Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 106


__ADS_3

“Zeline, aku boleh ngomong sebentar sama kamu?” Tanya Anin dari depan pintu kamar Zeline dan Gisa yang langsung menatap ke arah Anin. Gisa tahu sebabnya Zeline tidak baik-baik saja untuk saat ini adalah Anin. Jadi Ia tidak mau langsung memberi akses untuk Anin masuk ke kamar dan mengajak Zeline mengobrol.


“Zel, ada yang mau aku omongin sama kamu,”


Sambil naik ke atas tempat tidur Zeline menjawab “Nggak ada hal yang perlu diomongin. Aku mau istirahat,”


“Ini ‘kan udah sore, bentar lagi acara api unggun, jangan istirahat dulu plis,”


“Suka-suka aku lah. Mau istirahat sekarang, atau pas kiamat nanti ya itu urusan aku bukan urusan kamu,” jawab Zeline dengan ketus.


Anin menghembuskan napas kasar. Benar kata Vindra. Zeline kesal tidak hanya pada Vindra tapi pada nya juga.


“Zel, aku salah apa? Aku pengen ngomong sama kamu sebentar aja, plis kasih aku waktu,”


“Duh Anin, kamu nggak ngerti ya? Aku mau istirahat,”


“Cuma sebentar doang, plis,”


“Nin, kalau Zeline bilang nggak mau jangan dipaksa ya,”


“Aku nggak ngomong sama kamu ya,” ujar Anin sambil menatap Gisa dengan ketus.


Gisa membelalakkan kedua katanya terkejut. Jadi sekarang Anin sinis padanya hanya karena Ia menengahi Anin dan Zeline yang takutnya malah bertengkar.

__ADS_1


Yang satu tidak mau diajak bicara yang satunya lagi memaksa daripada terjadi perselihan makanya Gis atengahi tapi tenryata sikapnya itu ditanggapi dengan sinis oleh Anin.


“Ya udah sih biasa aja, gue tuh cuma nggak mau ya ada perdebatan di sini. Ya kalau Zeline nggak mau masa iya dipaksa,”


“Ya orang urusanku tuh cuma sama Zeline,”


“Ya udah sok atuh kalau emang Zeline mau ngomong sama kamu mah silahkan. Aku nggak larang,” jawab Gisa dengan logat sunda nya.


“Gimana, Zel? Kamu mau aku tinggalin di sini berdua sama Anin atau nggak?”


“Nggak-nggak, kamu nggak perlu harus pergi kok. Kamu tetap di sini aja,”


“Jadi gimana, Zel? Aku boleh—“


“Ya udah ngomong aja buruan,”


“Emang harus?”


Zeline tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Anin merasa kalau Zeline yang saat ini Ia tatap bukanlah Zeline yang selama ini Ia kenal.


“Biar lebih enak ngobrolnya,”


“Ya udah,” jawab Zeline dengan datar. Tidak mempersilahkan Anin secara langsung tapi Zeline rasa, Anin pasti paham makna dari jawabannya.

__ADS_1


“Gue keluar aja deh,”


“Eh nggak usah, Gisa. ‘Kan udha gue bilang barusan lo nggak perlu keluar,”


“Tapi gue nggak enak,”


“Nggak usah nggak dnakan, orang lo penghuni kamar ini juga kok. Gue mau lo di sini aja,”


“Hmm okay kalau begitu,” Gisa menganggukkan kepalanya. Ia berdiri di depan pitnu yang sudah Ia tutup dan Anin duduk di tepi ranjang bersama dengan Zeline.


“Zel, kamu marah sama Vindra ya?”


“Menurut lo?”


Anin mengangkat salah satu alisnya. Zeline ketus dekali, bahkan sudah memgubah kamu menjadi lo, padahal biasanya kalau bicara padanya selalu berusaha baik.


“Apa benar kamu sama Vindra udah putus?”


“Iya, emang kenapa?”


“Kenapa putus sih? Vindra galau lho karena diputusin kamu,”


“Kenapa putus? Ya karena aku udha nggak dihargain lagi, jadi untuk apa masih bertahan? Mending mundur lah daripada makan hati terus,”

__ADS_1


“Ih emang apa sih yang Vindra lakuin? Kenapa kamu merasa kalau kamu udha nggak dihargain lagi sama Vindra? Yang aku liat Vindra masih sayang banget sama kamu, dan selalu hargain kamu kok buktinya sikap dia ke kamu selalu baik,”


“Jangan nutup mata deh, Nin,”


__ADS_2