
“Ayo sekarang kita pulang aja,”
“Lho kok pulang cepat banget sih? Kita belum ngobrol-ngobrol,”
“Iya, baru juga datang. Bebtar lagi aja pulangnya,”
Sejujurnya Zeline sengaja mengulur waktu. Ia tahu Vindra belum puas meluapkan rasa kesalnya melihat Ia minum alkohol seklaipun Ia sudah menjelaskan bahwa Ia tidak tahu menahu soal minuman itu.
“Nggak usah lama-lama, aku nggak mau juga kemalaman bawa kamu pulang ke rumah,” ujar Vindra dengab wajah yang datar dan suaranya dingin.
“Terus itu minuman yang baru kamu ambil belum diminum,”
Vindra segera menyeruput jus yang Ia ambil lalu setelah itu meletakkan gelasnya di atas meja masih dengan wajah tanpa ekspresi.
“Iya duduk aja dulu bentar. Aku pergi deh, biar kalian ngobrolnya enak berdua ya,” ujar Anin sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan sepasang kekaish yang saat ini saling beradu tatap satu sama lain.
“Kita pulang aja ayo,” Vindra masih mengajak Zeline untuk pulang namun Zeline menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih? Biasanya juga nggak suka-suka banget di acara kayak gini, sekarang kenapa betah? Hmm? Udah mulai suka sama party kayak gini?”
“Sejujurnya aku takut pulang sama kamu,”
Kening Vindra mengernyit tidak paham dengan ucapan kekasihnya. Takut pulang bersamanya? Itu tidak masuk akal. Selama ini Ia bisa membuktikan bahwa Ia adalah kekasih yang baik dengan tidak pernah melakukan hal di luar batas pada Zeline. Lantas apa yang ditakutkan oleh Zeline? Seharusnya tidak ada satupun yang bisa menjadi alasan.
“Kamu tuh kenapa sih? Kamu takut aku macam-macam? Gitu maksud kamu? Aku emang pernah macam-macam ya? Coba sebutin kejadiannya kapan, dimana—“
“Ih bukan gitu! Tapi aku takut—aku takut kalu kamu bakal lanjut marah sama aku, Vindra,”
“Ya tapi kamu ‘kan kesal! Aku takut kamu marah-marah,”
“Iya semarahnya aku, kamu aman, Zeline. Kita nggak boleh terlalu lama di sini. Aku nggak enak mulangin kamu terlalu malam. Kamu itu tanggung jawab aku. Jangan sampai kepercayan mama dan papa kamu jadi berkurang ke aku atau bahkan hilang, jangan sampai. Karena dapat kepercayaan itu luar biasa sulit dan sekalinya ngecewain susah untuk dapat kepercayaan lagi. Jadi ayo buruan pulang,”
“Kamu jangan marah dong sama aku. Jangan kesal. Sumpah aku itu nggak tau kalau misalnya minuman yang Anin bawa itu alkohol,”
“Ya harusnya kamu tanya dulu dong ke dia kalau kamu—“
__ADS_1
“Eh kamu kenapa?!”
Vindra panik ketika melihat Zeline tiba-tiba berdiri dan membungkam mulutnya. Zeline langsung meninggalkan suasana hangat dan ramainya acara ulang tahun Anin. Begitu sampai di luar kafe, Zeline langsung mencari tempat sepi lalu mengeluarkan isi perutnya.
Vindra berlari menyusul Zeline dengan perasaan yang luar biasa cemas. Begitu Ia melihat Zeline muntah, rasa cemasnya bertambah hingga berkali-kali lipat.
“Astaga, tuh ‘kan sekarang kamu muntah. Perut kamu nolak, Zeline,”
“Ya tapi aku cuma minum dikit doang,”
“Ya mau sedikit apapun kalau perut nolak, kamu bisa apa? Hah?”
“Eh Zeline, lo hamil ya? Kok tiba-tiba muntah?”
Zeline dan Vindra sontak menoleh ke arah seorang gadis yang entah bertanya karena penasaran atau justru sedang menuduh.
“Enak aja ngomongnya. Aku bersih ya. Aku nggak mau rugi. Tau ‘kan maksudnya apa? Kalau diapa-apain sebelum nikah, yang rugi itu ceweknya. Aku masih sekolah, punya cita-cita, kalau sampai dihamilin ya rugilah aku,” ujar Zeline dengan tegas dan sinis.
__ADS_1