
“Vindra! Ih kok kamu malah cabut sih? Aku ngomong sama kamu lho,”
“Aku lagi nggak mau ngomong,” jawab Vindra dan masih melangkahkan kakinya pergi meninggalkan area parkir. Anin masih berusaha menyamakan langkah kaki Vindra yang cepat menghindar dari Anin karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja usai bicara dengan Zeline tadi dan juga melihat Zeline dengan laki-laki lain.
“Aku sempat liat kamu berangkat sama Zeline, bener nggak?”
“Iya,”
“Kok masih berangkat bareng? Zeline mau? Terus tadi aku liat Zeline ke kelas sama anak baru itu si Juan-Juan itu, kamu nggak cemburu?”
“Nggak,”
“Hah? Beneran?”
Vindra menganggukkan kepalanya. Dan Anin langsung tertawa mendengar ucapan Vindra. Anin tidak percaya kalau Vindra tidak cemburu jarena Anin bisa lihat bagaimana sikap Vindra terhadap Zeline. Vindra itu masih berharap terhadap Zeline.
“Masa sih kamu nggak cemburu? Aku nggak percaya ah,”
“Ya udah terserah,”
Vindra dan Anin sudah sampai di kelas. Vindra langsung menghembuskan napas kasar dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Ia akan memainkan ponsel saja sambil menunggu bel masuk berbunyi tapi tiba-tiba Anin mengambil salah satu bangku dan di tempatkan di sebelah bangkunya lalu Anin duduk di situ.
“Vindra, kamu kalau ada apa-apa cerita aja,”
“Aku nggak kenapa-napa, Anin,”
__ADS_1
“Tapi kamu kelihatan lagi ada kepikiran. Aku yakin kamu lagi cemburu tapi kenapa sih kamu nggak ngaku?”
“Aku mau cemburu atau nggak ya udah biarin aja, itu bukan urusan kamu. Cerewet banget sih, Nin,”
“Lah orang aku ngomong baik-baik. Kamu ketus amat sih,”
Vindra masih kesal dengan ucapan Zeline yang seolah-olah Ia punya hubungan istimewa dengan Anin padahal kenyataannya tidak. Jadi terbawa sikapnya yang kini kesal pada Anin.
*****
“Lo tadi berangkat sama Vindra ya?”
“Iya emang kenapa?”
“Gue tau, dia itu mantan lo ‘kan?”
“Lah udah dengar dari kapan tau kali. Desas-desus kalau lo sama dia pernah pacaran udah sampai ke kuping gue,”
Zeline menganggukkan kepalanya. Tak ada yang Ia tutupi. Ia mengakui kalau Ia dan Vindra memang sepasang mantan kekasih.
“Dulu berapa lama jadian sama dia, Zel?”
“Hmm berapa lama ya? Emang kenapa nanya kayak gitu? Kepo lo?”
“Ya nggak kepo juga sih, cuma pengen tau aja,”
__ADS_1
“Gye sama dia kurang kebihd ua tahun lah,”
“Oh udah lumayan lama juga lah ya? Dia mantan pertama lo?”
“Hmm iya,”
“Cinta pertama?”
“Bisa dibilang iya,”
“Kalau gue boleh tau, emang kenapa lo putus sama Vindra, Zel? Bukannya dia baik ya? Buktinya lo bisa bertahan sama dia dua tahun, dan gue liat juga sikapnya baik sih ke lo,”
“Ya emang dia baik banget, makanya gue pacaran sama dia dua tahun. Cuma gue udah nggak bisa lanjut lagi sama dia makanya putus deh,”
“Sayang banget ya udah dua tahun terus putus. Tapi gue yakin sih ada alasan yang mendasari lo ngambil keputusan itu,”
“Ya mau gimana lagi. Emang udah nggak cocok,”
“Apa ada orang ketiga?”
“Nggak ada,” jawab Zeline seraya menggelengkan kepalanya. Zeline memilih untuk tertutup soal hubungannya.
“Terus kenapa?”
“Ya intinya udah nggak cocok aja,”
__ADS_1
“Pasti ada alasan lain sih biasanya, tapi apapun itu gue doain yang terbaik deh buat lo. Nggak usah lama-lama terpaku sama masa lalu kalau saran gue, mulai sekarang cari kebahagiaan lo sendiri tanpa mikirin masa lalu,”