Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 141


__ADS_3

“Eh kok lo tiba-tiba datang? Nggak bilang dulu gitu,”


Zeline benar-benar terkejut ketika diberitahu oleh mamanya bahwa ada temannya yang datang. Tanpa menunggu waktu lama Zeline langsung menghampiri Juan yang datang membawa makanan.


“Gue mau nganterin ini. Sorry ya udah jam delapan gue ke sini jadi ganggu istirahat lo,”


“Santai aja, ayo masuk dulu,”


Jan langsung menggelengkan kepalanya ketika diajak masuk ke dalam rumah yang menerimanya sebagai tamu.


“Ayo masuk aja dulu, ada mama papa gue kok di dalam jadi nggak cuma berdua aja nanti,”


Nggak usah gue mau langsung pulang aja mau istirahat, lagian nggak enak juga. Maaf yanudah ganggu dan makasih juga udah mau terima kedatangan gue,”


“Ya ampun harusnya gue yang bilang makasih, ‘kan lo yang repot-repot datang ke sini dan bawa makanan juga, makasih banyak ya tapi lain kali nggak usah repot-repot,”


“Nggak ngerepotin kok, kalau gitu gue pamit ya,”


“Okay hati-hati,”


Jan sudah memutar badannya hendak naik ke atas motor namun tiba-tiba tidak jadi berjalan, Ia justru kembali menatap Zeline yang mengernyit bingung dan langsung bertanya “Kenapa, Juan?”


“Vindra udah move on, lo kapan? Hahahaha,”


Setelah mengejek Zeline seperti itu Juan langsung berlari menuju motornya meninggalkan Zeline yang mendengus kesal.

__ADS_1


“Kurang ajar lo, Juan! Bukan urusan lo itu!”


“Lah orang gue cuma nanya,” jawab Juan dengan santainya kemudian Ia menggunakan pelindung untuk kepalanya.


“Kenapa lo nanya kayak gitu? Hah?”


“Ya abisnya lo kan belum move on ya kayaknya?”


“Sok tau lo ah! Orang gue—“


“Dia udah move on tuh,”


“Ya kan emang cowok gampang move on, bener nggak?”


“Nggak juga njir. Jangan disamain semua,”


“Masa sih? Cowok semua kayak gitu kali gampang banget lupa,”


“Nggak juga, udah gue bilang nggak semuanya kayak gitu, Zel. Nah kalau cowok lo tuh kayaknya iya sih,”


“Heh dia bukan cowok gue lagi ya! Jangan pernah ngomong kayak gitu deh, males dengernya,”


“Dia udah move on, lo kapan? Gue aja liat dia jalan berdua sama si Anin tuh,”


Zeline mendengus ketika membahas Vindra dan Anin. Ia mulai tidak nyaman. Akhirnya Ia mengibaskan tangan meminta Juan untuk tak melanjutkan pembahasan mereka.

__ADS_1


“Ya udah sana pulang. Tadi katanya mau pulang. Gue mau tidur nih,”


“Baru juga jam delapan,”


“Jadi lo sebenarnya mau pulang apa mau duduk di ruang tamu gue terus ngomongin mereka? Hmm?”


“Wah menarik tuh,”


“Ih nggak akan ya!”


Juan terbahak mendengar penolakan Zeline yang tentu tidak akan bersedia kalau Juan duduk di ruang taminya hanya untuk membahas sepasang sahabat yang mungkin sudah bukan sekedar sahabat lagi.


“Mereka jalan berdua tuh, Zel,”


“Nggak aneh, itu emangs ering kok,”


“Jadi mereka selingkuh?”


Zepine berdecak malas membahas hal itu. Ia menggelengkan kepala lalu menggerakan dagunya ke arah gerbang rumah.


“Udah sana balik,”


“Iya kayaknya selingkuh. Lo kenapa nggak cerita sama gue sih?”


“Nggak pantes aja umbar permasalahan hubungan ke orang asing lagian kan udah selesai juga jadi nggak perlu dibahas. Nggak ada yang selingkuh kok, gue mikirnya sih gitu,”

__ADS_1


“Ya udahlah kalau nggak mau cerita padahal gue siap jadi teman cerita lo,”


__ADS_2