Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 139


__ADS_3

“Makan nasi goreng doang ‘kan?”


“Iya dong, nggak kemana-mana lagi selain ke tempat nasi gofeng yang sering kita makan itu, dari kecil dia udah jadi langganan kita ya, Vin. Aku nggak pernah berubah sih tetap suka nasi goreng itu walaupun yang jual udah anaknya karena si bapak udah nggak ada,”


Vindra mengangguk, Ia pun masih menyukai kelezatan dari nasi goreng yang sudah sering sekali Ia nikmati sejak kecil, karena Anin temannya sudah sejak lama, Anin juga tahu persis nasi goreng itu.


“Kamu kenapa sih tadi sempat nggak mau aku ajakin makan nasi goreng? Setelah aku paksain baru deh mau. Kamu emang lagi mager atau gimana? Atau lagi sibuk ya?”


“Tuh tau,” jawab Vindra sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah membawa Anin untuk makan di tempat nasi goreng langganan mereka.


“Emang kamu sibuk apa?”


“Ya sibuk lah intinya,”


“Sibuk galau? Ya elah emang masih jaman ya galau-galauan? Nggak lagi kali, move on makanya,”


“Aku sibuk main game, bukan galau. Nggak usah sok tau deh,”


Anin tertawa karena jawaban ketus Vindra. Kemudian Ia menganggukkan kepalanya pelan. Jadi Vindra tidak sedih lagi atas percintaannya, benarkah? Tapi yang Ia lihat justru sebaliknya. Makanya Ia berani bicara soal move on karena Vindra memang ketahuan sekali belum bisa move on dari mantan kekaishnya.

__ADS_1


“Kamu tuh harusnya cari kesibukan, ya mislanya jalan kayak gini sama teman-teman kamu supaya pikiran kamu tuh nggak galau mulu,”


“Aku nggak galau,”


“Nggak usah gengsi ngakuin itu, Vindra. Cowok nggak dilarang untuk sedih kok, nggak dilarang juga untuk nggak bisa move on tapi baiknya ya move on aja. Toh dia udah ada yang baru ‘kan. Kamu liat sendiri gimana dekatnya Zeline sama anak baru itu. Kayaknya mereka udah beneran punya hubungan sih ya mungkin belum waktunya di spill aja, ntar juga lama-lama ketauan kalau mereka—“


“Bisa stop ngobrolin Zeline sama Juan nggak sih? Aku nggak lagi bahas mereka lho, dan nggak mau dengar tentang mereka juga. Kamu kenapa malah bahas mereka coba?”


Anin langsung menutup mulutnya rapat-rapat ketika mendapat peringatan dari Vindra. Selama perjalanan akhirnya Anin hanya diam saja tak mengatakan apapun sampai kemudian mereka tiba di warung nasi goreng pinggir jalan yang sudah menjadi langganan mereka.


“Ayo buruan turun,”


Anin hendak menanggalkan sabuk pengaman namun kesulitan. “Nih seat belt kamu cacat banget segala macet,”


“Coba usaha,”


“Dih nggak sabaran banget,”


Vindra berdiri menunggu di sebelah pintu mobil bagian dimana Anin maish duduk terperangkap oleh sabuk pengaman nya.

__ADS_1


“Bisa nggak?”


Anin tak menjawab melainkan usaha karena sahabatnya itu sudah berkata ‘jangan manja’ itu perkataan yang Ia anggap pukulan supaya Ia tidak meminta tolong.


“Makanya biasa pakai sabuk pengaman,”


“Ih aku biasa ya!”


“Lah itu buktinya. Nyalahin sabuk pengaman mobil aku lagi,”


“Lah emang dia yang salah,”


“Ya udah buruan, bisa atau nggak sih?”


Vindra akan membantu namun Anin sudah berhasil melepaskannya. Anin langsung keluar dari mobil dan tiba-tiba ada yang menyapa mereka dengan hangat.


“Eh Vindra, Anin, berduaan aja?”


Anin langsung menatap orang yang menyapanya itu dengan senyum sementara Vindra sebaliknya. Alih-alih menyapa balik dengan hangat, Vindra langsung berjalan begitu saja memasuki warung nasi goreng.

__ADS_1


“Mendingan ngisi perut daripada ladenin orang basa-basi,”


__ADS_2