
Sampai malam, tidak ada tanda-tanda Vindra menghubungi Zeline dan itu membuat Zeline gelisah. Padahal Zeline berharap kekasihnya itu punya inisiatif menghubunginya lebih dulu dan mau bicara empat mata dengannya.
Zeline menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Zeline menghembuskan napas pelan kemudian menunduk menatap layar ponselnya yang sedari tadi padam. Ia gelisah menunggu panggilan ataupun pesan dari Vindra tapi tidak Ia dapati satupun.
“Kenapa sih Vindra jadi cuek begini? padahal biasanya dia paling cepat bujuk aku supaya keadaan jadi baik-baik aja. Aku sebagai cewek lagi-lagi overthinking deh. Apa benar ya Vindra udah jatuh cinta sama Anin, bukan sama aku lagi? Kenapa aku setakut ini ya kalau sampai itu beneran terjadi? Aku nggak aku kehilangan Vindra,”
*****
“Hahaha terus gimana?”
“Ya udah buat ulang lah. Ngerjain ulang lagi,”
Anin tertawa mendengar cerita Vindra tentang kejadian lucu sekaligus memantik emosi saat Vindra dan tiga temannya mengerjakan tugas kelompok. Dimana Daniel tidak sengaja menumpahkan kopi di lembaran soal yang sudah susah payah mereka kerjakan. Akhirnya terpaksa mereka kerjakan ulang di kertas yang baru.
“Udah aku emang lagi nggak karuan pikirannya hari ini karena mikirin Zelina, eh si Daniel nambah masalah aja, bikin pikiran makin mumet,”
Anin tertawa mendnegar Vindra mencibir kelakuan ceroboh teman sekelompoknya itu. Anin membayangkan ada di posisi Vindra pasti akan sama kesalnya.
“Iya aku paham kok. Udah capek-capek ngerjain eh malah rusak, jadi terpaksa deh kerjain ulang. Tapi ngomong-ngomong, kamu sama Zeline emang kenapa? Kok kamu bilang barusan lagi kepikiran Zeline? Kalian emangnya berantem ya?”
__ADS_1
Anin mendadak penasaran karena perkataan Vindra memang memancing rasa penasarannya untuk datang.
“Nggak berantem tapi aku nggak tau deh kenapa Zeline mood nya kayak lagi nggak enak gitu,”
“Udah coba ngomong baik-baik belum?”
“Aku malah takut ganggu waktu dia, padahal sebenarnya aku pengen banget dengar suara dia,”
“Duh Vindra, jadi cowok tuh harus jelas dong, jangan ragu-ragu kalau mau ambil tindakan. Harus yakin, tapi sebelumnya harus tau dulu risiko dari tindakan kamu itu kayak apa,”
“Kamu bijak banget,” puji Vindra yang mengundang kekehan Anin. Perempuan itu hanya geram saja karena Vindra setengah-setengah, harusnya kalau mau mendengar suara Zeline, Vindra langsung hubungi Zeline.
“Aku hubungin dia dulu deh,”
Alih-alih menjawab pertanyaan Anin, Vindra memilih untuk mengakhiri obrolan antara dirinya dan juga sang sahabat karena Ia ingin menghubungi kekaishnya Zeline dengan harapan ada tanggapan positif dari Zeline supaya keadaan diantara mereka tak lagi dingin seperti saat ini.
Vindra kirim pesan lebih dulu untuk memastikan kekasihnya belum tidur. Ia hanya mengirimkan pesan singkat saja.
-lagi apa?-
__ADS_1
Zeline di kamarnya langsung senang bukan main mendapati pesan dari kekasihnya. Ia hela napas panjang dulu sebelum memberikan jawaban.
-Tiduran aja-
Tak kalah singkat, Zeline juga menjawab hanya dengan dua kata saja. Zeline penasaran apa jawaban Vindra setelah ini.
-Aku telepon boleh? Mumpung belum terlalu malam-
-Ok-
Jawaban Zeline langsung dibaca oleh Vindra. Dan detik berikutnya ada panggilan video dari Vindra.
“Kok video call? Katanya telepon,”
“Ya ‘kan sama aja, emang kenapa? Kamu nggak mau video call sama aku?”
“Kata siapa?”
Vindra terkekeh karena gemas mendapati reaksi ketus dari Zeline. Jarang Ia bisa melihat Zeline ketus seperti ini. Kalau sedang merajuk saja dan Zeline termasuk perempuan yang sangat jarang merajuk.
__ADS_1
“Aku minta maaf ya udah bikin kamu badmood. Aku mohon sama kamu, jangan mikir yang aneh-aneh soal aku dan sahabat aku itu. Kami cuma sahabatan aja, Zel. Aku cinta sama kamu. Kalau aku mau sama Anin, ya udah dari dulu, Zel. Aku kenal dia udah lama. Aku anggap dia sahabat aja dan begitupun sebaliknya. Aku minta tolong banget sama kamu, tolong kamu jangan salah paham ya,”