
“Ngapain sih nongolin muka di depan mata gue?“
Zeline terkejut ketika mendapati Vindra berada di depan pintu kamarnya. Vindra tidak langsung masuk karena Vindra sudah bisa menebak kalau mantan kekasihnya tidak suka bila Ia datang.
“Gimana keadaan kamu, Zel?”
Zeline langsung membuang muka dan mendengus. Tidak senang diperhatikan seperti itu oleh Vindra karena Ia masih belum bisa melupakan rasa keslanya pada Vindra walaupun mereka sudah berakhir.
“Aku nanya lho, kok cuma dicuekin doang, Zel?”
“Ya lo ‘kan bisa liat sendiri gue udah mendingan. Lagian telat banget kalau mau tau keadaan gue sekarang,”
“Nggak ada kata telat kalau mau perhatian sama orang yang masih ada di pikiran kita,”
Zeline merotasikan bola matanya. Jangan pikir Ia sepolos itu tidak bisa memaknai ucapan Vindra. Ia tahu apa maksud Vindra yang secara tidak langsung mengaku kalau dirinya belum bisa move on. Salah sendiri membuatnya sering makan hati. Akhirnya Ia lelah dan memilih angkat tangan disertai langkah mundur.
__ADS_1
Yang membuat Zeline semakin kesal dengan kehadiran Vindra di depan kamarnya karena, keberadaan Anin juga. Sebelumnya memang mereka sering berdua, disitu ada Vindra maka ada Anin juga. Tapis etelah Ia putus kelihatannya makin intens berduaan. Yang membuatnya kesal adalah, sikap Vindra yang seolah maish memgharapkannya padahal sudah intens dekat dengan Anin yang katanya sahabat. Ia tidak pernah mengundang mereka datang tapi sekarang mereka menunjukkan wajah yang sebenarnya malas sekali untuk Ia lihat.
Tiba-tiba Vindra masuk ke kamar, diikuti oleh Anin dan juga Gisa yang akan menjadi security mendadaknya Zeline.
“Kamu beneran udah baik-baik aja, Zel?”
“Ya iyalah ‘kan udah diobatin, jadi Alhamdulillah udah mendingan,”
“Aku tuh khawatir banget sama kamu, Zel,”
“Kaki kamu gimana?”
Tiba-tiba Vindra menyentuh kaki Zeline dan itu membuat Zeline tersentak dan spontan mundur. Entahlah, reaksi tubuhnya saja sudah membuat batasan. Padahal selama ini Ia tidaj bersikap seperti ini, jadi tidak heran kalau Vindra merasa sedih. Karena Vindra hanya menyentuh mata kaki tapi reaksi Zeline langsung menjauh yang menurutnya berlebihan.
“Kamu kenapa sih? Aku cuma pengen ngecek kaki kamu aja,” tanya Vindra yang sejujurnya merasa tersinggung karena tiba-tiba Arani bereaksi spontan menjauh darinya.
__ADS_1
“Nggak usah, ‘kan gue udah bilang kalau gue udah baik-baik aja, gue udah mendingan,”
“Udah sana pergi, ngapain di kamar gue? Mau jalan berdua ya? Selamat ya—“
“Kamu mau hadiah apa? Nggak usah ngucapin selamat doang,” ujar Vindra dengan ketus karena Vindra sebenarnya tidak suka dengan ucapan Zeline. Ia bingung ketika diberikan ucapan selamat. Sekalian saja Ia minta hadiah. Tanggung kalau hanya ucapan selamat.
“Ya udah sana jangan lama-lama di sini. ‘Kan mau jalan berdua,”
“Apa sih, Zel? Aku nih sekarang lagi khawatir banget sama kamu lho, kenapa kamu malah ngomong kayak begitu sih? Aku khawatir sama kamu, Zel, aku takut kamu kenapa-napa,”
Zeline langsung berdecak pelan dan membuang muka. Malah bukan perhatian yang Vindra berikan. Melainkan Vindra seolah sengaja memberitahunya bahwa sekarang ini dia dekat dengan Anin, sementara Zeline masih keliatan sendiri.
“Ya udah kalau Zeline nya nggak mau diganggu, Vin. Mending kita ngapain kek di luar kamar, daripada kita ganggu Zeline,” ujar Anin seraya menepuk pelan bahu Vindra.
“Tadi lo bilang kalau lo khawatir, ya?” Tanya Gisa. Vindra langsung menganggukkan kepalanya. Kalau Ia tidak khawatir, maka Ia akan bersikap tak acuh sekarang. Tidak akan kepikiran datang ke kamar Zeline.
__ADS_1
“Kalau khawatir kenapa nggak nolongin? Yang nolong Zeline malah Faiz. Cowok tuh yang dipegang omongannya. Ah tapi ya udahlah, udah terjadi juga. Tapi gue jadi tau sih, ternyata lo nggak kayak apa yang gue pikirin ya. Berarti emang udah keputusan terbaik lo sama Zeline putus,”