aja,” ujar Anin yang langsung mengundang tatapan bingung Zeline. Sebenarnya kalau tahu itu adalah minuman beralkohol, Zeline tidak akan mau karena Zeline tahu Ia tidak biasa minum itu, dan Zeline juga takut efek dari minuman itu berlebihan di tubuhnya yang payah. Tapi karena Anin tidak mengatakan di awal bahwa itu minuman alkohol, otomatis Zeline mau menyeruputnya. Andai saja Anin bicara di awal bahwa itu red wine, Zeline akan langsung menolak.
__ADS_1
Yang diharapkan oleh Zeline sekarang adalah penjelasan Anin. Zeline ingin Anin bicara pada Vindra bahwa minuman itu Anin yang bawa dan Anin tidak menjelaskan soal minuman itu pada Zeline.
“Ya tapi dia nggak biasanya minum itu, Nin. Aku nggak suka juga dia minum red wine, takut dia kenapa-napa. Aku merasa bersalah nanti,” ujar Vindra.
“Ya udah, Vin. Cuma sesekali doang nggak masalah, kata Zeline enak kok, ada manisnya,”
Vindra langsung menatap Zeline dengan rahang mengetat dan tatapan mata yang tajam. Ada kecewa juga yang bisa Zeline lihat di mata kekasihnya. Tapi Vindra tidak membentak Zeline, apalagi menyakiti dengan tangan. Walaupun begitu emosinya Vindra sampai ke Zeline.
“Aku tuh cuma pengen kamu nggak neko-neko,”
__ADS_1
“Cuma sedikit, Vindra,” jawab Zeline.
“Ya terus kalau kamu misalnya diare atau alergi sama minuman itu gimana? Untungnya kamu minum cuma sedikit ya, jadi mudah-mudahan nggak sampai mabok. Dan perut kamu nggak nolak,” ujar Vindra seraya menekan kata ‘cuma dikit’. Ketika Zeline berkata seperti terdengar menyebalkan di telinganya. Terkesan menyepelekan. Padahal Vindra khawatir karena Ia tahu kekasihnya tidak pernah nekat mencoba itu.
“Nggak apa-apa, santai. Efeknya nggak ada kalau cuma dikit, seteguk dua teguk, segelas juga aman-aman aja sih. Kecuali kalau ibu hamil, barulah takut bahaya ke janinnya. Tapi Zeline ‘kan bukan ibu hamil, jadi ya tenang aja. Jangan dimarahin Zeline nya, Vin,”
Zeline menggertakkan giginya kesal. Anin tak menjelaskan apapun tentang asal usul minuman itu bisa ada di mejanya sekarang. Justru Anin melontarkan ucapan-ucapannya yang tidak berguna, malah memancing kesal.
“Vindra, aku juga sebenarnya nggak mau minum itu kalau seandainya aku tau dari awal itu minuman alkohol. Tapi sayangnya Anin nggak ngasih tau aku. Dia yang ngasih minuman itu ke aku, dan aku langsung minum karena kebetulan aku haus dan dia bilang bakal ambilin minuman untuk aku. Masa iya aku tolak kebaikan orang? Aku hargain dong apa yang udah dikasih ke aku, tapi setelah aku rasain aku langsung ngira itu alkohol dan begitu aku tanya ke Anin emang benar itu minuman alkohol. Aku kaget, dan mau gimana lagi? Minumannya udah terlanjur aku telan. Dan aku jujur, emang menurut aku minuman itu enak, rasanya ada manis. Tapi aku nggak mau lagi kok. Udah cukup kali ini aja,”
__ADS_1
Zeline tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk memberikan penjelasan kepada Vindra. Kekasihnya harus tahu bahwa Ia minum itu bukan atas dasar inisiatifnya sendiri. Sayangnya Anin tak mau menjelaskan apapun.