
“Kamu mau ngapain?”
“Kerjaan aku udah beres, aku mau bantuin Anin, dia kasian kakinya ‘kan lagi sakit. Buku yang mesti disortir masih banyak tuh,”
Zeline menghembuskan napas pelan. Pekerjaan Vindra membersihkan rak-rak buku yang menjadi tugas Vindra memang sudah selesai, Ia pikir Vindra akan membantunya untuk membersihkan rak-rak yang menjadi bagiannya namun ternyata Vindra ingin membantu Anin yang kakinya lagi sakit tapi mendapat hukuman yaitu menyortir buku-buku lama yang akan dikeluarkan dari perpustakaan.
“Sebenarnya hukuman Anin itu ringan ‘kan ya? Kenapa harus dibantu? Kenapa Vindra nggak bantu aku dulu? Aku nih harus naik-naik bangku supaya bisa bersihin rak bagian atas,” batin Zeline yang sebenarnya mengharapkan perhatian Vindra. Biasanya Vindra tak membiarkan Ia terjebak dalam kesulitan, Vindra selalu mau mengulurkan tangan selama menjadi kekasihnya selama dua tahun. Tapi kali ini Vindra berbeda. Ia membiarkan kekasihnya naik ke atas kursi untuk membersihkan kotoran di rak buku bagian atas.
“Sini aku bantu, Nin,”
“Makasih ya, kamu baik banget sih,”
“Iya sama-sama,”
“Kamu udah selesai ngerjain hukuman?”
“Udah, makanya mau bantuin kamu,”
“Kalau Zeline? Udah juga belum?”
“Bel—“
“ARGHH!”
Vindra dan Anin menoleh ke sumber suara yang tiba-tiba datang dari arah kanan mereka. Mata mereka membelalak ketika melihat Zeline sudah di lantai dan kakinya tertimpa oleh kursi yang salah satu kakinya patah.
“Astaga, Zeline!”
__ADS_1
Vindra bergerak dengan cepat membantu Zeline. Dada Vindra berdebar melihat Zeline jatuh, dan Ia harap-harap cemas. Ia takut ada luka serius yang dialami oleh Zeline.
“Ya ampun, Zel. Kamu kenapa? Kok bisa jatuh sih? Nggak fokus ya?”
“Nggak fokus gimana? Orang kaki kursinya tiba-tiba patah kok. Kamu mau nyalahin aku?”
Mendadak emosi Zeline meningkat ketika Vindra bicara seperti itu seolah menempatkannya di posisi yang salah.
“Ini musibah, nggak ada satu orangpun di dunia ini yang mau ngerasain jatuh, Vin. Aku kebetulan aja lagi kedapatan cobaan. Kaki kursi yang jadi pijakan aku patah,”
“Aku nggak nyalahin kamu kok, aku khawatir kamu jatuh begini. Kamu ‘kan orangnya ceroboh, bisa jadi kamu jatuh karena kesalahan kamu sendiri,”
Zeline berdecak mengetahui pemikiran kekasihnya. Ia sudah fokus ingin menyelesaikan hukumannya tapi tiba-tiba saja salah satu kaki kursi yang menjadi pijakannya malah patah dan menyebabkan Ia terjatuh.
“Apa yang sakit? Hmm?”
Vindra sudah langsung menyingkirkan kursi dari atas kaki Zeline kemudian Ia memberikan sentuhan lembut sambil memandang Zeline khawatir.
“Kita ke UKS yuk,”
“Nggak usah, cuma sakit kayak gini doang,”
“Atau kita langsung ke klinik aja? ‘Kan dekat sekolah ada klinik, takutnya ada yang keseleo, Zel,”
“Nggak, tenang aja,”
“Zeline, kamu baik-baik aja,”
__ADS_1
Zeline yang akan bangkit berdiri menoleh ketika Anin yang tetap di posisinya melontarkan pertanyaan kepadanya.
“Iya aku baik-baik aja kok,” jawab Zeline seraya tersenyum.
“Ah syukurlah kalau gitu. Tapi beneran ‘kan? Nggak ada yang keseleo?”
“Nggak,”
“Kamu bisa berdiri?”
Zeline menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang kekasih. Ia merasa baik-baik saja walaupun rasa nyeri itu pasti ada.
“Udah kamu duduk aja, biar aku yang lanjutin hukuman buat kamu ya “ ujar Vindra.
“Giliran aku udah jatuh baru kamu mau bantuin aku, Vin..Vin, kok kamu kayak berubah sih lama-lama?”
Zeline mengerjapkan matanya ketika Vindra menjentikkan jarinya tepat di depan matanya yang sedang menatap ke arah Vindra dengan sorot kosong sambil bergumam dalam hati.
“Sstt kamu kok ngeliatin aku begitu?”
“Nggak kok, kamu beneran mau bantu aku?”
“Iya dong, biar aku aja yang nyelesain hukuman kamu, mending kamu duduk ya,”
“Okay, makasih ya. Kamu hati-hati, cari kursi yang kokoh,”
Vindra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala sang kekasih.
__ADS_1
“Vin, nggak jadi bantuin aku nih?” Tanya Anin pada Vindra yang akan mengambil salah satu kursi tidak terpakai untuk dijadikan sebagai pijakannya berdiri supaya bisa menjangkau rak bagian atas.