Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 28


__ADS_3

“Ya ampun, beneran telat kita,”


Usai juga rasa panik Zeline selama di perjalanan. Dan akhirnya seperti apa yang sudah Ia duga, yaitu terlambat.


“Udah dikunci pagarnya, duh gimana nih?”


“Ya udah aku bilang Pak satpam dulu deh,”


“Kalau tetap nggak dibolehin masuk gimana coba? Nanti jangan-jangan kita disuruh pulang,”


“Jangan khawatir, aku ngomong dulu ke pak satpam nya,” ujar Vindra.


Vindra tidak mengizinkan Zeline untuk merasa khawatir, bagaimana bisa? Zeline benar-benar takut tak dibukakan gerbang sehingga Ia tak bisa mengikuti kegiatan belajar hari ini. Ia takut juga orangtuanya tahu Ia terlambat dari laporan guru.


“Assalamualaikum pagi, Pak. Boleh minta tolong gerbangnya dibuka nggak, Pa? Sebelumnya minta maaf udah datang terlambat,”


“Waalaikumsalam, waduh ini lupa atau gimana? Jam berapa waktunya masuk kelas?”


“Jam tujuh, Pak,”


“Sekarang jam berapa?”


Vindra melihat arloji di tangannya sebelah kiri. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Vindra tersenyum meringis.


“Setengah delapan, Pak,” jawab Vindra.


“Nah, berarti udah nggak bisa lagi,”

__ADS_1


“Minta tolong bukain, Pak. Janji deh nanti lain kali nggak terlambat lagi, saya mohon, Pak,” Zeline ikut turun tangan meminta bantuan security agar bersedia membukakan gerbang.


“Zeline sama Vindra tumben terlambat. Biasanya juga nggak,” ujar Pak Anton yang merasa bingung karena tak biasanya Zeline dan Vindra datang terlambat ke sekolah.


“Iya kesiangan, Pak,” ujar Zeline tanpa mau menyampaikan bahwa keterlambatannya kali ini bukan karena kesalahan siapapun selain dirinya.


“Bangun kesiangan?”


“Iya, Pak,”


“Kok kompak begini telatnya? Bangun kesiangan semua?”


“Iya, Pak,” kali ini Anin yang menjawab.


“Pak Anton, siapa itu yang terlambat?”


“Eh Zeline, Vindra, Anin terlambat? Kok bisa? Kenapa terlambat? Alasannya apa?”


“Bu Intan, Maaf. Kami bangun kesiangan, ditambah macet juga,” ujar Vindra menjelaskan.


Zeline sudah menahan kesal sejak dalam perjalanan, sekarang ditambah lagi Ia terlambat. Rasanya semakin kesal tapi tak bisa diungkapkan, yang akhirnya malah membuat Ia menangis.


Buru-buru Zeline menghapus air matanya. Ia tak pernah mau ada di situasi seperti ini karena Ia bukan anak yang punya nyali besar. Setelah ini, Ia harus siap-siap pulang ke rumah, dan orangtuanya dihubungi oleh wali kelasnya. Ia berharap orangtuanya tak mengira Ia melakukan hal tidak baik makanya terlambat datang ke sekolah.


“Kalian boleh masuk, tapi harus dihukum ya,”


Zeline, Vindra, dan Anin saling menatap satu sama lain. Zeline paling cepat mengangguk. Baginya tidak masalah dihukum, setidaknya Ia bisa masuk sekolah.

__ADS_1


“Iya nggak apa-apa, Bu,”


“Hukumannya apa, Bu?”


“Perpustakaan lagi bersih-bersih, bantuin ya,”


“Siap, Bu,”


Vindra dan Zeline kelihatan sekali semangat menjalani hukuman. Prinsip mereka sama, yang penting bisa masuk sekolah.


“Bu, tapi Anin kakinya lagi sakit, saya aja yang gantiin ya, Bu?”


Zeline menatap Vindra dan gurunya bergantian. Zeline tercengang karena Vindra mau menggantikan Anin yang kakinya sedang tidak baik-baik saja. Zeline pikir, Ibu Intan punya tugas khusus untuk Anin yang Ia lihat menggunakan alat bantu jalan. Ibu Intan juga bisa menilai kalau kondisi kaki Anin sedang tidak baik, jadi seharusnya Vindra tak perlu khawatir kalau Anin akan diberikan tugas serupa dengan dirinya dan juga Zeline.


“Iya saya tau kok. Anin bantu sortir buku-buku lama yang mesti disingkirkan aja, ‘kan bisa sambil duduk. Setelah kalian bertiga berhasil kerjakan hukuman, baru deh bisa masuk kelas. Cuma bentar kok, dua jam pelajaran ya,”


“Siap, Bu,”


“Okay, besok-besok nggak ada cerita terlambat lagi ya, Vindra, Zeline, Anin,”


“Iya, Bu, sekali lagi saya minta maaf,”


“Sebenarnya bukan hanya kamu yang terlambat, Zel, tapi ada dua orang lainnya, kenapa dari tadi kamu yang paling keliatan tekadnya mau masuk sekolah?”


“Ini lagian kok kesiangan ya kompak bertiga sih?”


“Iya Bu karena kita ‘kan sahabatan jadi kompak,”

__ADS_1


“Ih aku nggak kesiangan sebenarnya!” Batin Zeline berontak tidak terima ketika diikut sertakan dalam kategori orang yang kesiangan.


__ADS_2