Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 116


__ADS_3

“Selamat pagi, Bu,”


“Pagi, kenapa terlambat, Nin?”


“Maaf, Bu, saya bangun terlambat, dan macet juga pas perjalanan ke skeolah, Bu,”


Bu Via langsung berdiri menatap Anin yang seketika panik. Takutnya Ia disuruh pulang, sama seperti apa yang dilakukan oleh Pak Dim barusan.


“Ini terakhir kali kamu telat ya, anak perempuan kok bangun terlambat sih,”


“Maafin saya, Bu,”


“Vindra nggak terlambat, jadi kamu berangkat sendiri? Saya suka liat kamu berangkat sama Vindra dan Zeline,”


“Iya saya hari ini berangkat sendiri, Bu,”


“Kenapa nggak bareng kayak biasanya?”


“Saya yang nggak mau, soalnya saya nggak dnak kalau senadainya Vindra ikutan telat,”


“Artinya kamu sudah bisa memprediksi bahwa kamu bisa telat, terus kenapa kamu tetap wujudkan keerlambatan kamu itu? Harusnya ya pikirkan gimana caranya supaya nggak telat, salah satu caranya bangun tepatw aktu, dan bangun tepat waktu itu bisa terjadi kalau tidurmu cukup, tidur sesuai jam yang dianjurkan,”


“Iya maaf, Bu,”

__ADS_1


“Hormat di depan tiang bendera sekarang! Vindra kamu ke kelas!”


“Iya, Bu,”


Vindra dan Anin langsung berpencar. Vindra ke kelas sementara Anin berjalan menuju lapangan untuk melaksanakan hukuman.


“Duh untung aja nggak begitu panas nih semoga aja sampai aku selesai nggak panas deh cuacanya,”


Anin langsung berdiri tegap di depan tiang bendera dan di belakangnya masih ada ransel berisi buku. Lumayan melelahkan juga berdiri dengan membawa ransel tapi Ia harus terima karena ini adalah hukuman atas kesalahan yang sudah Ia perbuat.


Ketika Anin melihat Zeline berjalan dari arah kamar mandi, Anin langsung memanggil Zeline yang enggan menoleh.


“Zeline! Zel,”


Zeline memilih untuk tidak menoleh. Karena jujur Zeline malas untuk banyak omong. Kalau Ia menoleh pasti akan ada interaksi lebih dengan Anin.


Zeline langsung membatin dalam hati “Sahabatannya udah nggak selesai. Nggak mau lagi berurusan sama kalian berdua,”


Zeline masuk ke dalam kelas dan duduk tenang seperti biasa. Ia kembali mengerjakan tugasnya. Dan ketika Ia bersama teman-temannya sudah menyelesaikan tugas, waktunya ganti mata pelajaran.


“Bentar ya, Guys. Gue mau mastiin dulu benar atau nggak Bu Risa nggak masuk kelas hari ini. Kalau emang beluau nggak masuk pasti ‘kan dikasih tugas,”


Ketus kelas langsung berinisiatif untuk datang ke ruang guru katena yang Ia ingat minggu kemarin BunRisa, guru yang mengampu pendidikan kimia tidak bisa mengajar hari ini. Barangkali Bu Risa merubah keputusannya dna belum memberitahu jadi akan lebih baik kalau ketus kelas menemuinya.

__ADS_1


“Eh si Anin di lapangan hormat ke bendera, kenapa tuh dia?”


Hanum yang baru saja dari kamar mandi membawa berita tentang Anin yang masih berada di lapangan.


“Kayaknya gara-gara telat deh,” jawab Fandi. Karena Fandi melihat Anin masih menggunakan ransel di punggungnya.


“Kasian banget cantik-cantik telat,”


“Ih nggak boleh gitu, Fandi. Apa hubungannya cantik sama telat?”


“Ya elah, si Zeline baper amat sih mentang-mentang sahabatnya,”


Gisa langsung menoleh ke arah Zeline yang baru saja membela Anin di depan Fandi yang jelas meledek Anin karena terlambat.


“Dia nggak kayak Zeline yang rajin datang tepatw aktu ya,” kata Hanum.


“Ah gue juga pernah telat,” jawab Zeline yang tidak mau ditinggikan.


“Ya tapi ‘kan paling cuma sekali dua kali doang selama sekolah,”


“Lebay ah,”


“Dih kok lebay, eknag lo anaknya disiplin kok. Ya makanya nggak hdfan kalau Vindra naksir sama lo. Dahlah cantik, pintar, nggak neko-neko, udah paket lengkap deh pokoknya,”

__ADS_1


“Kalau Vindra nyia-nyiain kayaknya Vindra bakal nyesal banget,” sahut Fandi sambil terkekeh.


“Mau sama gue aja nggak, Zel?”


__ADS_2