Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 95


__ADS_3

“Bukannya kalau dia ingetin kamu supaya ke dokter tuh malah bagus ya? Itu artinya dia perhatian sama kmau,”


“Ya ampun, Zel. Aku nggak butuh perhatian siapa-siapa udah cukup kamu aja yang perhatian sam aku,”


“Dih kok jadi bawa-bawa aku,”


“Dia tuh ngeledek aku dan malah suruh aku ke dokter THT karena aku bilang aku nggak bisa cepat angkat telepon dia karena nggak dengar. Anaknya emang suka ngomong tajam dia, dari dulu begitu, aku kadang kalau lagi nggak sanar aku balas ketus hahaha,”


“Kalau di depan aku akrab-akrab aja tuh, nggak pernah bernatem, nggak pernah ketus atau sinis,”


“Ya itu ‘kan di depan kamu, di belakang kamu besa cerita,” ujar Vindra.


Vindta dan Zeline makan berdua dnegan suasana yang hangat, tentram, damai. Menu makan siang mereka adalah bakso sapi.


“Ntar Anin udah mau pulang bareng kita dong ya?”


“Entahlah, aku juga nggak tau, Zel,”


“Kamu mau ajakin dia pulang bareng nanti?”


“Ya kalau ngajakin sih udah pasti ya. Tapi ‘kan nggak tau dianya mau atau nggak. Emang kenapa? Kamu merasa keberatan kalau mislanya aku ajak Anin pulang bareng?”


“Oh nggak-nggak, aku nggak keberatan kok, aku santai aja,”


Vindra menganggukkan kepalanya. Disaat mereka hampir menghabiskan bakso masing-masing, mendadak ada yang datang terburu-buru kenghampiri meja mereka dan itu Cintia, teman sekelas Vindr.


“Vin, Anin jatuh di kamar mandi,”


“Hah? Jatuh di kamar mandi? Terus sekarang Anin dimana?”


“Tuang UKS, Vin,”


Vindra langsung pergi begitu saja meninggalkan baksonya dan juga Zeline yang tadinya mau memasukkan bakso ke dalam mulut akhirnya tidak jadi karena mendengar kabar tidak enak tentang Anin.


Zeline berjalan di belakang Vindra yang kelihatannya panik sekali terbaca dari langkah kakinya dan juga ekspresi wajahnya. Itu normal, karena Anin itu salah satu orang terdekatnya dan saat ini Anin sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Anin jatuh di kamar mandi, dan bayangan orang kalau dengar ada yang jatuh di kamar mandi itu sudah ngilu duluan.


Vindra, Zeline, dan Cintia tiba di ruang unit kesehatan siswa. Di salah satu bangsal memang ada Anin yang terbarung di sana.


“Nin, gimana keadaan kamu? Apa yangs akit, Nin?” Tanya Vindra yang langsung menatap Anin penuh cemas.


“Aku baik-baik aja, cuma tadi agak sakit punggung aku tapi untung kepala aman doalnya aku lindungin pskai tangan aku sendiri,”


“Astaga, kok bisa sih kamu jatuh kayak gitu? Emang licin ya lantai kamar mandinya? ‘Kan rajin dienrishin tuhs ama cleaning service sekolah,”


“Aku juga nggak tau kenapa bisa jatuh, tiba-tiba aja kepleset, aku juga nggak mau lah itu kejadian sama aku, cuma ya gimana namanya juga musibah ‘kan. Biasanya juga aku nggak jatuh-jatuh kok, inie mang murni musibah aja,”


Tangan Vindra mendarat di ata spuncak kepala Anin dan sorot mata Vindra masih kagwatir sekali. Vindra yang bertanya soal keadaan Anin sementara Zeline diam me jadi pendengar karena apa yang dikatakan Vindra sudah mewakili pertanyana yang ingin Ia lontarkan.


“Tapi kamu beneran nggak apa-apa ‘kan, Nin? Apa perlu kita ke rumah sakit aja, Nin? Ya untuk lebih mastiin aja kamu nggak kenapa-napa,”


“Nggak usah, aku baik-baik aja kok, santai. Aku nggak cacat,”


“Anin jangan ngomong kayak gitu ah, nggak baik. Maksud Vindra, supaya lebih jelas aja gitu. Kalau dibawa ke unah sakit kamu bskal ketemu orang-orang yang paham tentang kondsii bafan kamu,”


“Zel, yang tau kondisi badan aku ya aku sendiri, bukan siapa-siapa. Aku sehat kok, cuma sakit punggung dikit, kepala aku aman,”


“Terus kaki kamu gimana?”


“Aman,“


“Jadi kamu beneran nih nggak mau ke rumah sakit diperiksa sama dokter?” Tanya Vindra yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Anin.


“Nggak, aku baik-baik aja, kamu nggak usah kahwatir,”


“Nin, takutnya kenapa-napa di dalamnya, saran aku—“


“Zel, aku baik-baik aja, kamu tenang deh jangan khawatir. Jangan ngajakin aku ke rumah sakit mulu, kalau aku bilang mggak mau ya nggak mau, jangan maksa,”


“Nin, niatnya Zeline baik kok, dia nggak mau kamu kenapa-napa, lebih baik diperiksa ‘kan daripada ketauannya telat,”


“Ih orang cuma jatuh di kamar mandi doang kok,”


“Ya kalau menurut kamu itu sepele terus kenapa kamu manggil aku ke sini? Hmm? Kenapa kamu minta Cintia untuk manggil aku sulaya datang disaat aku lagi makan bakso sama Zeline? Hmm?”


“Aku nggak nyuruh Cintia manggil kamu kok, jangan geer deh,” ujar Anin dengan ketus. Lalu Vindra menatap Cintia yang langsung menggelengkan kepalanya.


“Hmm?” Gumam Vindra sambil mengangkats alah satu alisnya. Kenapa jawaban Cintia dan jawaban Anin berbeda? Barusan Anin bilang bukan dia yang menyuruh Cintia tapi Cintia menggelengkan kepalanya tanpa suara.


“Jadi kamu mggak mau ya dibawa ke rumah sakit? Ya udah kalau gitu, sekarang maunya gimana? Kamu mau aku anterin pulang?”


“Nggak, nanti aja kalau emang udah waktunay, sekarang aku mau balik ke kelas tolong antar aku aja,”


“Okay aku antar,”


“Kamu ajdi belum selesai makan?”


“Belum,”


“Ya udah sana balik lagi abis antar aku,”


“Nggak usah, udah dibayar ini, nggak apa-apa ya, Zel?” Tanya Vindra pada Zeline yang langsung menganggukkam kepalanya tidak keberatan. Zeline sudah kenyang, dan memang kebetulan bakso itu juga sudah dibayar saat pesan tadi jadi tidak masalah mereka meninggalkan bakso yang belum habis di sana.


Vindra dan Zeline mengantarkan Anin ke kelas. Di kanan Anin ada Vindra dan di kiri Anin ada Zeline. Mereka berdua mengantar Anin ke kelas. Di tengah perjalanan Anin tiba-tiba menghentikan langkah smabil memegang pinggangnya dan Vindra dengan sigap memegang punggungnya kalau-kalau Anin tumbang mendadak.


“Kamu kenapa?”


“Nggak aap-apa pinggang aku baru berasa nih,”


“Tuh ‘kam, makanya ke rumah sakit aja, Nin. Aku khawatir deh, aku takutnya—“


“Zeline khawatir bangets aka aku. Tenang, Zel, kamu jangan nyuruh aku ke rumah sakit terus,”


“Tapi bener lho kata Zeline takutnya kamu kenapa-napa did alam dan kita nggak ada paham karena kita orang awam ‘kan, yang paham dokter,”


“Udah dibilang yang paham badan aku sendiri tuh ya aku, bukan siapa-siapa,”


Vindra dan Zeline semoat saling menatap untuk beberapa detik setelah mendengar jawaban Anin yang keras kepala sekali. Diajak ke rumah sakit menolak terus padahal itu untuk kebaikannya juga.


“Ya udahlah, Anin nya nggak mau, Zel, biarin aja kalau begitu,” ujar Vindra pada Zeline.


Tiba di kelas, Vindra dam Anin membantu Anin duduk dengan nyaman dan Anin langsung tersneyum kelada mereka berdua.


“Makasih ya kalian udah antar aku sampai duduk lagi di tempat aku semdiri,”


“Iya sama-sama, ntar pulang sama aku aja ya,”


“Iya, tolong langsung antar aku ke apartemen boleh ‘kan?”


“Ya emang aku langsung antar ke apart pasti,”


“Maksud aku, tolong antar aku duluan ke aoart baru kamu antar Zeline ke rumahnya laham ‘kan?”


“Oh gitu, okay-okay nanti aku antar kamu duluan deh daripada Zeline, nggak amsalah ‘kan, Zel?”


Zeline tersenyum dan lagi-lagi mengangguk. Ia mau diantar pertama, atau kedua terima-terima saja. Yang terpenting bisa pulang pergi dengan Vindra. Itu sudah membuatnya bahagia sekali.


“Hmm ya udah kalau gitu aku balik ke kelas aku ya, Anin kalau nggak kuat jangan dipaksain mending pulang aja minta antar Vindra secepatnya nggak apa-apa atau ke UKS lagi,”


“Nggak mungkin, ada ulangan harian yang harus aku ikutin,”


“Tapi aku yakin kok gurunya pasti paham. Beliau nggak mungkin maksian keadaan kamu yang mungkin duduk aja masih agak susah,”


“Nggak kok aman-aman, makaish ya, Zel,”


“Okay sama-sama, aku pamit ke kelas dulu ya, bye,”


Zeline melambai singkat pada Vindra dan Anin. Bertepatan dengan keluarnya Zeline dari jeals kelaishnya itu, Cintia juga melakukan hal yang sama karena Ia ingin ke kamar amndi tadi mau ke kamar mandi jarena buang air kdcil tapi malah melihat Anin jatuh di kamar ambdi yang akhirnya membuat Ia mengurungkan niat akrena oanik.


“Cintia bentar deh gue mau ngomong sama lo,”


Zeline memanggil Cintia yang akhirnya mengurungkan niat untuk ke kamar mandi karena dirinya dipanggil oleh Zeline.


“Iya kenapa?”


“Tadi lo ngeliat Anin jatuh di kaamr mandi bilik mana?”


“Paling kiri kebetulan pintunya dibuka jadi gue tau,”


“Terus Anin semoat gimana? Nggak pingsna ‘kan tapi?”


“Nggak kok, dia aman, cuma meringis kesakitan aja dan itu eajar ‘kan namanya juga abis jatuh,”


“Iya lo bener, maaf gue mau tanya satu lagi yang nyuruh lo untuk buru-buru manggil Vindra siapa?”


“Anin sendiri, dia nyuruh gue untuk panggil Vindra,”


Penjelasan Cintia membuat Zeline menghela napas pelan. Apa susahnya jujur? Entah kenapa Anin malah bohong. Barusan Anin berkata kalau dirinya tidka menyuruh Cintia untuk memberitahu Vi dra tapi kenyataan benar Anin yang menyuruh Cintia untuk menghampiri Vindra dan melaporkan apa yang dialamai oleh Anin.


“Okay makasih ya, Cintia. Tolong jagain Anin ya,“


“Iya, lo kenapa baik banget sih?”


“Ya harus dong ‘kan sama sahabat sendiri,”


“Lo emangnya nggak cemburu ya?”


“Nggak kok,”


“Vindra ‘kan perhatian banget tuh sama Anin,”


“Ya wajar ‘kan Anin itu sahabatnya, Cin,”


“Ya iya sih, Vindra tapi baik banget, perhatian banget, gue kalau jadi lo pasti cemburu sih, lo nggak sama sekali?”


“Nggak, Anin sahabat aku,”


“Tapi pasti suka panas dikit ya? Hehehe,”


Zeline terkekeh dan menepuk pelan bahu Cintia. “Udah ya aku mau ke kelas dulu, Cin,”


“Okay, Zel,”


Cintia melanjutkan langkah kakinya ke kamar mandis ementara Zeline ke kelasnya sendiri. Ia duduk di kursi dan menghembuskan napas lega. Perutnya terasa kenyang, Ia usap pelan perutnya yang penuh.


“Abis makan aku langsung jalan cepat banget tadi, perut kaish kekenyangan aja ternyata, itu padahal nggak habis,” batin Zeline seraya terus mengusap perutnya. Ia tiba-tiba jadi mual. Mungkin karena setelah makan langsung jalan cepat-cepat jadi peurtnya terguncang dan membuat Ia agak mual sekarang.


Ia menoleh ke arah teman di sebelahnya, Ulfa. Ia mejawil lengan Ulfa dan itu membuat Ulfa langsung menoleh ke arahnya.


“Kenapa, Zel?”


“Bawa minyak kayuputih nggak?”


“Bawa-bawa dmang kenapa?”


“Mau minta boleh, Fa?”


“Oh boleh kok, bentar ya gue ambil dulu,”


Ulfa langsunh membuka tasnya untuk mengambil benda kecil berguna yang sedang dibutuhkan oleh Zeline.


“Lo kenapa, Zel?”


“Abis makan jadi begah dan agak mual,”


“Yah ampun, dkamg lo makan apa sih?”


“Aku makan bakso, nggak habis padahal tapi kayaknya karena abis makan aku panik deh jadi aku perutnya agak nggak dnak,”


“Emang kenapa lo panik?” Tanya Ulfa pada Zeline yang saat ini membalurkan perutnya setelah menyingkap seidkit seragam sekolahnya kemudian Zeline juga membalurkannya di dada juga tengkuk.


“Tadi ‘kan Anin abis jatuh di kamar mandi,”


“Hah? Seriusan lo?”


“Iya serius, dia abis jatuh di kamar mandi makanya aku samperin buru-buru banget abis makan,”


“Ya magian harusnya lo nggak perlu buru-buru lah,”


“Ya gimana aku khawatir takut Anin kenapa-napa,”


“Tapi Anin baik-baik aja ‘kan?”


“Syukurnya iya Anin baik-baik aja,”


“Nah ya udah Alhamdulillah kalau gitu lo harusnya nggak usah sepanik itu,” ujar Ulfa.


“Ya gimana, Fa. Aku takut banget Anin kenapa-napa, dia sahabat aku juga soalnya,”


“Iya gue paham dia sahabat lo dan sahabat pacar lo juga. Tapi ya jangan sampai lo khawatir sama Anin terus nggak khawatir sama badan lo sendiri masa sampai mau muntah gitu gara-gara langsung jalan cepat-cepat setelah makan, ya wajar sih kalau agak mual perut lo, karena gue juga gitu tau, abis makan langsung jalan-jalan pasti perut gue sakit deh tapi nggak lalab dari itu hilang sakitnya,”


Setelah membalurkan minyak kayuputih di beberapa bagian tubuhnya Zeline langsung mengembalikam kayuputih milik temannya itu sambil mengucapkan “Mkasih ya, Ulfa,”


“Sama-sama, semoga keadaan lo membaik ‘ya


Zeline meletakkan keningnya di atas lipatan lengan menunggu nyeri yang Ia rasakan hilang. Perutnya saat ini benar-benar tidak nyaman, Ia ingin berbaring secepat mungkin tapi sayangnya Ia masih di sekolah.


“Zel, kalau nggak kuat mending pulang,” saran Ulfa.


“Nggak, gue kuat ini karena kekenyangan aja deh,”


“Yah jangan dipaksa ntar lo kenapa-napa, mending pulang sana, mau gue izinin ke gueu piket sama guru yang mau masuk bentar lagi?”


“Eh nggak usah, tanggung juga udha mau pulang. Gue nggak apa-apa kok, santai aja,”


“Lo jangan santai-santai bae! Ntar kenapa-napa ‘kan repot urusannya,”


“Nggak, gue nggak bakal kenapa-napa ini tadi kekenyangan terus panik nyamperin Anin jadinya begini deh gue takut Anin kenapa-napa. Dia ‘kan sahabat gue juga,”


*******


“Perlu aku bantu nggak, Nin?”


Vindra


Mengulurkan tangannya ke arah Anin yang langsung menggelengkan kepala. Ia tidak menerima tawaran bsntuan dari Vindra yang izin dulu sebelum membantunya untuk berdiri.


“Orang aku nggak apa-apa kok, santai aja,”


“Santai aja-santai aja, gimana ceritanya bisa santai orang kamu abis jatuh,”


“Ya udah nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok,”


“Sini aku aja yang bawa tas kamu,”


Anin tidka mau dibangu berduri dan berjalan karena Ia merasa baik-baik saka walaupun masih ada rasa nyeri kalau punggungnya bergerak. Beruntungnya Vindra peka mau membantu dirinya membawa ransel.


Setelah itu Vindra dan Anin berjalan ke area parkir. Vindra langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Anin untuk masuk ke dalam mobilnya.


“Kamu tunggu bentar ya aku mau jemput Zeline di kelasnya,”


“Jemput?”


“Iya, dia pasti masih di kelasnya,”


“Emang harus banget dijemout? Nggak bisa dibubungin aja gitu?”

__ADS_1


“Takutnya dia maish belajar, Nin. Cuma bentar aja kok,”


“Ya udah okay, aku tunggu di mobil ya,”


“Iya aku cuma bentar aja kok,”


Vindra meninggalkan Anin di dalam mobilnya setelah itu Vindra berlari kecil menuju kelas kekasihnya.


Benar dugaannya Zeline masih belajar. Sepuluh menit Ia menunggu barulah Zeline dan teman-temannya keluar dari kelas. Vindra tersenyum menatap kekaishnya itu.


“Kita langsung pulang ya?”


“Iya, Zel. Anin udah nungguin di mobil. Ayo kita agak cepat ke parkiran dia sendirian tuh,” ajak Vindra seraya menggenggam tangan kekasihnya dan mereka berjalan beriringan ke parkiran.


“Anin nggak apa-apa ‘kan tapi?”


“Aman dia, emang kenapa?”


“Ya nggak apa-apa aku takut aja gitu dia kenapa-napa,”


“Nggak kok, dia aman,”


“Tapi kok kamu masih keliatan cemas gitu sih?”


“Nggak cemas lagi kok, udah biasa aja, tadi doang gara-gara dengar kabar Anin jatuh,”


“Tadi aku pas masuk kelas tiba-tiba mual, kayaknya karena kekenyangan deh sama tegang setelah tau Anin jatuh,”


Vindra langsung menolehkan kepalanya dan menatap Zeline dengan kening mengernyit. “Terus gimana? Sekarang masih mual atau udah nggak?”


“Nggak sih, syukurnya udah hilang,”


“Padahal ‘kan bakso kamu nggak habis kekenyangan gimana?”


“Iya tapi tetap aja porsi yang aku makan udah cukup banyak,”


“Aku ada minyak kayuputih di mobil nanti kamu pakai itu ya,”


“Nggak usah, aku udha pakai punya Ulfa tadi, aku minta punya dia aja, gara-gara aku nggak bawa,”


“Beberan perut kamu udah mendingan? Nggak mual lagi?” Tanya Vindra seraya menguspa puncak kepala kekasihnya itu.


“Iya beneran udah nggak apa-apa kok, tenang aja kamu,”


Vindra langsung membukakan pintu mobilnya bagian depan dan mempersilahkan Zeline untuk masuk, kemudian disusul oleh Vindra sendiri yang duduk di balik kemudinya.


“Nin, gimana keadaan kamu?”


“Baik-baik aja kok,”


“Alhamdulillah, syukur deh kalau begitu. Aku senang dengarnya,”


“Aku diantar duluan nggak apa-apa ya, Zel?”


“Nggak apa-apa banget,”


“Biar kamu sama Vindra bis aberduaan juga ‘kan hehehe,”


“Ya nggak lah, aku mau diantar kapan aja bebas. Kamu mau cepat-celat sampai apart karena pengen revahan ya? Atau ada yang kamu tahan-tahan sakitnya?”


“Iya pengen tidur, aku ngantuk sama pegal aja sih pinggang aku,”


“Tapi nggak sakit?”


“Nggak,”


“Ya kalau sakit—“


“Bawa ke rumah sakit? Ah kamu ke sana terus nyuruhnya,”


Zeline terkekeh, ya habisnya kalau bukan ke rumah sakit kemana lagi? Kalau badan terasa sakit datangnya tentu ke rumah sakit bukan ke pasar atau tempat lain. Menurutnya memang lebih baik Anin ke rumah sakit saja tapi Anin tidak mau.


Vindra melajukan mobilnya ke apartemen Anin. Setelah tiba Ia dan Zeline kompak kengantarkan Anin smapai ke depan pintu unitnya. Jadi kali ini bukan hanya Vindra saja yang memastikan Anin sampai dengan aman di depan unit apartemen nya sendiri.


“Makasih ya udah antar akus ampai sini, kalian hati-hati pulangnya,”


“Okay sama-sama,”


Vindra dan Zeline tidka langsung pulang melainkan menunggu Anin dibukakan pintu terlebih dahulu oleh mamanya, barulah mereka akan pulang.


Setelah Ninda membuka pintu Ninda langsung tersneyum menyapa Vindra dan Zeline yang bergantian mencium tangannya.


“Wah ada apa nih? Mau ngerjain tugas bareng ya? Ayo mausk-masuk,”


“Tante mohon maaf sebelumnya, aku sama


Zeline antar Anin ke sini karena tadi di sekolah Anin sempat jatuh di kamar mandi. Udah diajak ke rumah sakit tapi Anin nggak mau karena Anin bilang kalau Anin baik-baik aja,”


“Ya ampun, Nin. Kamu itu kenapa nggak hati-hati? Sepatu kamu yang licin atau lantainya sih, Nak? Kok bis ajatuh kayak gitu? Dan kenapa nggak mau dibawa ke rumah sakit?”


“Orang cuma jatuh gitu aja kok, Ma. Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik aja, Mama,”


“Duh kamu kok kayak gitu sih, bikin Mama panik aja,”


“Maaf ya, Ma. Tapi aku baik-baik aja seriusan deh. Kepala aku aman, kaki, semuanya aman,”


“Emang sebaiknya dibawa ke rumah skait taoi Nain jggak kau, Tante,” ujar Zelins.


“Iya dia memang kadang suka begitu, anti banget sama rumah sakit. Tapi makaish ya, Vindra, Zeline udha antar Anin smapai sini mbahkan ngaish info juga soal Anin karena Tante nggak akan tau dari mulutnya Anin,”


“Iya sama-sama, Tante, kalau begitu kami pamit dulu, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam hati-hati ya,”


“Iya, Tante,”


Ninda langsung menyentil telinga anaknya itu yang membuatnya terkekeh tidak ada sakit sedikitpun yang ada justru senang karena Ninda marah.


“Yeayy Mama marah,”


“Heh kok kamu malah senang sih Mama marah?”


“Hahaha ya abisnya Mama lucu deh kalau marah. Aku baik-baik aja, Ma, jadi Mama nggak perlu khawatir,”


“Kamu gampang banget bilang nggak pelru khawatir, ya namanya anak abis jatuh gimana nggak khawatir coba,”


“Sekarang aku mau berish-berish dulu ya, Ma


Ninda menganggukkan kepalanya, “tapi beneran kamu nggak apa-apa, Nin? Ke rumah sakit aja yuk, Nak,”


“Nggak mau, Ma. Aku baik-baik aja ngapain sih dibWa ke rumah sakit. Ah Mama nih, udah tau aku nggak suka ke tempat itu,”


“Ya cuma untuk diperiksa aja, Nak,”


“Nggak mau aku baik-baik aja kok ngapain diperiksa segala,”


“Erghh kamu keras kepala banget sih. Apa susahnya tinggal iyain,”


Anin terkeksh dan menghilang di balik puntu kamarnya. Anin langsung mandi karena Ia ingin berbaring di ata sgempat tidurnya yang nyaman itu.


“Hati-hati di kamar mandi jangan teledor lagi kamu, Nin,” pesan Ninda dengan suara lumayan keras suoaya anaknya mendengar, suara Ninda harus bersaing dengan suara air mengakur dari dalam kamar mandi.


“Iya, Ma,”


*****


“Kamu mau kemana dulu nggak?”


“Kemana? Aku bingung,”


Zeline menangkap sinyal kode dari Vindra yang kemungkinan besar mau menghabiskan waktu bersamanya.


”Hah? Main timezone?”


“Iya, mau nggak?” Tanya Zeline pada kekasihnya yang lumayan kaget mendengar permintaan sang kekasih. Sudah duduk di bangku SMA masih mau bermain timezone. Sejujurnya tak pernah ada dalam bayangan Vindra akan masuk ke tempat bermain yang identik dengan anak-anak di bawah umur.


“Kamu beneran nih?”


“Iyalah masa aku bohongan sih,”


“Emang nggak apa-apa?”


“Setau aku sih nggak apa-apa, aku pengen ke sana sama kamu kayKnya belum pernah ya? Abis itu kita foto di studio yuk kalau keburu, kalau udah keburu sore ya jangan,”


“Ya udah boleh izin dulu sama Mama kamu coba,”


Zeline menganggukkan kepalanya dan langsung mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Ia akan minta izin pada mamanya sebelum pergi dengan Vindra ke timezone.


“Halo Assalamualaikum, Ma,”


“Waalaikumslama iya kenapa, Nak?” Tanya Reta pada anaknya yang tak biasnay menghubungi di jam pulang sksolahnya seperti ini.


“Mama, aku boleh ke timezone sama Vindra?”


“Ngapain ke timezone? ‘Kan kamu udah besar,” ujar Reta yang langsung membuat Vindra tersenyum. Mamanya saja tak habis pikir apalagi Ia. Tapi tidka apa, yang penting Zeline bahagia.


“Sampai jam berpaa kira-kira?”


“Mudah-mudahan jam lima udah di rumah, Ma,”


“Oh gitu, okay-okay Mama tunggu ga di dumah. Kamu sama Vindra hati-hati


“Okay siap, Ma,”


Zeline merasa tenang kalau sudah izin pada mamanya. Ia segera menyimpan kembali ponseknya di dalam saku kemudian menghembuskan napas lega.


“Aku udah izin Mama aku lho ya,”


“Okay berarti kita jadi ya ke timezonse?”


“Ya jadi dong, Vin. Ayo kita pergi ke timezone sekarang yeayy,”


“Kamu kayaknya senang banget,”


“Iyalah senang, siapa yang nggak senang mau dibuat senang sama pacarnya,”


“Ya ‘kan tumben nggak ada Anin kalau ada Anin ‘kan gugup, dan nggak enak juga soalnya dia jomblo,”


“Iya akhirnya punya waktu berdua lagi,” ucap Zeline yang benar-benar bahagia karena kekasihnya mau menuruti keinginannya ke timezone.


“Aku mau amin capit boneka di sana semoga dapat ah,”


“Kamu lagi kepengen punya boneka ya?”


“Nggak, aku kalau dpaat bindka dari hasil capit rasnaya sennag banget karena bindka itu didapat dnegan oerjuangan yang nggak mudah,”


“Ya mendingan beli aja ketimbang berharap dari dari kotak itu nggak bakal dapat,”


“Ih kata siapa nggak bakal dapat, banyak kok yang berhasil dapat,”


“Iya tapi keberuntungnya harus besar kalau mau ambil satu boneka.


“Nggak apa-apa deh, Vin, karena dapat satu boneka aja rasanya tuh besar perjuangannya. Kalau beli ‘kan tinggal beli nggak ada usahanya,”


“Ntar aku bantu biar cepat dapat,”


“Kamu emangnya ada tips?”


“Ya nggak ada tips sih, tapi aku punya doa khusus supaya kamu dapat apa?”


“Coba gimana doanya?”


“Ya Allah tolong bantu Zeline untuk mendapatkan boneka incarannya aamiin, terimakasih ya Allah,”


Zeline tersenyum mendengar permintaan kekasihnya yang terkesan serius sekali padahal yang didoakan sebenarnya tidak penting-penting sekali.


“Kamu sampai berdoa gitu, hehehehe,”


“Ya biar kamu tau doa aku apa. Ssmoga nanti berhasil ya dapat boneka capit,”


Mobil Vindra tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Vindra dan Zeline langsung membuka sabuk pengaman mereka dan mereka keluar dari mobil.


“Langsung ke timezone ‘kan, Zel?” Tanya Vindra pada kekasihnya itu. Tentu saja Zeline menganggukkan kepalanya.


“Iya aku mau ke timezone langsung,”


“Lantai dua timezone nya,”


“Kamu kok tau?”


“Aku pernah sama ponakan aku ke time zone mall ini, Vin,”


“Oalah pantesan tau ya,”


Begitu tiba di timezone buru-buru Zelinw membeli tiket masuk, tidak mengizinkan Bindra yang membayar.


“Dih masa gitu, masa bukan aku yang bayar. Buru-buru amat ke kasir,”


Zeline terkekeh, ya memang tujuannya buru-buru adalah untuk membayarkan tiket bukan mengandalkan Vindra.


“Masa kamu mulu yang bayar, ini ‘kan aku yang ngajak ke timezone jadi aku yang bayar lah,”


“Nggak ada aturan kayak gitu, Zel. Ah kamu bikin aturan sendiri deh,”


“Iya aku buat aturan sendiri emang kenapa?” Zeline menatap Vindra dnegan mata melotot dan wajah menantang, alih-alih takut Vindra justru gemas melihatnya.


Vindra langsung menjawil hidung runcing kekaishnya itu sambil terkekeh. “Kamu kayak gitu mikirnya aku bakal takut ya? Hmm? Ya ada kamu tuh keliatan lucu tau, jadi bikin aku gemas,”


“Halah bisa aja kamu,”


“Lah emang benar,”


Vindra langsung menemani kekasihnya itu bermain capit boneka. Zeline tampak sangat antusias sekali dengan permainan ini dan kelihata sangat berharap mendapatkan boneka incarannya.


“Kamu mau yang mana sih bonekanya? Ada dua?”


“Ya,”


“Apa aja tuh?”


“Tebak yang mana?”


“Yah kamu nyuruh aku nebak? Yang bener aja,”


“Iya coba kamu tebak mana yang jadi incaran aku?”


“Yang—-yang hello kitty?”


“Iya betul,”


“Ya udah ambil buruan,”


“Iya sabar dong,”


“Yeayy kamu bener,”

__ADS_1


Zeline mengerahkan pencapit untuk msngambil boneka incarammya tapi boneka itu malah jatuh ketika baru saja dicapit.


“Nggak apa-apa, semangat,” ujar Vindra menyemangati kekaishnya.


“Kamu mah semangat semangat aja,”


“Lah terus aku harus gimana dong,”


“Udah diem jangan semangat-semangat,”


Vindra tertawa karena kekaishnya itu kenyuduh Ia diam supaya semakin fokus dalam meriah boneka.


“Feeling aku kali ini kamu dapat,”


“Aamiin semoga ya,”


“Aku doain pokoknya,”


Zelune menurunkan pencapit agar mencapit boneka incarannya lagi dan kali berhasil mencapit tapi ketika dalam perjalanan menuju dirinya sebagai pemilik, boneka itu lagi-lagi jatuh.


“Ah mulai habis nih kesabaran aku yang cuma setipis tisu ini,”


Vindra terbahak dan mengusap bahu Zeline berusaha membuatnya sabar. Tidak kesal atau panas hatinya.


“Udah aku bilang kalau emang nggak dapat kita tinggal beli aja okay?”


“Nggak mau aku mau dapat,”


“Ya udah semoga kali ini dapat aamiin,”


“Aamiin,”


Zeline masih mencoba, kali ini Ia lebih serius, jantungnya tidak bisa tenang. Ia sangat berharap bisa berhasil mendapatkan boneka tersebut. Walaupun mungkin harganya tidak seberapa tapi Ia senang bila berhasil mendapatkannya ada nilai perjuangan atau kerja keras di dalamnya. Ia harus benar-benar kerja keras dengan fokus tinggi supaya bisa mendapatkan boneka yang Ia mau.


“Udah pokoknya kalau nggak dapat ntar kita beli aja,”


Vindra sudah berapa kali berkata seperti itu karena Vindra tidak ingin kekasihnya merasa sedih akibat apa yang diharapkannya tidak berhasil Ia dapatkan.


“Ih kamu mah ngomong gitu mulu. Udah aku bilang aku tuh nggak pengem beli, kalau berhasil dapetin ini rasnaya tuh puas banget nggak kayak beli, kalau beli ya tinggal keluarin uang jadi deh bonekanya milik kita, tapi kalau ini ‘kan susah banget dapetinnya jadi kalau berhasil bawa pulang aku bakalan girang banget sih,”


“Ya udah kamu jangan bosan untuk coba terus, coba lagi, coba mulu pokoknya,”


“Iya ini aku nggak bosan coba kok, tenang aja,”


Zeline masih mencoba sampai kemudian Ia berhasil mendapatkan satu boneka di percobaan kelima.


“Yeayy berhasil,”


Zeline langsung melompat kesenangan ketika berhasil mendapatkan boneka yang Ia inginkan. Berkat kesabaran dan kegigihannya dalam mencoba walaupun sudah sering gagal akhirnya Ia bisa mendapatkan satu buah boneka hello kitty. Kekasihnya ikut senang melihat Ia senang.


“Ciee selamat ya,”


“Iya makasih berkat dukungan kamu, aku ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya,” ujar Zeline sambil menangkup kedua tangannya di depan muka. Vindra tertawa karena kelakuan kekasihnya itu.


“Lebay kamu ah,”


“Aku senang lho ini, kok malah kamu bilang lebay sih?”


“Iya sampe harus bilang makasih sebanyak-banyaknya emang apaan yang udah aku kasih ke kamu?”


“Hahahahah ya biar aja,”


“Aku ‘kan senang dan aku tau kamu support system aku untuk dapat boneka ini. Yeayyy akhirnya aku dapat juga,” ujar Zeline seraya mengambil boneka miliknya yang sudah berhasil Ia dapatkan setelah lima kali percobaan dulud an lima-limanya gagal semua.


“Akhirnya ada hasil juga ya di percobaan ke enam, tadinya aku udah mau pulang aja tuh kalau nggak dapat,”


“Kamu tuh nggak sabaran, coba aja lebih sabar lagi, pasti dapat kok,”


“Ih nggak pasti lah, ini tuh ada faktor keberuntungan tau,”


“Ya udah sekarang kamu mau main apa lagi?”


“Bola basket yuk,”


“Ayok,”


Vindra setia mengikuti kekasihnya kemanapun. Vindra menjadi pemerhati saja, dan diam-diam mengabadikan kegiatan kekaishnya itu.


“Ih kamu kenapa fotoin aku?”


“Ya nggak apa-apa dong, emang kenapa? Nggsk boleh aku fotoin pacar aku sendiri? Aku pengen punya kenang-kenangan,”


“Itu di galeri handphone kamu isinya foto aku semua ya? Hahaha kepedean aku,”


“Coba nih liat sendiri,” ujar Vindra sambil menyerahkan ponsel kepada sang kekasih. Zeline ingin meraih ponsel Vindra dengan ragu-ragu tapi Vindra meyakinkannya dengan cara menganggukkan kepala mempersilahkan Ia meraih ponselnya.


Zeline akhirnya meraih ponsle snag kekaish kemudian Ia diminta Vindra untuk membuka galeri. Begitu Ia buka ternyata memang banyak foto Zeline. Zeline tentunya terkejut.


“Jadi kamu bukan kepedean, emang isi galeri aku didominasi sama foto kamu, Zel,”


“Ya ampun, udha makin banyak aja koleksi kamu, aku oikir udah dihapus-hapus,”


“Bahkan foto waktu kita awal pacaran masih ada,”


“Oh ya?”


Vindra menganggukkan kepalanya. Ia memperislahkan kekaishnya itu untuk mencari tahu sendiri dan ternyata memang ada foto mereka semasa awal oacaran. Foto berdua ada dan foto Zeline sendiri juga ada.


“Ngapain sih? Menuh-menuhin memori aja,”


“Ya karena aku suka aja ngeliatin foto kamu kalau lagi nggak ada kegiatan, nggak ada keisbukan,”


“Ya ‘kan bisa nonton atau apa kek kalau lagi nggak ada kegiatan,”


“Iya emang itu aku lakuin juga tapi nggak ketinggalan aku merhatiin foto kamu, Zel,”


“Ih kamu so sweet banget sih,”


“Hahahaha biasa aja, aku rasa banyak juga yang kayak gitu kok,”


“Kamu mending jadi fotografer aja deh, Vin, hasil foto kamu bagus-bagus semua,”


“Nggak ah, itu aku kebanyakan asal ngambil, aku nggak jago, tapi yang penting ada foto kamu,”


“Aku mau beli minuman boba ah abis ini,”


“Ayok,”


“Abis itu keburu nggak ya kalau misalnya kita foto di studio?”


“Keburu kalau kita berangkat sekarang, tapi terserah kamu sih. Kalau kamu belum puas di timezone nggak masalah,”


“Udah deh, ayo kita ke studio sekarang,”


“Kamu udah puas mainnya belum?”


“Udah, ayo kita ke studio,”


“Beneran? Sekarang nih?”


“Ya iya sekarang, Vin, masa tau depan,”


“Ya udah ayok,”


“Tapi beli minuman dulu boleh ya?”


“Boleh, kamu mau apa aja boleh kok, cantik,”


Zeline tersenyum malu-malu. Dipuji cantik oleh Vindra ya jelas Zeline senang. Tiba-tiba tangan Zeline digenggam oleh Vindra dan dibawa keluar dari timezone.


“Okay makasih ya,”


“Sama-sama,”


Mereka menghampiri stand penjual minuman boba dan Zeline langsung membeli dua gelas minuman yang menunya sama. Vindra ditanya tidak mau tapi tetap saja Zeline belikan tidak mungkin Ia beli untuk dirinya sendiri.


“Lah masih dibeliin aja sih,”


“Nggak apa-apa masa cuma aku sih yang minum, aku haus, kamu juga pasti haus,”


“Makasih ya,”


“Sama-sama,”


Mereka keluar dari mall dan masuk mobil menuju studio terdekat dari mall. Zeline sudah mencari tahu tentang studio maka dari itu Ia langsung mau mengajak Vindra ke sana setelah bermain di timezone.


Di jalan menuju studio Zeline ditelpon oleh Anin. Zeline langsung menggeser panel hijau untuk menerima panggilan dari Anin itu.


“Halo, Nin,”


“Halo, kamu udah di rumah belum? Aku mau tanya tugas dong, Zel,”


“Aku lagi di jalan nih, nanti ya kalau misal aku udah sampai rumah aku bakal hubungin kamu lagi,”


“Lho kamu belum sampai rumah?”


“Aku lagi jalan sama Vindra nih, nanti aja ya, Nin. Lagian kamu ‘kan lagi abis jatuh, kamu nggak istirahat dulu?”


“Udah, aku cuma jatuh nggak kedlakaan kendaraan,”


“Ih jangan ngomong gitu, Anin ya udah ntar kita bahas di rumah aja ya,”


“Kamus ama Vindra emang mau kemana sih? Jalan terus ya kalian, so sweet,”


“Aku sama Vindra lagi mau ke studio,”


“Hah? Mau ke studio? Ngapain?”


“Iya, aku sama Vindra mau foto ceritanya hahahaah,”


“Oalah mau foto prewedding ya?”


“Eh nggak foto prewedding tapi foto biasa aja gitu, ngaco aja kamu ah, masa foto prewedding,”


“Ya udah okay aku bakal hubungin kamu lagi nanti ya,”


“Sip,”


Sambungan telepon antara Zeline dan Anin berakhir, Vindra langsung menolehkan kepalanya menatap Zeline yang kini menyimpan ponselnya di saku.


“Apa yang diomongin sama Anin, Zel? Aku nggak dengar jelas,”


“Dia mau bahas tugas tapi aku bilang nanti aja di rumah soalnya sekarang aku lagi di jalan,” jawab Zeline yang ditanggapi dengan anggukan kepala dari Vindra.


Ketika mobil Vindra tiba di studio, Zeline semangat sekali keluar dari mobil. Zeline memilih studio yang konsepnya foto sendiri alias menggunakan remot untuk memainkan kameranya.


Mereka antre, tidak lama kemudian gilirannya mereka. Vindra dan Zeline sebelumnya sama-sama menghembuskan napas kasar kemudian saling menatao satu sama lain dan tertawa.


“Mau foto doang gugup ya,”


“Iya, namanya juga bukan model,” jawab Vindra seraya tertawa.


“Ya udah ayo kita mulai foto-fotonya,”


Gaya pertama sudah pasti tersenyum menatap kamera, mereka berdua menunjukkan deretan gigi masing-masing dan Vindra merangkul bahu sang kekasih.


Setelah itu mereka masuk di pose kedua. Mereka saling bergenggaman tangan satu sama lain, dan saling menatap juga.


“Hahaha aku tuh nggak bisa nggak ketawa kalau liat muka kamu, Zel,”


“Kenapa sih? Muka aku jelek? Kayak bebek ya?”


“Bukan, bukan gitu maksud aku,”


“Terus?”


“Lucu aja gitu,”


“Lucu gimana?”


“Genes, pengen cubit mulu bawaannya,”


Vindra mencubit pipi Zeline tiba-tiba dan ekspresi kaget sekaligus tidak terimanya Zeline sengaja Vindra abadikan di dalam kamera, karena Vindra yang prgang remotnya.


“Ih curang! Masa aku nya jelek, kamu bagus,”


“Siapa bilang jelek sih? Itu bagus,”


“Nggak ah, itu jelek. Aku nya merengut,”


“Ya justru disitu letak kegemasannya,”


Mereka menggunakan properti yang ada yaitu kursi. Yang duduk adalah Vindra, dan di belakangnya ada Zeline yang sengaja melingkari leher Vindra dan meletakkan dagunya di atas kepala Vindra. Zeline tersenyum kemudian mengerucutkan bibirnya. Setelahnya Zeline berdiri di sebelah sang kekasih dan mereka bergenggaman tangan sambil beradu tatap satu sama lain.


“Sekarang ganti posisi kamu yang duduk, Zel,” ujar Vindra yang diangguki oleh Zeline.


Zeline segera duduk dan Vindra berdiri di belakangnya. Vindra meletakkan kedua tangannya di atas kepala Zeline lalu Ia menempatkan dagunya di atas tangannya sendiri lalu Ia tersenyum.


Sekarang Vindra memegang kepala dan dagu Zeline seolah ingin mematahkan leher Zeline ini pose paling aneh tapi anehnya Zeline setujui sambil tertawa.


“Kamu keanoa tandom banget sih gayanya,”


“Ya abis aku bingung mau gaya apaan, ya udah yang begitu aja deh, ‘kan anti mainstream tuh,”


“Anti mainstream sih, taoi agak ngeri orang ngeliatnya ya,”


“Yang penting ‘kan nggak beneran, Zel,”


“Ntar kamu kena pasal kekerasan,”


“Kekerasan dalam rumah tangga? Jiahh udha rumah tangga aja,”


“Aku nggak hilang kekerasan dalam rumah tangga, ini kekerasan dalam studio. Nanti ada berita yang aneh-aneh seorang siswa mematahkan leher kekasihnya,”


“Hahahaha iya lagi. Tapi ‘kan cuma pose nggak beneran, orang kalau salah paham sih parah banget ya,”


“Kadang orang cuma ngeliat sekilas. Padahal gaya tadi lucu lho, jarang ‘kan ada pose matahin leher,”


Tawa Vindra pecah seketika. Apa yangd ikatakan oleh Zeline nemang benar, mana ada pose mematahkan leher. Itu benar-benar oos eyang jarang tehjadi.


“Kalau senyum, rangkul, yang lain-lain ‘kan udah biasa ya. Nah kalau kita beda, ntar aku jadiin profil whatsapp aku tuh yang posa barusan,”


“Ih jangan! Jelek aku nya,”


“Ya elah, Zel, kamu pikir aku cakep? Aku juga jelek itu, ‘kan ceritanya kita lagi berantem tadi, terus aku ceritanya matahin leher kamu, jadi udah pasti sama-sama aneh mukanya,”


“Nggak ah, kamu ganteng, aku jelek,”


“Ya aamiin aja deh kalau memang aku dibilang ganteng,”


Pose mereka tidak ada yang lebih dari sekedar merangkul dan bergenggaman tangan. Menampilkan ekspresi aneh sudah, sekarang saatnya mereka menampilkan ekspresi yang serius. Keduanya sama-sama bersedekap dada dan menatap datar satu sama lain.


“Udah deh kayaknya, Zel. Aku udah mati gaya banget ini,”


“Iya sama nih, ayo udahan aja,”

__ADS_1


Mereka yang jarang berpose harus ber-benar totalitas mengeluarkan pose di hadapan kamera seperti ini. Dan mudah sekali kehabisan pose. Bingung mau berpose seperti apalagi.


Bayar sudah, foto sudah, mendapatkan beberapa hasil cetak foto sudah, menyimpan file foto juga sudah sekarang saatnya mereka pulang ke rumah. Vindra mengantarkan kekasihnya pulang ke rumah.


__ADS_2