
“Iya mungkin, gue mikirnya juga gitu. Soalnya nggak ada nama pengirim. Mama gue udah mastiin ini bunga untuk gue atau bukan dan kurir bilang bunga ini emang untuk gue. Kurirnya benar nyebutin alamat sama nama gue. Tapi dia nggak bisa kasih tau nama pengirimnya, aneh banget ya?”
“Mendingan dibuang aja deh, Zel. Nggak usah disimpan, takutnya bahaya,”
“Tapi gue udah cek sih, aman-aman aja ya kelihatannya, nggak ada bom,”
“Hahahaha bom nggak tuh, sebutannya serem bener,” Vindra tertawa ketika Zeline dengan polosnya mengatakan bahwa bunga itu bebas dari bom. Bahaya yang dimaksud Vindra sebenarnya bukan hanya tentang bom itu saja.
“Iya gue udah cek, ini bucket bunga biasa aja nggak ada yang gimana-gimana. Tadinya gue pikir ada bomnya,”
“Takutnya itu kiriman atau gimana. Mendingan dibuang deh,”
“Hah? Kiriman apa? Kiriman santet gitu maksud lo?”
“Takutnya, Zel. Lebih baik jaga-jaga ‘kan. Zaman sekarang udah makin gila soalnya,”
“Oh saran lo kayak gitu ya? Okay deh, gue buang aja kalau gitu,”
“Aku bukannya punya prasangka buruk ke orang, cuma takut aja kamu kenapa-napa terima barang nggak jelas gitu walaupun cuma bunga aja. Kalau emang kepengen banget sama bunga, aku beliin sekarang juga nih, bunga dari aku sih jelas, nggak ada macam-macam dan pengirim juga jelas, lah kalau itu pengirim aja sok-sokan jadi rahasia. Buat apaan coba? Itu sih bukan bikin senang dengan kejutan, tapi bikin takut gara-gara pengirimnya nggak jelas,”
“Tapi kata mama gue tadi, ini bisa jadi dari lo sebagai permintaan maaf. Makanya gue nanya ke lo. Karena lo ‘kan masih usaha tuh ngedeketin gue,”
“Bukan aku sumpah,”
“Apa ini dari—dari si Juan ya?”
Vindra diam sebentar. Vindra sendiri juga tidak bisa mengetahui secara pasti siapa yang sudah menjadi pengirim rahasia dari bunga yang diterima oleh Zeline, tapi ketika mendengar nama Juan mendadak Ia jadi memiliki dugaan serupa dengan Zeline.
“Udah deh intinya kamu buang aja, begitu lebih baik,”
“Tapi nggak apa-apa ya? Gue ‘kan pengen menghargai apapun pemberian orang, jadi tadi ya gue pengen simpan bunga ini,”
“Jangan, Zel. Nama pengirimnya aja nggak jelas, gimana ceritanya mau menghargai? Kita tuh menghargai kalau emang nama pengirim jelas jadi nggak bikin deg-degan nyimpennya,”
“Oh gitu ya. Okay deh, gue buang aja. Tapi ini beneran bukan dari lo ‘kan?”
“Bukan, itu bukan dari aku. Sumpah aku nggak ngirim bunga atau apapun hari ini. Kalaupun aku ngirim, pasti aku bilang ke kamu supaya kamu nggak bingung atau takut nerimanya. Percaya deh sama aku. Itu bukan dari aku, Zel,”
“Apa ini beneran dari si Juan ya, Vin?”
“Ya udah bodo amat lah mau dari siapa intinya kalau orang itu nggak ngasih nama di bunga tu nggak usah kamu simpan, buang aja. Ini bukan masalah menghargai atau apa ya, tapi tentang keselamatan kamu juga. Kita ‘kan nggak tau di bunga itu ada apaan,”
“Gue udah cek nggak ada apa-apa sih,”
“Tapi tetap aja, Zeline. Daripada bahaya mendingan buang aja deh, tolong kamu dengar omongan aku ya, jangan bandel,”
“Iya iya iya, gue nggak bandel. Maaf udah ganggu lo ya,”
“Nggak ganggu kok, aku malah senang ditelpon sama kamu, biasanya ‘kan telepon atau chat aku dianggurin, aku yang selalu hubungi kamu duluan, nah sekarang malah gantian,”
__ADS_1
“Udah dulu ya. Makasih udah jawab,”
“Iya jangan lupa dibuang aja itu bunganya, nggak usah diterima apalagi disimpan ya,”
“Okay, gue bakal buang aja,”
Sambungan telepon mereka telah berakhir. Zeline langsung menatap mamanya yang masih bertahan di posisinya tadi.
“Mama, sarannya Vindra, mendingan bunga ini dibuang aja soalnya ini bukan dari dia, Ma. Daripada simpan barang yang nggak tau siapa pengirimnya mendingan aku buang aja katanya, bukan masalah menghargai atau nggak tapi deni keselamatan aku juga. Meskipun keliatannya nggak ada apa-apa, tapi sebaiknya dibuang aja kata dia, Ma,”
“Duh sayang banget itu bunga ya. Mana cantik banget. Tapi terserah kamu, Sayang. Kalau emang mau dibuang ya nggak apa-apa. Benar juga kata Vindra, daripada simpan barang yang nggak jelas ‘kan pengirimnya siapa mendingan dibuang aja, ucapan dia benar,”
“Ya udah aku buang deh,”
“Lagian aneh banget yang ngirim. Udah tau kita bukan cenayang, eh malah main rahasia-rahasian soal pengirimnya,”
“Iya aneh banget. Kalau mau ngirim tuh harusnya jangan main rahasia begini, kasih tau aja namanya. Emang kenapa sih? Takut namanya aku bilang jelek apa ya?”
“Hahaha aneh-aneh aja kamu. Dia tuh lagi main tebakan sama kamu,”
“Nggak lucu ah main tebakannya malah bikin takut deg-degan, sok misterius banget itu orang,” ujar Zeline seraya keluar dari kamarnya menuju tempat sampah di luar rumah menurutnya supaya benar-benar aman.
Ia keluar dari rumah lalu berjalan menuju tempat sampah kemudian Ia buang bucket bunga yang baru Ia terima itu. Seseorang yang melihat apa yang dilakukan oleh Zeline itu langsung mengeraskan rahangnya. Gigi-gigi gerahamnya saling beradu satu sama lain.
“Parah banget bunga dari gue dibuang,”
*********
Memperhatikan Vindra berenang adalah salah satu hal yang Rina gemari sejak Ia memiliki Vindra. Walaupun terkesan membosankan bagi sebagian orang ketika harus mengamati sesuatu yang itu-itu terus, tapi Ia malah suka. Melihat anaknya sibuk di air dalam waktu beberapa menit, bahkan jam, Ia tak bosan.
“Mama, nggak mau ikutan renang aja, daripada cuma ngeliatin doang, Ma,”
“Nggak ah, mama males,”
“Giliran masak sama bersih-bersih nggak males, olahraga malah males,”
Vindra mencibir mamanya yang baru saja menolak Ia ajak berenang. Padahal Ia akan sangat senang kalau mamanya ikut berenang. Vindra tahu mamanya bisa berenang hanya saja memang jarang sekali berenang, lebih jarang daripada dirinya yang tak setiap minggu.
“Mama tuh sibuk jadi nggak sempat renang,”
“Tapi sekarang mama lagi nggak sibuk ‘kan?”
“Ya nggak sih, tapi males,” ujar Rina seraya tertawa. Ada saja alasannya untuk berkilah.
“Masak, beres-beres nggak pernah malas mama nih,”
“Ya iyalah itu kewajiban, dan mama emang suka ngelakuinnya. Kalau berenang, maaf-maaf mama nggak begitu suka, sepedaan juga begitu. Ya pokoknya kalau olahraga mama nggak begitu suka deh,”
“Ngomong-ngomong, senam kayaknya mama suka deh,” ujar Vindra yang tahu kalau mamanya gemar senam bersama ibu-ibu di komplek perumahan mereka alias para tetangga. Tapi itu memang cuma sekali saja dalam satu minggu.
__ADS_1
“Nah iya, itu suka. Tapi minggu ini nggak ikut lagi karena emang lagi libur dulu pelaksanaannya,”
“Ibu-ibu lain jadi nggak senam dong?”
“Nggak, lagi mau persiapan menuju jalan-jalan ke villa. Tapi mama nggak tau deh bakal ikut atau nggak, soalnya kalau cuma mama sendiri suka malas, kecuali kalau sama Vindra, sama papa juga,”
“Ya me time lah, Ma. Jadi mama sendiri aja yang berangkat, biar bisa happy-happy sama teman mama,”
“Iya sih, pengennya gitu, cuma berat aja gitu ninggalin rumah, ninggalin Vindra,”
Vindra tertawa mendengar ucapan mamanya. Padahal Ia sudah dewasa, entah apa yang membuat mamanya berat untuk meninggalkan dirinya di rumah.
“Terus mama mau gendong-gendong aku gitu? Supaya bisa ikut mama pergi sama teman-teman senam?”
“Ya nggak lah, emangnya zaman dulu apa? Kamu dibawa kemana-mana sama mama,”
“Nah ya udah, aku ‘kan nggak kayak dulu lagi, udah dewasa, kenapa mama berat ninggalin aku? Orang aku udah bisa jalan, bisa makan sendiri, bisa ngapa-ngapain sendiri, jadi ya nggak masalah ditinggal liburan bentar sama mama,”
“Mama tuh senang liburan, tapi bawaannya nggak tenang kalau ninggalin kamu,”
“Ya namanya juga ibu,”
“Tuh tau,”
“Aku lanjut renang lagi ya, Ma,”
“Okay, mau dibuatin apa kamu? Minuman? Atau makanan yang panas-panas gitu contohnya pisang goreng,”
“Nggak usah, Ma. Mendingan mama duduk aja, daripada repot-repot,”
“Nggak repot lah, mama bikinin ya teh hangat dan pisang goreng. Beuh, itu perpaduan yang sungguh luar biasa, Vin,” ujar Rina seraya beranjak meninggalkan tempat yang Ia duduki sejak tadi. Rina ke dapur, sementara Vindra lanjut berenang.
Vindra sudah melarang mamanya untuk repot membuat ini itu. Lebih baik duduk saja menurut Vindra tapi mamanya tak mau mendengar, malah tetap beranjak ke dapur untuk membuat minuman juga makanan yang hangat untuk dirinya yang saat ini berenang. Sebenarnya Vindra memang ingin mengisi perutnya dengan yang hangat-hangat, tapi Ia tidak mau membuat mamanya jadi repot. Mamanya sedang duduk nyaman, jadi Vindra sungkan mau membuatnya beranjak ke dapur tapi ternyata mamanya peka sekali.
**********
“Zel, kamu dapat kiriman bunga lagi lho, dan lagi-lagi ini nggak ada nama pengirim,”
“Coba bilang ke Pak Adi nggak usah diterima, Ma. Pasti dia takut kali sama Pak Ady. Orang beliau penjaganya di sini. Masa iya dia mau ngotot supaya bunganya diterima sama Pak Ady,”
“Eh kata Pak Ady tadi, beliau udah nolak tapi tetap aja si kurirnya ini minta Pak Ady untuk nerima karena itu tugas dia. Ditanyain siapa yang ngirim, kurir bilang nanti yang ngirim chat Zel. Terus abis itu kurirnya pergi, Zel,”
Zeline berdecak pelan ketika lagi-lagi, terhitung saat ini sudah dua kali Ia menerima kiriman bunga yang entah berasal dari siapa. Dan kembali misterius sosok pengirimnya selama si pengirim tak mengirimkan pesan kepadanya. Sebab Pak Adi satpam rumahnya tak diberitahu siapa sosok yang mengirimkan bucket bunga tersebut.
“Coba kamu sering-sering cek handphone kamu, Zel. Barangkali dia benerna chat kamu,”
“Iya, Pa,”
Mau makan malam, malah dibuat bingung bertanya-tanya karena ada kiriman bunga lagi. Entah siapa yang rajin sekali, baik sekali, mau mengirimkan bucket bunga sampai dua kali. Tapi anehnya tak langsung menuliskan nama di kertas kecil yang berada di dalam bucket bunga.
__ADS_1
“Dari penggemar rahasia kamu mungkin ya, Zel,”