
“Sorry ya aku agak telat, soalnya antar Zeline dulu tadi,”
“Kamu sama Zeline beli keperluan untuk pergi ya?”
“Iya kamu benar, emang kenapa?”
“Dekarang aku juga sama, aku minta kamu temenin aku bisa ‘kan?”
“Ya kalau aku nggak bisa aku nggak akan mungkin ada di sini,” ujar Vindra seraya tersenyum. Apa yang tidak untuk sahabatnya? Ia selalu tidak enak untuk bilang tidak.
“Ya udah ayo kita pergi sekarang,”
“Kamu udah pamit Mama kamu belum?”
“Udah, Mama aku lagi istirahat sekarang. Kita langsung pergi aja,”
“Okay kalau gitu,”
Vindra dan Anin berjalan keluar dari gedung apartemen menuju area parkir. Setelah itu Vindra nenyerahkan helem yang tadi digunakan oleh Zeline kepada Anin.
“Pakai helm,”
“Ih harum rambutnya Zeline,” ujar Anin seraya mengembalikan helm itu kepada pemiliknya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Vindra.
Jelas saja Vindra bingung maksud Anin menolak dengan alasan seperti itu apa? Ia bsnar-benar tidak paham.
“Emang kenapa sih kalau harum rambutnya Zeline? Ya berarti bagus dong, helemnya harum bukan bau, rambut Zeline itu harum nya segar lho, aku aja suka,”
“Ya tapi aku nggak suka, terlalu girly aja gitu harumnya,”
“Lah, kamu ‘kan cewek masa iya sih nggak suka harum yang ‘cewek banget’ lagian ini ‘kan cuma perkara nempel di helm doang, bukan aku suruh kamu pakai parfum Zeline,” ujar Vindra yang masih tidak paham dengan pola pikir Anin. Hanya karena menempel sedikit harum rmabutnya Zeline, Anin sampai tidka mau menggunakan pelindung kepala padahal itu untuk keselamatannya juga.
“Nin, jangan aneh deh jadi orang,”
“Aneh gimana sih, Vindra? Aku nggak suka harum yang kayak gitu,”
“Ya terus aku harus beli helm baru gitu buat kamu? Aku ada helm lain taoi di rumah, lagian ya udah sih kenag timbang helm yang ada harum dikit rambutnya Zine kenapa harus kamu permasalahin sih? Nggak penting, Nin, sumpah,”
“Kamu tau nggak sih kalau selera orang itu beda-beda, nggak hanya berlaku soal nakanan, baju, tapi berlaku juga di harum atau aroma. Kalau nggak suka ya nggak suka, jangan paksa aku untuk—“
“Ya udah kamu pakai aja helem kamu sendiri. Gih ambil helm kamu, aku tunggu di sini buruan,”
“Aku nggak ada helm,”
“Nah ya udah kenaoa kamu ribet? Udha tau nggak ada helm terus kenapa nggak mau pakai helem ini? Sumpah kamu ribet banget sih,” ujar Vindra dengan kernitan kesal di keningnya dan menatap Anin dengan sengit. Baru kali ini Vindra menanggapi Anin dengan emosi. Ya walaupun tidak meledak-ledak. Karena menurut Vindra, aneh saja ada orang yang tidak suka aroma rambutnya Zeline padahal bukan harum yang membuat mual atau pusing, harumnya benar-bsnar segar. Vindra senagai laki-laki saja menyukai harum rambut Zeline, kalau ada didekat Zeline diam-diam Vindra suka menarik napas panjang supaya lebih banyak aroma segar dari dmabut Zekine yang bisa Ia dapatkan. Secandu itu aroma yang ditebarkan oleh rambut Zeline.
Pernah Vindra tanya harumnya itu dari shampo merk apa tapi Zeline menjawab bukan hanya dari shampo, Zeline menggunakan conditioner kalau habis keramas, dan juga vitamin. Entahlah aroma yang benar-bsnar membuat Vindra jatuh cinta yang jelas kalau ada didekat Zeline, Vindra pasti akan langsung bisa menghirup aroma segar dari rmabut kekaishnya yang memang tampak terawat dengan baik.
“Jadi gimana? Kamu nggak mau pakai helm? Sampai segitunya? Ya ampun berlebihan banget kamu, Nin,”
“Ih kamu nggak pernah ya ngerasain gimana nggak nyaman nya kalau berdampingan sama aroma yang nggak disuka?”
“Ya udah kalau gitu kamu pergi aja sendiri ya? Aku mau pulang,”
Vindra memperbaiki kantong belanjaan di dekat kakinya dan menyampirkan helm yang harum akan rambutnya Zeline di lengannya, Ia sudah siap untuk pergi namun Anin menahan lengannya.
“Ya udah okay-okay, aku pakai helm kamu aja boleh nggak?”
Vindra menatap Anin dnegan wajah datar. Baru kali ini Ia kesal sekali dengan Anin. Sudah rela-rela Ia secepatnya ke apartemen Anin untuk menemani Anin pergi belanja, dan Ia juga harus mengorbankan waktunya bersama Zeline, padahal tadinya Ia ingin mengobrol dengan Zeline tapi kenyataannya Ia pergi secepat mungkin setelah mengantarkan Zeline pulang ke rumahnya.
Tapi begitu sampai di apartemen ini malah dibuat kesal oleh Anin yang tidka terima ketika helm yang baru saja dipakai Zeline dipakai juga olehnya hanya karena perjara harum ranbutnya Zeline tertinggal di helm tersebut.
“Kamu kenapa jadi ribet gini sih,”
“Ya udah aku minta maaf, aku benar-benar nggak suka,”
“Kamu nggak suka sama harum rambutnya Anin atau kamu nggak suka sama Zeline nya? Nggak suka helm itu dipakai sama Zeline sebelum kamu? Iya?“
“Astaga kok kamu ngomongnya gitu sih? Masa iya aku nggak suka sama Zeline? Dia ‘kan sahabat aku juga dna aku nggak masalah kok pakai helm siapa aja asalkan harimnya jangan yang nggak aku suka,”
“Ya padahal harum rambut Zeline itu segar banget, bukan aroma ysng nyengat bikin pusing dan mual, makanya aku heran sama kamu benar atau nggak sih alasan kamu itu?”
“Benar, aku beneran nggak suka aja sama wangi rambutnya Zeline walaupun segar atau apapun itu. Kamu suka jadi kamu bis angomong gitu sementara aku nggak suka, udah deh jangan maksa,” ujar Anin yang langsung membuat Vindra terperangah. Apa kata Anin barusan? Ia memaksa, baiklah,m Vindra lepaskan helm di kepalanya dekarang kemudian Ia berikan kepada Anin dengan wajah tidak bersahabat.
“Kalau aku maksa, udah dari tadi ya aku tekan kamu supaya kamu pakai helem nya Zeline, tapi kenyataannya apa?”
“Ya kamu perpanjang masalah aku yang nggak suka sama harum rambutnya Zeline padahal ‘kan tinggal lepas aja helm kamu itu terus kita tukeran helm deh,”
“Kamu ribet, makanya aku perpanjang biar makin ribet sekalian! “ jawab Vindra dengan ketus.
Anin tersenyum sambil menggunakan helem yang sebelumnya digunakan oleh Vindra sementara Vindra menggunakan helm yang sebelumnya digunakan oleh sang kekasih.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Vindra langsung melajukan motornya meninggalkan kawasan apartemen Anin.
“Kita ke supermarket yang dekat aja,” ujar Anin pada sahabatnya itu. Taoi tidak ada jawaban makanya Ia bicara lagi dengan suara yang lebih keras kali ini.
“Vindra kamu dnegar aku nggak? Kita ke supermarket yang dekat dari apart aku aja di sana lengkap banget,”
Masih tak ada jawaban, Vindra kalau kesal memang memilih diam. Ia jadi malas untuk bicara apalagi dengan orang yang membuat Ia kesal. Ia tidak terima ketika Anin banyak mau. Sudah mibta ditemani, protes pula dengan helm. Okay lah kalau helm yang Ia berikan itu bau, kotor, dan segala macamnya. Tapi helm yang Ia serahkan pada Anin itu helm bagus, harum, tidak kotor. Entah kenapa juga Ia tidak semudah itu percaya dengan alasan Anin.
Mungkin karena sudah merasa lelah dan Anin protes jadi bawaannya cueiga terus, Vindra berusaha berpikir positif walaupun sulit. Karena alasan Anin itu tidak masuk akal. Harum rambutnya Zeline juga tipis sekali, tidak mengganggu penciuman sebenarnya.
“Vindra kamu kok nggak jawab sih? Aku ngomong sama kamu lho, Vin,”
Vindra masih diam tidak mengeluarkan suara apapun, karena hatinya masih panas, jadi Ia bertahan dalam keterdiamannya itu.
“Kamu kesal ya sama aku?”
Vindra tetap diam. Biar saja Ia diam, sampai Anin lelah sendiri mengajaknya bicara. Dan terbukti sikap yang Ia ambil itu berhasil membungkam Anin.
“Hmm kayaknya Vindra beneran marah sama aku, emang salahku apa sih? Orang cuma nggak suka sama wanginya Zeline kok,” batin Anin sambil mengedarkan pandangan ke arah lain.
*******
“Lho, kok nggak ditata itu makanan yang udah dibeli? Malah bengong, kenapa kamu, Nak?”
Reta masuk ke dalam kamar anaknya dan Ia mendapati sang anak yang sedang duduk diam menatap kosong ke depan, makanan ringan yang dibeli Zeline bersama Vindra tadi belum Zeline tata dengan baik. Zeline ingin masukkan sebagian makanan itu di goodie bag yang akan menjadi bawaannya, serta Ia simpan di ransel juga. Tapi Reta belum melihat tanda-tanda Zeline melakukan apa niatnya itu.
“Zel,”
“Eh iya, Ma?”
Bahkan ketika diajak bicara, Zeline tak langsung merespon yang artinya Zeline benar-benar melamun, setelah Ia panggil lagi barulah Zeline menoleh dan kelihatan kaget.
“Kamu ngelamun, Zel?”
“Hmm? Nggak kok, Ma,”
“Nggak gimana? Orang jelas-jsla skamu ngelamun kok. Kamu mikirin apa sih, Nak?”
“Hehehe, nggak kok, Ma. Aku nggak mikirin apa-apa,”
“Ya udah itu dimasukin makanan-makanan kamu,”
Reta kini duduk di sebelah anaknya yang duduk di atas permadani lembut yang digelar di bawah tempat tidur Zeline.
“Sini biar Mama deh yang simpan,”
“Beneran, Ma?”
“Iya, mau dibagi di ransel sama e bag tentangan kamu nanti ‘kan?”
“Iya, Ma,”
“Ya udah biar Mama aja deh,”
Zeline benar-benar niat membeli makanan untuk Ia bawa pergi. Ada makanan ringan yang gurih dan pedas, ada roti, susu, cokelat. Reta senang anaknya mendengarkan perkataannya supaya beli apa saja yang dimau, pikirkan apa yang kira-kira nanti dipelrukan saat di sana. Ya tentunya bagi Zeline adalah makanan gurih pedas, itu nomor pertama. Yang lain-lain nomor sekian.
“Kamu kenapa ngelamun tadi?”
Reta maish penasarana lasan anaknya melamun barusan apa. Jelas-jelas Ia melihat anaknya itu melanun, tapi dia tidak mengakui itu.
“Aku nggak ngelamun kok, Ma,”
“Yang bener? Kok mama ngeliatnya kamu ngelamun ya?”
“Nggak, Ma. Aku nggak ngelamun,”
“Apa yang dipikirin? Kalau ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu, jangan sungkan ngomong ke Mama ya. Biasnaya juga banyak cerita ke Mama, kok sekarang nggak jadi tertutup?”
“Nggak tertutup, Ma. Emang aku lagi nggak punya hal yang mesti diceritain ke Mama,”
“Tuh ‘kam sekarang kamu tertutup, orang jelas-jelas tadi Mama liat kamu ngelamun. Apa karena mikirin Vindra ya? Kamu berantem lagi kah sama Vindra?”
“Hah? Nggak kok, Ma,”
“Lho terus ngelamun apa dong?”
“Nggak ngelamun, Mamaku sayang,”
“Ya terus kenapa tadi nggak langsung respon pas Mama ngomong sama kamu,”
“Iya aku minta maaf, Ma. Aku nggak dengar tadi,”
“Oh karena nggak dengar? Tapi kok tatapannya kosong gitu sih?”
Pertanyaan Reta langsung membuat Zeline terdiam. Ia ketahuan berbohong oleh Mamanya itu.
Ia memang tadi sempat kepikiran dengan Vindra. Apa Vindra sudah smapai di apartemen Anin, jadi atau tidak menemani Anin oergi? Lalu jam berapa mereka pulang. Sebenarnya tadi Zeline benar-benar belum rela harus membiarkan Vindra pergi.
Tapi Ia tidak mau dibilang egois, ia tidak mau dibilang penyebab dari pertengkaran hanya karena perkara Anin minta ditemani belanja oleh kekasihnya itu.
“Masa iya sih berantem? Ah kayaknya nggak mungkin ya? ‘Kan baru aja kalian bareng-bareng belanja ke supermarket. Hmm berarti ada hal lain yang lagi kamu pikirin nih tapi kamu nggak mau cerita sama Mama,”
“Nggak ada, Mama, aku serius beneran deh,” ujar Zeline sambil mengusap lengan Makanya, berusaha menenangkan. Zeline tahu mamanya khawatir Ia sedang kepikiran dengan sesuatu dan mamanya itu ingin Ia berbagi beban pikiran.
******
Vindra berjalan di belakang Anin, belum ada perkataan apapaun yang keluar dari mulut Vindra selama oerjalanan maupun setelahs ampai di supermarket.
Saat ini Vindra membuarkan Anin memilih apa yang mau dia bawa saat pergi nanti. Kali ini Anin minta pendapat kepadanya yang mau tidak mau membuatnya harus buka mulut walaupun maish kesal karena perkara helm.
“Menurut kamu aku mendingan ngambil yang rasa conelat atau blueberry?” Tanya Anin smabil menunjuk dua buah biskuit sama merj tapi beda rasa.
“Ya terserah kamu lah. Kamu ‘kan punya selera semdiri, jangan tanya aku, selera kita beda, Nin,” jawab Vindra yang tidak membuat Zeline puas. Padahal Anin ingin sekali dibantu oleh Vindra untuk memilih makanan itu.
“Ih kamu bsntu aku dong,”
“Ya gimana caranya aku bantu kamu? Kita punya selera yang beda, selera makan, fashion dan lain-lain tiap manusia itu pasti beda, nggak bisa disamain, aku misal suka yang cokelat terus kamu suka blueberry ya harusnya kamu pilih blueberry karena itu yang kamu suka,“
“Kalau kamu suka harumnya Zeline, aku nggak suka jadi kamu tau ‘kan harus gimana? Toleransi! Jangan maksain aku suka sama harumnya Zeline,”
“Kok jadi kesitu bahasnya?”
“Lho, ‘kan pas banget topiknya sama kejadian sebelum kita berangkat tadi, tentang helm,”
“Eh Anin, masalahnya ya, harum rambutnya Zeline tadi tuh tipis banget, bahkan hampir nggak ada, tapi kamu dampai segitunya protes. Aku bisa kali ya nyebut kamu itu kebay mulai sekarang,”
Anin membelalakkan kedua matanya tidak terima ketika Ia disebut ‘lebay’ oleh sahabatnya.
__ADS_1
“Enak aja! Aku nggak lebay ya. Kamu sendiri barusan bilang selera orang beda-beda ya terserah aku lah kalau aku nggak suka sana harum rmabutnya Zeline. Jangan maksa, mau setipis apalun harumnya tetap aja aku nggak nyaman,”
“Ya makanya pakai helm sendiri, beli sana,”
Baru kali ini Vindra bicara ketus dan pedas. Dan Anin semakin kesal dibuatnya. Anin tidak terima ketika Vindra seperti orang lain, bukan Vindra yang Ia kenal selsma ini.
“Perlu kamu tau, itu memang helm punya Zeline. Aku sengaja beliin helm buat dia supaya kalau jalan berdua gampang, dia hargai tuh helm yang aku kasih walaupun dia punya helm sendiri di rumahnya. Emang kamu nggak bisa niru itu ya? Sekarang bukan lagi soal selera harum atau apapun itu, tapi soal sikap menghargai. Aku udah pinjemin kamu helm pacar aku lho, tapi kamu tolak mentag-menyah seolah helm itu ada bau yang nggak enak padahl sebaliknya. Jujur ya, aku sakit hati sama sikap kamu tadi, cuma aku tahan-tahan aja daripada aku ngomg yang nggak enak sama kamu ‘kan,”
“Kamu udah ngomong yang nggak enak ke aku!”
Sekian kama bersahabat, sepertinya baru kali ini mereka adu mulut dan melibatkan seseorang yang tidak lain adalah Zeline. Vindra tidak senang ketika helm yang harusnya punya Zeline, kemudian Ia pinjamkan kepada Anin, malah ditolak mentah-mentah oleh Anin dengan alasan aneh tidak masuk akal.
Anin mengetatkan rahangnya, setelah itu memilih untuk bergegas pergi menjelajah rak-rak lain, dan Vindra mengikuti dengan santai.
“Udah capek-capek gue nyamperin, gue harus ninggalin cewek gue juga di rumah apdahal gue lagi mau sama dia, eh malah dia bikin gue kesal,“ batin Vindra.
Saat ini Vindra lagi sensitif sekali. Ia baru sadar kalau Ia mengorbankan waktunya bersama Zeline demi bertemu dengan Anin yang malah mengajaknya beradu mulut hanya karena perkata di helm yang Ia pinjamkan tertinggal aroma rambut Zeline yang sangat disukai oleh Vindra.
“Emang boleh gitu nolak barang yang udah dipinjemin pakai kata-kata nggak enak sambil ngembaliin barang itu dengan cara lumayan kasar. Dia ngasih ke tangan gue gitu banget tadi,”
Di tengah kakinya melangkah, tiba-tiba ponsel Vindra bergetar. Ia langsung meraih ponselnya di dalam saku.
Vindra berhenti melangkah dan karena yang menghubunginya adalah Zeline. Tadi ketika tahu kalau Zeline yang menghubungi, Vindra tersenyum senang.
“Halo, Zel,”
“Iya, Vin. Kamu udah di rumah? Jadi ya pergi sama Anin?”
“Jadi, Zel. Ini lagi temenin dia milih makanan,”
“Kamu kenapa? Kok kayaknya badmood gitu?”
“Nggak ah, kamu nebak darimana coba?”
“Ya kedengeran dari auara kamu lah,”
“Oh, nggak kok. Aku nggak lagi badmood,”
“Terus kenapa dong suaranya kayak lagi—“
“Nggak apa-apa, aku nggak lagi badmood. Tapi makasih ya kamu udah perhatian sama aku,”
“Lah kok perhatian?”
“Ya iyalah, kamu tuh kok bisa nebak hanya dari suara aku aja?”
“Oh jadi beneran ya kamu lagi badmood? Sama siapa? Apa sama—Anin? Tapi emangnya kenapa? Kasih tau dong, cerita sama aku kamu badmood kenapa?”
“Nggak, aku nggak badmood. Ntar kita video call ya kalau misalnya aku udah sampai rumah. Sekarang aku harus temenin Anin dulu nih, lagian nggak konsen kalau sambil ngobrol sama kamu, jadi kurang menyenangkan gitu rasanya. Nah kalau udha sampai rumah teris aku video call lamu ‘kan jadinya seru, menyenangkan, dibanding kayak gimi, aku lagi di supermarket soalnya,”
“Oh gitu okay deh, hati-hati ya,”
“Iya, makasih ya, Zel,”
Sambungan telepon mereka telah berakhir dan Vindra mengembalikan ponselnya ke dalam saku. Sekarang Vindra fokus lagi mengikuti langkah kaki Anin. Ia menciptakan jarak yang luamyan jauh dari Anin. Tapi ketika Ia melihat Anin tidak sengaja membuat dua tumpuk kardus berisi air mineral, Vindra langsung bergega scepat menghampiri.
Beruntungnya tidak ada yang pecah. Kalau pecah, mereka malu pada pengunjung lain, tidkq enak pada pegawai karena pasti mereka yang akan membereskan kekacauan yang dibuat okeh Anin, dita bah kagi harus ganti rugi.
“Kamu makanya hati-hati dong, jangan gerabak-gerubuk,”
“Berisik kamu,”
“Dih orang dikaish tau juga. Aneh ya kayak aku yang salah apdahal yang salah siapa?”
“Aku nggak salah dong, aku ‘kan nggak suka sama harumnya pacar kamu—“
“Udah deh nggak usah bahas-bahas Zeline lagi bisa nggak? Nggak usah ngomongin dia. Dia tuh nggak tau apa-apa, bahkan dia aja nggak tau kalau helm nya bakal aku pinjemin ke kamu,”
“Ya udah bagus, ‘kan helm Zeline nggak jadi aku pakai, jadi itu hel istiemwa cuma buat Zeline aja, aku pakai helm kamu,”
Vindra merotasikan bola matanya. Ia rasa, hari ini adalah hari dimana Ia sangat kesal pada Anin.
“Buruan pilih mau yang mana. Aku nggak bisa lama-lama ya temenin kamu. Aku juga punya rumah,”
“Kaku kenapa sih? Kok tumben ngomong kayak gitu? Biasnaya juga aku pulang jam berapa aja kamu nggak pernah ribet, kamu selalu okay nggak keberatan temenin aku,”
“Ya tapi sekarang aku pengen cepat pulang,”
“Kenapa? Emang ada apa di rumah?”
“Lah, emang harus aku kasih tau alasan aku pengen cepat pulang apa? Aku ‘kan pengen cepat pulang ke rumah aku sendiri, nggak perlu alasan dong, dimana-mana rumah tuh emang lebih nyaman daripada tempat apapun,” jawab Vindra ketika Anin protes karena Ia bilang mau cepat pulang.
“Ya udah okay-okay, ini aku cepetan belanjanya
Anin tidak banyak membeli jenis makanan. Setelah itu Ia bawa ke kasir dan membayarnya. Kemudian Vindra bawa belanjaan Anin ke motornya. biarpun Vindra sedang dalam mode kesal pada sahabatnya itu tapi Ia tetap harus menghargai perempuan. Disaat Anin punya sesuatu yang kemungkinan akan berat bila dia yang membawa, maka di situlah Ia yang akan berperan.
“Kaku duduk dulu, biar belanjaannya aku taruh si tengah kamus ama aku,”
Anin menganggukkan kepalanya. Anin segera duduk di jok motor dan memamgku ta sbelanuaannya setelah itu disusul oleh Vindra yang naik ke atas jok motor.
“Kita nggak makoir makan dulu gitu?”
“Nggak, aku mau langsung pulang,”
“Oh ya udah, tapie amng kenaoa sih kok kayaknya buru-buru banget mau pulang,”
“Tuh ‘kan kamu nanya kayak gitu lagi. Emangs akahnya dimana kalau aku mau pulang celat-cepat ke rumah aku sendiri? Hah? Nggak ada salahnya dong,”
“Ya emang siaoa yang bilang salah sih? Aku cuma oengen tau ksnala kamu pengen cepat-cepat pulang?”
“Karena aku mau telponan sama Zeline, puas?”
“Lho bukannya kalian abis ketemuan tadi?”
“Ya terus kenapa?”
“Ya nggak apa-apa sih, cuma bingung aja kok telponan lagi? Bukannya udah ketemuan ya tadi? Kamu antar Zeline belania juga ‘kan? Malah pertama kali sebelum aku,”
“Ya emang aku abis belanja sama dia, ya emang sia oertama kali, baru kamu. Dia tadi telpon aku dukuan minta tolong temenij beli snack-snack, terus nggak lama kamu telepon aku dna minta hal yang sama. Nah aku mau telpon Zeline karena aku mau aja, emang nggak boleh gitu?”
“Ya siaoa juga yang bilang nggak boleh? Kamu salah oaham sama aku,” ujar Anin.
“Aku langsung bawa kamu pulang ya ke apart, dan aku langsung pulang,”
“Ya,”
Vindra melajukan motornya dengan kecepatan normal dan tidak lama kemudian mereka sampai di depan gedung apartemen Anin.
“Aku nggak usah masuk ya,“
“Yah kok gitu? Aku mau minta tolong bawain belanjaan ini gimana? Kamu nggak mau nolongin aku ya?”
Vindra menghembuskan nspa skasar. Ia lupa kalau Anin baru saja belanja jadi Ia harus mengantarkan belanjaan Anin dulu sampai ke depan pintu unit apartemennya setelah itu barulah Ia pulang ke rumahnya.
“Okay aku anteirn sampai depan pintu abis itu aku bakal langsung pulang,”
“Ya terserah kamu mau langsung pulang silakan, mau mampir dulu juga nggak apa-apa, ada Mama aku di dalam,” ujar Anin yang dibalas dnegan gelengan kepala oleh Vindra.
“Nggak, aku mau langsung balik aja, Nin,”
“Ya okay,”
Mereka keluar dari lift dan langsung berjalan menuju unit apartemen Anin. Setelah tiba di depan pintu, Anin langsung membuka akses pintunya setelah itu Ia buka lebar-lebar pintu unit apartemen nya.
“Aku langsung pamit,” ujar Vindra sambil menyerahkan tad belanjaan Anin ke tangan Anin namun Anin minta tolong dibawa ke sofa ruang tamu.
“Nah gitu dong, masa dikaish ke aku sih, itu berat tau, udha paling benar taruh dulu di sofa baru deh kamu pulang. Makasih banyak ya untuk kebaikan kamu,”
Vindra menganggukkan kepalanya. Ia akan balik badan berjalan menuju pintu namun karena ada suara dari Ninda, Vindra langsung menoleh. Mamanya Anin itu menyapa nya dan tidka mungkin Ia langsung pergi begitus aja tak membalas sapa Ninda yang merupakan sahabat mamanya juga.
“Malasih ya udah antar Anin seperti biasa, maaf udha ngerepotin,”
“Sama-sama, nggak ngerepotin kok, Tante,“
“Oh iya kamu mau minum apa nih? Biar Tante siapin,”
“Maaf, Tante, aku mau langsung pulang aja,”
“Lho kok cepat? Emang kenapa buru-buru pulang?”
“Tau tuh mau ngebucin kayanya, Ma. Dia mau telponan sama Zeline padahal tadi ‘kan abis ketemu. Ta ya udahlah ya, namanya juga lagi dimabuk cinta,” ujar Anin menjawab kebingungan Mamanya karena Vindra langsung mau oulang padahal bisa berbincang dulu sebentar di ruang tamu sambil menikmati makan atau minuman dulu.
“Aku lansgung pulang aja, Tante,”
“Oh gitu ya udah deh, hati-hati ya, sekali lagi makasih udah antar Anin, dan salam untuk Mama kamu,”
“Siap, nanti aku sampeins alam dari Tante. Aku pergi dulu ya, Tan,”
“Iya hati-hati, Vin,”
Vindta diantar oleh Anin dan Mamanya hingga ke depan pintu. Setelah Vindra tidak terlihat lagi barulah Anin dan mamanya masuk ke dalam unit.
“Kamu belanja apa aja? Cuma belanja doang nggak mampir kemana-mana gitu?”
“Nggak, orang Vindra udah mau buru-buru pulang, Ma,”
“Beneran dia mau ngebucin? Tadi kamu bilang gitu ‘kan?”
“Kya beneran, dia mau ngebucin sama pacarnya,”
“Oalah pantesan, tapi emang nggak ketemu berapa lama sih? Bukannya tiap hari ketemu ya?”
“Lah sebelum antar aku ke supermarket, Vindra itu pergis aka Zeline, Ma,”
“Ya namanya juga anak muda, nggak ketemu berapa jam aja rasnaya udah rindu berat,”
“Ah lebay,”
“Lah, ‘kan cinta anak muda memang begitu, Nin. Nggak ketemu bentar rasnaya tuh udah rinduuuu banget, apdahal nih baru sejam atau dua jam pisah. Benar-benar deh, beda banget sama zaman dulu ya. Mama Papa jarang banget ketemu, udah gitu teknologi belum secanggih sekarang yang bisa tiap menit berinteraksi. Makanya kamu nggak ada niat mau cari pacar gitu, Nin? Biar kamu tau gimana rasanya dikangenin sama cowok, jadi ‘kan sama kayak Zeline,”
“Iya ntar kalau udah ketemu juga aku bakal ngerasain dikangenin sama cowok kok, Ma,”
******
“Udah jalan sama Zeline?”
“Udah, Ma,”
“Utu belanjaan kamu? Banyak juga, Vin,”
“Hahaha iya sekalian buat cemilan aku sekarang, Ma,”
“Oh, pergi ke je supermarket aja? Apa mampir kemana dulu?”
“Abis belanja sama Zeline, aku nyamperin Anin, Ma. Dia minta ditemenin belanja juga kebetulan jadi aku ke apart dia terus aku temenin dia belanja di supermarket,”
“Oh pergi sama Anin juga ternyata?”
“Iya, Ma. Oh iya Tante Ninda titip salam buat Mama,”
__ADS_1
“Oh iya salamnya diterima, kamu sempat ketemu sama Tante Ninda ternyata,”
“Iya, Ma,”
“Ya udah sekarang kamu siapin deh itu keperluan kamu mau pergi, Nak,”
“Iya tapi aku malas, Ma. Remcananya mau nonton bola dulu,”
“Ih jangan malas begitu dong, Vin. Ntar kalau buru-buru ada aja yang ketinggalan,”
“Iya deh aku beresin keperluan aku sekarang, Ma,”
Vindra langsung bergegas ke kamarnya untuk menata keperluannya selama pergi dengan tujuan kegiatan sekolah.
Ia mengeluarkan travel bag, ransel, kemudian Ia memilih baju yang hendak Ia bawa, peralatan mandi, dan lain-lain. Sebelum Ia tata did alan travel bag Ia meraih ponselnya dan mendoati ucapannya tadi yang ingin menghubungi Zeline melakui sambungan panggilan video.
“Hai, Zel,”
“Hai, kamu lagi apa? Udah sampai di rumah ya?”
“Udah, Zel,”
“Oh gitu, okay,“
“Aku lagi mau beres-beres keperluan aku nih, kamu gemenin aku ngobrol aja deh biar aku nggak sepi ya ‘kan,”
“Cie yang mau beres-beres,”
“Iya semoga beres deh,”
“Beres dong, asal niatnya begitu. Aku aja tadi agak malas terus akhirnya beres juga, snack aku udah mausk ke tas,”
“Enak ya udah siap berarti,”
“Iya,”
“Jadi kamu sama Anin ke supermarket ya tadi?”
“Iya, Zel,”
“Terus belanjanya lama di sana?”
“Nggak juga, ini buktinya aku udah sampai di rumah,”
“Terus kamu antar sampai ke apartemen ya?”
“Iya, aku bahkan ketemu Mamanya dulu bentar, abis itu aku langsung pulang deh,”
“Oh, kamu mampir ke dalam?”
“Iya, tapi cuma ngeletakkin belanjaan Anin doang, terus diajak ngobrol bentar sama Tante Ninda, nggak dnak ‘kan kalau nggak aku tanggapi, setelah ngobrol bentar baru deh aku pulang,” ujar Vindra yang sudah menjawab rasa penasaran sang kekasih.
Vindra sudah mulai sibuk dengan kegiatan beres-beresnya sementara ponsel sengaja Ia letakkan di kaki nakas sehingga Zeline bisa melihat apa yang sedang dilakukan kekaishnya itu.
Vindra membereskan semua keperluannya di atas lantai kamarnya. Dan melihat keseriusan Vindra dalam membereskan smeua keperluannya itu, Zeline terkekeh.
“Kamu kalau serius gitu lucu ya,”
“Masa sih?” Tanya Vindra sambil tersenyum tipis dan menomeh ke kamera.
“Iya beneran, keliatan lucu gitu, dan makin ganteng sih jujur,”
“Cielah yang muji aku ganteng, jarang lho kamu muki aku, gengsi biasnaya gede,”
“Hahaha kamu juga ya!”
“Nggak ah, aku sering muji kamu,”
“Dih emang iya? Kayaknya nggak deh,”
“Kamu nggak tau aja aku tuh hampir tiap hari muji kamu lho,”
“Serius?”
“Iya, dalam hati suka ngomong ‘cewek gue cantik banget’ tapi kamu nggak tau ‘kan pasti?”
“Ya iyalah gimana bisa tau orang kamu ngomongnya di dalam hati?”
“Hahahaha iya juga sih,”
“Tapi aku juga kalau muji kamu suka di dalam hati sih. Sebenarnya sering muji tapi jarang diucapin aja mungkin jadi kamu mikir ya aku cewek yang gengsinya gede,”
“Nggak apa-apa gimanapun kamu, aku terima, dan begitupun sebaliknya. Aku haro gimanapun aku, bsia kamu terima dengan baik ya,”
“Kalau nggak nerima ya udah lama putus kali,”
“Heh jangan ngomongin kata keramat itu deh, aku nggak suka,” tegur Vindra sambil menatap Zeline dengan sorot mata kesal dan tangannya berhenti bekerja.
“Iya okay, Kamu udah makan belum?” Tanya Zeline.
“Ntar aku mau makan mie, kamu temenin aku makan ya, Zel,”
“Kamu mau makan mie? Ih aku juga lengen, ntar aku juga makan mie deh, barengan ya,”
“Tapi aku lagi beresin ini, nggak apa-apa?”
“Ya nggak apa-apa dong, santai aja,”
“Okay deh tunggu aku bentar ya,”
“Sip, nggak usah buru-buru, kamu santai aja,”
“Tapi kamu udah lapar ‘kan, Zel?”
“Nggak kok belum, aku kepengn aja sebenarnya mah nggak lapar,”
“Hahahaha kok sama sih kayak aku? Pantes jadi pacar ya, soalnya suka samaan gitu,”
“Aku pikir kamu lapar lho,”
“Nggak juga sih, cuma lagi kepengen aja, sempat bamdoos tadi dan entah kenaoa kepikiran pengen mie,”
“Lho, kamu badmood kenapa?”
“Hmm? Nggak apa-apa,”
“Apa badmood sama aku ya?”
“Mggak lah, masa kamu sih? Nggak ada urusannya kamu lamu, Zel,”
“Tadi soalnya pas beli makanan ringan aku ‘kan semoat kesal sama kamu gara-gara kamu larang aku beli yang pedas, apa mungkin gara-gara itu?”
“Nggak, jangan pernah nyalahin diri sendiri gitu dong. Aku badmood bukan karena kamu,”
“Terus karena apa dong?”
“Tadi sempat kesal sama Anin aja dikit,”
“Hah? Kamu kesal sama Anin? Emang Anin salah apa sama kamu?” Tanya Zeline pada kekaishnya itu. Jujur Zeline panasaran sekali sebab tidka biasanya Vindra badmood pada sahabatnya, biasanya juga goodmood terus.
Pasti ada kesalahan yang Anin perbuat dan itu di mata Vindra cukup mengganggu makanya Vindra sampai kesal.
“Ada lah, nggak usah kamu pikirin,”
“Ih kok gitu sih? Aku ‘kan penasaran tau,”
“Ya biasalah, gara-gara perdebatan kecil,”
“Ah biasanya kamu nggak denat-dehat deh sama Anin,”
“Tadi gara-gara helm, aku nya yang lagi sensi deh kayaknya,”
“Gara-gara helm? Lho kok bisa?”
“Ya bisa? Aku kesal sama dia gara-gara helm, Zel,”
“Ya ampun, emang kenapa sama helm?”
Vindra tertawa mendengar pertanyaan polos Zeline. Mungkin yang ada di pikirannya helm lah yang membuat Ia kesal, padahal Anin, helm tidak salah, malah tidak ada salah sedikitpun.
“Jadi tadi aku pinjemin helm kamu ke dia. Terus ‘kan ada harum rambut kamu yang ketinggalan, aku aja suka banget kok, eh dia malah nolak. Dia bilang, dia nggak suka sama harumnya tambut lamu. Ya aku kesal lah. Nggak sukanya tuh ksnapa? Prang harumnya enak kok, aku aja suka banget karena segar, dan dia ketus gitu nolaknya smabil ngembaliin helm punya kamu,”
“Ya mungkin selera wangi-wangiannya dia sama aku beda,”
“Iya sih aku paham, cuma masalahnya harum itu udah tipis banget, dan dia yang bikin ribet. Tinggal pake doang apa susahnya sih? Udah aku pinjemin ‘kan, lagian ya, helm itu dipakainya di kepala, bukan di hidung, harum setipis itu nggak bakal sampai ke hidung dia. Emang dasar dianya ribet, jadi aku kesal deh,”
Zeline terkekeh dan memaklumi perilaku Anin. Ia tidka mau semkain membuat hati Vindra jadi kesal pada Anin.
“Ya udah maafin Anin ya,”
“Aku maafin, Zel. Dan yang bikin aku nggak suka selanjutnya apa? Dia nggak sopan, udah ketus ngomong ke aku, eh helm kamu dikembaliin ke aku nya gitu banget, sambil dia minta helm aku aja yang dia pake,”
“Jadi helm kamu yang Anin pake?”
“Iyalah, dia udah minta kayak gitu,”
“Ya udah nggak apa-apa, jadi amsalahnya udah selesai dong harusnya, iya ‘kan?”
“Udah, buktinya aku udah antar dia ke apartemen nya, bahkan aku yang bawa belanjaannya juga kok sampai ke dalam apartemen dia, walaupun aku agak kesal sama dia tapi aku tau tugas aku sebagai cowok dan sahabat dia itu apa,”
“Apa emangnya?”
“Ya bantuin dia kalau dia lagi ngalamin kesulitan,”
“Yaudah jangan kesal lagi ah. Aku nggak mau kamu kesal sama siapapun, cukup aku aja hahaha,”
“Kamu dmang sekarang lagi kesal sama siapa?”
“Ya nggak ada sih,”
“Kirain ada, ya kalau ada cerita lah ke aku,”
“Nggak kok,”
Zeline mengamati kekaishnya yang maish sibuk dengan kegiatannya itu. Benerapa menit mereka sama-sama terdiam. Zeline hanya memperhatikan apa yang dilakukan kekaishnya melakui sambungan panggilan video sambil Ia menikmati makanan di gan yang tadi dibelinya.
“Aku berasa nonton film cowok lagi belajar mandiri deh hahahaha,”
Vindra langsung menoleh ke kamera dan terkekeh. “Iya juga ya, mana kamu merhatiin aku sambil makan lagi, persis kayak lagi nonton film aja,”
“Abis gerutu soal helm dan Anin sekarang serius lagi sama pakaiannya, hebat kamu,”
“Ya akalu aku gerutu doang kapan selesainya, Zel?”
“Ya bagus, nggak mementingkan emosi ‘kan,”
“Aku baru kali ini lho meras akesal banget sama Anin, kesal ya tuh kesal pakai banget, biasanya ‘kan nggak tuh,”
“Iya biasanya kamu tuh nggak pernah keliatan kesal sama Anin. Kamu selalu nurutin apa maunya dia tanpa protes, tanpa ngomel, pokoknya selalu baik deh nggak pernah keliatan badmood kalau sama Anin, makanya tadi aku sempat kaget pas dengar dari kamu kalau kamu badmood gara-gara Anin,”
__ADS_1
“Iya emang aku badmood banget tadi, parah. Mungkin karena aku lagi sensi aja kali ya? Atau mungkin aku udah merasa capek gitu nyamperin dia eh dia nya malah kayak gitu. Aku padahal sampai ngorbanin waktu aku sama kamu demi temenin dia tapi dia nya nyebelin,”