
“Nah kalau kayak begini ‘kan kamu nyaman, dan aman, nggak jadi pusat perhatian orang lain terutama kaum aku, Zel,”
Vindra puas melihat kekasihnya sudah berganti baju. Pakaian Zeline kali ini wajar menurut Vindra.
“Udah nggak terlaku seksi ya?”
“Nggak kok, ini aman, ada lengan, dan sedikit di bawah lutut. Aman-aman, okay sekarang kita berangkat ya?”
Zeline menganggukkan kepalanya. Ketika Vindra meraih tangannya untuk digenggam, Zeline tersenyum. Zeline tidak bisa menyenbunyikan rasa bahagianya karena malam ini Ia seperti melihat Vindra yang sebelum ada Anin di tengah-tengah mereka. Vindra yang menepati janjinya, datang tidak terlambat, lalu Vindra juga menyuruhnya untuk ganti baju karena menurut penilaian Vindra baju yang Ia kenakan di awal tadi kurang sopan dan akan menjadi pusat perhatian orang.
Vindra kerasa aneh ketika melihat Zeline berpakian yang terbuka sekalipun Zeline bilang akan ada banyak yang lebih dari dirinya.
“Kamu itu kalau berpakaian nggak pernah neko-neko jadi aku nggak suka pas liat kamu neko-neko kayak tadi,”
“Lho, emang aku neko-neko ya tadi?”
“Ya menurut kamu?”
__ADS_1
Zeline tak bisa menahan tawanya. Dari cara Vindra menjawab saja, Zeline sudah bisa menebak kalau Vindra kesal dengan keputusannya tadi mengenakan baju model lengan terbuka.
“Lain kali nggak usah deh pakai bajunyang neko-neko. Kamu itu cantik tanpa harus pamer,”
“Iya,”
“Jangan iya aja tapi tetap dilakuin,”
“Iya! Ih cerewet banget sih,”
Vindra terkekeh lalu menggerakkan salah satu tangannya untuk mengusap puncak kepala sang kekasih.
Vindra menghembuskan napas kasar. Ia melarang tentu bukan tanpa alasan. Sayangnya sekarang Zeline membahas hak, tanpa membahas kenyamanan serta keamanan gadis itu sendiri.
“Ya memabg kamu punya hak untuk berpendapat, berpakaian, dan lain-lain. Tapi aku ‘kan ngasihs aran supaya kamu tuh nyaman, aman ke pesta ini. Coba kalau kamu pakai baju yang kebuka, pasti kamu bakal diperhatiin sama orang-orang apalagi mereka yang udah kenal kamu tau kamu jarang nunjukkin, pasti mereka bakal suka banget merhatiin kamu karena tumben ‘kan kamu tunjukkin, biasanya juga nggak,”
“Apa kamu cemburu?”
__ADS_1
“Iya kali, cari aja jawabannya sendiri daripada tanya-tanya,”
“Dih ketus amat,”
Zeline melipat kedua tangannya di atas perut setelah bersandar dengan nyaman di kurai mobil Vindra.
“Jangan tidur ya, ntar kalau tidur kita nggak jadi hadir di acara ulang tahunnya Anin, kasian dia kalau kita nggak hadir,”
“Iya aku juga tau kok, aku nggak bakal tidur. Masa cuma nyender doang dikira mau tidur sih,”
“Ya takutnya gitu. Anin udah berharap banget kita datang, kasian kalau—“
“Iya-iya aku tau. Kita nggak bakal ngelewatin pesta ini kok, Vin. Aku tau kalau Anin udah undang kita, berharap kita datang, dan aku juga tau kamu nggak tega ke Anin kalau sampai kita nggak datang. Aku tau perasaan kamu itu lembut banget kalau soal Anin,”
“Bukan gitu, Anin teman dekat kita kalau nggak datang ya nggak dnak lah. Apalagi alasannya gara-gara aku mulangin kamu yang ketiduran,”
Zeline tersenyum miring sambil menegakkan badannya sendiri dan membuang pandangan keluar jendela.
__ADS_1
“Mana mungkin begitu. Kalaupun aku tidur kamu ‘kan tinggal bangunin aku,”
“Aku mana tega, jalan satu-satunya aku bawa kamu pulang lah biar kamu bisa istirahat,”