
“Biasa aja dong. Nggak ada yang masalahin Zeline ngabarin lo kok. Nggak usah ngegas, Jer. Caper banget,”
Vindra masuk lagi ke dalam rumah untuk bersiap sementara Jerry terdiam dengan kening mengernyit.
“Caper sama siapa maksudnya? Gue jenguk Zeline karena mau caper gitu? Caper sama orangtua Zeline kali maksud dia ya? Dih, sensi banget,”
Jerry menggerutu seraya turun dari motornya. Mempersilahkan Jerry untuk masuk saja tidak dilakukan oleh Vindra, apalagi membuatkan Jerry minuman.
Jerry memilih untuk duduk di halaman rumah Vindra. Saat Ia akan mengeluarkan ponsel dari saku, seseorang datang dari dalam menemuinya yang memilih duduk di luar.
“Jer, kok nggak masuk?”
“Nggak usah, Om. Nggak disuruh masuk juga sama Vindra, jadi aku di sini aja,” ujar Jerry yang mengundang decak pelan Hadi. Bisa-bisanya Vindra membiarkan tamunya di luar saja, tak dipersilahkan duduk di ruang tamu.
“Masuk aja yuk, masa di luar sih? Jangan sungkan lah,”
“Di sini aja deh, Om. Lebih enakan di luar, angin sepoi-sepoi bikin aku betah di luar,”
Akhirnya Hadi duduk juga di halaman depan tepat di sebelah Jerry. Hadi yang penasaran dengan tamu anaknya yang datang akhirnya memutuskan untuk keluar melihat siapa yang datang. Ternyata Jerry, tapi anehnya malah duduk di luar. Padahal sudah terbilang sering datang ke rumah, tapi masih saja sungkan masuk ke dalam rumah, rupanya karena Vindra si tuan rumah tak mempersilahkan Vindra masuk.
“Kamu dari rumah nih?”
“Nggak, Om. Aku habis dari rumah sakit jenguk Zeline. Om udah tau kalau Zeline habis ketimpa musibah?”
“Yang punggungnya kena kuah itu ya?”
“Iya bener, Om. Jadi aku abis dari rumah sakit terus ke sini karena mau nyamperin Vindra yang nggak jawab-jawab telepon,”
Alih-alih diam, atau bermain ponsel, Jerry justru mulai tenggelam dengan obrolannya bersama Irwan, ayah dari sahabatnya itu.
“Iya, kamu udah tau soal Vindra dan Zeline ya?”
Jerry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia tahu bagaimana hubungan Vindra dan Zeline yang merupakan sepasang kekasih tapi lebih tepatnya sudah mantan, sekarang sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi kalau seandainya Hadi mau cerita lebih dalam soal mereka, Ia tidak seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, karena sedikit banyak tentang mereka Ia mulai paham.
Jerry menatap Hadi yang memandang ke depan dengan sorot mata yang kosong. Kelihatan ada beban ketika menceritakan Vindra. Bagaimana tidak terbebani kalau Vindra sudah terlanjur begitu mencintai Zeline tapi Zeline memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka sehingga Vindra galau terus.
“Ayo pergi sekarang,”
Vindra keluar dengan jaket dan celana jeans. Di tangannya menjinjing kunci motornya. Ia langsung mengajak Jerry untuk bergegas pergi.
“Kalian hati-hati ya,”
“Iya, Om, makasih. Saya permisi,”
“Astaghfirullah, makasih gimana? Om lupa banget ngambilin minum. Eh tunggu bentar,”
Hadi langsung berjalan cepat ingin masuk ke dalam namun Jerry menahan lengannya seraya terkekeh. Ia tidak masalah sama sekali ketika Irwan lupa memberikannya minum. Tadi Hadi langsung duduk dan mengobrol dengannya jadi wajar kalau lupa.
“Nggak usah, Om. Aku mau langsung pergi aja sama Vindra,”
“Iya nggak usah, Pa. Orang nanti juga udah makan minum di rumah Zam,”
“Kamu itu nggak bisa menghargai tamu ya? Masa tamu disuruh masuk aja nggak sih? Biar gimanapun Jerry ‘kan tamu jadi harus—“
“Ya elah, nggak usah disuruh masuk dia pasti masuk, Pa,”
“Nggak, buktinya barusan nggak masuk malah duduk di teras. Papa samperin terus akhirnya malah keasikan ngobrol sampe lupa ngasih minum,”
“Nggak apa-apa, Om, santai aja. Aku juga nggak haus. Ini mau langsung pergi aja. Aku pamit ya, Om. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati kalian ya,”
“Eh, kamu langsung naik aja ke atas motor. Cium tangan juga belum, kebiasaan!”
Vindra langsung tersenyum meringis memperlihatkan susunan giginya yang rapi. Lelaki itu segera turun dari motor dan mencium tangan ayahnya juga mengucap salam.
“Hati-hati! Bawa motor yang bener. Nggak ada balapan-balapan,”
“Eh ya ampun, kok bokap tau gue ada niat mau balapan lagi nih?” Batin Vindra seraya melirik papanya. Tampaknya Vindra melupakan fakta bahwa terkadang firasat orangtua itu bisa benar seratus persen.
“Dengar kamu, Vin?!”
“Iya dengar, Pa. Aku ‘kan ada kuping nih, masa iya nggak dengar,”
“Awas ya kalau kamu macam-macam. Harus kapok kamu tuh! Nggak ingat kecelakaan waktu itu? Kamu hampir hilang, Vin, alias tinggal nama aja,”
“Iya aku ingat. Papa tenang aja,”
Jerry menahan tawanya ketika melihat Vindra dinasehati dengan galak oleh papanya sendiri. Vindra yang melihat Jerry menahan tawa langsung menyemburnya dengan omelan.
“Apaan sih? Kenapa lo ketawa? Emang ada yang lucu? Hah?”
“Lah, orang gue nggak ketawa,”
“Emang gue nggak tau. Gue nggak bisa dibohongin. Jelas-jelas lo mau ketawa,”
“Ya ‘kan cuma mau, tapi belum ketawa,”
“Halah banyak omong lo!”
“Kamu kenapa sih? Kok begitu sama Jerry? Dijauhin temen tau rasa,”
“Dia kayaknya emang lagi sensi sama aku, Om. Nggak tau deh kenapa. Entah ada hubungannya sama Zeline atau nggak, aku juga nggak paham,”
“Nggak usah bawa-bawa Zeline, Jer. Dia aja lagi sakit, nggak ada urusan sama dia. Lo sebut nama dia terus,”
Vindra mulai jengah dengan Jerry yang apa-apa Zeline, padahal sudah tahu kalau di antara dirinya dan Zeline sudah tidak lagi saling berkaitan satu sama lain.
*******
“Lo kalah, kasih motor ke gue lah,”
Yang sebelumnya akan ke rumah Zam untuk kumpul seperti biasanya, Vindra justru malah datang memenuhi tantangan Arthur malam ini untuk balapan dan yang keluar sebagai pemenang adalah Arthur.
Alih-alih meminta motor, uang, atau harta benda seperti biasanya, Arthur malah memancing emosi Vindra dengan meminta sesuatu yang diluar nalar Vindra.
“Gue minta cewek yang pernah ngobrol sama gue di depan sekolahan lo. Siapa sih namanya? Gue agak lupa-lupa ingat,”
Vindra bukan tidak ingat momen yang disebutkan Arthur barusan. Yang pernah bicara dengan Arthur di depan gerbang sekolahnya adalah Zeline.
“Maksud lo apa? Emang dia mainan bisa lo minta?”
“Dia mantan lo? Atau—“
“Mau dia mantan gue kek, pacar gue kek, atau bahkan istri gue sekalipun, itu bukan urusan lo! Lagian ya, dia bukan barang yang bisa seenaknya lo minta,”
Vindra bingung kenapa Arthur jadi mengincar Zeline. Ia berpikir Arthur tak ada niat untuk macam-macam dengan Zeline setelah Ia peringatkan waktu itu, ternyata Arthur malah ‘meminta’ Zeline.
“Lo kenapa ngincer dia? Udah gue bilang, urusan lo itu cuma sama gue, jadi jangan bawa-bawa orang lain, paham nggak?”
“Dia cantik, bro,”
Jerry yang sedari tadi memilih diam tak ingin ikut campur, akhirnya mulai bersuara. Ia tidak suka mendengar ucapan Arthur yang tak bisa menghargai Zeline.
“Heh! Yang lo maksud itu Zeline ‘kan? Jangan kurang ajar ya mulut lo. Apa maksud lo ngomong kayak gitu? Ucapan lo ngerendahin dia banget. Lo sadar nggak sih mulut lo tuh keterlaluan? Emang Zeline mau sama lo? Heh?”
“Nggak usah ngoceh, gue nggak mau lo ikut campur,”
“Dia itu temen gue! Jangan kurang ajar itu mulut. Dia bukan barang yang bisa lo minta,”
“Kenapa sih kayaknya dibela banget? Dia pacar lo atau pacar orang ini nih?” Tanya Arthur seraya melirik Vindra dengan ekspresi wajah sinisnya.
Vindra semakin kepanasan dibuatnya. Ia langsung menarik kerah baju Arthur karena Arthur semakin memancing emosinya.
“Buruan ngomong lo mau apa? Gue bakal kasih karena gue kalah, ‘kan begitu kesepakatannya,”
“Ya gue mau dia itu,”
“Dia nggak termasuk, jing! Buruan minta yang lain! Nggak usah banyak bacot,”
Arthur segera mendorong dada Vindra yang agar cengkraman di kerah bajunya terlepas dan apa yang Ia lakukan itu berhasil.
“Okay, gue usaha aja nanti sendiri,”
“Apa-apaan? Kok lo jadi bawa-bawa orang lain? Urusan lo sama Vindra aja. Kalau lo balapan sama gue ya urusan lo sama gue, jadi jangan bawa orang lain,”
“Tapi gue tertarik, jujur. Ya walaupun dia agak galak sih, tapi dia—seksi, bolehlah,”
“Anj**g! Jaga omongan lo!”
Vindra tidak dapat mengendalikan umpatannya. Sebejat apapun Vindra, tak pernah Ia berani menilai perempuan seperti itu. Kelihatan sekali, bahwa Arthur itu menilai Zeline dengan nafsunya, bukan tertarik karena memang Zeline itu berbeda dan punya pesona sendiri. Baru sekali bertemu, Arthur sudah bisa mengatakan bahwa Zeline seksi, padahal melihat Zeline mengenakan baju terbuka pun tidak, sikap Zeline padanya juga biasa saja bahkan cenderung tidak ramah karena Arthur tidak ramah juga. Tidak ada usaha Zeline untuk menggoda lelaki itu.
Saat bertemu, Zeline mengenakan baju sekolahnya. Memang dasar sudah punya otak jorok, jadi mau sebenar apapun perempuan berpakaian dan bersikap, tetap saja nafsu.
“Mata lo terlalu liar. Dia pake baju sekolah aja lo bilang seksi. Gue pecahin mata lo sini!”
Arthur tertawa, dan itu membuat Vindra menggeleng tak habis pikir. Habis merendahkan wanita, dia tertawa puas.
“Gue cabut! Males ladenin lo,”
“Heh! Gue belum minta apa-apa, lo mau kabur?”
“Ya lo minta apa, bangs*t! Buruan ngomong aja yang singkat nggak usah panjang lebar,”
Vindra sejak tadi sudah ditepuk-tepuk bahunya oleh Zam dan Dino yang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perdebatan antara Vindra dengan Arthur. Yang satu berusaha memancing amarah, dan yang satu lagi tidak berhasil mengendalikan emosi sampai tak segan lagi mengumpat, dan Jerry yang tadinya tak mau ikut campur akhirnya jadi turun tangan juga karena Zeline dibawa-bawa.
“Okay, gue minta duit aja,”
“Tanpa nominal?”
“Oh tentu dengan nominal dong,”
Arthur menyebutkan nominal yang Ia inginkan dan Vindra langsung mengeluarkan uang yang ada di dalam dompetnya detik itu juga tanpa basa-basi. Vindra ingin secepatnya pergi, dan urusan mereka selesai. Yang terpenting baginya tantangan sudah Ia terima meskipun kali ini harus kalah dan keluar uang. Paling tidak, harga diri tidak hilang. Bagi Vindra selagi ada kesempatan atau peluang, pantang untuk mengabaikan ajakan orang untuk balapan. Karena itu tantangan baginya.
“Jangan macam-macam sama siapapun yang nggak ada urusannya sama lo ya! Denger omongan gue baik-baik!”
“Jangan macam-macam sama siapa? yang jelas dong kalau ngomong,”
“Siapapun itu, Zeline termasuk!”
Usai memberi peringatan dengan tegas, Vindra langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area balapan.
“Awas ya kalau lo macam-macam sama Zeline! Gue pastiin lo mati,”
Tak hanya Vindra, Jerry pun mengeluarkan taringnya. Kalau Vindra tadi dalam artian umum, maksudnya adalah Vindra tidak ingin Arthur mengganggu siapapun yang tak ada urusan dengannya, sementara Jerry bicara hanya tentang Zeline. Jerry ingin Zeline aman.
Jerry, Zam, dan Dino langsung bergegas menyusul Vindra. Mereka bertiga juga melajukan motor masing-masing dengan kecepatan tinggi. Setelah posisi mereka sudah hampir sama dengan Vindra, mereka segera berseru menyuruh Vindra agar tidak melaju kencang.
“Woy pelan aja! Lo mau kemana?”
“Kafe, gue mau ngopi,”
Ketiganya mengikuti kemana motor Vindra melaju. Vindra hanya ingin tenang, tapi pilihannya bukan ke rumah. Di kafe Ia ingin menikmati kopi yang hangat. Selain butuh ketenangan, Vindra juga perlu menghilangkan rasa lelahnya usai balapan tadi, dan sempat meladeni pancingannya Arthur yang mengundang emosinya.
Setelah tiba di sebuah kafe, Vindra serta tiga sahabatnya memesan minum juga makanan. Sambil menunggu, mereka kembali membahas hal tadi dimana Arthur mencoba untuk menjadikan Zeline sebagai barang yang bisa Ia minta seenak hati.
“Gue nggak terima banget Zeline digituin sama Arthur. Omongannya dia itu seolah-olah ngerendahin Zeline, emang dia pikir Zeline mau apa sama dia?” Ujar Jerry seraya mengeluarkan rokoknya dari saku.
“Emang lo sama Zeline temenan?”
Mendengar pertanyaan itu dari Vindra, Jerry langsung terdiam. Vindra menaikkan satu alisnya menatap Jerry. Vindra ingin tahu jawaban Jerry.
“Nggak mau jawab?”
“Emang gue pernah ngomong kalau gue sama Zeline teman?”
“Lah, tadi gue denger lo ngomong ke Arthur kalau Zeline itu temen lo,”
“Pacar sih, kenapa emang?”
“Eh serius lo udah pacaran?!”
Dino langsung menepuk bahu Jerry yang baru saja membuat pengakuan soal hubungannya dan Zeline.
Vindra tak mengatakan apapun lagi setelah Jerry berkata bahwa Zeline itu kekasihnya. Entah kenapa Ia ragu, alias tidak percaya dengan ucapan Jerry tapi Ia memilih diam. Hati Vindra panas mendengar ucapan temannya itu. Walauapun itu sekedar bercanda.
“Seriusan?” Tanya Zam.
“Nggak deh, bohong! Doain aja secepatnya official,”
“Emang Zeline udah mau sama lo, bro?”
“Ah njir! Doain dong! Malah bikin gue kena mental nih,”
Kopi, dan blackforest cake datang ke meja mereka. Tanpa basa-basi langsung mereka santap dan meninggalkan topik obrolan.
“Kata lo, gue sama Zeline cocok nggak?”
Vindra awalnya tidak mengira kalau Ia yang ditanya, lagipula Vindra sibuk mengaduk kopi dan juga menyuap cake miliknya. Tapi karena kedua sahabatnya tak ada yang menjawab pertanyaan, Jerry, maka Ia mengangkat kepala menatap Jerry yang rupanya menatap dirinya juga lalu mengangkat dagunya singkat.
“Apa?”
“Ah elah, makanya dengerin! Gue nanya sama lo,”
“Tanya apaan sih? Bukannya lo nanya sama Zam Dino?”
“Ya sama lo lah. Sama mereka nanti dulu, karena lo ‘kan pernah deket sama Zeline,”
Dino menarik daun telinga Jerry dan menggerutu kesal. “Lo ngotak dikit dong, lo tuh nanya sama mantan pacarnya! Mikir bego!”
“Lah emang kenapa?”
“Emang nggak ada otak dia,” sambung Zam.
Biar bagaimanapun menurut Dino dan Zam, kurang pantas saja Jerry bertanya seperti itu kepada Vindra yang merupakan mantan istri Zeline. Mereka pun pisah belum terlalu lama.
“Takutnya Vindra cemburu,”
“Lo nggak usah nanya-nanya kayak gitu ke gue. Emang lo udah pacaran sama Zeline? Zeline mau sama lo?”
“Ya cocok atau nggak? Pertanyaannya begitu sekarang,”
“Nggak tau,”
*******
“Zel, kalau kamu nggak sengaja ketemu sama yang namanya Arthur atau dia sengaja temuin kamu, jangan lupa hati-hati ya. Dia tuh buaya yang ngincer kamu,”
__ADS_1
Vindra merotasikan bola matanya begitu Jerry yang baru tiba di sekolah bersamanya tak sengaja bertemu Zeline dan Chaca yang akan keluar sebentar dari sekolah pagi ini untuk membeli bubur karena bubur di dalam sekolah tutup. Sementara waktu masuk masih agak lama. Mereka akan mencari penjual bubur ayam yang biasanya berjualan tak jauh dari sekolah.
Vindra melanjutkan langkah dengan Dino dan Zam, sementara Jerry melipir sedikit bicara dengan Zeline.
“Ngincer gimana?”
“Dia mau sama kamu, Zel. Kamu ingat ‘kan cowok yang waktu itu ketemu sama kamu? Dia yang nyariin Vindra itu lho, karena dia mau ngajakin Vindra balapan. Nah tadi malam, Vindra diajakin balapan lagi sama dia terus dia menang dan dia minta kamu. Gila banget ‘kan?”
Zeline yang tidak tahu apa-apa, tak pernah menjadi hadiah untuk sebuah kompetisi langsung membelalakkan matanya begitupun Chaca.
Jerry bicara seperti ini supaya Zeline waspada, karena tampaknya Arthur tidak akan diam saja meskipun Ia dan Vindra sudah memberikan peringatan kepadanya. Lebih baik Zeline waspada sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
“Kok jadiin aku kayak bahan taruhan gitu sih?”
“Padahal Demi Tuhan, Vindra nggak pernah sangkut pautin kamu tapi si Arthur itu emang udah gila. Vindra marah lah waktu kamu dibawa-bawa, aku juga marah, Zel. Tapi takutnya Arthur nggak takut sama peringatan aku dan Vindra, makanya kamu hati-hati ya. Dia emang buaya sih, biasanya kerja keras kalau ada yang dia mau belum berhasil didapat,”
“Duh, terus gimana? Aku kok takut ya,”
Jerry mengusap bahu Zeline dengan maksud menenangkan. Tujuannya bicara seperti tadi bukan untuk menakut-nakutin Zeline melainkan agar Zeline waspada saja. Karena Arthur itu tahu lokasi sekolah Zeline, tahu nama Zeline, jadi takutnya Arthur bergerak lebih.
“Tenang aja, kamu aman kok,”
“Tapi aku benar-benar nggak suka dia minta aku, Jer. Aku aja nggak kenal dia itu siapa. Baru juga satu kali ketemu dia,”
“Yang mana sih orangnya? Mau gue bogem itu mulutnya yang ngomong dia ngincer Zeline,”
Chaca dengan tangguhnya justru menantang. Hatinya jadi panas karena mendengar cerita Jerry dimana temannya disangkut pautkan dalam hal yang tidak diketahui olehnya sama sekali. Tahu-tahu dianggap sebagai hadiah.
“Makanya bilangin dong sama temen lo itu, jangan suka balapan. Banyak dampaknya tau nggak sih? Udah keselamatan dia bisa jadi korban, materi pun bisa jadi korban, terus sekarang temen gue mau ikut-ikutan jadi korban. Gila aja kali,”
“Cha, Vindra juga nggak sejahat itu kali. Dia itu masih ngehargai Zeline kok kalau gue liat-liat, biar udah pisah belum pernah gue dengar Vindra ngomong yang jelek-jelek soal Zeline, dia bahkan ngehindar dari topik tentang Zeline nggak pernah mau bahas Zeline,”
******
“Mana itu anak? Kok nggak masuk-masuk,”
Vindra menelungkupkan ponsel di atas meja ketika sahabatnya yang satu belum juga datang ke kelas.
“Belum kelar juga ngebucin,”
“Emang kenapa sih? Biarin aja lah, orang kalau lagi bucin itu maunya ngobrol lama-lama, apapun yang maunya lama,”
“Lo ada perlu apa sama Jerry?”
“Nggak ada lah, cuma dia alay banget. Sampe ngasih peringatan kayak gitu ke Gira. Otomatis Zeline yang nggak tau apa-apa jadi panik pasti,”
“Nggak apa-apa dikasih tau Jerry, malah jadi bagus karena Zeline bakal jaga diri sendiri,”
“Gue yang jagain, dan gue nggak perlu ngomong apa-apa,”
“Hah?”
Dino dan Zam serempak melontarkan ‘hah?’ dengan wajah mereka yang terperangah setelah mendengar kata-kata Vindra yang diucapkan dengan yakin.
Dari kalimat yang keluar dari mulutnya, Vindra terdengar sedang berusaha menjadi laki-laki yang memainkan peran sebagai penjaga yang baik dengan cara berbeda. Dia akan menjaga tanpa bicara apapun.
“Hah heh hoh aja kalian,”
“Hah?”
“Apaan sih, anjir! Nggak jelas lu berdua,”
“Maksudnya, lo belum move on dari Gira?”
“Nggak, masalahnya gini lho. Zeline diincar sama Arthur itu karena gue. Jadi gue merasa wajib mastiin Zeline baik-baik aja,”
“Halah-halah ngeles aja kayak bajaj, bilang aja belum bisa move on,”
“Nggak ada korelasinya ke sana, ogeb!” Vindra memukul bahu Zam yang baru saja mengejeknya tak bisa melupakan Zeline, padahal ini hanya tentang tanggung jawab. Vindra merasa bersalah karena sudah membuat Zeline ada di posisi ini.
“Gini ya, lo itu nggak jadiin Zeline sebagai bahan taruhan, hadiah untuk kemenangan dia atau semacamnya. Arthur nya aja yang gila segala minta Zeline ke lo. Jadi lo tuh nggak salah, bro! Nah harusnya lo nggak wajib mastiin Zeline baik-baik aja, itu bukan tanggung jawab lo karena bukan lo yang—“
“Tapi gue harus, Dino! Gue ngerasa harus jaga Zeline, gue nggak mau dia jadi korban Arthur. Dia kenal Zeline juga karena gue ‘kan. Kalau aja dia nggak nyari gue waktu itu ke sekolah, dia pasti nggak bakal ketemu Zeline,”
“Ya emang lo yang nyuruh Arthur datang ke sekolah? Nggak ‘kan? Jadi ya udah, jangan ngerasa bersalah gitulah. Okay, lo boleh jagain Zeline karena lo merasa ada tanggung jawab di pundak lo, tapi lo nggak perlu seolah-olah nyalahin diri lo sendiri. Zeline diincar sama Arthur itu bukan salah lo kok, tapi ya nggak masalah banget sih kalau lo mau mastiin Zeline baik-baik aja, lo ‘kan mantan suaminya,”
Jerry datang dan langsung duduk di tempatnya. Kedatangan Jerry itu mengundang kiriman Vindra yang memang sudah bingung tadi karena Jerry tak kunjung masuk ke dalam kelas.
“Darimana lo?”
“Dari ngobrol sama Zeline, tadi lo nggak liat?”
“Lama amat, ada yang udah resah noh,” ujar Zam seraya tertawa.
“Siapa?”
“Vindra, lama banget kalian ngobrol,”
“Apaan? Siapa yang resah? Sembarangan aja kalau ngomong,” cetus Vindra dengan tatapan matanya yang sinis.
“Kenapa kalau gue lama ngobrol sama Zeline? Gue ‘kan lagi ngomongin soal Arthur. Tujuannya supaya Zeline bisa—“
“Harusnya lo nggak perlu ngomong, pasti dia jadi bingung dan panik,”
“Ya suka-suka gue lah, mau gue ngomong atau nggak juga. Gue cuma mau dia itu jaga diri. Soalnya Arthur demen sama dia, takutnya Arthur nekat datang ke sini lagi ‘kan, atau bisa jadi datang ke rumah Zeline,”
“Dia aja nggak tau rumah Zeline dimana. Cuma gue yang tau,”
Entah kenapa, Jerry merasa kalau Vindra tengah menyombongkan dirinya sendiri bahwa hanya dia saja yang tahu alamat rumah Zeline. Terdengar arogan menunjukkan bahwa dia unggul daripada laki-laki lain.
“Lah, gue juga tau rumah Zeline,”
“Gue juga tau kok,”
“Anjir, bisa-bisanya masalah itu aja lupa,”
“Ya intinya gue nggak mau aja si sombong ini terlalu membusungkan dadanya alias terlalu sombong pamer kalau dia aja yang tau rumah Zeline, tau orangtua Zeline, tau semua tentang Zeline sampe ke hal-hal kecil aja dia tau. Ukuran pakaian Zeline lo tau?”
Vindra melemparkan tatapan tajam ke arah Jerry dan wajahnya tak bersahabat ketika Jerry bicara seperti itu. Bukan sombong, tapi memang kenyataannya seperti itu. Sejauh ini baru dirinya yang satu rumah bahkan satu tempat tidur dengan Zeline jadi wajar kalau Ia yang lebih paham soal Zeline.
“Kak Vindra, selamat pagi. Aku bawain nasi goreng nih,” seorang adik kelas datang memberikan sesuatu untuk Vindra.
“Gue juga ada bawaan,”
Vindra langsung menolehkan kepalanya begitu lima orang perempuan datang membawakan bekal untuknya.
“Ya elah, gue kira udah nggak ada lagi yang caper sama gue,” batin Vindra.
Bukan tidak bersyukur tapi Vindra tak enak hati lagi-lagi diberikan sesuatu, di samping mulai jengah karena terus menerus menjadi incaran apalagi setelah kabar berakhirnya hubungan Ia dengan Anin meluas. Padahal dari dulu sampai sekarang tak ada hubungan apapun selain sahabat.
“Thanks ya,”
“Sama-sama, eh Zeline nggak marah ‘kan ya kalau kita ngasih ini?”
“Kok Zeline?”
“Ya kan Zeline mantan kakak, eh Anin ya?”
“Nggaklah, santai aja, semuanya sahabat gue,”
“Njir, jadi beneran kalau Zeline itu pernah jadi—“
Vindra menghindari topik soal Zeline apalagi pernikahan, kebetulan bel masuk berbunyi dan Ia langsung menjadikan itu sebagai senjata agar mereka pergi.
“Yah, padahal lagi mau ngobrol,”
“Fiks, Zeline jadi musuh kita!” Ujar salah satu dari mereka yang semakin merasa di depan.
“Eh! Jangan macam-macam sama dia ya, orang dia nggak salah kok,”
Vindra dengan tatapan nyalang menunjuk perempuan yang baru saja terang-terangan menganggap Zeline itu musuhnya padahal Zeline tidak punya urusan apapun dengan mereka.
*****
Malam ini adalah perayaan ulang tahun Dania. Semua teman-teman Dania diundang untuk hadir memeriahkan acara tidak terkecuali Zeline yang memilih untuk di rumah saja dan besok akan menyerahkan hadiah untuk Dania.
Tapi kedatangan Chaca ke rumahnya membuat Zeline menghela napas pelan. Chaca datang tentu bukan tanpa maksud.
“Udah aku bilang, aku nggak bisa datang,”
“Emang kenapa sih? Ayolah datang, gue pengen ke pesta Dania sama lo, gue nggak bawa pasangan nih, Zel,”
Chaca datang ke rumah Zeline untuk membujuk Zeline supaya mau datang malam ini ke sebuah kafe yang menjadi tempat berlangsungnya acara. Zeline diundang tapi Ia memilih absen karena enggan keluar rumah malam-malam hanya untuk merayakan pesta ulang tahun teman. Lebih baik Ia istirahat, pikirnya.
Tapi Chaca sayang melewatkan momen ini tanpa Zeline. Maka dari itu Ia akan berusaha terus membujuk Zeline supaya mau datang bersamanya.
“Nggak harus sama pasangan, Cha,”
“Ayo ikut aja, Zel. Temenin gue lah, masa gue cuma pergi sendiri,”
“Aku mau tidur aja,”
“Dih masa tidur sih? Nggak-nggak, pokoknya lo harus ikut. Ayo gue dandanin,”
Chaca meraih tangan sang sahabat. Ia membujuk Zeline yang memasang raut wajah merengut untuk bangkit berdiri.
“Ayo gue dandanin,”
“Nggak mau, Cha,”
“Ih ayo. Pokoknya harus mau. Lo tuh sesekali harus keluar, Zel. Jangan di rumah terus, kayak orang yang abis putus cinta aja lo. Iya sih gue tau lo udah cerai sama Vindra tapi emangnya lo belum bisa move on sama dia?”
“Kok jadi bahas Vindra sih?”
“Ya kali aja karena lo galau pisah dari dia, lo jadi makin malas mau kemana-mana,”
“Ya nggak lah, aku emang jarang keluar rumah, nggak ada kaitannya ke sana. Kalau nggak ada kepentingan mendingan di rumah aja,”
“Tapi kita nih bentar lagi ‘kan perpisahan sama semua teman, nah sebelum pisah kita puas-puasin dulu ngabisin waktu sama teman, okay?”
Zeline menggelengkan kepalanya. Chaca langsung merangkum wajah Zeline kemudian melotot menatap Zeline, seolah tengah memberi ancaman untuk Zeline yang malah tertawa.
“Pokoknya harus ikut, kali ini gue maksa. Lo nggak boleh di rumah aja, lagian gue udah izin juga sama nyokap bokap lo. Sekarang gue dandanin lo ya, baru kita berangkat,”
******
Vindra datang bersama tiga sahabatnya ke tempat bernama D’cafe untuk menghadiri pesta ulang tahun Dania yang dilaksanakan malam ini.
Mereka datang dengan gaya pakaian masing-masing. Malam ini Vindra hanya mengenakan kemeja polos lengan panjang yang sengaja digulung ke atas berwarna hitam, dan juga celana berwarna putih polos yang ukurannya pas sekali di kakinya.
Begitu datang, yang pertama dicari adalah pemilik acara. Vindra, Zam, Dino, dan Jerry menghampiri Dania yang tengah berbincang dengan tiga temannya.
“Selamat ulang tahun, doa terbaik buat lo ya,”
Vindra segera memberikan satu paper bag kecil kepada Dania. Di dalam sana ada jam tangan. Vindra membeli itu atas saran mamanya dan juga pilihan mamanya karena Ia mengakui bahwa Ia tidak tahu selera jam tangan Dania. Jadi, Ia hanya mengeluarkan uangnya saja, sementara yang memilih dan punya ide adalah mamanya.
Setelah mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah, Vindra dan tiga sahabatnya duduk di tempat yang masih tersedia. Suasana kafe yang sengaja dibooking khusus acara Dania malam ini sudah cukup ramai karena memang sudah banyak yang datang.
Tak lama ada yang datang membawakan minum dan makanan. Setelah mempersilahkan Vindra bersama sahabatnya untuk menikmati hidangan, pelayan pergi bertepatan dengan hadirnya dua orang perempuan yang langsung membuat mata Vindra tak bisa berpaling seperti ada magnet yang memaku pandangan Vindra.
Dari pintu masuk Vindra bisa melihat Zeline datang bersama Chaca sahabatnya mengenakan gaun yang warnanya senada yaitu pink pastel.
“Anjrit, kok manis?! Dia nggak pernah tuh dandan kayak gitu waktu masih jadi pacar gue, pernah dandan sih tapi kok nggak secantik sekarang sih? Apa mata gue terlalu fokus ke Anin ya?”
“Woy!”
Vindra terlonjak kaget begitu bahunya ditepuk oleh Zam dengan cukup kuat. Vindra berdecak dan langsung melemparkan tatapan tajam.
“Apaan sih?! Bikin kaget aja lo!”
“Biasa aja ngeliatinnya,”
“Emang dia liat apaan?”
Jerry tidak sadar kalau Vindra baru saja mengakui bahwa Zeline sangat memesona malam ini, tapi hanya mengakui di dalam hati. Jerry terlalu sibuk dengan matcha latte dan juga pasta di depannya.
“Zeline sama Chaca yang baru datang,”
“Hah?! Zeline sudah datang?”
Jerry langsung menegakkan duduknya begitu mendengar nama Zeline yang katanya tadi tidak mau datang. Jelas saja Jerry bahagia sekali mengetahui bahwa Zeline datang.
“Tadi dia bilang di chat kalau dia nggak ikut padahal gue udah ajakin berapa kali tuh,”
“Berarti dia emang nggak mau datang sama lo,” ujar Vindra seraya tersenyum miring.
“Lah terus mau datangnya sama lo gitu?!”
“Gue nggak ngomong gitu. Buktinya Zeline datang cuma sama temannya aja tuh, padahal tadi lo bilang, lo udah ngajakin dia,”
“Emang iya, tapi dia bilang mau istirahat aja. Beberapa kali gue ajakin tapi dia nolak, ya udah gue nggak mau maksa. Tadinya pengen datang bareng dia malah. Gue bonceng dia biar romantis,”
Vindra merotasikan bola matanya lalu menyeruput minuman. Sementara Jerry sendiri langsung bergegas menghampiri Zeline.
Selesai Vindra menyeruput air minum, pahanya langsung ditepuk oleh Dino. Vindra mengangkat satu alisnya bingung karena Dino tampak mendekat ke telinganya.
“Tadi Zeline cantik ya, bro? Lo terpesona ya?”
Vindra langsung menjauhkan kepalanya dari Dino dan melontarkan tatapan sinis. Ia tidak suka Jerry bertanya seperti itu karena membuat wajahnya memanas.
“Anjir, mukanya merah. Salah tingkah dia,”
Vindra sekarang menjadi bahan tertawaan Zam dan Dino. Meskipun begitu, Vindra tetap bersikap santai dan tidak kelihatan salah tingkah.
“Siapa yang merah mukanya? Ngarang ta*!”
“Lah emang bener, ngaca sono! Biar nggak malu udah ngelak tapi faktanya begitu,”
Vindra yang penasaran akhirnya meraih ponselnya untuk bercermin, dan memang benar, wajahnya kelihatan beda. Maksudnya adalah, agak kemerahan padahal Ia anti menggunakan pemerah pipi, atau segala macamnya.
“Idih, gue kenapa?”
Vindra sampai jijik dengan dirinya sendiri yang wajahnya merah setelah diledek oleh kedua sahabatnya.
“Lo nggak cemburu liat Jerry nyamperin Zeline?”
“Nggak, gue nggak pernah cemburu orangnya,”
__ADS_1
“Terus, tadi gimana tanggapan lo liat Zeline make up? Pangling nggak sih? Orang gue aja pangling liat dia. Waktu dia jadi pacar lo, dia—“
“Bisa diem nggak?”
“Gue mau tanya dulu! Waktu dia masih jadi pacar lo, dia pernah make up?”
“Pernah lah,”
“Tapi secakep tadi nggak?”
“Nggak,”
“Ya berarti mata lo udah ketutup sama pesonanya Anin, bro. Jadi cantiknya Zeline ketutupan. Tapi cantik Zeline apa Anin sih?”
“Maksud lo nanya kayak gitu apaan sih?! Hah?!”
Zam menahan tawa ketika Vindra melampiaskan kesalnya atas pertanyaan Dino. Vindra mengetatkan rahangnya dan menatap Dino seperti ingin menelan Dino bulat-bulat.
“Lebih cantik siapa? Buruan jawab! Jangan gengsi,”
“Ya nggak bisa jawablah, mereka punya plus minus,”
“Yang gue tanya paling cantik siapa di mata lo! Gue nggak nanya plus minus,”
“Yang gue pacarin ‘kan Anin,”
“Tapi yang lo nikahin?”
“Zeline,”
“Yang paling cantik?”
“Zeline,”
Dino dan Zam langsung tertawa puas mendengar jawaban Vindra yang terlontar cepat tanpa butuh waktu lama.
*****
Jerry mengajak Zeline dan Chaca untuk bergabung di mejanya bersama Vindra, Dino, dan Zam.
“Aku duduk di tempat lain aja. Nanti kalian nggak enak lho ngobrolnya karena ada kita,” ujar Zeline menolak ajakan Jerry. Namun Jerry menggeleng tidak terima dengan penolakan Zeline. Ia tetap menarik tangan Zeline untuk bergabung bersamanya dan tiga temannya.
“Gue nggak usah ya?”
Jerry berdecak, dan tanpa banyak bicara juga menarik tangan Chaca. Kalau hanya Zeline sendiri, Jerry pastikan Zeline semakin tidak berkenan. Maka dari itu Ia juga harus mengajak Chaca.
“Gue ‘kan mau ngobrol sama teman yang lain, Jer,”
“Nanti aja, Cha,”
Jerry berhasil membawa Zeline dan Chaca untuk duduk bersama dirinya dan ketiga sahabatnya yang langsung memandang bingung ke arah Jerry.
“Lo nggak cukup satu, Jer?” Tanya Dino yang disambut dengusan Jerry. Dengan Zeline saja sudah cukup sebenarnya tapi supaya Zeline nyaman, merasa ada teman perempuan di dekatnya, maka dari itu Ia mengajak Chaca juga.
“Emang nggak boleh gue ajakin Zeline dan Chaca?”
“Ya boleh sih,”
“Sorry ya, gue dipaksa sama Jerry nih,”
“Oh nggak apa-apa, Cha, santai aja. Malah seneng kalau nambah teman ngobrol ‘kan,” ujar Zam dengan cepat. Ia tidak bermaksud untuk menyinggung Chaca atau Zeline.
“Lo cantik banget,Zel,” puji Dino dengan tiba-tiba seraya menunjuk Zeline dengan jari telunjuk kanan sambil tersenyum.
Kemudian Dino melirik Vindra yang kini mengambil rokok tapi detik itu juga Dino melarangnya.
“Inget! Ini bukan tempat ngerokok,”
Vindra mengumpat dalam hati. Entah apa yang akan Ia lakukan sekarang kalau bukan merokok? Karena mengobrol dengan tiga sahabatnya pun terasa canggung sebab hadirnya dua perempuan yang bukan circle mereka.
“Eh Zeline, lo dandan sendiri apa didandani sama orang? Pangling lho gue liatnya, lo cantik banget sih abisnya”
Sekali lagi Dino membahas kecantikan Zeline yang membuat gadis itu tersenyum canggung lagi. Zeline tidak terbiasa dipuji oleh orang lain berjenis kelamin laki-laki. Biasanya hanya papanya saja yang memuji dirinya.
“Nggak usah ngomong begitu lo!”
“Emang kenapa sih? Zeline ‘kan cantik banget malam ini,”
“Dia mah aslinya udah cakep,”
“Tapi malam ini makin cakep,”
Jerry kelihatan tidak suka ketika Dino memuji paras Zeline malam ini yang tampil beda dari biasanya yang polos.
“Yang make over aku malam ini Chaca. Dia datang ke rumah ajakin aku datang ke acara ini padahal tadinya aku mau istirahat aja di rumah,”
“Oalah pantes aja tiba-tiba kamu udah di sini, Zel. Ternyata diajakin sama Chaca ya? Tadi ‘kan aku sempat ajakin kamu tapi kamu malah nolak,” ujar Jerry yang kini tahu alasan Zeline datang. Ternyata memang datang mendadak, karena Chaca.
“Ya abisnya dia mau istirahat. Masa sih kita-kita pada party dia istirahat? Makanya gue paksa aja ke sini. Gue samperin ke rumahnya dan gue juga udah izin sama nyokap bokapnya. Mereka ngizinin tapi Zeline emang bebel banget,”
“Harusnya nggak perlu lo paksa sih,” cetus Vindra yang belum mengeluarkan suara apapun sejak tadi. Kalimatnya itu mengundang tatapan aneh dari teman-temannya.
Chaca itu sahabat Zeline. Dalam persahabatan itu paksa memaksa adalah hal yang biasa. Chaca butuh teman makanya itu mengajak Zeline lagipula pada akhirnya Zeline tidak merasa keberatan. Tadi Zeline datang dengan senyum ikhlasnya.
“Tapi Zeline mau-mau aja tuh gue paksa. Lagian gue mau temen gue cari hiburan di luar rumah. Selama ini Zeline itu jarang yang namanya keluar rumah. Udah mau lulus juga, kapan lagi ‘kan bisa kumpul sama teman-teman. Gue nggak mau Zeline nyesal kalau nggak ikut, soalnya kumpul sama teman-teman itu ‘kan asik,”
“Gue berterimakasih banget sama lo, Cha. Karena lo, Zeline mau datang ke sini, dan gue bisa liat Zeline yang cantik banget,”
“Udah, jangan muji terus, bentar lagi terbang nih,” ujar Zeline yang awalnya tidak percaya diri tampil beda malam ini sekarang seperti diberikan dorongan agar lebih percaya diri.
“Percuma cantik kalau terlalu terbuka, cantik itu nggak perlu over seksi,”
Zeline langsung menatap Vindra dengan sorot mata yang kesal. Alih-alih mengatakan hal serupa dengan temannya, Vindra justru menyindir. Kemudian Zeline perhatikan bajunya sendiri. Ia memang mengenakan gaun yang jatuh hingga di bawah lutut, dan model bahu yang terbuka atau off shoulder dan gaun itu pilihan Chaca.
Zeline akan spontan menarik ruffle baju yang jatuh di bawah bahunya tapi Chaca langsung menahan.
“Apaan sih lo, Vindra! Orang ini nggak terbuka banget kok, alay lo tuh. Ini emang modelnya tau!”
“Ya gue tau itu model, gue nggak bego, Cha. Tapi kayak aneh aja liat dia pake baju kayak gitu,”
“Anjir, Vindra! Lo tuh kalau mau muji ya muji aja! Nggak usah gengsi dan malah komentar pedes,” bisik Dino tepat di samping telinga Vindra yang tidak memuji tapi yang ada malah mengomentari penampilan Zeline dengan sinis dan pedas. Seolah-olah penampilan Zeline ini sangatlah buruk, padahal tadi jelas-jelas dia memuji Zeline.
“Masa iya dia ke sini make jubah, ‘kan nggak mungkin. Lagian lo liat tuh, banyak yang lebih parah coy! Gue sama Zeline mah wajar ini. Belum buka perut sama paha,”
Chaca tidak terima ketika gaun pilihannya dikomentari oleh Vindra. Baginya yang dikenakan Zeline ini sudah aman.
“Apa nggak dingin pake baju terbuka?”
“Ya nggak lah, tadi pas berangkat make jaket, lagian pergi ke sini naik mobil,”
“Nggak cocok,”
Zeline menggertakkan giginya geram ketika Vindra bicara seperti itu seraya menatapnya dengan dalam dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Vindra seolah tidak mau tahu kalau ucapannya itu berpotensi besar menyakiti hati Zeline yang memang sebelum berangkat sudah kurang percaya diri.
“Apa aku nggak aneh, Cha?”
“Ini baju aku kayak begini nggak apa-apa?”
“Aku nggak usah ikut aja deh, Cha,”
“Ini bajunya terlalu terbuka nggak sih?”
Zeline cerewet sekali sebelum berangkat tadi. Kalau tidak diyakinkan oleh Chaca, maka dapat dipastikan Zeline tidak datang sampai sekarang.
“Terus yang cocok menurut lo apa?”
“Yang biasa aja,”
“Dih, ngatur! Emang lo siapa yang bisa ngatur-ngatur Zeline? Lo ‘kan cuma mantan,”
“Ya nggak masalah sih kalau nggak mau dengar penilaian gue. Make up udah okay, tapi baju nggak cocok,”
Tadi Vindra belum benar-benar memperhatikan model baju Zeline ketika Zeline baru datang. Setelah Zeline berada di dekatnya barulah Ia sadar, ternyata model baju Zeline menurutnya tidak tepat untuk Zeline.
“Tadi padahal dia muji lo, Zel. Dia bilang lo cantik. Dia gengsi nggak mau muji lo secara langsung,” kata Dino yang mengundang tatapan sinis Vindra.
“Lagian ya, Zeline nggak butuh penilaian lo, Nio,” ucap Chaca yang tak akan membiarkan Vindra bicara lebih banyak soal penampikan Zeline malam ini.
“Ngaku aja lo! Muji tinggal muji, nggak usah pake komen yang nggak-nggak,”
Dino mencubit lengan Vindra agar bicara. Vindra harus cepat-cepat mengoreksi ucapannya, jangan sampai Zeline lebih tersinggung lagi.
Jerry berdehem, lalu bicara sambil menunjuk seorang gadis yang tengah menatap ke arah meja mereka dengan tatapan yang tak dapat diartikan lalu kemudian membuang pandangan karena tak sengaja beradu tatap dengan Jerry.
“Baju Zeline ini wajar-wajar aja menurut gue. Tuh liat mantan lo, bajunya kek apa? Nggak lo komen, bro?”
*****
Vindra memicingkan matanya ketika tak sengaja melintasi kamar mandi perempuan di kafe tempat berlangsungnya acara ulang tahun Dania. Di depan sebuah jaca besar, Ia melihat Zeline tengah menggosok tangannya setelah itu mengamati penampilannya sendiri.
Vindra yang tadinya akan ke kamar mandi untuk buang air kecil lantas memutuskan untuk menggagalkan niatnya itu. Ia berjalan memasuki kamar mandi perempuan yang sepi karena tiga bilik kamar mandi perempuan benar-benar kosong terbukti dari pintunya yang terbuka lebar. Ia simpulkan hanya ada Zeline.
Suaranya berdehem berhasil membuat Zeline terlonjak kaget. Zeline langsung menatap Genio dengan kening mengernyit. Zeline tidak mengerti kenapa tiba-tiba mantan kekasihnya sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.
“Kamu ngapain ke sini? Nggak bisa baca ya?! Hmm? Ini kamar mandi perempuan. Atau kamu udah ganti jenis kelamin?” Tanya Zeline dengan sinis, dan berhasil mengundang decakan dari mulut Vindra yang merotasikan bola matanya juga.
“Nggak nyaman ‘kan lo pake baju itu? Makanya nggak usah sok-sokan pake baju yang terbuka kalau nyatanya nggak terbiasa dan nggak nyaman. Lo pikir, lo bagus pake itu? Hah? Mau pamer banget, kayak punya body yang bagus—“
“Nggak usah banyak omong! Keluar sana! Siapa bilang aku nggak nyaman? Orang cuma dingin aja kok, makanya ke kamar mandi bentar selain karena mau buang air kecil. Kamu kenapa ngikutin aku ke sini?!”
“Dih, siapa yang ngikutin lo, Zel? Gue mau buang air kecil juga cuma liat lo sendirian lagi ngaca, gue samperin aja. Barusan bilang lo dingin? Ya karena bajunya terlalu kebuka, dan lo nggak nyaman ‘kan? Lagian mau-mau aja disuruh Chaca pake baju itu,”
“Siapa bilang terlalu kebuka? Banyak kok yang lebih kebuka, itu pacar kamu, lebih-lebih lagi, komentarin aja dia, jangan komentarin baju dan badan aku! Karena itu bukan hak kamu!”
Vindra memasang senyum remeh dan mengangkat bahunya, lantas Ia menatap Zeline dari atas sampai bawah.
Kalau dilihat-lihat memang penampilan Zeline jauh lebih baik daripada Anin yang malam ini buka-bukaan sekali. Perutnya terlihat, lengan telanjang tanpa ada kain sedikitpun yang menutupi, belum lagi paha yang terumbar begitu banyak. Tapi entah kenapa Ia lebih tertarik mengomentari penampilan gadis di depannya saat ini. Ia sendiri awalnya tidak tahu bagaimana penampilan Anin.
“Ya emang nggak begitu kebuka sih, tapi tetap aja menurut gue kebuka, dan lo nggak cocok, apaan nih lengan baju geloyor ke bawah, kayak—“
“Ini model off shoulder, bukan geloyor!”
“Ya ‘kan gue nggak tau model-model baju cewek,”
“Udah nggak tau malah komentar! Mulut nggak bisa dijaga, segala ngatain body orang, ngatain nggak cocok lah inilah itulah, emang aku nggak ada benernya di mata kamu,”
Suara Zeline terdengar bergetar. Zeline menahan tangis. Bahaya kalau Ia menangis di depan Vindra. Kemungkinan diejek oleh lelaki itu sangatlah besar mengingat betapa menyebalkannya dia.
Zeline berbalik dan melangkah menuju pintu kamar mandi untuk keluar meninggalkan Vindra yang masih berdiri di depan cermin.
“Biarin aja dia di situ, sekalian diteriakin sama cewek-cewek kalau dia itu cowok mesum yang masuk kamar mandi cewek,” batin Zeline.
Zeline hampir menginjak lantai di luar kamar mandi namun bahunya tiba-tiba diterpa sesuatu yang membuatnya menghentikan langkah sekaligus berdecak kesal. Lantas pandangannya jatuh ke bahu yang kini sudah dibalut dengan sebuah jaket jeans.
Zeline segera menolehkan kepalanya ke arah Vindra yang kini berjalan melewati Zeline begitu saja. Vindra keluar dari kamar mandi mendahului Zeline tanpa berkata-kata, padahal Lelaki itu baru saja membuat mantan istrinya membeku di tempat.
“Sejak kapan dia bawa jaket? Perasaan tadi tangannya kosong, dan dari awal dia ‘kan nggak pakai jaket, cuma kemeja aja,”
Beberapa detik Zeline habiskan di depan pintu keluar kamar mandi dengan sekujur tubuh yang diam membeku. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Vindra, dan Ia juga bingung kenapa Vindra bersikap seperti itu.
Zeline meraih jaket yang barusan dilempar ke bahunya oleh Vindra lantas Ia tatap dalam diam. Mata Zeline mengerjap beberapa kali mengamati jaket di tangannya. Ia terpaksa menyingkir karena keberadaannya mengganggu akses orang lain untuk masuk ke dalam kamar mandi.
“Misi ya, Mba,”
“Iya, silahkan,”
Zeline langsung mendekati dinding, memberikan jalan tanpa menatap ke arah orang yang akan masuk. Ketika mendengar tawa, Zeline langsung mengangkat kepalanya yang semula menunduk mengamati jaket di tangannya.
“Eh Chaca,”
Chaca langsung mencibir. Ia perhatikan Zeline serius sekali mengamati jaket yang Ia pegang. Sampai menyahuti orang saja tidak bisa sambil menatap wajahnya, melainkan serius memperhatikan jaket.
“Itu jaket ‘kan? Lo bawa jaket ke kamar mandi?”
“Hah? Nggak,”
“Terus itu punya siapa? Dan kenapa lo liatin gitu banget?”
“Aku masih bingung, serius,”
“Bingung gimana sih? Eh lo tuh gue tungguin di sana kok lama banget nggak balik-balik dari kamar mandi, eh nggak taunya lagi bengong depan kamar mandi sambil merhatiin jaket. Emang itu punya siapa sih?”
“Ini—aku lagi mikir gitu, kenapa ya dia ngasih ini? Terus langsung pergi gitu aja, aku bingung,”
“Emang itu dari siapa?”
“Dari…Vindra,”
“Hah? Vindra ngasih jaket ke lo? Ealah pantes aja lo perhatiin terus. Ya udah lo pake lah. Dia perhatian sama lo makanya ngasih jaket karena dia itu tau lo dingin kali ya,”
“Apaan? Nggak dikasih! Dilempar ini lho, makanya aku bingung. Dipikir aku ini laundry bag apa ya? Main asal lempar ke arah aku aja, nggak ada sopan santun. Antara perhatian atau kurang ajar nggak paham deh aku,”
“Coba sini gue liat,”
Chaca segera meraih jaket yang ada dalam genggaman Zeline. Kemudian Ia mengamati dengan kening mengernyit.
“Nggak ada yang aneh sih, malah bagus banget nih jaket, gue yakin harganya mahal, mana harum bener wanginya, eleh-eleh Zeline dikasih jaket sama idola sekolah,”
“Apaan sih, udah dibilang dia tuh nggak ngasih. Lagi ngantuk kali makanya sikapnya aneh nggak jelas. Masa tiba-tiba lemparin jaket ke aku, padahal tadi kayaknya pas lagi debat, aku nggak liat dia bawa jaket deh. Terus dari tadi dia nggak make jaket ‘kan?”
“Lo nggak tau aja. Waktu lo ke kamar mandi, Vindra tadi emang pergi keluar bentar, kayaknya sih ke parkiran. Terus balik-balik udah make jaket. Nah dia balik duduk, eh nggak lama dari itu dia bilang mau buang air kecil,”
“Jaketnya dia pake tadi? Terus kenapa sekarang di aku?”
“Dia sengaja ngambil jaketnya untuk dikasih ke lo. Dipake sama dia cuma bentar aja, karena emang niat awalnya untuk lo mungkin, Zel,”
Chaca menjawil dagu Zeline seraya melemparkan senyum usil. Sementara tanggapan Zeline adalah terkekeh pelan.
“Kamu kenapa senyum-senyum begitu?”
“Lo sama Vindra kayak orang pacaran deh,”
“Maksudnya? Kok kayak orang pacaran? Jangan ngarang deh, Cha,”
“Dia sampe ngambil jaketnya demi lo, Zel,”
“Ya nggak lah, dia ambil jaket ya buat diri dia sendiri makanya tadi dipake ‘kan, tapi entah kerasukan setan apa tiba-tiba pas aku mau keluar, dia lempar jaket ini ke aku,”
__ADS_1
“Tujuannya supaya lo nggak kedinginan. Tadi dia emang sempat make sebentar jaketnya tapi ‘kan abis itu dia lepas dan diserahin ke lo karena dia nggak mau lo kedinginan, dia mungkin nggak mau kalau hanya komentar sinis aja soal baju lo, tapi dia ngasih solusi atas baju yang kata dia terlalu kebuka ini,”