Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 174


__ADS_3

“Banyak yang sakit hati tuh liat kamu nyamperin aku. Mending jauh-jauh deh,”


Zeline mempercepat langkah kakinya karena Vindra berusaha menyusul. Zeline sempat melihat para siswi ada yang menatap ke arahnya dengan berbagai macam sorot mata. Ada yang sinis, ada juga yang senang melihat Ia dihampiri oleh Vindra.


“Bodo amat, aku sih nggak ngurusin ya,”


“Ya kamu bisa bersikap bodo amat, aku yang nggak bisa tau! Aku risih diliatin sama mereka. Udah sana jauh-jauh,”


Mereka tahu bahwa Zeline bukan lagi kekasih Vindra, dan Vindra yang tampan tentu menjadi incaran, hanya saja selama dengan Zeline tak banyak yang menampakkan perasaannya karena Vindra sudah menjadi kekasih Zeline.


Sekarang setelah Vindra dan Zeline sudah tak lagi bersatu, mereka mulai terang-terangan. Ada yang senang Zeline dan Vindra putus ada juga yang sebaliknya.


“Zel, mamaku pengen kamu datang ke rumah. Mau ya? Aku mohon,”


“Aku nggak bisa, maaf,”


“Kenapa?”


“Ya soalnya aku pengen langsung oilang ke rumah,”


“Mamaku hari ini kan ulang tahun, ada acara sederhana gtu di rumah. Kamu diminta datang, aku yang disuruh ngomong ke kamu langsung. Mau ya? Plis, masa kamu nggak mau sih?”


“Aku nggak bisa,”


“Dulu waktu sama aku, selalu bisa deh kalau udah permintaan mama aku,”


“Ya sekarang kan beda. Aku juga nggak enak lah. Masa kamu bukan siapa-siapa aku lagi terus dnegan pedenya datang ke rumah kamu? Aku nggak mau, aku malu,”


“Astaga, kenapa hatus malu? Kenapa harus nggak enakan sih? Kita kan sekarang udah jadi teman, bener nggak? Terus kenapa kamu ngomong kayak tadi? Plis lah ayo ke rumah aku, ini Mama aku lho yang mau, aku juga mau sih kamu datang ke rumah,”


“Nggak, Vindra, aku pengen minta dijemput,” ujar Zeline setelah tiba di depan gerbang sekolah. Ia mengeluarkan ponsel dari saku roknya dengan tujuan menghubungi sang papa, namun tangannya ditahan oleh Vindra.


“Mamaku ulang tahun, terus pengen kamu datang, masa kamu nggak mau datang sih ke rumah aku? Mama aku pengen banget ketemu kamu. Lagian ini hari istimewanya, kamu nggak mau bikin mamaku senang? Nggak mau hargain undangannya mama aku, Zel? Kok tumben sih?”


“Ya karena aku bukan pacar kamu lagi, aku nggak—“


“Nggak berhak gitu? Siapa bilang?” Tanya Vindra dengan salah satu alis yang naik dan Ia menyimpan kedua tangannya di dalam saku.


“Sebenarnya bukan mama aku aja yang pengen kamu main-main ke rumah, tapi papa aku juga begitu kok. Aku? Jangan ditanya. Jadi apa alasan kamu nggak mau? Kamu kan diminta datang, bukan kamu yang mau datang sendiri,”


Zeline sepertinya kalau hari ini ulang tahun mamanya Vindra. Dan itu yang membuat Vindra kecewa. Biasanya menjelang ulang tahun mamanya, Zeline selalu bertanya barang apa yang biasanya dibutuhkan oleh sang mama. Setelah mereka putus, Zeline tak lagi antusias menyambut ulang tahun mamanya. Vindra tak berharap lebih sebenarnya, karena Ia tahu status mereka sekarang bukan lagi sepasang kekasih. Namun, Ia ingin sekali Zeline menghargai undangan yang diberikan oleh mama dan papanya. Mereka ingin Zeline datang, seperti tahun-tahun sebelumnya Zeline selalu datang di hari ulang tahun orangtua Vindra, begitupun sebaliknya. Vindra tak pernah absen untuk antusias menyambut ulang tahun orangtua Zeline dengan hadiah-hadiahnya dan juga tak pernah absen hadir di acara sederhana yang dibuat di rumah.


“Kamu lupa ulang tahun Mama, terus nggak mau datang ke rumah aku padahal Mama yang minta, kamu udah beda banget ya?”


“Sebenarnya nggak lupa, aku ingat kok, aku juga udah punya niat mau ucapin di chat sama kamu,”


“Seriusan kamu ingat?”


“Iyalah, cuma emang nggak mau kayak dulu aja yang antusias nyambut ultah orangtua kamu, nanti dianggapnya gimana-gimana dan aku nggak mau,”


Vindra langsung tersenyum sumringah mendengar perkataan Zeline yang dengan tegas mengatakan bahwa Ia masih ingat ulang tahun mamanya.


“Jujur aku senang banget ternyata kamu maaih ingat ulang tahun Mama, dan Mama juga paati senang banget kalau tau kamu masih ingat,”


“Ya kali lupa,”


“Ya udah ayo ke rumah aku sekarang, Mama udah nungguin nih,” ujar Vindra seraya menatap arloji yang melingkari pergelangan tangannya sebentar.


“Emang aku udah bilang iya?”


“Belum, makanya masih aku ajak karena kamu belum jelas nih mau atau nggak, tapi aku sama orangtuaku terutama mama yang lagi ulang tahun hari ini benar-benar berharap kamu datang ke rumah, Zel,”


“Emang fungsinya aku di rumah kamu apa?”


“Ya bikin kami senang lah,”


“Tanpa aku, kalian udah senang, jadi ngapain harus ada aku coba?”


“Ya ampun, Zel,”


Vindra kehabisan kata-kata untuk membujuk mantan kekasihnya itu. Ia sampai bertolak pinggang dan satu tangannya menggaruk pelipis.


“Entah harus pakai cara apa aku bujuk kamu supaya mau datang ketemu Mamaku,”


“Aku nggak punya kado,”


“Ya ampun malah mikirin kado. Tu nggak usah dipikirin, lagipula selama ini kamu selalu punya kado kok buat Mama, sekarang yang penting datang aja,”


Zeline berdecak pelan. Ia tidak pernah enak hati kalau menghadiri acara orang lain seperti pernikahan, ulang tahun, atau yang sifatnya perayaan lain kalau tidak membawa hadiah walaupun mereka yang mengundang tak mengharapkan itu.


“Ya udah aku datang ke rumah kamu, tapi aku mau beli kado dulu boleh kan?”


“Terus ke rumah aku nya kapan?”


“Ya abis beli kado lah,”


“Okay aku anterin sekarang ya?”


“Aku sendiri aja beli kadonya terus ke rumah kamu juga aku sendiri aja,”


“Lho kok gitu sih? Nanti mama aku bingung kok nggak sama kamu?”


“Ya bilang aja aku belakangan, sekarang kamu ke rumah duluan aja sana,”


“Nggak ah, aku mau bareng,”


“Kamu nggak usah cari kesempatan dalam kesempitan deh. Bilang aja kamu mau berdua sama aku kan?”


“Dih kepedean,” ledek Vindra yang tak mau membenarkan ucapan Zeline.

__ADS_1


“Lah terus kenapa maksa banget mau bareng aku?”


“Ya biar Mama aku senang lah,”


“Aku rasa Mama kamu bakal senang-senang aja tuh kalau kita nggak bareng,”


“Beda senangnya, Zel. Udah buruan ayo aku anterin ke mall,”


Vindra segera merangkul bahu Zeline dan mengajak Zeline untuk masuk ke dalam mobilnya.


Zeline langsung melepaskan rangkulan mantan kekasihnya itu karena Ia merasa tidak nyaman. “Apaan sih, jangan rangkul-rangkul,”


“Ya kan kita best friend,”


“Dih apaan best friend pret,”


“Hahahaha kamu kenapa sih ketus banget, Sayang,”


“Eh—“


“Nggak-nggak, maaf nggak sengaja manggil gitu sumpah,”


Zeline memutar bola matanya jengah. Sementara Vindra terkekeh, tak merasa bersalah, permintaan maaf tadi sebatas formalitas saja.


“Alesan aja lo,”


“Seriusan, udah ah nggak usah dibahas. Yuk silahkan masuk mobil aku, Tuan putri,”


Kapan lagi Vindra bisa membawa Zeline dengan mobilnya lagi setelah beberapa bulan mereka putus. Ia bahagia sekali, akhirnya Zeline bisa duduk di kursi yang dulu hampir setiap hari Zeline tempati.


“Eh Vindra-Vindra!”


Vindra sengaja tak menghentikan laju mobil, ataupun membuka jendela mobil ketika Dania mengetuk-ngetuk jendela mobilnya sambil mengejar.


“Ih Vindra, lo kok gitu sih? Itu Dania ada pelru kali sama lo,”


“Tuh kan balik lagi ke lo gue, aku nggak suka dengarnya. Kamu paham nggak sih?”


“Ya itu si Dania kenapa kamu cuekin gitu aja?”


“Nah gitu kan lebih enak didengar, kita man udah bestie,”


Alih-alih menjawab pertanyaan Zeline, Vindra justru sibuk bicara semdiri. Mulai dari protes karena tak suka dengar Zeline bicara lo gue lagi, sampai kepada ungkapan bahagianya karena Zeline kembali bicara aku dan kamu. Padahal Zeline sedang berusaha mendapatkan jawabannya tentang kenapa Ia membiarkan Dania begitu saja.


“Vindra itu Dania tadi kenapa?”


“Ya mana aku tau. Udah biarin aja nggak usah diurusin,”


“Ya tapi man barangkali dia ada perlu sama kamu, kenapa sih nggak berhenti dulu tadi? Jahat banget ke teman sendiri, dia teman lama kamu juga man? Terus kenapa kamu begitu? Katanya teman,”


“Ya pasti dia mau ganggu aku. Males ah, biarin aja udah,”


“Tapi kasian ih,”


*******


“Lo kenapa misuh-misuh gitu di depan gerbang? Lo gila ya?”


“Diem lo, monyet!”


“Astaga kasar banget mulutnya ih, pantesan Vindra nggak mau,”


Dania melotot tidak terima mendengar ucapan Anin yang dengan terang-terangan menghinanya. “Heh mulut busuk! Emang lo secantik dan sebaik apa sampai Vindra nerima lo? Hah? Lo tuh cuma dianggaps ahabat sama dia. Lo tuh kenapa sih? Lo kayaknya beneran ngincer Vindra ya? Lo nggak anggap dia sahabat ya? Dan lo anggap gue saingan lo setelah Zeline berhasil lo bikin tumbang. Dih cewek pick me nggak tau malu banget,”


“Aduh, kalau gue mau sama Vindra, udah dari lama kali,”


“Ya masalahnya Vindra nggak mau sama lo, dia anggap lo murni sebagai sahabat aja, jadi jangan polos-polos gatel deh jadi cewek. Mentang-mentang gue lumayan baru di sekolah ini, lo pikir gue nggak tau kelakuan lo selama ini? Anak-anak sini udah pada tau kalau lo tuh dekat banget sama Vindra,”


“Ya Vindra nya mau dekat gue, gimana dong? Dia kan sahabat gue. Wajar kalau dia dekat sama gue, masalahnya dimana coba?”


“Masalahnya dimana? Di biji mata lo tuh!”


Jawab Dania sambil menunjuk mata Anin sambil menekan nada bicaranya. Anin spontan mundur ketika bahunya sengaja ditabrak oleh Dania.


“Ih sok asik banget main tabrak-tabrak,” ujar Anin dengan suara lumayan keras supaya sampai di telinga Dania.


“Dasar cewek pick me diem-diem tapi gatel,”


“Jangan sembarangan ngomong lo ya!”


Anin yang tidak terima dengan ucapan Dania langsung melemparkan Dania dengan sebuah batu kecil ke arah punggu Dania dan itu tepat sasaran.


“Mampus lo!”


“Anjrit! Sakit bego!”


Dania langsung berbalik dan memaki Anin dengan kata-kata kasarnya. Ia bahkan berjalan cepat ke arah Anin dengan rahang mengeras.


“Kurang ajar lo! Mau lo apa sih? Hah?”


“Lo dukuan kan yang mulai? Wajar dong kalau gue kasih lo pelajaran?”


“Lo nggak terima gue bilang diem-diem tapi gatel? Hah? Lho bukannya itu kenyataan ya? Kalau lo emang nggak gatel harusnya lo jauhin lah Vindra yang udah punya cewek, walaupun lo sahabatnya! Harusnya lo lebih jaga jarak, lebih tau diri gitu, jangan mau nyaingin Zeline yang notabene nya adalah pacar Vindra. Jauh gue kemana-mana lah, gue deketin Vindra yang juga teman gue, tapi disaat dia udah putus dari Zeline. Nah sementara lo apa? Diem-diem sok polos minta perhatian, pengennya disayang, heleh perempuan ular dasar! Tanpa lo sadar pacar dia lo jadiin nomor dua,”


“Lo tuh nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Lo nggak tau apa-apa mending diam deh,”


Dania tersenyum sinis kemudian melipat kedua lengannya. “Makanya sadar diri, malu kan kalau disadarin sama orang? Gih sadar diri sekarang sebelum terlambat wahai, Kawan,” ujar Dania seraya meneouk bahu Anin.


“Gue sadar diri kenapa? Orang gue nggak salah kok, sekarang aja gue sama Vindra udah berjarak,”

__ADS_1


“Ya karena Vindra rmang geli kali sama lo gara-gata lo juga kan dia putus dari ceweknya, jadi ya sekarang mending menjauh lah. Nah tugas lo sekarang tau diri aja,”


“Mulut lo kurang ajar tau nggak sih?!”


Anin menampar Dania. Sikap kasar Anin itu menjadi bahan tertawaan Dania yang langsung mengusap wajahnya yang baru saja ditampar oleh Anin.


“Wow, berani banget lo nampar gue,”


Dania langsung menarik rambut Anin dengan cukup kuat hingga posisi kepala Anin tedongak ke atas.


“EH ANIN DANIA KALIAN KENAPA BERANTEM?!l


“BUSET DUA BETINA ADA-ADA AJA SIH,”


Siswa lain langsung panik melihat Anin dan Dania saling menarik rambut. Dan mereka berbondong-bondong menghampiri dua perempuan itu dan berusaha untuk melerai.


“HEH BERHENTI NGGAK! KALAU NGGAK, GUE LAPORIN KE KEPSEK SUPAYA


KALIAN DIKELUARIN DARI SEKOLAH INI. MAU KALIAN?! HAH?!”


Akhirnya Dania dan Anin berhasil dilerai usai para siswa menarik keduanya supaya ada jarak. “Lo berdua tuh bener-bener ya! Bikin malu aja! Malu sama anak TK yang bisa akur main ayu an bareng, lah kok kalian udah lebih dewasa daripada anak TK malah main jambak-jambakan? Nggak malu sama umur ya? Hah?!”


“Asal kalian tau, yang mulai pertama kali pakai kekerasan fisik tuh si Anin! Dia ngelemparin batu ke punggung gue, kalian kalau ada di posisi gue bakal terima nggak? Hah? Pasti nggak kan? Nah itu yang gue lakuin tadi. Gue tarik aja rambutnya eh dia malas balas nggak terima padahal dia yang mulai main fisik duluan,”


“Bacot lo! Yang mulai duluan tuh sebenernya lo! Karena lo ngatain gue yang nggak-nggak,”


“Dih masih nggak terima. Aneh banget manusia satu ini,”


*******


“Kira-kira barang apa yang lagi diperluin sama Tante Rina?” Tanya Zeline oada lelaki di sebelahnya yang fokus mengemudi dengan hati berseri-seri karena berhasil membawa Zeline ke rumahnya.


“Nggak tau, apaan aja deh terserah kamu,”


“Lah kok terserah aku sih? Aku butuh jawaban kamu karena kamu kan anaknya pasti taulah, biasanya juga kamu bantu aku kok,”


“Aku nggak mau nuntut kamu, sekarang kamu kan bukan pacar aku lagi nah kamu mau datang ke rumah aku aja mama, aku, papa udah senang banget, jadi kami nggak mau minta lebih,”


“Ya emang dari dulu nggak minta lebih kok, tapi biasanya kamu bantu aku gitu kalau aku nanya kado apa,”


“Serius deh kamu mau datang aja Mama aku tuh udah senaaaangg banget. Tuh saking senangnya, sampai banyak huruf a nya,”


“Ya tapi takutnya kalau aku beli sesuatu tapi ternyata nggak berguna atau nggak dipakai, rasa senang Tante Rina takut jadi berkurang,”


“Ya nggak lah, mana mungkin barang pemberian kamu nggak berguna atau nggak terpakai, nggak mungkin, pasti berguna dan dipakai kok,”


“Udah buruan bantuin aku, apa yang kira-kira lagi dibutuhin, atau lagi dipengenin sama mama kamu, cepetan jawab! Kalau kamu nggak mau jawab, ya udah okay turunin aku aja di sini sekarang,”


“Heh kok gitu ngomongnya? Jangan dong, masa minta diturunin di pinggir jalan begini sih?”


“Ya abisnya kamu—“


“Jujur aku juga bingung kali ini. Aku udah beli kado yang lagi mama pengenin, nah kalau aku ngasih tau kamu, nanti jadi double dong barangnya?”


“Biasanya kamu punya kebih dari satu opsi untuk sesuatu yang lagi dibutuhin atau dipengenin, masa cuma satu doang sih?”


“Hmm aku bingung kali ini, seriusan deh,”


Vindra tidak berbohong, sekarang Ia benar-benar bingung mamanya mau atau butuh apa. Tapi Ia akan coba berpikir.


“Apa?” Tanya Zeline pada Vindra yang diam saja.


“Bentar, aku lagi mikir nih,”


“Oh lagi mikir kirain lagi ngelamun,”


“Ya masa ngelamun sambil nyetir. Bahaya dong, bawa dua nyawa nih,”


“Belum ketemu jawabannya?”


“Nih ya, Mama aku itu lagi kepengen banget belialat pengaduk adonan itu apa namanya? Aku lupa, mixer bukan sih? Nah itu udah aku beliin,”


“Ya terus kenapa kamu malah nyebutin itu lagi sekarang? Yang belum ada dong nyebutinnya,”


“Iya ini aku belum selesai ngomong, Zeline cantik,”


Zeline berdecak pelan. Disaat Ia butuh jawaban yang didapat malah gombalan. “Buruan jawab ah, aku nggak nyuruh kamu gombal,” ucap Zeline dengan sangat ketus.


“Sabar, aku belum selesai ngomong lho,”


“Nah ya udah ngomong sekarang,”


“Gini, mama kalau nggak salah pernah bilang, mama tuh pengen—-“


Zeline mendnegarkan dengan serius tapi ketika Vindra sengaja memenggal perkataannya, Ia langsung menggerutu kesal.


“Apaan? Kok malah berhenti?”


“Jadi mama tuh baru-baru ini bilang, eh nggak baru-baru ini banget sih, udah agak lama lah, mama bilang ke aku pengen aku sama kamu balikan, Zel,”


“IH VINDRA BUKAN ITU YANG AKU MAKSUD!”


“Aku salah ya?”


“Astaga, bukan itu yang aku maksud, barang, bukan—ih nggak habis pikir aku sama kamu,”


Vindra langsung tertawa karena telah berhasil mengerjai Zeline. Kelihatannya Zeline benar-benar kesal sekarang.


“Hahaha bercanda kok,”

__ADS_1


“Yang serius dong, jangan bercanda mulu,”


“Tapi itu sebenarnya serius sih, itu nggak bercanda karena emang mamaku pernah— eh bukan pernah bahkan sering bilang kalau mama pengen kita balikan. Itu nggak bercanda, sumpah deh. Cuma emang aku ngasih tau ke kamunya di waktu yang nggak tepat aja kayak tadi, makanya aku sebut bercanda, sebenernya emang mama sering banget ngomong pengen kamu jadi pacar aku lagi. Aku cuma bisa pasrah kalau mama udah ngomong kayak gitu, aku nggak tau harus bilang apa,”


__ADS_2