
“Kamu pagi ini nggak sama Anin?”
“Nggak, Anin udah berangkat dari tadi kata Mamanya. Nggak tau deh kenapa dia berangkat duluan. Dia nggak ngabarin apa-apa,”
Kening Zeline mengernyit ketika mendengar penjelasan Vindra tentang Anin yang pagi ini berangkat lebih dulu, padahal biasanya tidak seperti itu. Kalaupun berangkat lebih dulu, atau lebih lambat, pasti Anin memberitahu Vindra.
“Kok aneh ya? Apa Anin marah sama kamu?”
“Nggak tau aku juga, ya udah lah biarin aja kalaupun dia marah,”
“Yang gara-gara helm itu kali, Vin,”
“Iya mungkin,”
“Kayaknya sih iya gara-gara helm,”
“Ya udah lah biarin aja. Ayo kita berangkat,” ajak Vindra seraya mengisyaratkan Zeline untuk naik ke mobilnya karena Ia sudah membukakan pintu mobil untuk Zeline.
“Makasih ya,”
“Sama-sama, Princess-ku,”
“Cielah princess-ku hahaha,”
Vindra terkekeh dan mencubit pipinya. Setelah itu Ia menyusul masuk juga ke dalam mobil dan langsung tancap gas ke sekolah.
“Anin kenapa ya kira-kira? Apa dia beneran marah sama kamu, Vin?”
“Ya udah nggak apa-apa, Zel. Biarin aja kalau dia marah sama aku,”
“Tapi jadi nggak enak ‘kan kalau misla sahabatan tapi berantem,”
“Ya bukan maunya aku,”
“Emang kenaoa ya dia marah sama kamu?”
“Ya karena dia nggak terima aku sinisin soal helm kali, jadi dia males deh berangkat sama aku,”
“Mamanya bilang sesuatu nggak sama kamu?”
“Nggak sih, Mamanya Anin nggak ngomong apa-apa, beliau cuma bilang kalau Anin udah berangkat dari tadi. Ya udah abis itu aku pamit deh,”
“Mamanya sinis ke kamu?”
“Jujur aku nggak merhatiin sih. Tapi kayaknya biasa aja deh, maksud aku nggak sinis,”
“Beneran?”
“Iya kayaknya ya, atau aku aja yang nggak engeh? Entalah, aku juga nggak tau. Kalaupun Anin kesal sama aku ya nggak apa-apa, nantinya juga baik sendiri kali,”
“Nggak mau minta maaf sama Anin?” Tanya Zeline seraya menoleh menatap kekasihnya yang kelihatan biasa saja padahal Zeline agak ketar-ketir karena Anin berangkat sendiri tanoa mengabari Vindra tandanya Anin memang sedang tidak baik-baik saja bersama Vindra.
“Sebenarnya aku bingung lho salahnya aku dimana? Jadi kenapa aku yang harus minta maaf? Tapi kalau memang kamu kasih saran begitu ya okay aku bakal minta maaf ke dia,” ujar Vindra sambil tetap fokus menyetir.
“Jangan diladenin pakai emosi, cewek suka meledak-ledak kalau diladenin pakai emosi, aku aja kayak gitu ‘kan?”
“Ya ngapain juga aku aldenin pakai emosi, aku juga capek kali. Lagian dia yang ribet kok sebenarnya. Aku nggak tau salah aku dimana? Aku ‘kan cuma nggak suka cara dia hang nggak menghargai aku. Udah aku pinjamin helm punya kamu, eh dia protes kalau anagi di helm itu bukan selera dia. Mending kalau ngomong baik-baik, ini ketus bangets ambil balikin helm ke aku, ‘kan nyebelin orang kayak gitu. Seolah yang aku pinjemin tuh helm busuk, nggak ada gunanya,”
“Udah-udah, jangan dibahas lagi, kamu harus tenang, tarik napas panjang, buang!”
Vindra tertawa mendnegar arahan Zeline yang senenarnya serius tapi Vindra anggap kekaishnya itu sedang bercanda supaya suasana di dalam mobil jadi mencair dan kesalnya hilang.
“Ya masalahnya, aku nggak suka aja sama cara dia, Zel. Dia nggak sopan. Udah aku pinjemin malah protes dengan ngomong ketus. Aku rasa ya, semua orang yang ada di posisi aku juga bakal kesal sih,”
“Ya udah jangan dibahas lagi deh, kamu masih emosi kalau bahas itu. Udah-udah, sekarang kita bahas yang lain aja. Gimana persiapan kamu untuk berangkat besok? Udah selesai semua?”
Zeline memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan supaya tidak bahas permasalahan antara Vindra dan Anin lagi karena itu masih membuat Vindra kesal.
“Udah,”
“Semuanya?”
“Iya udah semuanya,”
“Wuidih hebat,”
“Ya ‘kan kemarin ditemenin sama kamu beres-beresnya jadi kelar deh, kamu ingetin aku untuk bawa ini itu dan pas dicek sama mamaku, nggaka da yang ketinggalan lagi kata Mama. Aku dibilang udah jago beresin apa-apa sendiri padahal mah aku dibantu kamu,” jelas Vindra sambil terkekeh.
“Alhamdulillah kalau begitu, aku senang dengarnya,”
“Iya makaish udah bantu aku ya,”
“Sama-sama,”
__ADS_1
“Menu sarapan kamu tadi apa, Zel?”
“Aku makan bubur ayam tadi, kamu makan apa?”
“Sereal,”
“Oh, kenyang?”
“Kenyang,”
“Nanti makan siang ke kelas aku lho! Jangan lupa nyamper aku dulu di kelas terus kita ke kantin bareng,”
“Iya, aku nanti samper kamu ya,”
“Beneran ya?”
“Beneran dong masa aku bohong,”
“Ya udah bagus deh. Awas aja kalau kamu nggak datang ke kelas aku. Aku bakal kesal ah,”
“Hahahaha tenang-tenang, aku nggak bakal lupa. Jadi nanti aku ke kelas kamu ya, kita ke kantin bareng,”
“Kamu tuh sebenernya bukan lupa, tapi kamu diajak sama Anin,” sindiri Zeline. Tadinya tidak mau bicara seperti itu tapi mulutnya gatal. Ia tahu kalau kejadian saat Ia kesal sekali pada Vindra akibat Vindra ke kantin tanpanya itu sebenarnya karena Anin yang mengajak Vindra untuk langsung pergi ke kantin, alih-alih mengajaknya yang menunggu di kelas sejak beberapa menit lalu.
“Iya aku minta maaf,”
“Jangan kayak gitu lagi dong, aku sedih tau. Aku udah nungguin kamu tapi kamu nya malah udah duluan ke kantin cuma berdua sama Anin ya gimana aku nggak sewot coba,”
“Iya aku minta maaf ya, aku benar-benar nggak ada maksud untuk bikin kamu kecewa. Aku janji deh selalu ke kela skamu walaupun perdana menteri sekalipun yang ngajak aku ke kantin duluan, aku nggak peduli. Aku bakal tetap ke kelas kamu dulu kalau emang aku yang duluan istirahat, tapi kalau kamu duluan yang istirahat, ya berarti kamu yang nyamperin aku ya biar nggak bingung-bingung. Nanti aps sampai kantin jadi saling nyariin deh,”
“Iya kayak gitu,”
“Kamu kesal banget waktu kejadian itu dan aku benar-benar merasa bersala,”
“Nggak apa-apa, aku nggak kesal lagi sekarang. Lagian itu bukan murni kesalahan kamu, dan kamu juga udha minta maaf,”
“Ntar aku bakal minta maaf sama Anin, menurut kamu gimana?”
“Ya nggak apa-apa, barangkali kamu udah nyakitin hati dia banget, jadi kamu harus minta maaf. Dan sebagai laki-laki yang gentle, kamu jangan pernah malu untuk minta maaf duluan, terlepas dari benar atau nggaknya kamu. Yang penting minta maaf aja dulu untuk memperkecil masalah. Karena dengan kamu minta maaf, kamu nggak akan langsung dianggap lemah kok,”
“Siap, Ibu bos,”
“Ih aku serius tau,”
“Astaga, kamu ngomong apa sih, Vindra?”
Vindra terbahak mendengar ucapan kekasihnya yang menahan kesal. Vindta langsung mengusap pipi Zeline yang kembut dan terasa sejuk di tangannya.
“Pipinya agak dingin ya,”
“Ya namanya juga maish pagi, abis mandi pula,”
“Aku senang pegang muka kamu nggak pernah ada sesuatu yang mengganggu,”
“Ih tapi jangan kebiasaan! Nanti aku jerawatan tau,”
Zeline mengusir tangan sang kekaish dari pipinya. Zeline tidak senang kalau pipinya sering dipegang, karena tidak tahu tangan yang memegang pipinya itu habis memegang apa sebelumnya? Dan ada bakteri apa saja di sana? Bisa-bisa pipinya berjerawat. Bukan sombong atau terlalu arogan, tapi tipe kulitnya adalah sensitif, dan Ia susah mengurus wajahnya sendiri kalau sudah timbul jerawat,”
“Iya deh maaf, tapi tangan aku berish kok, Zel,”
“Ih kata siapa? Emang udha dicek pakai alat apa?“
“Hehehe iya juga sih, aku belum cek tapi bersih, aku nggak habis pegang apa-apa kok,”
“Lah itu stir mobil!” Omel Zeline yang langsung membuat Vindra menepuk keningnya dan merasa bersalah.
“Astaga, maaf ya, Cantik,”
“Ih makanya jangan suka megang pipi aku. Bukan apa-apa ya, aku takut jerawatan, muka aku kalau udah jerawatan tuh suka rewel, smalai aku bingung harus gimana. Apalagi muka aku tipe yang sensitif,”
“Iya aku minta maaf, abisnya aku gemes sama pipi kamu, mana enak banget lagi kalau dicubit, nggak ada bedak nempel di tangan aku,”
“Ya gimana mau nempel bedak orang aku nya aja mager pakai bedak,”
“Ya ngapain juga sih? Kamu camtik kok tanpa make ul, jadi nggak usah pakai itu juga nggak masalah,” ujar Vindra sambil menjawil dagu kekaishnya. Zeline berdecak kesal. Tadi pipi, sekarang dagu.
“Pipi udah, dafu udah, semuanya muka aku aja kamu pegang, Vin, astaga. Udah dibilang—“
“Iya-iya aku minta maaf. Hadeh galak amat sih,”
“Bukan galak, bukan lebay, bukan sombong. Tapi aku udah bilang ‘kan barusan? Pipi aku nih sensi banget, kalau udah jerawatan suka rewel nggak tau maunya gimana,”
“Ribet ya cewek,”
__ADS_1
“Ah cowok juga gitu kali. Sama aja sebenarnya,”
“Nggak ah, cowok nggak seribet cewek. Muka mau diobok-obok juga nggak masalah,”
“Obok-obok nggak tuh, kayak lagu dong hahahah,”
“Iya tapi emang bener. Cowok mah mau diapain juga mukanya santai aja ya walaupun itu juga salah sih, karena emang kita harus mikirin kebersihan muka kita semdiri. Cuma aku tuh suka nggak kuat liat pipi kamu, Zel. Gemes banget gitu, sayang kalau dianggurin, oranh kayak boneka,”
“Ntar kalau aku jerawatan, kamu ilfeel, kamu geli liatnya. ‘Kan cowkk gitu,”
“Eh enak aja. Nggak ya! Emang pernah aku begitu pas kamu lagi tumbuh jerawat? Nggak pernah tuh. Ya karena jerawatan itu wajar, yang ilfeel, yang geli, berarti dia patung,”
“Lho kok gitu?”
“Ya iyalah, karena dia nggak bisa mewajarkan muka yang berjerawat berarti dia patung, dia nyamain muka dia, muka orang tuh kayak muka patung yang mulus banget kayak porselen, putih bersih kinclong. Orang yang nggak mewajarkan jerawat, apalagi sampai ngata-ngatain, beuh mulutnya jahat banget. Dia berarti selama ini patung tuh,”
Zeline terbahak mendengar ucapan Vindra yang random. Ia langsung mencubit lengan kekasihnya itu.
“Bisa stop nggak? Aku ngakak lho ini,”
“Ya lagian ada aja orang kayak gitu. Namanya manusia ya pasti ada jerawat lah, nggak mungkin nggak ada apalagi perempuan ya, hormon nya nggak nentu. Aku terima kamu apa adanya kok, Zel. Kita dua tahun lebih bareng, harusnya kamu udah bisa nilai aku kayak gimana ‘kan? Aku nggak pernah komen soal gimana bentuk badan kamu, muka kamu, intinya aku nggak mau komen soal fisik. Karena mggak penting buat aku. Fisik itu bisa berubah kapan aja, ya kalau cinta karena fisik repot juga. Misal hari ini cinta sama kamu karena kamu ramping, seminggu kemudian nggak cinta lagi karena kamu gemuk, yang kayak gitu ciri-ciri orang nggak bisa bersyukur, selalu cari yang sempurna. Sedangkan diri sendiri aja nggaks sempurna masa mau cari pasangan yang sempurna sih, sampai lebaran monyet juga nggak bakal ada, karena tiap manusia itu ada aja kurang dan lebihnya,”
Zeline tersenyum dan Ia mencubit pipi kekaishnya itu. “Nah gantian, aku juga bisa gemes sama kamu. Itu apresiasi juga dari aku karena kamu bisa bijak jadi orang semoga aja selamanya begitu, dan nggak hanya sekedar ucapan,”
Mereka tiba di sekolah dan langsung keluar dari mobil setelah Vindra memarkirkan mobil dmegan benar.
Seperti biasa Vindra mengantarkan Zeline sampai di depan kelasnya dan menyemangati Zeline seperti biasa.
“Semangat belajarnya,”
“Kamu juga ya,”
“Pulang bareng aku lho,”
“Iya,”
“Pokoknya sama aku, aku yang antar kamu oulang,” ujar Vindra dnegan tegas.
“Iya, kamu cerewet ah,”
“Ya udah kalau gitu aku ke kelas aku dulu ya,”
“Okay sampai ketemu nanti,”
Zeline bergegas masuk ke dalam kelas, setelah Zeline duduk dan melambaikan tangan ke arah Vinda barulah Vindra melambaikan tangannya juga setelah itu Vindra pergi ke kelasnya.
Tiba di kelas, Vindra melihat Anin yang sedang sibuk dengan ponselnya. Vindra ke tempat duduknya dulu. Ia letakkan tasnya di kursinya sendiri kemudian Ia hampiri meja Anin.
“Nin,” sapa Vindra seperti biasa kalau bertemu dengan Anin.
“Hmm?”
Tanpa menatap, Anin menyahuti walaupun hanya dengan bergumam saja.
“Kamu kenapa berangkat duluan? Tumben banget, biasanya bareng aku, tapi kalaupun nggak bareng aku, biasanya kamu kabarin aku,”
“Lagi pengen berangkat sendiri aja, emang kenapa?”
“Ya nggak apa-apa sih. Harusnya aku deh yang nanya kayak gitu ke kamu. Karena nggak biasanya aja kamu berangkat duluan nggak sama aku terus kamu juga nggak bilang apa-apa sebelumnya ke aku. Apa kamu ada masalah sama aku, Nin yang mungkin nggak aku sadarin?” Tanya Vindra yang perlu penjelasan dulu. Jujur Ia bingung kenapa Anin jadi tiba-tiba berubah.
“Kau nggak apa-apa kok,”
“Kamu serius?”
“Iya,”
“Kok aku nggak percaya ya?”
“Ya udah terserah kamu lah kalau kamu nggak percaya, itu hak kamu,”
“Apa kamu marah sama aku, Nin?” Tanya Vindra sambil meraih kursi dan duduk di sebelah Anin.
Anin menggelengkan kepalanya dan maish fokus dengan ponsel walaupun di sebelahnya ada lawan bicara yang menatapnya.
“Kamu kesal sama aku ya? Gara-gara masalah helm kemarin itu?”
“Apaan sih? Udah aku bilang nggak ya nggak! Jangan diulang-ulang deh pertanyaan kamu itu. Aku jadi males dengarnya,”
“Ya abisnya aku bingung kenapa kamu beda hari ini?”
“Beda kenapa? Orang aku biasa aja kok, aku nggak beda. Cuma peasaan kamu aja itu,”
“Kamu kesal ‘kan sama aku? Jujur aja deh,”
__ADS_1
“Terserah deh!”