Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 103


__ADS_3

“Kok kamu jadi kayak gitu sih? Kamu nyalahin aku? Hah? Orang bukan aku kok yang bikin Anin jatuh! Kamu jangan marah sama aku aja dong, yang nuduh aku siapa coba? Kamu nggak marah ke dia?”


Zeline yang semula berjongkok, langsung beranjak bangun. Ia tidak terima ketika Vindra seolah menyalahkannya. Malah Ia yang kena marah sementara orang yang menuduhnya tidak dimarahi dan tidak ditatap tajam oleh Vindra.


“Kamu jangan kebiasaan ya bersikap seenak hati sama aku! Kamu jangan marahin aku aja dong. Aku nggak salah! Aku nggak dorong dia!”


Zeline sebelumnya tidak pernah menunjuk Anin dengan jarinya dan tidak menyebut nama Anin. Zeline hanya menyebut Anin dengan ‘dia’ dari situ sudah jelas bahwa Zeline benar-benar marah.


“Zel, jangan kencengin suara kamu. Malu tau! Kamu kenapa sih? Aku tuh cuma nggak mau kamu marah, aku pusing dengarnya,”


“Ya aku nggak terima lah kamu marahin aku, emang akus alah apa?! Orang dia jatuh sendkri kok! Jangan kebiasaan nyalahin orang yang padahal nggak salah ya! Kamu terlalu belain dia. Iya aku tau dia sahabat kamu, tapi aku ini oacar kamu! Nggak bisa ya menghargai aku seidkit aja?! Hah?! Aku muak sama kamu, Vindra. Daripada kamu belain dia terus, kamu anggap dia mebih daripada aku, ya udha mendingan kamu lacaran aja sama dia. Kita putus, udah selesai sampai di sini aja!” Setelah bicara dengan nada tegas pada Vindra di depan mata kepala Anin juga, Zeline langsung bergegas pergi ke kamarnya dnegan tangis yabg sudah pecah. Sejak tadi Ia sudah menahannya.


Ia tidak suka ketika dimarahi, disalahkan, padahal Ia tidak melakukan kesalahan apapun. Dan yang melakukan itu adalah orang yang Ia anggap sahabat, dan juga kekasihnya sendiri.


“Kurang aja banget! Aku nggaks alah malah disalahin! Apa buktinya kalau aku salah? Dia aja yang terlalu semangat mau jalan cepat! Sedangkan main bakiak itu ya harus kerja sama kalau mau sendiri ya main aja sendiri sana di rumah!“


Zeline menggerutu di dalam hati sambil menghapus air matanya yang jatuh terus menerus. Ia paling tidak suka disalahkan atau hal yang tidak Ia lakukan. Vindra sesekali harus diberikan pelajaran supaya tidak terbiasa menyalahkannya, dan membela yang menuduhnya salah.


Zeline jadi membenci Anin sekarang, bahkan Ia juga membenci Vindra yang saat ini tidak lagi menjadi kekasihnya. Selama ini Ia terima kalau Vindra dekat sekali dengan sahabat perempuannya, dan semenjak hadir Anin dalam hubungan mereka Ia merasa banyak kehilangan waktu bersama Vindra dan perhatian Vindra. Tapi ketika Ia disalahkan hingga nada bicara Vindra lumayan keras tadi, Ia tidak bisa diam saja. Spontan Ia mengakhiri hubungannya dnegan Vindra. Hatinya lelah diminta untuk sabar dan menerima terus-terusan.


“Vindra jahat! Kurang ajar! Dia nyalahin aku yang sebenarnya nggak salah! Anin juga jahat! Dia udah sering bersikap kayak nggak anggap aku ini sahabatnya,”


Zeline langsung mendarat di atas tempat tidur dan tangisnya pecah. Zeline ingin menangis hingga puas selagi teman-temannya yang lain sibuk dnegan perlombaan.


******


“Makasih ya, Vin,” ujar Anin setelah Vindra mengobati luka lecet di siku sebelah kanannya. Ia menatap Vindra dnegan tulus.

__ADS_1


“Sama-sama, sekarang aku mau ke kamarnya Zeline dulu,” ujar Vindra sambil merapikan kotak P3K dan akan Ia kembalikan pada panitia.


“Eh kok kamu ke kamar Zeline? Emang mau ngapain? Nanti bikin orang salah paham lho jadinya,”


“Aku mau minta maaf sama dia,”


“Tapi dia ‘kan udah mutusin kamu. Tega juga dia ya. Harusnya dia nggak mutusin kamu gitu aja dong, kamu ‘kan nggak salah karena kamu belain sahabat kamu sendiri. Dia nya keterlaluan,”


“Aku harus minta maaf sama dia, mungkin tadi omongan aku ada yang bikin hati dia jadi nggak enak,”


“Ya udahlah biarin aja, toh dia udah mutusin kamu. Omongan Zeline tadi juga nggak enakij lho, emang kamu nggak merasa gitu?”


“Aku reflek kinta dia untuk diam, karena aku pusing, aku panik. Kamu lahi nggak baik-baik aja terus kamu dan Zeline malah debat,”


“Ya jarusnya sih kamu emanf nghak ngomong kayak tadi ke Zeline ya. Cuma ‘kan semua udha terjadi. Nasi udah terlanjur jadi bubur. Ya udah nghak pelru disesali lagi. Dan Zeline juga udah mutusin kamu,”


“Kirain minta nasi hehehe,”


Vindra tak menanggapi apapun. Bahkan disaat Anin mengsjaknya bercanda, wajahnya datar dan pergi begitu saja meninggalkan Anin yang langsung mendengus kesal.


*****


“Zeline, boleh sku ngomong sebentar?”


Vindra sudah berada tepat di depan kamar Zeoine dan Ia langsung mengetuk pintu kamar kekaishnya itu berharap dibukakan.


“Zel, kamu tidur?”

__ADS_1


Vindra masih terus berusaha membujuk Seline supaya membuka pintu kamarnya dengan ketukan yang Ia buat halus.


“Zeline, aku mau ngomong sebentar, aku minta banget sama kamu, Zel,”


Perkataannya juga lembut sejalan dnegan ketukan yang Ia ciptakan di pintu kamar Zeline. Ia tidak mau emosi Zeline meluap lagi kalau Ia tidak lembut bersikap. Lagipula kedatangannya saat ini untuk mengakui kesalahan.


“Zelin, tolong buka pintu kamar kamu sebentar. Aku mau ngomong sama kamu,”


“Zel—“


“JAUH-JAUH! JANGAN GANGGU AKU! KARENA AKU LAGI MAU SENDIRI. LAGIAN KITA UDAH NGGAK ADA HUBUNGAN APA-APA!”


Vindra tersentak kaget ketika Zeline menjawab dengan suara keras dari dalam kamarnya. Tapi Vindra bisa tahu dari suara Zeline kalau Zeline baru saja habis menangis atau bahkan sampai detik ini masih menangis.


“Zel, aku minta maaf ya, tolong kamu jangan marah lagi sama aku. Dan aku mau tegasin ya sama kamu, kita nggak berkagir sedikitpun. Kamu jangan ngomong gitu dong. Aku nggak mau putus dari kamu, Zel, tolong jangan ngomong kayak gitu lagi ya, Zel, aku mohon,”


“JAUH-JAUH LO DARI GUE SEKARANG! JANGAN GANGGU GUE!”


“Zel, kok kamu gitu sih? Aku mau ngomong dulu sebentar sama aku, tolong kasih aku kesempatan ya, Zel? Boleh ya? Keluar dulu sebentar, aku mohon,”


“Nggak mau! Pergi sekarang! Jangan ganggu gue! Lo udah keterlaluan nyalahin gue sedangkan dia nggak lo salahin padahal jelas-jelas dia nuduh gue. Lo tuh harusnya nggak nilai dari satu sisi aja dong! Gue berhak untuk ngebela diri karena gue nggak salah!”


Vindra memejamkan matanya dan menundukkan kepala dengan tangan tergantung berhenti mengetuk pintu kamar Zeline yang terkunci.


“Pergi! Jangan pernah dekat-dekat gue lagi! Kita nggak ada hubungan apapun jadi mending lo jauh-jauh deh dari gue! Sama perempuan yang lo bela aja sana!”


Vindra menghembuskan napas kasar dan menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh Ia tidak ingin ada di situasi seperti ini. Tadi apa yang Ia lakukan benar-benar diluar perkiraannya dan sekarang Ia harus menghadapi kemaran Zeline.

__ADS_1


“Zeline benar-benar marah sama gue,” gumam Vindra.


__ADS_2