
Vindra mengantarkan Zeline menghampiri mobil mamanya yang sudah menjemput. Kali ini Zeline dan Vindra tak pulang bersama karena Zeline diajak Mamanya untuk belanja. Vindra menyapa Reta dengan hangat seperti biasa.
“Halo, Tante,”
“Hai, Nggak pulang bareng dulu ya sama Zeline, Tante mau ajakin Zeline jajan,”
“Iya nggak apa-apa, Tante,”
“Okay, duluan ya, Vin,”
“Siap, Tante, hati-hati,”
Setelah bicara sebentar dengan Vindra, Reta langsung melajukan mobilnya meninggalkan sekolah sang putri.
“Yah, galau nggak nih karena hari ini nggak pulbar sama Vindra?”
“Pulbar?”
“Iya pulang bareng,”
“Ya ampun, Mama gaul juga ya. Aku aja nggak tau lho apa itu pulbar, hahaha,”
“Mama gitu lho,”
“Nggak galau, toh emang udah jarang juga pulang bareng,”
“Hah? Gimana-gimana?”
Reta bingung mendengar ucapan anaknya. Jarang pulang bersama? Tapi yang Ia lihat Vindra masih suka mengantar jemput Zeline. Apa Zeline sedang mengantuk makanya berkata seperti itu? Reta perlu memastikan, makanya Ia bertanya.
“Mama masih suka liat kalian berangkat dan pulang bareng kok, Zel,”
“Iya, tapi ‘kan nggak berdua, Ma,”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Ya ‘kan ada Anin, jadi judulnya bukan pulang pergi bareng,”
“Oh, sahabatnya Vindra ya? Dia yang kamu ceritain itu ‘kan?”
“Iya, sahabatnya Vindra dari kecil, Ma,”
“Gimana pertemanan kamu sama dia?”
“Pertemanan kami berdua baik kok, Ma,”
“Memang setiap saat kalian pulang pergi bertiga?”
“Iya semenjak ada Anin kita barengan terus. Ya nggak apa-apa sih, aku nggak masalah,”
“Kamu galau dong karena bertiga terus?”
“Beneran nggak apa-apa nih? Nggak cemburu? Hahaha,”
“Ih Mama ngeledekin aku. Biasa aja tuh, aku nggak cemburu, Anin ‘kan aku anggap sahabat aku juga,”
“Anin gimana sikapnya ke kamu? Baik ‘kan?”
“Baik, Ma,”
“Mama belum ketemu sama anaknya,”
“Nanti lain kali ya, Ma,”
“Iya, Sayang. Jadi tadi Vindra pulangnya sendiri atau sama Anin?”
“Ya kayaknya sama Anin, Ma,”
__ADS_1
“Anin itu tinggal sendiri di apartemen? Mandiri ya anaknya,”
“Iya sendiri, Ma. Emang mandiri banget. Tapi ‘kan dia nggak dilepas sepenuhnya, orangtuanya Vindra sama Vindra sendiri perhatian banget sama Anin, udah dianggap keluarga sendiri,”
*******
“Nin, kamu duduk di depan lah, ‘kan nggak ada Zeline,”
“Oh iya maaf-maaf, aku lupa,”
Anin langsung membuka pintu mobil bagian depan untuk duduk di kursi depan menggantikan Zeline yang hari ini tidak pulang bersamanya dan Vindra.
“Rasanya beda ya nggak sama Zeline. Sekarang jadi aku deh yang duduk di tempat Zeline,”
“Ya ampun, Nin, santai aja kali. Di depan boleh didudukin sama siapa aja kok. Lagian ‘kan emang Zeline nya lagi nggak pulang bareng kita,”
“Kamu sedih nggak?”
“Sedih kenapa?”
“Sedih kenapa?”
“Ya karena Zeline nggak pulang sama kamu lah,”
“Oh, ya nggak lah, hahahaha. Aku sedih kalau Zeline pergi nggak balik-balik ke sisi aku, ‘kan cuma nggak pulang bareng aja. Dan dia juga nggak pulang bareng aku karena lagi mau belanja sama Mamanya, aku nggak berhak lah maksa Zeline untuk pulang sama aku,”
“Zeline nggak pulang bareng aku kali ini dan pergi sama Mamanya bukan karena nggak mau pulang bareng aku ‘kan ya?”
“Lho, kok kamu mikir gitu?”
“Ya takut aja gitu,”
“Kalau emang kenyataannya Zeline nggak mau pulang sama kamu, ya harusnya dia ngomong lah dari awal, nggak tiba-tiba begini. ‘Kan kita udah sering pulang pergi bareng. Kamu jangan mikir jelek ya, Zeline nggak gitu kok. Dia salah satu perempuan baik yang pernah aku kenal,”
__ADS_1