Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 165


__ADS_3

“Arghhh sialan!”


Vindra meringis kesakitan dan langsung dibantu oleh beberapa orang untuk bangkit setelah dibuat terjatuh oleh sebuah motor yang sengaja menyenggolnya hingga Ia yang sedang mengendarai motor terjatuh. Beruntungnya tak ada kendaraan lain yang menghantam badannya ketika Ia terjatuh.


”Mas nggak apa-apa? Ayo diantar ke rumah sakit, Mas,”


“Saya baik-baik aja, Pak. Makasih udah bantu saya,”


“Sama-sama, Mas. Beneran nggak apa-apa?”


“Iya, Pak. Saya mau langsung pulang aja,”


“Harap dimaafin ya Mas orang kayak gitu. Abis nyenggol langsung seenak hati kabur, untung bapak nggak kenapa-napa,”


Vindra tersenyum saja. Sebenarnya susah memaafkan orang seperti itu. Ia sudah dibuat celaka, walaupun ini termasuk ringan, tapi tetap saja tidak ada yang tahu nasib. Bisa jadi ketika Ia jatuh tadi tiba-tiba ada kendaraan yang menghantamnya tapi bersyukurnya Tuhan baik sehingga Ia dibuat sekamat walaupun jalan raya lagi cukup ramai dan kejadian itu terjadi terlalu mendadak.


“Diantar aja ke rumahnya ya, Mas? Takutnya Mas belum sanggup bawa motor,”


“Nggak usah, saya sendiri aja, Pak,”


“Ya udah hati-hati ya, Mas, semoga selamat sampai tujuan, aamiin,”


“Iya makasih ya, Bapak-bapak semuanya udah bantu saya,”


Vindra mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan memberikan kepada salah satunya.


“Makasih sekali lagi, ini ada sedikit rezeki buat bapak-bapaknya beli kopi,” ujarnya.


“Eh nggak usah, Mas. Nggak minta dibalas kok,”


“Iya saya paham, tapi saya cuma mau ngasih aja buat beli kopi soalnya saya daris ini juga mau ngopi,” candanya sambil terkekeh.


Vindra sangat bersyukur dibantu oleh mereka yang rela turun dari kendaraan, bahkan sedang bekerja juga menjadi tukang parkir. Kalau tidak ada mereka, Ia pasti akan sangat kesulitan bahkan untuk sekedar bangkit berdiri.


“Saya pergi dulu, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, hati-hati ya, Mas,”


“Siap, heheh,”


Vindra langsung tancap gas dengan motornya meninggalkan tempat dimana Ia mendapatkan musibah.


Vindra sampai di rumah dengan keadaan baju seragam yang sedikit kotor di lengan, sikunya juga tergores dan berdarah. Mamanya yang melihat itu sudah bisa menebak bahwa Ia baru saja mengalami suatu kejadian.


“Ya ampun kamu kenapa, Vin?”


“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Vindra yang tidak mau membuat Mamanya khawatir.


“Nggak apa-apa gimana? Udah jelas tuh kamu dekil oulangnya terus tangan kamu kenapa ini? Kamu habis jatuh ya? Hah? Cepat bilang sama Mama jatuh dimana? Apa ditabrak orang?”


“Nggak, Ma,”


“Ih kamu ini kenapa sih nggak mau jujur,”


Vindra hanya tidak maj membuat mamanya khawatir. Ia sudah mengalami kecelakaan yang cukup parah dan itu membuat mama dan papanya hampir gila karena diserang rasa khawatir.


“Ayo duduk dulu biar Mama obati,”


“Aku ganti baju dulu ya, Ma? Mau mandi juga deh buar bersih,”


“Ya udah sana, sekalian bersihkan lika kamu itu terus nanti Mama obatin ya,”


“Iya, Ma,”


“Dan kamu harus cerita sama Mama nanti! Pokoknya harus! Nggak boleh nggak,”


Vindra terkekeh mendnegar ucapan mamanya. Ia mengangguk saja, Ia tidak tahu nanti akan jujur atau tidak, tergantung situasi atau kondisi.


******


-Tadi gue kayak liat Vindra jatoh deh, di jalan pilang dari sekolah. Kayaknya sih dia ya kalau dari motornya. Cuma gue udah dibawa ngebut sama bang ojek, njir. Jadi gue nggak tau iyu beneran dia apa bukan-


-Iya emang, Vindra udah klaripikesyen. Dia cerita ama gua-


Pesan di grup angkatan yang dibaca oleh Zeline langsung membuat Zeline mengernyitkan keningnya.


“Vindra jatuh di jalan? Maksudnya kecelakaan gitu?” Gumamnya.


-Terus gimana keadaan doi?-


-Baek, cuma lecet doang. Itu tadinya dia nggak mau jujur, tapi karena gue ajakin ngopi di kafe, baru deh dia bilang nggak bisa badan dia lagi pada nggak enak abis jatoh disenggol orang-


-Tanggung jawab nggak orang itu?-


-Nggak lah, njir. Ditinggal gitu aja si Vindra nya. Ditolong sama bapak-bapak malah kata Vindra. Dan untungnya Vindra bilang cuma lecet-lecet doang si, semoga aja dia nggak boong. Ntar tau-tau udah di rumah sakit kayak waktu itu-


-Jangan ngomong gitu njir, doa yang bener lo!-


-Gue nggak doain yang jelek, gue doain yang baik malah semoga dia nggak kenapa-napa. Semoga dia nggak bohong. Takutnya nih ya, bilangnya cuma lecet doang tapi ternyata lebih daripada itu. Kan kita nggak tau persis kejadiannya kayak gimana-

__ADS_1


-Biarpun lecet doang tetap aja nyakitin. Apalagi ketiban motornya yang gede tuh-


Teman-teman seangkatan Zeline dan Vindra masih bersahut-sahutan di grup chat. Zeline berinisiatif untuk bertanya langsung pada Vindra. Biar bagaimanapun Vindra adalah temannya. Dan Ia penasaran dnegan keadaan Vindra.


-Vin, di grup rame lo jatuh. Itu bener? Terus keadaan lo gimana?-


*****


“Duh pelan-pelan, Ma. Sakit jangan terlalu ditekan ngobatinnya, Ma,”


“Nggak ah, orang Mama udah pelan-pelan kok. Jangan cemgen jadi laki-laki tuh,”


“Bukan cengeng, Ma. Ini beneran perih, aku kan jarang luka-luka kayak gini. Emangnya Mama yang suka luka karena di dapur mulu,”


“Ya udah Mama minta maaf kalau ngobatinnya terlalu kasar menurut kamu. Sebenarnya Mama tuh lembut cuma karena kulit kamu lagi kebuka aja jadi rasanya kayak Mama kasarin, padahal nggak kok, nih liat aja sendiri,”


Rina sudah berusaha selembut mungkin mengobati anaknya tapi tetap saja bagi sang anak, Ia kasar. Vindra memang paling tidak bisa diobati kalau terluka. Sering menolak, kalaupun mau pasti kesakitan terus.


“Bukan cengeng ini, Ma. Aku nggak suka aja sensasi pedihnya, panasnya,”


“Iya-iya, Mama ngerti,”


“Udah, Ma. Ntar juga sembuh sendiri,”


“Ah kamu nih. Ntar sembuh gimana caranya kalau nggak diobatin? Harus diobatin lah biar nggak infeksi. Jangan susah kalau mau diobatin tuh,”


Rina memarahi anaknya yang susah disuruh minum obat, susah juga kalau diobati bila terluka. Padahal mau sembuh.


“Kenapa kamu bisa kayak gini? Cepat jujur sama Mama,”


“Aku jatuh aja, Ma,” aku Vindra karena sudah berulang kali mamanya bertanya dan baru kali ini Ia jawab.


“Yang benar! Jangan bohong,”


“Iya beneran,”


“Bukan karena ditabrak atau disenggol orang?”


“Bukan,”


“Bohong kayaknya,”


“Kok Mama ngomong gitu? Emang Mama tau darimana kalau aku bohong? Aku jujur kok, Ma. Aku jatuh karena kecerobohan aku sendiri,”


“Dari mata kamu Mama bisa nilai,”


“Kamu dicelakai sama orang ya? Hmm? Jawab jujur,”


“Nggak, Ma,”


Kalau Ia jujur Mamnaya pasti emosi. Sudah khawatir ditambah lahi emosi. Lengkap sudah. Vindra tak mau itu terjadi.


“Karena kayaknya kamu nih dicelakai sama orang deh,”


“Yang penting aku baik-baik aja, Ma. Udah Mama nggak usah khawatir lagi ya. Aku kan nggak kenapa-napa, jadi Mama nggak usah mikirin aku begini karena siapa dan gimana kejadiannya,”


“Ya Mama harus tau lah karena Mama ini orangtua kamu, Mama yang lahirin kamu, Vin. Mama nggak terima anak Mama luka, kenapa-napa, Mama ikutan sakit ngeliatnya,”


“Tenang ya, Ma. Aku baik-baik aja kok,”


“Kamu harus lebih hati-hati berkendara, Vin,”


“Iya siap, Ma,”


Vindra melihat ponselnya berkedip dan bergetar di atas meja. Ada pesan yang baru masuk dan Ia segera meraih ponselnya.


Ternyata pesan masuk itu baru saja Ia terima dari Zeline. Senyumnya tak bisa di smebunyikan begitupun dengan perasaannya yang berbunga-bunga. Tanpa melihat isi pesan, hanya sekedar lihat nama pengirim aaja Ia sudah bahagia sekali, apalagi ketika Ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Zeline.


“Ini serius Zeline nanyain keadaan gue? Seneng banget bacanya,”


“Heh! Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Hah?”


Vindra terkejut ketika mamanya memergoki Ia yang sedang tersenyum karena membaca pesan dari Zeline.


“Nggak apa-apa, Ma,”


“Udah selesai nih Mama obatin semoga lukanya cepat sembuh ya,”


“Makasih ya, Ma,”


“Sama-sama, udah sana istirahat. Kamu kenapa lagi senyum-senyum gitu? Kayak abis dapat uang segepok aja,”


“Hahahaha ini lebih membahagiakan dari sekedar dapat an segepok, Ma,”


“Oh ya? Emang ada apa?”


“Aku senang banget,”


“Iya kenaoa senangnya? Apati ada sebab ‘kan?”

__ADS_1


“Iya pasti ada lah, Ma,”


“Ya udah apa dong sebabnya,”


Vindra langsung menatap mamanya dnegan sorot mata yang usil dan itu membuat Mamanya bingung. Alih-alih menjawab, Vindra malah seperti ingin mengejeknya.


“Mama penaaaran banget?”


“Ah nggak tau ah. Orang kalau nanya tuh ya udah jelas penasaran lah ngapain masih tanya begitu sih kamu?”


“Iya okay, Zeline tanya keadaan aku, Ma,”


“Oh ya?”


“Iya, dia ternyata tau aku abis kena musibah, dari geup chat angkatan sih kayanya. Terus dia nanya keadaan aku,”


“Ph ya udah langsung dijawab aja,”


“Pasti dong, Ma,”


Vindra segera mengetik balasan pesan untuk Zeline supaya Zeline tidak terlalu lama menunggu jawabannya. Vindra tak mau terlalu percaya diri tapi barangkali benar kalau Zeline sedang menunggu balasan pesan darinya.


-Aku baik-baik aja kok, cuma lecet doang dikit-


-Makasih ya udah perhatian sama aku, Zel. Jujur aku senang banget ditanyain sama kamu-


Tak lama kemudian Ia dapat balasan pesan dari Zeline. Vindra segera membukanya tanpa menunggu waktu lama.


-Kamu kan udah jadi teman aku sekarang ya wajar aja aku tanya keadaan kamu karena aku tau kamu abis dapat musibah. Masa iya ke teman nggak peduli? Nggak mungkin dong-


-Iya makasih, Zel. Tapi kamu khawatir nggak?-


-Emang itu penting ya buat lo tau?-


Vindra tertawa membaca pesan itu. Menurutnya sangat penting untuk Ia tahu apakah Zeline khawatir atau tidak tentang kondisinya.


-Aku pengen tau banget kamu khawatir nggak aama aku?-


-Nggak, biasa aja-


-Masa? Tapi kok nanya-nanya?-


-Ya karena kita udah berteman, gue anggak kita udah berteman. Masih nggak paham juga?-


-Hahahaha okay berarti nggak khawatir?-


-Biasa aja-


-Hmm kecewa dikit si sebenarnya. Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting udah ditanyain sama kamu-


Rina yang melihat anaknya senyum-senyum memperhatikan ponsel hanya bisa geleng-geleng kepala.


Vindra keluhatan bahagia sekali mendapatkan pesan dari Zeline yang menanyakan keadaannya. Rina semakin yakin kalau anaknya itu belum bisa move on dari Zeline.


“Udah chat nya? Kok berhenti?”


“Udah, Ma,” jawab Vindra sambil terkekeh.


“Apa katanya?”


“Dia bilang nggak khawatir sama aku pas aku tanya dia khawatir nggak? Dia gengsi deh kayanya. Ya kalaupun itu benar nggak apa-apa sih yang penting dia udah chat aku nanyain kabar, biarpun mau pakai alasan udah teman atau segala macam aku nggak peduli,”


“Memang Zeline pakai alasan udah berteman makanya nanyain keadaan kamu? Atau gimana? Mama belum paham,”


“Iya dia bilang dia nanyain keadaan aku karena aku dianggap teman dia. Jadi kalau teman ngalamin musibah ya udah sepantasnya ditanyain keadaannya, nggak bpleh jadi nggak peduli, Ma,”


“Memang dasar dia anak yang baik, jadi begitu lah,”


Vindra menganggukkan kepalanya setuju. Kalau tidak baik, tidak mungkin Ia merasa tertarik pada Zeline dan mereka menjalin hubungan sampai dua tahun,


“Makin nggak bisa move on ya? Hm?”


Vindra menghembuskan napas kasar kemudian memalingkan mukanya tak mau menatap ke arah sang mama yang baru saja bertanya seperti itu kepadanya.


“Dih orang ditanyain juga, malah nggak jawab,”


“Gimana ya, Ma? Masalahnya udah banyak yang antre, masa lalu nggak bisa jadi pemenangnya deh kayanya, Ma,”


Rina tertawa melihat anaknya yang mulai sendi ketika bicara. Vindra bisa selemah ini kalau urusan cinta.


“Kamu jangan takut kah, masih ada kesempatan. Lah emang yang antre itu usah paati disukain sama Zeline?”


“Ada Jery, ada Juan, dan aku nggak tau ada siapa lagi. Yang aku tau sih mereka berdua terang-terangan naksir Zeline, mungkin masih ada lagi cuma nggak terang-terangan,”


“Tapi Zeline masih betah jomblo?”


“Nggak tau deh, Ma. Aku nanya jyga percuma dia nggak terbuka soal itu. Dia dekat dan baik ke semuanya. Jadi aku juga bingung. Entah udah punya yang baru tapi nggak keliatan atau emang belum,”


******

__ADS_1


__ADS_2