
“Kali ini boleh nggak kita pulangnya berdua aja gitu? Kita mampir makan, terus temenin aku beli boneka bentar,”
Zeline menghampiri Vindra dan Anin yang sudah menunggunya di depan kelas. Tapi kebetulan Anin lagi bicara dengan seorang temannya. Zeline menggunakan kesempatan yang ada untuk bicara berdua dengan Vindra tentang keinginannya yang hari ini berharap ditemani oleh Vindra beli boneka, makan, dan mereka pulang hanya berdua saja.
“Kok gitu sih? Terus Anin gimana?”
Zeline menghembuskan napas kasar dan langsung buang muka. Dari jawaban Vindra barusan, Ia sudah bisa menebak kalau Bindra itu kaget mendengar permintaannya dan tentu Vindra keberatan.
“Kasian Anin kalau pulang sendiri,”
“Ya ‘kan bisa naik ojek online, aku aja pernah ‘kan pulang naik itu waktu kamu ninggalin aku karena kamu mau nganterin Anin kemana tuh? Aku lupa alasan kamu. Oh antar Anin ke rumah temannya untuk kerjain tugas kelompok. Pernah begitu ‘kan?”
“Emang bener, sebagian besar cewek suka ngungkit,” gumam Vindra yang langsung diaambut dengan kekehan sinis dari Zeline.
“Terus kenapa? Emang aku suka ngungkit? Layaknya baru kali ini deh. Itupun karena aku pengen kamu ingat kesalahan kamu tuh apa aja. Ya salah satunya itu. Sebelum ada Anin kamu nggak-—“
__ADS_1
“Udah deh jangan debat lagi. Kita baru baikan lho. Masa kamu mancing keributan lagi sih?”
Zeline terperangah dan matanya mengerjap. Apa kata Vindra tadi? Ia memancing keributan? Ia hanya ingin punya waktu berdua dnegan Vindra, karena semenjak ada Anin jujur saja waktu mereka berdua menjadi berkurang dan Vindra sepertinya tidak menyadari akan hal itu. Sebab itulah Zeline meras amakan hati senidri. Disaat Ia maunya bersama untuk satu waktu tanpa Anin, Vindra justru tidak menginginkan hal yang serupa.
“Ya udahlah kalau nggak mau, nggak usah ngomong yang nggak-nggak. Aku nggak ada niat untuk manding keributan kok. Aku cuma pengen jalan sama kamu, berdua! Tapi kalau kamu nggak mau, alias keberatan nggak enak ninggalin sahabat kita, ya udah nggak masalah. Aku nggak marah kok,” ujar Zeline seraya menekan beberapa kata yang keluar dari mulutnya, berharap Vindra tahu kalau sekarang hatinya sedang jengkel.
“Kamu mancing keributan, Zel. Kita ‘kan baru baikan,”
“Darimana mancingnya sih? Hah? Aku cuma ngajakin kamu pergi berdua aja. Emang itu mancing ribut ya?”
Zeline menganggukkan kepalanya. Ia sudah paham kenapa suaminya tidak mau memenuhi keinginannya. Berat sekali tampaknya, untuk membiarkan Anin pulang sendiri.
“Ya udah yuk kita pulang,”
Anin selesai mengobrol dengan temannya dan langsung mengajak Zeline juga Vindra untuk bergegas pulang.
__ADS_1
Ketika Vindra akan merangkul bahu Zeline, Zeline langsung menghindar. Zeline sengaja menciptakan jarak supaya kekasihnya itu tidak hisa mencapai bahunya.
“Sini dong, kok jauh-jauh sih?”
“Nggak jauh, biasa aja. Kalau jauh tuh, dari Jakarta ke Aceh. Itu jauh sebutannya, lalau kita sekarang nggak jauh,”
Zelune dalam mode menyebalkan karena sebelumnya Vindra sudah menyebalkan sekali di matanya. Sudah menolak untuk memenuhi keinginannya, Vindra malah menganggapnya sebagai pemancing keributan.
“Jangan kayak anak kecil deh, Zel,”
“Terserah kamu lah mau ngomong apa. Aku tutup kuping aja, daripada hati aku kesal ‘kan dengarnya,” ujar Zeline sambil menutup kedua telinganya. Vindra menggelengkan kepalanya pelan. Kesabarannya sedang diuji sekarang.
“Kamu kenapa tutup kuping, Zel?”
“Ada tawon mau masuk,” celetuk Zeline dengan asal untuk menjawab pertanyaan Anin. Tak lupa Zeline tersenyum di akhir kalimatnya.
__ADS_1