Pacar Atau Sahabat

Pacar Atau Sahabat
Bab 163


__ADS_3

“Lo kenapa?”


Juan tersentak ketika tiba-tiba ada yang sengaja menyenggol lengannya. Ia menoleh ke arah Tofan yang baru saja bertanya kepadanya.


“Hah? Nggak, gue nggak apa-apa,”


“Lo ngeliat ke arah Jery sama Zeline, lo okay?”


Juan terkekeh mendnegar ucapan Tofan. Kemudian Ia menganggukkan kepalanya. Tapi jawabannya itu membuat Tofan mendnegus tak percaya.


“Lo kayaknya cemburu ya? Lo sih telat geraknya, udah keburu dideketin sama yang lain,”


“Gue sama Zeline kan teman,”


“Ah teman apa teman? Gih pepet sana, selagi janur kuning belum melengkung, lo masih punya kesempatan kok,”


“Udahlah Vindra, terus si Jery. Waelah, gue harus berhadapan sama mereka,”


“Hahahaha ya kalau naksir mah emang harus berkorban,” ujar Tofan yang sedari tadi melihat ke arah Zeline dan Jery yang tengah mengobrol. Zeline makan bersama teman-temannya di satu meja, kemudian tiba-tiba Jery datang dan langsung duduk bergabung dengan Zeline bersama teman-temannya.


“Lo naksir kan?”

__ADS_1


“Nggak tau ah,”


“Lah kok nggak tau? Coba lah tanya hati lo. Apa lo naksir sama Zeline? Kalau naksir ya berarti harus mau bersaing. Dia cewek cakep, Bro. Pasti ada aja saingan lo, dan itu bisa jadi nggak dikit. Liat nihs ekarang, saingan lo dua. Ntar siapa lagi yang terang-terangan naksir sama Zeline coba? Keknya bakal ada lagi lah pasti,”


“Ya ydahlah biarin aja,”


“Yakin nih biarin aja? Emang lo kuat ngeliatnya? Maksdu gue, lo kuat cemburu?”


“Ah elah, Fan. Bisa diem nggak lo?”


“Ahahahaha,”


Tofan tertawa cukup keras karena teguran Juan yang ketus menegur sambil melontarkan tatapan tajam.


Juan kembali memperhatikan interaksi antara Zeline dengan Jery. Semakin jelas perasaannya sekarang. Pelan-pelan Ia mulai menyadari kalau Ia menyukai Zeline yang menganggapnya sebagai teman. Entah sejak kalan tapi yang jelas ketika pertama kali bertemu, Zeline yang kelihatannya cuek, sombong, tapi ternyata friendly setelah berkenalan langsung membuat Ia tertarik.


****


“Nin, kenapa duduk di sini?”


“Nggak apa-apa, pengen aja,”

__ADS_1


Vindra yang sedang menikmati makanan sambil memperhatikan kebersamaan Zeline dan Jery langsung menoleh ke sebelahnya karena tiba-tiba sisi yang kosong ditempati oleh Anin.


Tak lama kemudian Dania datang dnegan membawa air minum yang baru dibeli olehnya. Dania langsung menegur Anin.


“Lo ngapain di sini, Nin?”


“Ha pengen duduk sama sahabat gue lah. Emang kenapa? Nggak boleh? Lo aja boleh dekat-dekat Vindra,”


“Ya taoi gue mau duduk di situ,” ujar Dania seraya menunjuk tempat yang saat ini diambil alih oleh Anin.


“Sayangnya udah gue duluan yang pakai kursi ini. Lo telat sih, ya udah lain kali aja deh,”


Dania berdecak pelan. Tiba-tiba Ia meletakkan air minumnya, kemudian Ia hendak menarik Anin tapi langsung mendapat teguran dari Vindra.


“Dania, Anin lagi makan. Udah nggak usah dipermasalahin lah soal tempat duduk. Mau duduk dimana aja tuh sama! Nggak usah ribet deh,”


“Aku kan juga teman kamu, Vin,”


“Nah ya udah sesama teman nggak usah ribut,”


“Tapi aku udah niat mau duduk di situ,”

__ADS_1


“Nggak asik ah setelah ada Dania ya, Vin? Biasanya kita dekat terus, akrab, sekarang kamu ditempelin mulu, kamu nggak risih apa? Kalau sama aku nggak kan?”


Vindra hanya diam tak menanggapi ucapan Anin. Mau dekat demgan siapapun tak pernah Ia permasalahkan yang Ia permasalahkan ketika orang-orang didekatnya meributkan hal tidak penting. Kepalanya jadi sakit ketika harus mendapati keributan itu.


__ADS_2