
Melihat pengunjung banyak yang berfoto, Zeline langsung menawarkan kekaishnya juga. Ia tidak keberatan sedikitpun menjadi fotografer dadakannya Zeline malah Ia senang karena bisa mengamati Zeline dari lensa kamera.
““Mau foto nggak, Zel?” Tawar Vindra.
“Foto sama siapa?”
“Sama penganten,”
Jawab Vindra dengana sal awalnya. Lagipula kenaoa harus ditanya foto dengan siapa? Jelas-jelas yangs aat ini sedang mereka perhatikan adalah orang utan.
“Ya foto sama orang utannya lah mumpung dia lagi ada nggak jauh dari kamu tuh,” ujar Vindra.
“Hmm…boleh deh,”
“Ya udah ayo aku fotoin ya,”
Kebetulan salah satu orangutan yang ada posisinya dekat dengan Zeline. Maka Vindra menawarkan Zeline untuk foto bersama orang utan itu dan Zeline tidak menolak.
“Okay pose ya,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Ia langsung tersenyum menghadap kamera dan Vindra langsung memotretnya dengan kamera ponsel miliknya sendiri. vindra akan menyimpan foto Zeline di galeri ponselnya dan memastikannya aman. Karena itu kenang-kenangan. Kapan lagi Zeline mau difoto dengan kamera ponselnya dan sepertinya Zeline tidak menyadari kalau Ia berpose bukan dengan kamera ponselnya.
“Ganti gaya ya,”
“Satu,”
“Dua,”
“Tiga,”
“Gaya apalagi aku?”
“Ya terserah kamu. Tapi nggak usah gaya juga sebenarnya nggak apa-apa,”
“Ya udah gaya peace aja deh,”
“Okay boleh, kamu cantik mau gaya apaan aja,”
“Hadeh, udah deh gombalnya,”
“Lah emang bener. Kamu cuma pose diam kayak patung juga nggak apa-apa,”
Zeline tertawa mendengar ucapan Vindra dan saat itulah Vindra memotret Zeline yang sedang tertawa. Ketika melihat hasilnya Vindra tak bisa menahan senyumannya. Ia benar-benar mengagumi ciptaan Tuhan di depannya ini yang luar biasa. Zeline cantik sekali.
“Cantik banget ya ampun. Saking cantiknya gue sampai nggak bisa kalau nggak senyum,” batin Vindra.
“Ayo buruan, Vin. Udahan nih fotoin akunya?” Tanya Zeline yang mulai mati gaya.
“Ya terserah kamu. Udah atau belum?”
“Hmm sekali lagi deh. Aku fotonya pakai gaya saranghae,”
“orang utan aja dikasih saranghae, lah manusia di depan kamu nggak dikasih juga apa?”
Zeline berdecak pelan dan menatap Vindr dengab sorot mata yang kesal. Vindra langsung terkekeh menunjukkan susunan gigi-gigi rapinya.
“Bercanda, Zel. Jangan kesal gitu dong, nanti cantiknya hilang, lagian tanpa dikasih saranghae aku tau isi hati kamu, cieee,”
“Erghh gombal mulu kerjaan kamu. Ayo fotoin aku sekali lagi,”
__ADS_1
Zeline berpose dengan love finger nya atau saranghae seperti yang tadi sudah Ia niatkan. Setelah itu sesi pemotretan mendadak selesai.
“Udahan nih? Beneran?”
“Iya udah, aku udah kehabisan gaya,”
“Kamu nggak gaya aja udah cantik aku bilang,”
“Udah deh jangan gombal terus, aku nggak girang digombalin,”
“Tapi dalam hati senang ‘kan pasti?”
“Nggak, aku biasa aja tuh,”
“Sebenarnya yang tadi tuh bukan gombal sih, tapi tulus dari hati aku yang paling dalam,”
“Ssttt udah ngomongnya. Sekarang aku mau samperin Papa aku dan bakal pulang,”
“Aku juga dong,”
“Ya udah ayo buruan,”
Zeline berjalan mendahului Vindr, tapi Vindra dengan sabar mengikutinya. “Pelan aja, Zel. Jangan buru-buru,”
Baru juga Vindra selesai bicara seperti itu tiba-tiba ada yang menabrak Zelins, yaitu satu orang anak kecil yang sedang berlari-larian. Perut Zeline langsung sakit karena kejadian itu.
“Astaga, kamu nggak apa-apa?”
Tentunya Vindra sangat terkejut sekaligus mengkhawatirkan kondisi Zeline.
“Aku nggak apa-apa,”
Zelins berkata bahwa Ia tidak apa-apa, tapi Vindra bisa melihat Zeline menyentuh perutnya sendiri dan ekspresi wajah Zeline juga menunjukkan kalau Ia sedang kesakitan. Zeline langsung menatap satu anak itu dan memberi mereka teguran.
“Mba, maaf ya. Anak saya nggak sengaja,”
Orangtua mereka langsung meminta maaf. Sang ibu merasa bersalah menatap Zeline dan juga Vindra yang baru saja menegur kedua anaknya.
“Iya, tapi lain kali diperhatikan anaknya ya, Bu,”
“Udah diperhatikan cuma emang mereka nggak bisa diam,”
Vindra menahan geram. Ia tidak suka ketika dijawab seperti itu. Bukannya diam saja setelah minta maaf malah menjawab.
“Udah, Vin. Aku nggak apa-apa kok,” kata Zeline menepuk lengan Vindra yang ekspresi wajahnya kelihatan kesal.
“Kami permisi,” ujar Zeline seraya menarik lengan hoodie yang dikenakan oleh Vindra sehingga Vindra berjalan di sebelahnya.
“Aku tuh paling kesal ya kalau aku kasih tau tapi malah disautin kayak gitu. Apanya yang diperhatiin? Orang jelas-jelas aku liat orangtuanya tadi sibuk ngobrol, mereka nggak sadar anak mereka lari-larian dan akhirnya nabrak kamu,”
“Ya udah lah nggak usah diperoanjang masalahnya. Namanya juga anak kecil kadang ‘ken emang suka nggak bisa diam,”
“Ya tapi orangtuanya malah sibuk ngobrol tadi, udah tau dua anaknya masih kecil, bukannya ditegur gitu supaya jaga sikap,”
“Mungkin udah ditegur sebelumnya,”
“Ya udah nggak usah nyaut ketus kayak gitu dong, cukup minta maaf aja. Udah bagus minta maaf, eh pas nyautin aku malah kayak jutek gitu,”
“Nggak, itu cuma perasaan kamu aja kali. Nggak usah dibahas lagi, aku baik-baik aja kok,”
__ADS_1
“Kamu beneran baik-baik aja? Perut kamu gimana?”
“Aman,”
“Serius? Mau dioleh minyak dulu nggak? Kamu baw aminyak nggak?”
“Minyak goreng? Ya nggak bawa lah,”
“Zel, aku serius. Aku takut lho kamu kenapa-napa. Maksud aku minyak kayuputih atau apa gitu,”
zeline terkekeh karena Vindra kelihatannya malas menanggapi candaannya. Padahal Ia sengaja mencairkan suasana supaya Vindra melupakan rasa kesalnya akibat insiden tadi.
“Aku nggak bawa, Vin,”
“Lain kali kalau kemana-mana bawa, Zel,”
“Kamu emangnya bawa sekarang?”
“Kalau aku sih cowok,”
“Ya tapi ‘kan itu bentuk kewaspadaan kita kalau kenapa-napa di jalan bisa dibalurin. Nggak untuk cewek aja, tapi cowok juga aku rasa pelru deh bawa kayak gitu,”
“Iya-iya nanti lain kali aku bawa minyak-minyakan deh. Berasa jadi orangtua deh aku,”
“Hahahha emang yang bawa minyak-minyakan gitu cuma orangtua aja?”
“Ya ‘kan biasanya begitu,”
“Makasih udah temenin aku, Vin,”
“Iya sama-sama, Zel Kamu happy nggak hari ini?”
“Banget dong, akhirnya aku bisa nostalgia masa kecil. Dulu aku sering main ke sini, tapi pas udah gede nggak pernah lagi,”
“Aku juga senang liat-liat binatang pas kecil, pas udah segede ini mana pernah. Udah sibuk sama sekolah, sekalinya libur ya paling ngumpul sama keluarga di rumah atau teman,”
Vindra tersenyum seraya menolehkan kepalanya ke samping. Ia bisa melihat Zeline yang berkeringat, sambil memperbaiki kunciran rambutnya.
“Kamu nggak mau istirahat dulu?”
“Nggak, istirahat di tempat Papa duduk tadi aja,”
“Beli minum dulu ya, aku haus. Minum kita masing-masing udah habis juga ‘kan,”
Sebenarnya Vindra tidak haus tapi Ia yakin Zeline haus. Dan minum mereka berdua kebetulan sudah habis maka dari itu Ia ingin membeli air minum. Sambil mereka berjalan, ada beberapa tempat menjual minuman dan Vindra berhenti sebentar untuk membeli beberapa botol minuman.
Ia menyuruh Zeline untuk memilih akan tetapi Zelins hanya ingin air mineral saja. Akhirnya Vindra membeli air mineral sebanyak tiga botol, dan jus tiga botol.
“Kamu banyak banget beli minuman nya,” ujar Zeline.
“Nggak lah, kali aja kamu sama papa kamu mau minum jus selain air putih,”
“Makasih, Vin,”
“Sama-sama. Aku tau kamu haus, minum dulu deh mendingan,”
Vindra mengajak Zeline untuk berhenti berjalan sebentar. Kemudian Vindra menyerahkan botol air mineral kepada Alyla.
“Minum dulu ya,” ujar Vindra seraya membuka tutup botol kemudian Ia berikan kepada Zelins. Perlakuan yang sederhana tapi sempat membuat Zeline terkesima.
__ADS_1
“Makasih ya,” ujar Zeline sengan tulus.
“Sama-sama, Cantik. Sering aja ya ngajakin pergi kayak gini. Eh bukan diajak sih malah aku yang mau ngajak hahaha,”