Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 154


__ADS_3

“Masuk sana! Kamu nggak ada urusan apa-apa sama dia ‘kan?” Vindra menyuruh Zeline untuk segera pergi, tak lagi berada di dekat Arthur yang mencoba cari masalah dengan yang lain karena tadi tidak langsung bertemu dengan dirinya.


“Lain kali jangan lancang ya. Mohon maaf sebelumnya, tapi gue nggak kenal sama lo,” setelah berkata seperti itu Zeline langsung bergegas pergi menjauh dari gerbang menuju kelasnya.


“Kayaknya bener nih, dia gebetan lo,”


“Mau dia gebetan gue kek, istri gue kek, atau mantan gue sekalipun, nggak ada urusannya sama lo! Sekarang lo mending cabut deh! Nanti malam gue ke tongkrongan, udah kangen juga gue sama tempat itu,”


“Kenapa lo nggak mati aja sekalian? Abis kecelakaan ‘kan?”


Vindra tersenyum sinis, Tuhan saja tak menyuruhnya mati di tempat setelah kejadian itu berlangsung, tapi Arthur tampaknya ingin sekali Ia meregang nyawa.


“Pergi sekarang! Jangan cari masalah ke yang lain,”


“Yang tadi siapa namanya? Dia bilangnya nggak tau lo itu siapa, tapi ternyata dia tau kalau lo kecelakaan, makanya gue juga tau,”


“Soal kecelakaan emang udah tau semua kali,”


“Udah sono balik kandang! Nggak usah banyak bacot di sini! Tuh satpam udah datang,” Dino teman Vindra menyuruh Arthur dan teman-temannya segera bergegas pergi meninggalkan sekolah mereka.


Security sekolah datang dari arah samping sekolah dan security langsung menanyakan keperluan Arthur dan teman-temannya yang datang ke sekolah.


“Mau ketemuan aja sama Vindra, Pak. Ini juga udah mau balik, makasih, dan maaf udah ganggu waktunya,” ujar Arthur pada Pak Nanang.


Arthur bersama para temannya balik badan dan naik ke atas motor mereka masing-masing lalu bergegas pergi dengan kecepatan tinggi.


“Ngapain mereka datang ke sini, Vindra?” Tanya Pak Nanang pada Vindra yang menggelengkan kepalanya tidak mau memberikan jawaban apapun.


“Dia ngajakin Vindra balapan, Pak. Terus Vindra mau,”


Vindra tak mau memberitahu, tapi Zam yang berperan melakukan itu hingga mengundang tatapan tajam Vindra.


“Ya Allah, Vindra ngapain sih balapan? Nggak usahlah, kamu itu baru sembuh dari kecelakaan. Nggak sayang sama orangtua ya?”


“Sayang dong, Pak. Tapi dia ‘kan ngajakin, nggak ngehargain kalau saya nggak ikut,”


“Eh ngapain ikut balapan? Itu bukan hebat lho. Jangan takut dibilang cemen kalau nggak mau diajak berbuat hal nggak baik,”


“Itu ‘kan baik, Pak. Untuk hiburan, jadi saya mau,”


“Hiburan dari Hongkong! Nggak boleh, Genio! Kamu kalau sayang orangtua ya jangan ikut-ikutan balapan. Kasihan orangtua kamu kalau kamu kenapa-napa,”


“Ya udah deh, saya nurut. Saya masuk dulu ya, Pak,”


Vindra memilih untuk bergegas meninggalkan Pak Nanang. Tentu saja Vindra tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pak Nanang. Ia akan tetap balapan nanti malam. Ada yang aneh rasanya kalau Ia tidak datang memenuhi ajakan Arthur.


“Pastiin ya teman kalian itu nggak balapan. Jangan sampai dia kenapa-napa. Baru juga sembuh, masa udah mau balapan aja,”


“Nanti saya bilangin,” ujar Jerry yang sebenarnya juga tak setuju Vindra mengambil keputusan untuk menerima ajakan Arthur yang tidak ada manfaatnya sama sekali, hanya untuk memenangkan gengsi dan ego. Kalau kondisi Vindra baik-baik saja tidak habis mengalami kecelakaan, Jerry tak masalah. Tapi ini Vindra baru saja sembuh, bahaya untuk kesehatannya nanti.


Jerry, Dino, dan Zam masuk ke dalam kelas namun mereka tak menemukan keberadaan Vindra yang melangkah cepat tadi, dan tidak tahunya dia bukan ke kelas malah entah kemana sekarang.


“Lah dia kemana?”


“Entah, tadi lari kirain ke kelas,”


“Lagi ke kamar mandi kali,” celetuk Zam seraya meletakkan tasnya di atas kursi dan menghentak badannya di atas kursi.


*****


Vindra mencuri pandang ke dalam kelas yang penghuninya masih sedikit, belum datang sepenuhnya. Kalau yang Vindra hitung, baru ada lima orang sudah termasuk Zeline.


Dengan langkah pasti Vindra memasuki kelas Zeline yang mengundang tatapan bingung Chaca, sahabat Zeline yang kali ini sedang mengobrol dengan Zeline dan menghadap pintu sementara Zeline posisinya membelakangi pintu kelas.


Vindra berdehem dan itu berhasil membuat Gira memutar posisi duduknya. Tak jauh beda dengan Chaca, Zeline juga bingung karena Vindra tiba-tiba menampilkan batang hidungnya sekarang tepat di hadapannya.


“Aku mau tanya,”


Zeline diam, tak mengiyakan, dan tak melarang juga. Tapi diamnya Zeline dianggap oleh Zeline sebagai izin untuknya menyampaikan pertanyaan.


“Tadi kamu kenapa bisa sama Arthur? Dia nggak ngapa-ngapain kamu ‘kan?”


“Aku nggak ada urusan apa-apa sama dia. Pas aku mau masuk sekolah, dia nanya soal kamu,”


“Tapi dia nggak ngelakuin apa-apa?”


Zeline menggeleng, Arthur hanya lancang dua kali saja tadi. Pertama tiba-tiba menyentuh bahunya ketika hendak bertanya padahal mereka tak saling mengenal, setelah itu tadi Arthur sempat menjawil dagunya dan itu merupakan puncak kekesalan Gira pada Arthur.


“Cuma tadi aja tiba-tiba megang bahu aku waktu aku mau masuk. Terus tadi juga pegang dagu aku. Cuma itu aja,” ujar Zeline.


“Oh, aku pikir kamu ada urusan sama dia, makanya kalian ngobrol tadi,”


“Dia nanya kamu dan aku jawab nggak tau. Tapi dia kayak maksa aku. Padahal udah bilang nggak kenal tapi dia tetap aja nggak yakin, karena kata dia, siapapun itu pasti kenal sama kamu,” ujar Zeline.


“Okay, aku udah bilang ke dia supaya nggak sentuh kamu lagi,”


Usai bicara seperti itu Vindra bergegas pergi meninggalkan kelas Zeline. Interaksi Vindra dengan Zeline barusan membuat Chaca penasaran.

__ADS_1


“Kok mereka kayak udah dekat banget sih? Vindra tumben ke kelas ini terus ngajakin Zeline ngomong,”


Setelah Vindra tak ada lagi di kelas, Chaca langsung mengguncang bahu Zeline dan mengundang decakan kesal Zeline.


“Apa sih?”


“Kalian kok akrab sih? Sejak kapan, Zel?”


“Nggak tau kenapa dia tiba-tiba datang ke kelas dan nanya kayak begitu,”


“Kayak yang cemas gitu nanyain lo diapa-apain sama si Arthur atau nggak,” ujar Chaca seraya tersenyum usil.


“Ya nggaklah, jangan salah sangka, dia penasaran aja,”


“Ya tapi ngapain dia penasaran? Biasanya Vindra itu ‘kan cuek sama yang lain, tapi bucin setengah mampus sama Anin soalnya mereka keliatan nempel mulu tuh,”


“Nggak tau deh, nggak ngurusin,”


Zeline tidak nyaman membicarakan Vindra ataupun Anin. Kedatangan Vindra barusan tidak disadari juga oleh Zeline. Apalagi dari pertanyaan yang dilontarkan Vindra terdengar penasaran dengan hal-hal apa saja yang mungkin dilakukan oleh Arthur terhadapnya.


“Eh Anin sama Vindra masih pacaran nggak sih? Kok gue udah nggak liat mereka bareng ya?”


“Lah, malam apa gitu mereka bareng tuh, mabok lagi kayaknya,” batin Zeline yang kembali mengingat momen dimana Ia tak sengaja bertemu dengan Vindra dan Anin. Saat itu Anin muntah dan kelihatannya mabuk cukup berat. Tapi entah dengan Vindra yang saat itu sempat pamit sebelum pergi.


“Apa udah putus ya, Zel?”


“Nggak tau, Cha,”


“Wah, kayaknya iya beneran putus soalnya mereka itu biasanya tiap hari bareng-bareng. Nah sekarang gue udah nggak pernah liat mereka bareng lagi, kayaknya beneran putus deh, nah si Vindra ini ngincer lo mungkin,”


“Ngincer apa? Orang baru aja dilepas sia-sia kok,”


*****


“Tuh ‘kan gue bilang juga apa. Kayaknya Vindra sama Anin beneran udah putus,” Chaca berbisik di dekat telinga Zeline setelah melihat saat ini Vindra bersama Dania dan juga tiga sahabatnya. Biasanya dimana ada Vindra, disitu ada Anin.


“Giliran waktu itu aja ya, si Anin deket banget sama lo, ngakunya sih sahabat Vindra eh setelah lo sama Vindra putus dia yang ngambil alih deh kayaknya. Parah banget, njir,” ujar Chaca yang mendapat pelototan dari Zeline. Takutnya ada yang curiga Chaca bisik-bisik padanya.


“Ya udah biarin aja, nggak usah ngomong-ngomongin orang, nanti ada yang denger kan nggak enak,”


Chaca langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan karena mendengar teguran dari Zeline yang tak mau mencari masalah. Sejak lepas dari Vindra, Zeline sudah tidak peduli lagi soal hal-hal yang berkaitan dengan mantan suaminya itu.


Setelah menghabiskan satu mangkuk bakso, Zeline mengajak Chaca untuk kembali ke kelas namun Chaca yang makan sambil bermain handphone menyuruh Zeline untuk lebih dulu saja ke kelas.


“Nggak deh, aku bareng sama kamu aja,”


“Makanya makan yang cepet dong, Ca,”


“Ih kalau cepet-cepet nanti gue keselek gimana? Mau tanggung jawab?”


“Ya maksud aku, kalau lagi makan sebisa mungkin fokus makan aja jangan sambil ngelakuin yang lain, ini mah nggak. Kamu sambil sibuk main handphone. Nanti keburu masuk lho,”


Zeline melirik jam tangan, sudah hampir pukul sebelas siang dan pasti sebentar lagi bel masuk berbunyi yang mengharuskan semua siswa kembali ke kelas usai beristirahat sejenak.


Chaca meneguk jus mangga dengan cepat setelah semua bakso selesai Ia telan. Kemudian mereka beranjak dari kursi meninggalkan kantin yang sejak lima belas menit lalu menjadi tempat mereka menikmati bakso.


Suasana kantin yang cukup ramai membuat langkah Zeline dan Chaca agak terhambat, karena banyak juga siswa yang akan kembali ke kelas.


Tiba-tiba Zeline dibuat terkejut begitu punggungnya merasakan panas yang luar biasa hingga Ia memekik kaget sekaligus kesakitan.


“Sakit!”


“Eh, Astaga,”


Chaca menoleh bingung ke arah sahabatnya yang ada tepat di sebelahnya kemudian Ia menoleh ke belakang Zeline. Seragam Zeline sudah basah dengan kuah mie instan.


“Lo tuh kalau mau makan ya makan aja di meja! Ngapain lo bawa-bawa itu keluar kantin?! Lo mau makan di kelas? Emang boleh?!”


Chaca langsung membentak seorang siswi, tak lain dan tak bukan adalah Anin. Chaca tidak tahu pasti niat Anin apa membuat Zeline kesakitan seperti ini, tapi yang jelas Cuaca benar-benar marah. Ia tidak tega melihat Zeline kepanasan.


“Sorry, gue nggak sengaja,”


“Nggak sengaja pala lo! Muka lo santai banget, kayak nggak keliatan bersalah,”


Sebenarnya Chaca belum puas memarahi Anin, tapi karena Zeline sudah berjalan cepat menuju kamar mandi, maka Chaca terpaksa berhenti marah.


Chaca dengan cepat mengejar Zeline yang tidak bisa melangkah santai karena punggungnya terasa sangat panas.


Anin menjadi pusat perhatian para siswa di kantin tidak terkecuali Vindra yang mendengar amarah Chaca pada mantan kekasihnya.


“Ada apaan tuh?”


“Nggak begitu kedengaran karena rame,” celetuk Zam.


Karena suasana kantin cukup ramai, apa yang terjadi di pintu masuk tidak bisa diketahui pasti oleh mereka-mereka yang sedang makan di meja kantin.


Tanpa mengatakan apapun Vindra langsung beranjak dari mejanya dan berjalan mendekati Anin yang melirik sinis orang-orang disekitarnya. Ia akan bergegas pergi, namun Vindra mencekal lengannya.

__ADS_1


“Ada apaan sih?” Tanpa basa-basi Vindra bertanya pada sahabatnya itu yang dianggap oleh teman-teman satu sekolah adalah kekasihnya karena mereka sedekat itu.


Anin melepaskan tangan Vindra yang memegang pelan pergelangan tangannya. Kemudian Ia menjawab dengan wajahnya yang datar.


“Nggak sengaja numpahin kuah mie ke Zeline, kenapa tanya-tanya?”


“Nggak sengaja atau sengaja? ‘Kan kamu bisa liat ada orang di depan kamu, Nin,”


“Nuduh? Ya udah kalau nggak percaya,”


“Bukannya nuduh, tapi emang harusnya kamu nggak bawa-bawa makanan keluar kantin. Itu mie mau lo bawa kemana? Kamu mau makan di kelas? Orang nggak boleh kok,”


“Ya aku mau makan di taman, emang ada larangan?”


“Tapi nggak bikin orang sakit juga dong, Nin,”


“Kenapa sih? Peduli banget kamu?! Mentang-mentang Zeline mantan kamu?! Iya?!”


Vindra mengatupkan rahangnya dan detik itu juga hampir semua mata memandang ke arah Vindra. Mereka tentu terkejut dengan apa yang dilakukan Anin barusan yaitu membentak Vindra.


Vindra menggertakkan rahangnya dan tanpa mengatakan apapun Vindra bergegas pergi meninggalkan kantin dan sebagian besar pengunjung kantin yang menatap ke arahnya dengan penasaran.


Mungkin mereka bertanya-tanya soal kebenaran dari apa yang dikatakan Anin. Vindra tak peduli dengan apa yang ada di benak mereka. Tapi yang Ia rasakan saat ini adalah benar-benar marah pada Anin.


*****


“Ya ampun, panas banget. Aku bener-bener nggak kuat,”


Zeline sampai menangis karena punggungnya sangat panas. Chaca menjadi kebingungan sekarang. Ia tidak pernah menghadapi orang yang menjadi korban tumpahnya air panas, jadi bingung bagaimana menanganinya.


“Kita ke UKS aja harusnya,”


“EH JANGAN DIBASAHIN, ZEL!”


“Panas banget,”


Zeline akan membuka bajunya dan ingin membasuh punggung dengan aliran air tapi langsung ditegur tegas oleh Chaca.


“Gue pernah kena air panas di tangan, tapi abis dicuci malah berair, mending kita ke rumah sakit aja deh, ayo gue antar,”


“Nanti dulu deh, aku mau bersihin di sekitar panasnya itu lho biar nggak lengket karena kuah, aku bener-bener nggak nyaman,”


“Nggak boleh, Zel! Gue takut malah kenapa-napa, biar di rumah sakit aja yang ngobatin lo,”


“Sini gue kipas deh,”


Chaca mengibaskan kedua tangannya di dekat kulit Zeline yang merah. Chaca ingin suhunya netral dulu, karena sejak tadi Zeline ribut kepanasan.


“Gue ambil baju cadangan gue dulu,”


“Okay, tolong ya, Cha. Makasih banget,”


“Habis itu kita ke rumah sakit,”


Chaca langsung keluar dari bilik kamar mandi untuk ke kelas mengambil seragam cadangannya di loker.


Sementara Zeline diam di dalam bilik kamar mandi dengan tenang. Rasa panas sudah tidak ada lagi, dan sekarang malah perih.


“Duh, ya Allah. Perih, ada-ada aja ya cobaan,”


Zeline menangis lagi. Suasana yang hening, karena di kamar mandi tak ada siapa-siapa selain dirinya, membuat Zeline terpancing untuk melepaskan kesakitannya dengan air mata.


Suara ketukan pintu yang kasar membuat Zeline terkesiap. Dengan cepat Ia menghapus jejak air matanya dan membuka sedikit pintu kamar mandi.


Mata Zeline yang merah membelalak karena melihat Vindra ada di depannya sekarang. Vindra mendorong pintu kamar mandi agar dibuka lebar namun Zeline menahan.


“Apaan sih? Kamu ngapain ke kamar mandi perempuan?”


“Kamu yang kenapa? Kok di kamar mandi nggak ada suara? Abis kesiram air panas nggak bunuh diri di kamar mandi ‘kan?”


“Enak aja! Sembarangan kalau ngomong,”


Zeline akan menutup pintu kamar mandi namun Vindra berusaha membukanya lebar. Zeline menggeleng tidak mengizinkan. Bisa bahaya kalau Vindra berhasil masuk ke dalam bilik kamar mandi. Nanti pihak sekolah bisa memberi hukuman untuk mereka kalau ketahuan.


“Kamu mau ngapain?!”


“Masuk, kata Anin, dia nggak sengaja numpahin kuah, itu bener?”


“Ya benerlah! Udahlah sana! Ngapain sih ke sini?! Nanti ada yang liat kita berdua di sini terus kita bisa dihukum,”


“Terus kenapa kamu nggak ke rumah sakit? Malah diam di kamar mandi,”


“Aku emang mau ke rumah sakit tapi lagi nungguin Chaca ambil baju cadangan untuk aku,”


“Coba aku mau liat bener atau nggak kamu kesiram,”


“Bener! Kamu nggak percaya? Ya udah terserah! Kamu nggak boleh liat karena kamu bukan siapa-siapa aku! Udah deh sana pergi! Ngapain sih nyamperin aku?! Sana jauh-jauh!”

__ADS_1


__ADS_2