
“Aku dianterin duluan nih? Emang kenapa? Kalian mau nge-date ya? Mau jalan berdua ya? Kemana nih?”
Anin menggoda Zeline dan Vindra yang sengaja mengantarkan Anin lebih dulu ke apartemennya alih-alih mengantarkan Zeline ke rumah.
Zeline menatap kekasihnya dnegan benak yang bertanya-tanya. Bukankah Vindra tidak mau pergi berdua dengannya? Biasanya lebih sering mengantar Ia dulu. Tapi sekarang justru Anin. Yang artinya nanti setelah Anin diantar ke apartemen, tinggalah mereka berdua.
“Iya aku mau jalan sama Zeline,” ujar Vindra yang membuat kening Zeline mengernyit. Jadi sekarang kekasihnya itu berubah pikiran.
Zeline tersenyum miring. Mungkin karena tahu, Ia sedikit badmood, jadi Vindra mau menuruti keinginannya.
“Kenapa berubah pikiran? Bukannya tadi nggak mau ya?”
“Daripada kamu ngambek ‘kan? Aku mau bikin kamu senang,” ujar Vindra seraya mengusap lembut puncak kepala Zeline. Tapi tidak semudah itu membuat hati Zeline luluh untuk saat ini. Zeline sudah terlanjur dibuat kesal karena Vindra tadi menolak ajakannya untuk pergi berdua.
“Aku nggak diajak?”
“Mau pergi berdua dulu ya, Nin,” jawab Vindra.
__ADS_1
“Hahahaha iya-iya, santai aja. Aku cuma bercanda kok. Aku juga nggak mau ganggu waktu kalian. Aku aja udah makasih banget diantar pulang,”
Zeline menghela napas lega mendengar jawaban Anin. Setidaknya kali ini Ia dan Vindra benar-banar berdua, tidak ada yang lain. Dan jawaban Vindra barusan juga tegas. Vindra ingin berdua dulu dengan Zeline.
Tiba di apartemen, Anin langsung keluar dari mobilnya dan melambai singkat pada Zeline yang sengaja menurunkan jendela mobil.
“Hati-hati, Guys, makasih ya,”
“Okay, sama-sama,” jawab Zeline dengan senyumannya, setelah itu kembali menutup jendela.
“Kamu beneran ikhlas nggak nih ngajakin aku pergi?” Tanya Zeline seraya menyandarkan punggungnya dan menatap sang kekasih yang fokus menyetir.
“Ya abisnya tadi nggak mau terus tiba-tiba mau, ‘kan mendadak berubah pikiran itu jadinya aneh,”
“Aneh gimana sih? Aku ‘kan mau bikin kamu senang, tadi nggak dengar?”
“Ya udah iya-iya, makasih,”
__ADS_1
“Ketus banget jawabnya,”
Zeline mendengus, yang lebih dulu ketus adalah Vindra, Ia hanya mengikuti. Makanya Ia makin ragu kalau Vindra benar-benar tulus menerima ajakannya.
“Untung aja ya kamu nggak ajak Anin juga. Ya nggak apa-apa sih sebenarnya, Anin ‘kan sahabat kita. Tapi ya jangan ikut mulu juga, benar nggak sih? Soalnya ya, kita udah makin jarang berdua lho. Kamu sadar nggak?”
“Nggak, aku merasa kita sama aja kok,”
Zeline mendengus, apa benar Vindra tidak sadar kalau waktu mereka berdua semakin berkurang? Padahal jelas-jelas setelah ada Anin di dalam hubungan mereka, waktu untuk berdua, itu benar-benar jauh berkurang.
“Ya udah lah, kalau kamu nggak nyadar,”
Zeline meraih ponselnya di dalam tas. Daripada mengajak Vindra bicara lagi membuat Ia makin badmood, lebih baik Ia sibuk dengan ponsel. Padahal biasanya mengobrol dengan Vindra itu menyenangkan, Ia tak pernah mau melewatkan. Tapi Vindra saat ini sedang dalam mode menyebalkan.
“Daripada ngajak dia ngomong, mending ngeliatin instagram. Dia lagi nggak asyik sekarang. Hih aneh banget,” batin Zeline seraya melirik sebal ke sebelahnya.
Zeline senyum-senyum, tak jarang tertawa karena melihat foto atau video orang liburan, maupun video yang lucu sampai Ia tertawa geli. Vindra yang mendengar itu merasa terusik. Ia menoleh ke samping sebentar.
__ADS_1
“Sibuk banget sih sama handphone. Ketawa, senyum-senyum nggak jelas. Emang ngeliat apaan?”